
Rajasa masih tertegun melihat tingkah Sekar. Dering ponselnya membuyarkan ia dari lamunan.
"Apa?"
"Cepet balik kantor. Penting!" suara Dimas menggema ditelinga Rajasa.
Rajasa memacu mobilnya kencang. R-jasa.com company tujuannya kali ini. Rajasa sedikit berdebar, jika Dimas menghubungi lewat telepon pasti ada masalah. Ia berubah ciut, takut usahanya semakin kusut.
Dimas sudah menunggu di ruangan Rajasa. Ia membawa beberapa berkas yang harus diperiksa. Rajasa mendorong pintu kaca itu.
"Gimana? Ada apa?" tanyanya bingung.
Dimas celingukan melihat Rajasa. Ia menggaruk tengkuknya.
"Gimana Dim?! Aman, kan penjualan?"
"Ehm...sebenarnya," Dimas memutar otaknya. Ia janjian dengan Anelis di kantor. Berharap Anelis segera datang.
"Ah, akhirnya. Masuk Ne," pinta Dimas melihat Anelis berdiri di pintu yang dibiarkan terbuka oleh Rajasa.
Rajasa menoleh. Anelis tepat berdiri di pintu, ia melangkah menuju Rajasa.
"Gue pergi dulu ya, selesain baik-baik ya." Dimas secepat mungkin menghilang dari ruangan Rajasa.
Belum sempat Anelis menyapa, Rajasa sudah tak ramah. Ia tak mengira istrinya berani menampakkan diri di kantor. Biasanya acara penting juga jarang. Anelis memang seorang istri yang payah. Dan saat ini Rajasa terpaksa menghadapi Anelis.
"Kita bicara di luar kantor." Rajasa menarik tangan Anelis, membawanya keluar.
Tak peduli Anita dan karyawan lain menyaksikan mereka. Ia sekeras mungkin membanting pintu mobil. Memaksa Anelis masuk kemudian berputar menuju kemudinya. Ia menghempaskan punggungnya pada jok. Hatinya dongkol.
Anelis cuek saja, bersikap seolah tak ada masalah diantara mereka. Anelis mengalungkan sabuk pengaman ditubuhnya.
"Jalan. Masih terlalu dekat kantor," ujar Anelis tanpa melihat Rajasa.
Rajasa pun menginjak gas mobilnya. Mereka pergi membelah belantara hati yang tak karuan kecamuknya. Anelis menggenggam tangannya sendiri. Mencoba sekuat hati menghadapi suami tercintanya.
"Kita ke rumah sakit. Aku mau periksa kandungan." ucap Anelis tanpa melihat Rajasa lagi.
"Ngapain?!" tanya Rajasa tetap fokus pada setirnya.
"Periksa kandungan. Ah ya, sepertinya kamu lupa pagi tadi aku sudah memberitahumu."
Anelis mendengkus bau tak biasa dari mobil suaminya. Ia tak pernah mencium aroma parfum itu sebelumnya.
"Sejak kapan kursi samping bau parfum? Perempuan seperti apa yang kamu antar pagi ini?" todong Anelis.
__ADS_1
Rajasa menoleh. Ia tak pernah menyadari parfum Sekar menempel di jok mobilnya. Sudah lama dirinya tak bersentuhan dengan parfum. Anelis anti dengan wewangian semacam itu.
"Ke rumah sakit mana?"
Rajasa menghindari pertanyaan Anelis.
Anelis pun tercengang. "Hah. Langsung perhatian?! Benar-benar parfum perempuan lain Mas?" tanyanya bergetar.
Tidak Anelis kamu tidak boleh menangis. Kamu harus kuat. Anelis menggigit bibirnya.
Rajasa tak menjawab. Tetap fokus melihat jalanan yang setiap hari selalu macet.
"Tidak dijawab? Aku akan memaafkanmu jika kamu jujur. Belum terlambat Mas," ucapnya parau.
"Parfum client. Akhir-akhir ini beberapa client minta diantar." jawab Rajasa tanpa perlu lagi ditanya. Ia semakin keras menginjak gasnya.
