
Anelis kembali merasa tidak enak badan. Baru minggu kemarin ia dirawat karena pingsan, badannya sudah lemah lagi. Obat yang diresepkan memang tidak diminumnya tepat waktu. Bahkan ia menyembunyikan di lemari kecil miliknya. Sebisa mungkin Rajasa tidak mengetahui. Pantas jika tubuhnya kembali memaksa pemiliknya untuk istirahat. Anelis sudah ingin bangun dari ranjangnya, tapi kepalanya tak bisa diangkat. Anelis kembali merebah. Terbatuk sesekali.
"Masuk angin kali Ne. Kamu begadang terus kalau malam. Kurang tidur sama kurang istirahat," ucap Rajasa dari ruang TV. Rajasa sering tidur di sofa. Pulang pagi membuatnya tak pindah ke kamar mereka.
"Nggak tahu nih Mas. Mau bangun juga sulit," Anelis mengeraskan suaranya. Ia berharap Rajasa menghampirinya ke kamar.
"Mau aku kerokin? Siapa tahu entengan," Rajasa menawarkan diri mengobati istrinya. Ia membawa segelas teh hangat yang dicampur tolak angin untuk Anelis.
"Nggak usah Mas. Aku nggak suka kerokan, kapok kalau dikerokin kamu. Sakitnya minta ampun," jawab Anelis mengingat hasil kerokan Rajasa dulu, merah padam dipunggungnya.
"Nih, dihirup dulu aromanya baru diminum. Biar cepet baikan."
Anelis berusaha bangkit, ia menyandarkan dirinya pada bantal. Rajasa sigap membantu Anelis. Meski pikirannya sedang terbagi, Anelis tetap ia utamakan. Jika tidak, sulit baginya untuk pulang malam. Sulit baginya juga untuk memikirkan cara menemui Sekar di rumah pak Rajendra. Pendirian Rajasa sedang goyah. Ia bosan memberi terus-terusan tanpa diberi balasan. Kehadiran Sekar memberi angin segar baginya.
Anelis menegak habis teh hangat buatan Rajasa. Ia merasa lebih enteng badannya.
"Makasih Mas," ucapnya tulus.
Rajasa mengangguk, membalas senyum istrinya. Rajasa mencoba melihat kembali Anelis, sayang bayangan Sekar berkeliaran di sana. Rajasa tak lagi menemukan cinta di paras ayu Anelis.
"Tetep pulang malam Mas?" tanya Anelis hati-hati.
Ia tidak mau pertanyaannya menyinggung Rajasa. Pernikahan mereka dibangun atas dasar rasa percaya. Rajasa dan Anelis sama-sama membiarkan satu sama lain berkembang susuai kemampuannya. Mereka sepakat tak menghalangi karier masing-masing.
"Satu bulan Ne aku bilangnya. Ini baru satu minggu. Kalau sudah kelar aku pulang kayak biasa kok," ujar Rajasa.
Anelis kecewa. Ia ingin sekali Rajasa menawarinya ke dokter. Dulu waktu awal ketemu Rajasa, Anelis bilang pusing sedikit saja Rajasa sudah khawatir bukan kepalang. Tapi kali ini, Rajasa bereaksi biasa saja. Anelis ingin meminta namun tak bisa.
"Nanti kalau nggak membaik telepon aku ya Ne. Kita ke rumah sakit. Tapi kalau kuat kamu istirahat dulu di rumah. Ijin lagi ke kantornya," ucap Rajasa.
Anelis mengukir senyum dibibirnya. Ia mengangguk meski hatinya lebih ingin Rajasa berdiam di rumah menemaninya.
"Mas," panggil Anelis pada Rajasa.
Rajasa berbalik, kembali melihat Anelis, "Apa Ne?"
"Mas baik-baik aja, kan? Nggak ada masalah di luar?" tanya Anelis ragu.
"Iya Ne. Semua baik-baik aja. Hanya sedang butuh porsi lebih untuk diurus. Aku nggak bisa lepas tangan begitu aja," ucap Rajasa.
