
Rajasa memutuskan tidak berangkat ke kantor. Ia ingin kembali mengisi hatinya, hingga siap melakukan hanyak hal di waktu mendatang. Anelis dan Rajasa kembali mengulang rasa rindunya di waktu malam. Tanpa paksaan, dan untuk pertama kali tanpa tangis Anelis yang menjadi. Mereka sama-sama merasa bahagia.
Anelis membawa kotak makan milik Nurma dan mengisinya dengan kue yang ia buat di pagi hari. Selain menulis, Anelis sebenarnya pandai membuat kue kering seperti natsar atau kue kacang. Hanya saja moodnya sering tidak datang. Saat hatinya benar-benar riang ia melakukan itu semua. Anelis hanya bisa tersenyum sendiri mengingat detail yang terjadi. Meski tetap tak diantar Rajasa, harinya jauh lebih ringan untuk dijalani.
Sahabat Belajar nampak begitu megah bagi Anelis. Meski itu hanya lembaga penyalur kerja biasa. Pak Faruq menyapa Anelis yang datang membawa toples kecil ke ruangannya.
"Sudah cukup Ne, istirahat satu harinya?" tanya Pak Faruq ramah.
"Sudah Pak, maaf saya membuat khawatir. Ini sedikit kue untuk Bapak," ucapnya sembari meletakkan kue tersebut di meja pak Faruq.
"Baiklah, terima kasih. Saya tahu kamu kejar deadline tulisan bersambungmu, kan? Tapi ingat jangan begadang terus-terusan. Nanti badanmu bisa hancur. Saking lelahnya kamu sampai pingsan di kantor," ujar pak Faruq. Mengingatkan Anelis pada peristiwa kemarin.
"Bapak baca cerita saya?!" tanya Anelis tak percaya. Kalimat pak Faruq yang tertangkap dipikirannya hanya soal tulisan.
"Saya ngikutin dari awal, dan pastikan kamu nggak bikin nggantung ceritanya. Alias tidak diselesaikan." ancam pak Faruq pada penulis baru favoritnya.
"Siap Pak, besok Ane lanjutkan. Makasih Pak." Anelis undur dari dari hadapan Pak Faruq. Ia tak menyangka bosnya membaca karyanya. Anelis keluar dengan hati semakin riang. Senyumnya mengembang.
"Wah,wah macam habis dapat bonus tahunan aja nih. Bahagia banget," ledek Nurma pada Anelis yang datang kembali ke meja kerja.
"Melebihi dapat bonus tahunan Kak, Pak Faruq baca ceritaku di blog. Padahal aku hanya iseng, dan ada yang baca juga itu bikin seneng," ujar Anelis bangga.
"Semua orang juga tahu Ne bakatmu itu. Sayang, kamu suka nggak konsisten. Cobalah ditekuni, biar lebih baik lagi," saran Nurma pada Anelis.
"Iya Kak, besok aku tinggal bilang sama Mas Rajasa buat ikut kelas menulis lagi," jawab Anelis. Ia memulai membuka komputer kerjanya. Membuat jadwal tentor dan mengatur pendapatan mereka. Anelis bisa merangkap jadi apa saja, kadang ia juga mengambil job sebagai pengajar sesuai bidangnya.
"Sudah pulang Rajasa? nggak sibuk lagi?" Nurma kembali bertanya.
"Sudah Kak, sudah ketemu sudah ngobrol sudah seneng pokoknya." ucap Anelis keceplosan. Ia menutup mulutnya. Takut ada yang mendengar selain Nurma.
"Haha...Dasar kamu Ne, semoga aku cepet dapat ponakan ya. Biar kalian nggak sepi, kerja terus hobinya." Anelis tersenyum. Ia belum memikirkan untuk punya anak, tapi sepertinya itu akan terjadi secepatnya. Anelis masa bodo. Ia kembali ke pekerjaanya yang tertunda.
Rajasa membawa mobilnya ke kediaman pak Rajendra. Ia membawa novel milik Mamahnya, mencoba mengonfirmasi asumsinya tentang Daisha Bakery. Kebetulan nama putri pak Rajendra juga sama. Rajasa memarkirkan mobil tersebut di depan pintu masuk. Ia menekan bel pintu. Rajasa memang belum memberitahu akan datang. Rasa penasaran membawanya melangkah begitu saja.