Anelis membuang muka, hatinya kesal dengan jawaban Rajasa. Anelis mengedarkan pandangan pada jalanan ibu kota yang tak pernah sepi. Ibarat hati, banyak rasa bergemuruh di sana. Anelis kembali mengingat pecahan gelas susu, niatnya bulat untuk menemui Rajasa dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Ke Sahabat Belajar aja Mas. Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Tugasmu mengantarku hari ini."
Rajasa menurut saja kata Anelis. Ia tidak mau Sekar terbawa dalam rumah tangganya. Bukan Sekar yang memulai ini semua tapi dirinya. Dirinya yang sengaja berpaling dari Anelis.
Mobil Rajasa berhenti di parkiran Sahabat Belajar. Kali ini Rajasa tak membukakan pintu seperti biasa. Anelis sabar menanti, ia tak mau teman-temannya di Sahabat Belajar menyadari. Rajasa kalah.
"Ikut aku ke atas. Kita sekalian pamit sama pak Faruq dan Kak Nurma."
"Bukankah dulu itu permintaanmu? Aku akan mengabulkannya Mas. Hari ini."
Anelis tak menunggu jawaban Rajasa. Ia mengamit lengan Rajasa dan menyeretnya menuju lantai atas. Rajasa pun tak bisa menolak. Satpam dan beberapa kenalan sudah telanjur melihat mereka.
Anelis menyapa Nurma sekenanya. Ia lurus saja ke ruang pak Faruq. Tangannya masih mengamit lengan Rajasa. Nurma cengengesan melihat pasangan idolanya dulu, tapi melihat mereka begitu justru terasa aneh.
Anelis membuka pintu kemudian membungkuk sedikit, sebagai salam pada pak Faruq. Pak Faruq melepas kaca matanya, melihat Anelis dan Rajasa ia pun bangkit.
"Oh. Ada apa? Silakan duduk dulu," ucapnya menunjuk sofa khusus tamu di ruangannya.
Anelis dan Rajasa kompak mengikuti arahan pak Faruq. Anelis memulai obrolan penting.
"Gini Pak, akhir-akhir ini saya sering sakit, banyak kerjaan kantor terbengkalai. Saya tidak enak dengan rekan lainnya kalau terus-terusan merepotkan. Setelah saya pertimbangkan dengan suami, saya mau resighn saja Pak." ucap Anelis sambil melihat Rajasa.
Rajasa yang tak dilibatkan dalam keputusan Anelis itu terpaksa mengangguk.
"Ehm. Begitu ya, sayang sekali. Padahal kamu salah satu karyawan terajin. Tapi mau bagaimana lagi. Saya ikhlas saja kalau itu keputusanmu." jawab Pak Faruq.
Sedikit demi sedikit ia sudah tahu kabar tentang kehamilan Anelis. Pak Faruq memaklumi kenapa karyawannya memilih pergi.
__ADS_1
Anelis dan Rajasa pun berpamitan pada pak Faruq dan Nurma.
"Seriusan Ne, ninggalin aku?" Nurma membantu Anelis membereskan barang-barangnya.
"Iya Kak. Ambil yang terbaik."
"Jangan lupa ke Bidan ya," ucapnya lirih.
Rajasa menangkap kata itu, ia sedikit ngeri dibuatnya.
"Temenin Sa. Dijagain anaknya." ucap Nurma tegas.
Rajasa tak menjawab ucapan Nurma. Ia memilih turun duluan dari kantor Anelis. Anelis membawa kotak kartonnya sendiri. Rajasa tak lagi memrioritaskan dirinya. Mata Anelis sedikit berkaca. Kembali lagi ia meniatkan diri untuk menjadi perempuan tangguh. Ia tak boleh menangis.
Belum sampai depan mobil Rajasa, pandangan Anelis mulai kabur. Badannya sempoyongan seperti dulu.
"Brukk."
Tubuh itu kembali mencium paving. Rajasa sigap mengangkat tubuh Anelis dan membawa ke rumah sakit terdekat. Kali ini ia tidak memilih UGD melainkan mendaftarkan istrinya di poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).
***
Rajasa menunggu dokter memeriksa Anelis. Dokter meminta Rajasa mendekat padanya.