Anelis masih tidak puas dengan jawaban suaminya. Ia kembali bertanya, "Mas masih setia, kan? Nggak nyari cewek lain di luar?"
Anelis tak paham kenapa kata itu terlontar dari mulutnya begitu saja. Merasa suaminya berbeda, membuatnya berpikir macam-macam. Perempuan seringnya memang demikian. Selalu senang menjadi pusat perhatian pasangan. Dipuji sedikit saja sudah senang. Jadi saat pasangannya terlihat berbeda, akan terasa sekali dihatinya.
Rajasa terhenyak. Tak mengira Anelis akan bertanya tentang kesetiaan. Dirinya masih setia, ia tidak melakukan penghianatan apa-apa terhadap cintanya. Hanya hatinya saja yang mulai berubah. Hatinya yang sedikit melanggar prinsip hidupnya. Ia sedang butuh pegangan, butuh seseorang yang jauh lebih bisa memahami dirinya. Rajasa kembali mendekat pada Anelis. Diusapnya rambut semrawut istrinya.
"Kamu ngomong apaan sih Ne? Aku nggak akan pernah berpaling darimu, sampai kapan pun itu. Kamu lagi sakit, lebih sensitif ya perasaannya. Istirahat dulu, nanti malam kita ketemu." Rajasa meninggalkan Anelis di kamar tanpa memeluknya.
Anelis tahu Rajasa tak mungkin menghianati cintanya. Anelis juga paham suaminya pulang malam murni karena urusan perusahaan. Tapi melihat tingkah Rajasa hari ini, Anelis semakin merasa ada yang berbeda. Kalau pun Rajasa murni tidak melakukan pelanggaran, Anelis sadar. Dirinya bukan lagi satu-satunya pusat kehidupan Rajasa. Suaminya menemukan dunia baru yang lebih nyaman untuk ia jalani dibanding dengan cintanya. Bulir bening keluar dari pelupuk mata, Anelis menangis bersama Rajasa yang pergi meninggalkannya.
Rajasa memacu kembali mobilnya. Abbas bilang pak Rajendra sudah pulang. Ia mencari-cari novel milik Mamahnya yang hendak ia tunjukkan pada pak Rajendra di ruang kerjanya. Seingat Rajasa terakhir ia letakkan di laci meja kerja.
"Dimana ya. Aku nggak pernah memindahkan ke tempat lain." Rajasa bicara sendiri. Ia sibuk mencari novel itu.
Tok. Tok. Dimas mengetuk pintu. Tanpa dibukakan Rajasa ia langsung masuk saja.
"Ngapain Sa? Lagi Nyari koin?" tanya Dimas melihat sahabatnya berada dikolong meja.
__ADS_1
"Nyari buku Dim. Seinget gue, gue taruh sini,"
"Udah dipindah kali, loe lupa naruh," ucap Dimas. Ia tak percaya buku Rajasa bisa jalan sendiri dari laci ke kolong.
"Bantuin cari atau gimana kek," ucap Rajasa kesal.
"Sory, gue banyak kerjaan. Gue mau minta tanda tangan loe, terus minta tanda tangan pak Rajendra. Mau gue titipin Abbas aja," ucap Dimas sambil membolak-balik berkas perusahaan.
"Pak Rajendra Dim?! Aduh pala gue!" ucap Rajasa kesakitan. Ia lupa sedang berada di kolong. Nama pak Rajendra membuatnya bangkit seketika. "Gue aja yang minta tanda tangan Dim, Ntar gue antar ke sana," imbuh Rajasa sambil memegangi kepalanya.
"Semangat amat? Ampe kepentok gitu," Dimas terkekeh melihat polah Rajasa.
"Sini gue periksa dulu ya," Rajasa menerima berkas perusahaan dari Dimas.
