ANELIS

ANELIS
Bab 21


__ADS_3

Rajasa kembali ke aparatemen dengan perasaan tak karuan. Baru selangkah masuk rumah, ia merasa jengah.


Ah. Aku harus bertemu Anelis.


Hatinya kikuk tidak jelas, hari ini ia telah melakukan penghianatan. Awal mulanya hanya bertukar pandang lalu sibuk mencari alasan, akhirnya tambatan hatinya tergantikan. Rajasa secara sadar melakukan itu semua.


Anelis masih tertidur di sofa. Dari sore hingga jam sembilan ia tak bangun sedikit pun. Rajasa melihat Anelis yang pucat sekali wajahnya. Hatinya sedikit menyesal tapi ia telanjur menaruh perasaan lain pada Sekar. Dalam kondisi gamang Rajasa semakin tak karuan.


Anelis mengerjapkan mata, tak menyangka Rajasa sudah ada di hadapannya. Anelis bangkit dan berusaha duduk meski kepalanya berkeliling. Anelis masih menangkupkan tangannya diperut.


"Udah pulang Mas?" Anelis mencoba duduk tegak. Ia menengadahkan kepala namun tak bisa. Anelis pun bersandar lagi di kursi sofa.


"Udah Ne, baru aja. Kamu masih sakit?" Rajasa sedikit prihatin dengan kondisi Anelis. Mata Anelis cekung ke dalam dan sudah persis mata panda.


"Mual terus dari siang. Nggak tau kenapa," ungkap Anelis tentang apa yang ia alami hari ini.


"Udah makan?" tanya Rajasa semakin merasa bersalah. Biasanya ia orang pertama yang paling perhatian tentang jam makan Anelis.


"Dibawain bakso sama Kak Nurma. Makan apa aja mbalik, hoek hoek. Pinginnya bakso deket kantor. Alhamdulillah keisi nih perut," Anelis mengusap perutnya. Tubuhnya semakin kurus saja.


"Syukurlah," Rajasa lega. Ia tak perlu berlebihan memikirkan istrinya. "Aku mandi dulu ya Ne. Nanti mau ke Harkit, ada berkas yang harus diambil," ucap Rajasa seraya beranjak dari kursi sofa.


"Malam ini Mas? Tidak bisa ditunda?" tanya Anelis, ia tak mengira suaminya yang baru pulang akan pergi lagi meninggalkannya.


"Iya Ne." Rajasa menjawab tanpa menoleh pada Anelis. Ia melanjutkan niatnya membersihkan diri.


Demi apa pun itu Anelis sungguh terluka. Rajasa malam ini benar-benar mencampakkannya. Padahal dirinya sedang terkulai lemah. Ia butuh perhatian dari orang terdekatnya. Rajasa tak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya.


Bulir bening merambas dari pelupuk mata Anelis. Ia menahan sesak luar biasa. Hatinya berontak ingin bertanya banyak, tapi tubuhnya tertolak. Rajasa telanjur tak acuh pada dirinya. Ia sempurna menjadi perempuan tak berdaya.


Anelis mengencangkan tangannya pada perut, tidak makan pun isi didalamnya melonjak keluar. Anelis segera menerabas pintu kamar mandi. Ia menubruk Rajasa yang baru saja mengambil handuk. Anelis mengeluarkan semua rasa tidak nyaman dari kerongkongan.


"Udah ah cukup. Nggak enak banget." racau Anelis tidak jelas.


Rajasa melihat istrinya, meski terlambat ia membantu Anelis mengeluarkan semua. Rajasa menutup hidung dan memalingkan muka. Ia sendiri ikutan ingin muntah melihat Anelis seperti itu.


Anelis semakin lemas, ia meminta Rajasa membantunya berdiri. Rajasa menatih tubuh Anelis sampai ranjang. Anelis, kembali merebahkan tubuhnya. Ia memijit-mijit kepalanya.


"Ke rumah sakit aja. Aku mandi dulu sebentar." ucap Rajasa yang tak diperhatikan Anelis. Istrinya sudah K.O, tak sadarkan diri.

__ADS_1


Rajasa membawa tubuh kurus itu ke UGD rumah sakit terdekat. Ringkih sekali. Tidak diperhatikan langsung menimbulkan kekacaun. Awal menikah Rajasa rajin membuatkan makanan, rajin juga mengingatkan Anelis tentang pola hidup sehat. Seiring waktu berjalan dan Rajasa mulai enggan, penyakit lama Anelis kambuh lagi. Ia tak sayang pada dirinya sendiri.


Perawat kembali memasangkan infus. Meski sudah setengah sadar, Anelis tetap tak bisa menolak jarum tersebut menusuk ditangannya. Cairan infus mengisi tubuh Anelis. Menggantikan asupan makanan yang akhir-akhir ini begitu kurang. Rajasa duduk menunggui istrinya, ia tak tega melihat Anelis sakit. Tapi, berkali-kali mencoba kembali memusatkan diri, tetap Sekar datang menghampiri.


Ya Tuhan. Kenapa begini.


Wajah Rajasa pias, ia mengusapnya berkali-kali. Diingatnya masa-masa indah mengejar Anelis.