"Selamat Pak, usia kandungannya sekitar lima minggu. Hanya saja kandungan istri anda lemah. Jadi anda wajib menjaganya," ujar Dokter menggerakan alat USG diperut Anelis.
Menyaksikan hasil alat itu di monitor berputar-berputar Rajasa tak paham. Ia hanya mengangguk saja. Anelis sudah setengah sadar saat gel alat USG teroles diperutnya.
"Perlu bedrest total dan vitamin penguat janin. Pastikan anda menjadi suami siaga Pak." ucap Dokter seraya meninggalkan mereka.
Lengang. Ruangan bernuansa putih itu sepi seketika. Harusnya Rajasa semringah atau minimal hatinya bergetar mendengar ucapan dokter. Tapi ia justru malas, saat harus mengikuti saran dokter.
Anelis mencoba meraih tangan Rajasa, ia mengusapkannya pada perutnya.
"Jangan buat Ayah khawatir Nak, Mama nggak suka. Lihat Ayah sudah capek-capek kerja buat kita," ucapnya lirih.
Meski hatinya mengingkari kata-katanya sendiri, Anelis tetap berusaha untuk tidak menangis.
"Mas, bukankah dulu kamu begitu mendamba sosok malaikat kecil di keluarga kita? Bukankah dulu kamu bercerita ingin punya anak yang wajahnya mirip denganku?" Anelis mengajak Rajasa mengingat momen indahnya dulu. "Sekarang ia di sini, bersama kita, menemani. Tolong Mas, setidaknya sampai anak ini lahir," Anelis menggantung kalimatnya, ia memikirkan ulang tentang kalimat selanjutnya. "Setelah itu kamu boleh pergi bersama perempuan itu. Yang setiap hari mengusik harimu. Kamu boleh memilih bersamanya selamanya dan meninggalkanku. Tidak masalah aku bernasib sama seperti Ibu menjadi janda, kalau memang itu maumu. Tapi, selama dia tumbuh dan berkembang dirahimku. Please Mas, temani aku dulu," ucap Anelis menahan tangis. "Kalau dia kuat dan tidak ringkih sepertiku, kamu bisa pergi saat ini juga. Sayang, aku butuh banyak istitahat seperti yang dokter katakan." pungkas Anelis.
Ia pasrah rumah tangganya hancur karena ulah Rajasa. Ia juga rela menjadi ibu tunggal untuk anaknya nanti. Baginya saat ini, keluarga satu-satunya adalah janin dirahimnya. Apa pun yang terjadi Anelis harus mempertahankannya.
Sebenarnya semua itu bukan mutlak salah suaminya, jika ia mau berpikir sedikit. Jika ia mau menjadi istri perhatian dambaan para lelaki. Mengingat kebodohannya selama ini membuat bulir bening mulai membasahi pipi. Anelis tak kuasa menahannya, meski Rajasa tetap tak merespon itu semua.
Cinta yang dulu menggelora nyatanya bisa sirna. Pun hati yang dulu suci bisa juga ternodai. Anelis terlambat membalas cinta Rajasa yang begitu besar luapannya. Ia tak pernah mengira sebelumnya, suami yang lurus imannya itu bisa berbelok arah, sangat jauh. Tersesat dalam nafsu sesaat. Hari ini bersama janin diperutnya, ia terpaksa mulai mengatur ulang kehidupannya. Menyingkirkan sedikit demi sedikit sosok Rajasa dalam dirinya.
__ADS_1
Rajasa menatap dingin paras ayu istrinya. Kembali memusatkan diri membayangkan wajah-wajah mungil yang dulu ia damba. Bahkan jika itu perempuan, ia sudah mempersiapkan nama. Tapi, sayang seribu sayang wajah Sekar selalu lebih mendominasi. Benar kata banyak orang, jika belum mencoba menjalin kasih akan selalu dibuat penasaran.
Rajasa melepas tangannya dari perut Anelis. Ia mengusap wajah sebentar. Memilih pergi menyelesaikan administrasi rumah sakit. Setelah semua selesai, Rajasa mengantar kembali Anelis ke apartemen. Satu-satunya tempat Anelis bertahan bersama kepalsuan.