"Eh Sa, loe kalau nggak pulang tuh kemana Sa? Anelis waktu itu nanyain ke gue. Loe masih lurus, kan Sa? Nggak aneh-aneh?" tanya Dimas yang juga merasa sahabatnya berbeda.
"Aneh-aneh gimana maksud loe Dim? Gue ke Harkit ngurusin toko roti. Nggak bisa kalau kerja di rumah. Dari awal Anelis nggak paham perusahaan," jawab Rajasa membela diri.
"Ya, maksud gue loe nggak mulai cari-cari cewek di luar sana, kan? Kadang kalau orang lagi stress tuh suka aneh-aneh tingkahnya. Tapi loe beneran nggak berubah kan Sa?" tanya Dimas lagi. Ia semakin merasa ada yang berbeda pada Rajasa.
"Ngacau aja loe! Kagak lah. Gue tetep setia. Anelis tetep paling utama dihati gue," Rajasa menunjuk dada sebelah kanannya.
"Itu jantung Sa, bukan hati!" ucap Dimas kesal melihat polah sahabatnya.
"Gue berangkat dulu ya, nitip perusahaan. Nih Abbas udah bales pak Rajendra udah balik dari Singapura." Rajasa meninggalkan Dimas di ruang kerjanya. Meninggalkan Dimas yang bingung dengan sikapnya.
Langkah Rajasa begitu ringan. Ia bersenandung lagu kesukaannya yang diputar di mobil. Rajasa mematutkan dirinya pada cermin. Rajasa kalau sudah tertarik sama orang, usahanya selalu maksimal. Harapan dia Sekar ada di dalam.
Abbas membukakan pintu. Ini kali ketiga Rajasa datang ke rumah pak Rajrndra. Tetap saja ia kagum dengan desain rumah tersebut. Yang paling membuatnya betah lama-lama adalah lukisan yang terpajang di dinding. Semuanya nampak begitu proporsional. Rajasa menenteng berkas perusahaan, mengikuti Abbas menuju ruangan pak Rajendra. Ia disambut ramah, urusan perusahaan beres hanya dalam waktu sebentar.
Rajasa belum ingin pamit dari rumah itu. Ia mencoba mencari-cari dimana Sekar. Menanyakan langsung pada Abbas sama saja membuat curiga. Rajasa mencoba mencari alasan lainnya.
"Oh, itu punyamu Sa. Wah repot nih nggak bakal bisa balik," jawab Abbas berbisik pada kalimat balik.
"Maksudnya?"
"Yuk aku kasih liat Sa." Abbas mengajak Rajasa ke kamar Daisha.
Daisha duduk di kursi goyang yang menghadap langsung jendela. Ia fokus membaca kata demi kata dari novel kumal milik Mamah Rajasa. Daisha nampak semakin normal.
"Selamat siang Daisha, ini pemilik novelnya datang," sapa Abbas. Meski telihat normal, tatapan Daisha masih cukup mengerikan. Rajasa begidik seketika.
"Hai..Daisha. Aku Rajasa," sapa Rajasa canggung.
Daisha tak membalas sapaan itu ia mendekap erat bukunya. Tak mau Rajasa mengambilnya.
"Nggak Daisha. Rajasa nggak akan ngambil novel itu. Dari awal memang milikmu. Kamu boleh baca sepuasnya," ujar Abbas begitu sabar pada Daisha. Tak salah jika ia harus menempuh studi selama sepuluh tahun untuk gelar yang ia terima. "Aku sama Rajasa keluar lagi ya, kamu baik-baik di sini. Baca sampai habis." imbuh Abbas.
Mata Daisha mengerjap riang. Ia begitu senang. Abbas meninggalkan kamar itu mengajak Rajasa ke halaman belakang rumah megah pak Rajendra. Di sana pak Rajendra sudah menunggu. Menghadap halaman rumput yang tatanannya begitu rapi.
"Duduk Sa," pinta Abbas pada Rajasa.
