
Sekar menunggu Abbas menjemputnya. Ia benar-benar ingin menceritakan semua yang terjadi hari ini. Pengakuan Rajasa membuatnya kembali mengoreksi rasa yang ia miliki. Apakah selama ini ia memang cinta? Atau hanya obsesi semata.
Abbas tak seperti biasanya. Ia memilih membawa mobil sendiri. Hatinya memang sedang rindu pada kekasihnya itu. Ia pun memilih memanfaatkan momen kesembuhan Daisha untuk kembali menjalani kehidupan normalnya.
Abbas menanti Sekar yang sebentar lagi sampai tempat parkiran. Dari jauh ia bisa melihat sahabat sekaligus rekannya itu berjalan mendekatinya. Abbas bersyukur mendapat pasangan seperti Sekar.
"Selamat sore Sekar," ucap Abbas seraya membuka pintu mobil.
"Sore Yang."
Mobil Abbas melesat pergi dari rumah sakit dan berhenti di pelataran rumah Sekar. Sekar tinggal seorang diri, setiap pagi hanya ada asisten rumah tangga yang diwaktu malam juga kembali ke rumahnya.
Sekar membuka pintu mempersilakan Abbas menempati ruang tamu. Abbas jarang sekali datang, alasannya ia tak suka tempat sepi. Abbas selalu menjaga hal-hal baik di sekeliling Sekar agar tetap terlihat baik.
"Minumnya Tuan," Bi Nani, asisten rumah tangga Sekar selalu memanggilnya tuan.
"Abbas aja Bi. Saya bukan tuan takur," jawab Abbas meledek.
"Iya Den." Bi Nani meletakkan orange jus di meja.
"Nama saya Abbas Bi, bukan Den. Makasih ya Bi."
"Sama-sama Den." Bi Nani pun kembali ke ruangannya ia tetap tak bisa memanggil calon juragannya nanti dengan sebutan nama.
Abbas tersenyum saja melihat tingkah Bi Nani. Sekar sudah berganti pakaian. Ia sengaja mengajak Abbas pulang terlebih dahulu untuk mandi dan berdandan lebih baik lagi.
"Waow ... So beautifull," ucap Abbas melihat Sekar mengenakan dress selutut.
"Ayo kita jalan."
Abbas menghabiskan jus jeruk buatan Bi Nani. Mereka melesat pergi lagi ke sebuah resto ternama. Sekar sengaja membuat reservasi untuk makan malam.
"Enak?" tanya Sekar dengan tetap mengunyah.
__ADS_1
"Enakan masakan kamu."
Sekar tersipu sekaligus senang. Abbas selalu memuji masakannya. Apa saja yang ia masak Abbas lahap memakannya. Sekar juga tahu jika pasangannya itu lebih suka menu rumahan.
"Kalau lebih enak kenapa pernikahan kita tidak dipercepat?" tanya Sekar dengan tetap memotong daging steak itu.
Abbas tahu urusan pernikahannya tak semudah yang Sekar kira. Ia terikat erat dengan keluarga pak Rajendra. Abbas tidak mau jika mereka nanti menikah, Sekar akan lebih kecewa.
"Bukankan aku selalu bilang nunggu kesembuhan total Daisha?" Abbas sama kerennya dengan Sekar. Mereka tetap fokus melahap hidangan restoran.
"Kapan?"
"Aku tak tahu pasti. Tapi akhir-akhir ini ia menunjukkan progres berarti." Abbas tersenyum manis pada Sekar. Senyum yang selalu membuat Sekar melambung.
Sekar mengambil minuman yang tersaji di meja, ia menegaknya. Sekar membiarkan Abbas menghabiskan makananannya dulu, hening dibiarkan masuk mengambil alih suasana.
"Bisakah kita mempercepatnya? Aku takut hari itu akan terulang lagi. Kita, gagal menikah untuk kedua kali." Sekar kembali bertanya, ia mengingat momen kegagalan pernikahannya.
Sekar ingat betul momen tiga tahun lalu saat segala persiapan sudah siap, Abbas tak kunjung datang ke ruang pesta. Selang satu jam kebingungan menghampiri, Abbas memberitahu jika ia harus ke Singapura. Pak Rajendra dan Daisha selalu tak pernah luput dari kehidupan mereka.
"Kita akhiri saja."
Sekar mengutarakan apa yang selama ini ia pikirkan. Meski lara, ia memilih menyudahi penantiannya.
"Malam ini?"
"Iya, malam ini. Aku tahu perasaan cintaku untukmu hanya aku yang memilikinya. Aku tahu selama ini rasaku untukmu berlebihan. Aku terlalu terobsesi denganmu. Aku terlalu ingin memilikimu, hingga aku lupa kita tak bisa meneruskannya," Sekar tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulutnya. "Sejak awal hubungan kita, hanya aku yang menginginkannya," jelas Sekar.
Abbas mencoba meraih tangan Sekar. Ia benar-benar tak mau cintanya berakhir begitu saja.
"Aku bilang sebentar lagi, biar tidak ada masalah dikemudian hari. Biar pernikahan kita, keluarga kecil beserta cinta kita kelak tidak terbebani dengan balas budi. Beri aku waktu sebentar lagi untuk melunasinya," Abbas mengusap lembut jemari Sekar.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Sekar mengoreksi kembali hatinya dan hati kekasihnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Sekar, sungguh." Mata Abbas berkaca. Ia tak pernah sedetik pun tak mencintai Sekar.
"Kalau begitu kita akhiri saja. Aku, tak bisa menunggu lebih lama." Sekar tak lagi ragu dengan kalimatnya.