🍁Semester awal Anelis.🍁


Rajasa berusaha sekuat tenaga biar tidak terlambat diacara seminar teknologi yang menjadikan dirinya menjadi pembicara. Ia didaulat sebagai pengisi materi utama dan penampilannya diujung acara. Meski mendapat undangan resmi, Rajasa tetap berdandan biasa. Ia tidak menunjukkan kalau dirinya lah yang akan memaparkan materi pada acara tersebut. Rajasa bertanya pada mahasiswi yang memakai co card bertuliskan panitia. Ia bisa memintanya menjadi penunjuk arah.


"Permisi, ruang seminar materi tekonologi sebelah mana ya?" tanya Rajasa pada mahasiswi yang ternyata bernama Anelis.


Anelis tak menjawab lewat kata, ia hanya menunjukkan tangannya ke arah kanan. Anelis sibuk membuka leptopnya.


Rajasa bingung sekali, arah yang ditunjuk Anelis bertuliskan WC Putri. Apa mungkin seminar diadakan di sana. Batin Rajasa.


"Mbak, seminar teknologi bukan kamar mandi," tanya Rajasa kembali.


Anelis mendongakkan kepala. Ia melihat Rajasa sekilas kemudian meletakkan leptopnya. Lagi-lagi gadis itu tak bersuara. Anelis melangkah maju mengisyaratkan pada Rajasa untuk mengikutinya. Sampai lantai dua gedung tersebut, Anelis kembali menunjuk tangannya ke salah satu ruang. Kali ini jelas terlihat banner bertuliskan Seminar Teknologi Kampus. Rajasa bersyukur tidak diarahkan ke kamar mandi putri lagi.


Anelis tak menjawab ucapan Rajasa, mengangguk pun tidak. Hari ini ia marah sekali. Harus menggantikan temannya jadi panitia, padahal ia tak paham masalah teknologi. Rajasa melihat sekilas gadis cantik yang dari jalannya saja mirip robot.


Kalau dia tahu aku yang jadi pembicara, kacau dia.


Anelis mengambil leptopnya kembali. Ia bergabung dengan rekan panitia lain. Bahkan saat nama Rajasa dipanggil dan semua orang bertepuk tangan Anelis tetap diam. Responnya begitu dingin. Anelis sesekali membetulkan kabel panjang yang menghalangi langkah Rajasa di panggung. Sikapnya tetap cuek dengan semua yang ada di ruang seminar. Rajasa melihat sekilas, ia bergumam.


gadis aneh.


Sampai habis acara semua panitia ingin mengambil gambar bersamanya Anelis cuek saja. Ia sibuk dengan lamunannya sendiri. Itu kali pertama Rajasa penasaran dengan gadis muda macam robot bernama Anelis.


Rajasa tak hanya sekali diundang ke sana. Banyak tema yang bisa ia bawakan. Rajasa pun semakin mencari tahu tentang Anelis.


Anelis sedang sibuk membuka leptopnya. Di taman kampus, lagi-lagi gadis itu hanya sendiri. Entah, betah sekali anak ini tanpa orang sekitar. Baginya mendengarkan lagu dan menulis sudah cukup membuat harinya riuh.


Rajasa diam-diam mengendap, mendekati Anelis. Ia berada tepat di belakang gadis yang membuatnya penasaran. Anelis masih memainkan jarinya di keyboard leptop. Kata demi kata mengalir indah di layar yang bisa ia baca.


*Wahai hati yang merindu cinta

__ADS_1


Ijinkan jiwamu merenda luka


Pada setiap cerita yang tak pasti kejelasannya


Wahai hati yang merindu kasih


Biarkan waktu membabat habis semua


Perasaan, kenang-kenangan juga pengharapan


Wahai hati yang masih harus terus diobati


Ingatlah itu semua hanya angan yang jauh dari jangkauan


Kau tak perlu buru-buru menyimpulkan


Siapa yang paling lara di dunia


Kau hanya perlu kembali menyayangi


Dirimu sendiri, yang sering kau sakiti*.


Puisi untuk diriku sendiri.


*Anelis Arkaina*


Puisi tanpa judul itu membuat Rajasa merinding sekaligus terpana. Gadis manis bersimbah luka yang membuat penasaran. Rajasa berdecak kagum, lupa kalau dirinya sedang menyelinap.


Anelis menutup leptopnya dengan badan. Ia berbalik, mengacungkan tangan.


"Pencuri! Apaan kamu?!" teriaknya keras.


Rajasa kaget dibilang pencuri. Dan memang benar Rajasa mencuri tulisan Anelis beserta hatinya. Sejak saat itu, Rajasa gencar melakukan pendekatan. Satu tahun sabar menghadapi kecuekan Anelis, ia berhasil juga.


***


"Ibu, Bapak. Jangan!"


Rajasa tersadar mendengar Anelis berteriak dalam tidurnya. Istrinya mengigau. Rajasa mengusap pelan lengan Anelis, menenangkannya agar kembali tidur. Ditatapnya lagi wajah Anelis yang lelap dalam tidur. Rajasa tak boleh melakukan penghianatan. Ia harus kembali pada dirinya yang selalu mencintai Anelis. Dipegangnya erat tangan Anelis, Rajasa menudukkan kepala. Duduk terlelap menunggui istrinya. Dan dalam mimpi yang tak selalu pasti artinya, Rajasa bertemu Sekar yang menepuk lembut bahunya memberi semangat.

__ADS_1


Rajasa terjebak dalam perasaannya sendiri.


__ADS_2