Pak Rajenedra mengangguk. Beliau tuna wicara. Dengan Abbas pak Rajendra menggunakan bahasa isyarat. Sayang Rajasa tidak paham. Rajasa semakin kagum dengan sikap dan kemampuan Abbas.
"Novel itu milik Mamahmu Sa?" Abbas membuka obrolan yang disimak pak Rajendra.
"Iya. Aku temukan setelah Mamah meninggal," ucap Rajasa sedih.
__ADS_1
"Rajasa, kamu tahu Bu Mutia? Beliau orang baik yang sudah membantumu dan Mamah. Daisha adalah putri kecilnya, dan Pak Rajendra suaminya," Abbas memperkenalkan pak Rajendra lagi. Pak Rajendra mengangguk, yang dibalas anggukan juga oleh Rajasa. "Kadang takdir memang kejam Sa, sekilas aku sudah bercerita tentang Daisha. Yang akan aku ceritakan kali ini bukan tentang itu. Melainkan tentang Mamahmu dan Bu Mutia. Iya, sesuai dengan yang kamu kira, mereka akrab dan menjadi mitra kerja. Bahkan setelah bu Mutia dan keluarganya pindah ke Singapura bu Mutia menyerahkan Daisha Bakery sama Mamahmu," Abbas menjeda kalimatnya, membiarkan Rajasa mengikuti cerita yang ia sampaikan. "Meski bu Mutia menyerahkan, Mamahmu tidak pernah sembarangan. Ia bahkan selalu melakukan transfer hasil penjualan dan keuntungan yang sudah dipotong untuk karyawan. Baginya Daisha bakery tetap bukan miliknya. Tapi Sa, kamu tidak perlu terbebani masalah itu, pak Rajendra ingin kamu mengambil alih penuh Daisha Bakery. Ia tidak menyangka Mamahmu juga telah tiada, jadi pak Rajendra ingin kamu fokus dan tidak perlu mencari tahu lagi." pungkas Abbas yang disertai tatapannya untuk pak Rajendra. Abbas takut apa yang ia sampaikan bertentangan.
Rajasa tak percaya dengan kalimat-kalimat yang disampaikan Abbas. Ia bingung harus menerima mana dulu.
"Aku nggak paham Bas maksudmu," ucapnya.
Abbas tersenyum, dirinya juga merasa kalau ini rumit.
"Intinya apa yang dicari pak Rajendra sudah ada. Sejak awal pak Rajendra ingin bertemu Mamahmu dan kamu. Masalah Daisah bakery kamu tidak perlu memikirkannya. Silakan mulai dari awal dan urus dengan baik," terang Abbas lagi. Keluarga kaya dan baik selalu punya cara membelanjakan hartanya. Pak Rajendra dan bu Mutia selalu menolong orang-orang di sekitarnya.
Rajasa selalu punya prinsip. Ia tidak mau mendapatkan suatu hal secara cuma-cuma. Ia harus paham duduk perkaranya.
"Tapi Bas, semuanya tiba-tiba. Aku sulit menerimanya."
"Perlahan saja. Kalau memang sulit kamu bisa sering ke sini. Cari tahu apa saja yang menurutmu perlu. Ah tapi ingat, biarkan novel itu menjadi milik Daisha. Dulu dia yang membelinya untuk Mamahmu."
Rajasa semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Putri Ibu adalah Daisha, putri bu Mutia. Toko roti yang dikembangkan Mamahnya juga bukan sepenuhnya miliknya. Dan berarti semua yang ia nikmati selama ini juga bukan miliknya. Rajasa semakin pusing dibuatnya. Pak Rajendra meraih tangan Rajasa. Dipegangnya erat. Lewat bahasa isyarat ia bicara.
"Tidak apa-apa, tidak masalah. Aku justru bahagia bisa bertemu denganmu. Aku dan istriku sudah menyerahkan toko roti itu untukmu, dan tolong tidak usah mentransfer hasil penjualan lagi. Besok orangku akan mengurus nama kepemilikan menjadi namamu. Aku mohon rawat toko tersebut dengan baik. Biar aku dan Daisha punya kenangan tentang Ibu dan Mamahmu."