Sekar menyingkirkan tangan Abbas. Ia berdiri dan bersiap pergi dari ruangan restoran. Ia berjalan gontai menuju pintu keluar. Hati kecilnya berharap banyak, Abbas akan mengejarnya. Hingga Sekar tepat berada di luar, Abbas baru mengejarnya. Benar, sesuai dugaan Sekar. Selalu dirinya yang lebih mengejar. Abbas berusaha meraih tangan Sekar, ia tak bisa melepas begitu saja kekasihnya yang tiba-tiba mengakhiri hubungan.
"Tunggu Sekar, tunggu." Abbas menyejajarkan langkahnya dengan Sekar.
"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, sudah cukup bagiku memberi lebih banyak ruang untukmu."
"Aku mohon jangan begini Sekar, kita bisa mendiskusikannya lagi." Abbas tetap meraih tangan Sekar.
Kali ini Sekar berbalik, tepat di depan mobil Abbas mereka meneruskan obrolannya.
"Selama ini hanya aku yang memutuskan. Hanya aku yang terang-terangan mengaku kita menjalin hubungan. Aku tak bisa terus-terusan begini. Aku tak mau lebih lama lagi menanti. Diskusi katamu? Diskusi tak pernah benar-benar terjadi dalam hubungan kita." Sekar mengingat segala keputusan yang pernah mereka ambil dan seringnya memang ia yang memutuskan, bukan Abbas.
"Aku mohon satu kesempatan lagi Sekar. Aku selesaikan semuanya secepatnya." Abbas mencoba menatap Sekar, ia ingin mempertahankan hubungannya yang belum sampai pelaminan. "Aku menyiapkan yang terbaik setelah pernikahan. Aku sudah menyiapkan semua jika nanti kita berkeluarga. Aku mohon Sekar pertimbangkan lagi. Apa hari ini ada yang mengusikmu?" tanya Abbas. Ia berhasil mencari sumber ketidakjelasan perasaan Sekar.
Sekar menatap Abbas sekilas, ia berusaha menemukan cinta di manik mata Abbas. Tapi sayang, mata itu justru semakin membuatnya berkaca. Kalau memang Abbas menginginkannya, kenapa Abbas membuatnya menunggu begitu lama. Itu jelas bukan aktualisasi cinta yang Sekar harapkan. Terlebih usia mereka sudah sama-sama layak untuk sebuah pernikahan.
Ucapan Rajasa tentang cinta menggema ditelinga Sekar. Membayangkan hidup dengan orang yang tak mencintainya, hidup dengan orang yang tak punya dunia sama, membuat Sekar takut berumah tangga, dengan Abbas yang bertolak belakang kebiasaannya. Ia memang sudah memutuskan untuk tidak meneruskan komunikasinya dengan Rajasa. Ia tak mau menyakiti banyak hati karena Rajasa beristri. Tapi hatinya semakin yakin bahwa cintanya terhadap Abbas hanyalah sebuah obsesi. Keinginan berlebihan untuk memiliki.
"Tidak. Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja aku benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita. Aku tak bisa menunggu lebih lama dan berpura-pura baik menahan semua luka. Mau bagaimana pun background ilmu yang kupunya, aku tetap wanita biasa Bas. Aku butuh hal pasti dalam sebuah hubungan." Sekar melepaskan genggaman Abbas. Ia sudah ikhlas cintanya kandas. "Maafin aku, dan terima kasih untuk semua waktumu. Berbahagialah untuk kehidupan selanjutanya. Tuntaskan semua perkara dan balas budi yang bagimu selalu lebih utama." Sekar melambai pada taxi yang lewat di depan restoran. Ia menutup pintu taxi itu dan meminta sopir mengantarnya.
Abbas bergeming. Kata-kata Sekar tentang balas budi jelas tak bisa ia bantah. Ia sendiri tak tahu pasti sampai kapan ikatannya putus dengan keluarga Bu Mutia yang dulu menolongnya. Abbas membiarkan Sekar beserta taxi menghilang dari pandangan.
Jika ini memang yang terbaik, hatinya rela. Tak masalah ia kehilangan cinta asal tak membuat hati Sekar semakin terluka. Sekar sampai pada kesimpulan cintanya hanya sebatas obsesi semata, Abbas tak bisa meralatnya. Ya. Sejak pertama memang Sekar yang mengejarnya. Dan cinta Abbas tumbuh karena kesabaran serta ketulusan Sekar yang selalu menantinya. Abbas tak bisa mengelak dari sebuah pernyataan yang sudah pasti nilai kebenarannya. Abbas tak memutuskan jatuh cinta pada Sekar dengan mudah. Semua terjadi karena proses pendekatan Sekar yang selalu berkesan.
Abbas menghormati Sekar dengan keputusannya. Ia membawa kembali mobil miliknya ke rumah yang sudah ia siapkan untuk mereka berdua, tanpa sepengetahuan Sekar. Baginya membiarkan banyak hal tetap menjadi rahasia jauh lebih baik. Meski banyak orang menganggap keterbukaan tetap lebih utama.
Sekar membiarkan air matanya mengalir. Ia tahu hari-harinya nanti akan berat tanpa Abbas. Tapi ia tak bisa terus memaksakan diri menahan segala luka. Sekar sudah bisa membedakan apa yang selama ini ia rasakan.
Cinta sejati tak bisa terjadi jika hanya satu pihak saja yang menginginkan. Harus keduanya dan bersama-sama. Nyatanya selama ini hanya Sekar yang lebih banyak memberi. Ia tak pernah menerima sebenarnya cinta dari kekasihnya.
__ADS_1
Sekar memutar-mutar cincin dijari manisnya, ia biarkan cincin itu terlepas. Sekar membuka kaca mobil dan melemparnya. Malam ini tak ada lagi masa-masa panjang penantian. Sekar bebas menentukan akan seperti apa kehidupannya mendatang.