__ADS_1
Seorang wanita membukakan pintu rumah pak Rajendra. Kali ini bukan asisten rumah tangga seperti sebelumnya. Seorang wanita yang begitu jelita bagi Rajasa.
"Cari siapa Pak?!" sapanya. Ketus seperti awal jumpanya dulu.
Rajasa terhenyak. Ia tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Rajasa pun tersenyum, dalam hatinya berbunga. Ingatkah dia denganku? Ingatkah dia pernah menghinaku? Rajasa bersenandika, melamun sejenak tanpa suara. Pandangannya lurus pada wanita yang terlihat dua tahun lebih tua darinya.
"Ehem. Cari siapa Pak?!" tanyanya lagi. Melihat Rajasa yang masih berdiam diri.
"Who's that dear?" suara Abbas dari dalam terdengar hingga luar. Wanita yang nampak begitu jelita dimata Rajasa, menoleh.
"Nggak tahu Yank, ditanya diem aja dia." ucapnya bingung.
Abbas mendekati Sekar. Tunangannya yang membantu pekerjaannya mengurus Daisha. Seorang psikolog disalah satu rumah sakit kenamaan di Jakarta.
"Rajasa? Ada perlu apa kesini?" tanya Abbas. Seingatnya Rajasa tidak menghubunginya.
Rajasa gelagapan. Ia kaget melihat wanita itu, yang ternyata namanya Sekar. Dalam hati Rajasa meyebut namanya. Rajasa berusaha menguasai diri, ia kembali mengingat tujuan awalnya datang ke rumah pak Rajendra.
"Sorry, pak Rajendra lagi pergi ke Singapur. Harusnya kamu kasih kabar dulu, biar beliau bisa ditemui," ucap Abbas.
Rajasa mencari alasan lain untuk tetap di sini. Sekar menarik hatinya lebih kuat, ia merangkai alasan yang bisa diterima.
"Boleh tetap masuk nggak Bas? Aku penasaran dengan kondisi Daisha. Aku ingin banyak ngobrol juga tentang Anelis denganmu," Rajasa menyebut nama istrinya, demi rasa ingin tahunya tentang Sekar. Entah lah, Sekar begitu manarik bagi Rajasa.
"Oke, masuk aja." Abbas menerima Rajasa.
Sekar sudah lebih dulu kembali ke kamar Daisha. Ia psikolog sekaligus teman bagi Daisha. Abbas sengaja melibatkan Sekar dalam kasus Daisha.
Rajasa melihat kembali foto-foto yang terpajang di ruang tengah pak Rajendra. Wajah wanita di sana, persis dengan yang difoto ibunya. Rajasa ingat nama itu, yang dulu baik dengan Mamahnya. Daisha putri Bu Mutia, kepala sekolahnya dulu. Manik mata Rajasa sedikit berair, ia tak akan lagi melihat orang yang pernah begitu baik dalam hidupnya.
"Kenapa Sa, kenal?" tanya Abbas memerhatikan Rajasa. Rajasa menjawab dengan anggukan.
"Siapa yang tak kenal beliau, orang paling dermawan sedunia. Aku termasuk yang mendapat kemurahan hatinya," ucap Abbas dengan memandang foto Bu Mutia. "Semoga Ibu dilapangkan kuburnya ya bu, bertemu dengan pencipta yang begitu baik sama kita." imbuh Abbas seraya beranjak dari foto itu.
__ADS_1
Rajasa menguntai tanya, ia ingin menanyakan banyak hal. Tapi Abbas telanjur berpindah, mengajaknya ke ruang pribadinya.
"Cerita aja di sini. Lebih aman Sa," ujar Abbas mengingat apa yang diucapkan Rajasa.
Bodoh. Tujuanmu bukan itu Rajasa. Rajasa bicara pada dirinya, hubungannya dengan Anelis sudah baik-baik saja. Bahkan semalam mereka melakukannya lagi.
"Ehm..aku sedang tidak dalam mood untuk bercerita, bisa kita pindah ke kamar Daisha saja? Aku ingin melihat putri orang yang juga membantu hidupku," Rajasa membuat alasan. Sebenarnya ia ingin lebih dekat dengan Sekar.