Rajasa menatap Abbas, meminta penjelasan. Abbas dengan telaten menjabarkan bahasa isyarat tadi. Rajasa merasa rendah diri. Ia tertunduk, mengenang dua wanita yang begitu hebat dalam hidupnya. Manik matanya meneteskan air mata.
Langkah kaki dari sepatu heels yang dipakai Sekar semakin jelas terdengar. Mencari-cari tidak ada orang di ruang utama juga kamar Daisha, ia ke halaman belakang.
"Di sini kalian semua? pantas aku cari nggak ada. Selamat siang Om," sapa Sekar pada calon mertuanya. Abbas sudah seperti anak sendiri bagi pak Rajendra. "Halo Yank. Halo Rajasa," Sekar menyapa mereka dengan ramah.
"Halo juga Yank," balas Abbas.
Pak Rajendra memutuskan masuk kembali, ia membiarkan yang lebih muda menikmati waktunya. Sekar duduk di kursi pak Rajendra tadi, mengangkat alis menanyakan apa yang terjadi pada Rajasa.
"Oh..biasa masalah keluarga," jawab Abbas. Mereka berdua pasangan serasi. Dari pandangan saja sudah bisa paham maksud pertanyaan masing-masing.
"Aku nggak minta kamu datang, kok balik ke sini?" tanya Abbas pada calon istrinya.
"Takut kamu lupa kapan kita fitting baju. Sekadar ngingetin," ucap Sekar.
"Akhir minggu ini, kan? Besok aku jemput di apartemen. Tidak perlu kamu yang menjemputku." Abbas mengingat hari pernikahannya semakin dekat.
"Oke sayang." jawab Sekar manja.
Sekar memang lebih mencintai Abbas. Tepatnya Sekar yang mengejarnya. Mereka hanya beda satu angkatan saat menempuh kuliah dulu.
Rajasa tak begitu menyimak obrolan mereka. Ia masih menunduk. Sekar reflek menepuk punggung Rajasa. Nalurinya sebagai seorang psikolog muncul begitu saja.
"Nangis itu nggak salah kok. Jadi tidak usah malu saat harus mengeluarkan air mata. Cepat selesai ya masalahnya." ucap Sekar memberi semangat.
Abbas bangga dengan kekasihnya itu, begitu baik pada siapa saja. Rajasa kaget sekaligus senang menerima support dari Sekar. Sejak memulai kencan dan menikah dengan Anelis ia tidak pernah mendapatkan dukungan semacam itu. Rajasa semakin yakin, Sekar wanita yang baik budinya.
"Aku ke kamar Daisha dulu ya Yang. Kasih konseling deh, kasihan dia." ujar Sekar seraya meninggalkan mereka. Abbas tertawa.
"Tugasmu Yank bukan aku." Abbas mengingatkan ranah bidang yanh mereka tekuni. Sekar tak peduli ia tetap lurus, berjalan meninggalkan mereka.
Abbas tersenyum gembira.
Dasar Sekar, manis sekali polahnya.
Rajasa masih saja menunduk. Padahal jarang sekali dalam hidupnya ia menangis. Akhir-akhir ini, setelah Mamahnya tiada ia sering menitihkan air mata. Abbas membiarkan Rajasa memahami kondisinya, ia menunggu sampai Rajasa lebih mendingan suasana hatinya. Kadang laki-laki juga butuh mengeluarkan air mata. Bukan untuk membuatnya cengeng, melainkan untuk mengasah hatinya yang telanjur merasa semuanya baik-baik saja. Padahal, tidak selamanya apa-apa harus dipendam sendirian. Laki-laki pun boleh melakukan sesi curhat seperti perempuan. Abbas mengedarkan pandangan. Melihat langit biru yang berangsur gelap.
__ADS_1
Selamat datang hujan. Abbas bicara dalam hatinya.