"Aneh. Oke tak masalah. Jika clientku tidak mau mengungkap masalahnya, aku tak bisa memaksa. Akan aku tunggu sampai kamu siap Sa." ucap Abbas. Mereka pun berpindah ke kamar Daisha.
Sekar duduk berdekatan dengan Daisha yang tertidur pulas. Sekar begitu anggun dengan balutan kemeja yang dimasukan dalam celananya. Perawakannya tinggi, badannya bongsor. Rambutnya panjang juga seperti Anelis, hanya sedikit pirang. Dari wajahnya nampak jelas kematangan usia. Sekar terlihat lebih dewasa. Rajasa tak tahu jika jumpa pertamanya dulu menyisakan getar yang terasa nyata. Rajasa seakan terpikat dengan pesona Sekar yang tak dimiliki Anelis. Ia butuh sosok wanita yang lebih bisa mengayomi dari segi emosi. Sekar nampak sesuai sekali dengan kriterianya saat ini.
"Kenalin Yank, temenku Rajasa. Partner kerja pak Rajendra juga," ucap Abbas pada wanita yang ia cintai di dunia ini.
Sekar melihat sekilas Rajasa, melempar sedikit senyum. Mulutnya merangkai kata sederhana, "Hai, Sekar."
"Hai. Rajasa." jawab Rajasa dengan melambaikan tangan. Ia membalas senyum Sekar, sepertinya Sekar tidak ingat pernah berjumpa dengannya. Rajasa merasa tenang, hatinya yang kosong tiba-tiba terisi lewat Sekar.
"Tiap ada Sekar, Daisha kondisinya stabil. Makanya aku sering minta dia datang kesini. Beruntung ia tak keberatan," Abbas kembali membuka obrolan.
"Oh..Sekar semacam menjadi sahabat bagi Daisha ya?" tanya Rajasa. Menyebut nama Sekar saja membuatnya berbunga. Entah apa yang terjadi pada lelaki bependirian lurus itu. Ia lupa dirinya sudah punya istri. Ia abai akan pemilik hatinya di luar sana.
"Sekar memang tipe sahabat sempurna. Bahkan aku tak mau hanya bersahabat dengannya." ucap Abbas yang dibalas senyum hangat Sekar.
Senyuman itu untuk Abbas yang sejak lama mengisi hati Sekar. Tapi, anehnya Rajasa juga merasa hangat hatinya melihat senyum Sekar.
Daisha tertidur pulas, kalau begini tak nampak ia memiliki kelainan mental seperti yang diceritakan Abbas. Sekar mengusap lembut lengan Daisha, seperti berusaha membuat Daisha tetap terlelap. Sungguh naluri keibuan Sekar begitu terasa. Rajasa bahkan tak memerhatikan panggilan sayang yang dilontarkan Abbas dan Sekar. Baginya saat ini hatinya semakin berbunga. Ia jelas terpesona. Dari hati terdalamnya Rajasa kembali mengulang jatuh cinta. Puas berada dekat dengan Sekar, Rajasa undur diri. Dalam hati ia bertekad untuk kembali ke rumah megah milik pak Rajendra di lain hari.
Pesona Sekar mengikatnya kuat. Definisi cinta bagi Rajasa mulai berbeda. Ia terbawa suasana. Kehilangan sosok Mamah yang biasa menjadi pelindungnya, membuatnya mencari pengganti. Pada Anelis yang jelas halal baginya dimata agama, Rajasa tak menemukannya.
Sedang di lain tempat, definisi cinta milik Anelis juga berubah. Seharian di tempat kerja, ia mengingat kembali malamnya bersama Rajasa. Sesekali tersenyum sendiri. Meski malu hatinya juga berbunga. Anelis memperbaharui cintanya untuk Rajasa. Berharap semerbak wanginya tetap terjaga seperti awal jumpa mereka. Rajasa sebenarnya juga memperbaharui cintanya, hanya saja pada raga yang berbeda.
Jatuh cinta selalu mengundang tanda tanya. Pada siapa hati terpaut tak butuh alasan sempurna untuk menerimanya. Kadang, lewat pandangan mata sesaat sudah membuat hati tersesat. Terperangkap dalam perasaan cinta yang selalu tak pasti definisinya.
__ADS_1