
Sentraland Cengkareng apartemen. Kediaman Anelis setelah menjadi Istri Rajasa. Bisa saja mereka membeli rumah dengan halaman luas dan lebih besar. Namun Rajasa memilih apartemen itu, jaraknya paling dekat dengan tempat kerja Anelis. Jika ia harus pergi ke luar kota atau luar negeri, Anelis bisa naik motor atau pesan ojek online.
Anelis menekan pin pintu rumah mereka. Sejak ia menjadi istri Rajasa, ia mengubahnya dengan kombinasi angka yang bisa diingatnya. Anelis pelupa, Rajasa tak masalah mau diganti berapa kali pun ia tetap hafal saja. Kebiasaan baru Anelis setelah menikah adalah mencuci kaki, tangan dan membasuh muka setiap kali pulang dari berpergian. Rajasa mengajari itu semua. Meski awalnya berat dengan aturan kecil yang dibuat suaminya, ia mulai terbiasa.
Rajasa melangkahkan kaki menuju dapur mini mereka. Membuka stok bahan makanan di kulkas. Spagheti bologne ia buatkan untuk istri kesayangan. Rajasa sengaja mengganti hobi makan mie instan Anelis. Lama-lama lambungnya bisa hancur kalau dibiarkan terus menerus. Pasta bisa menjadi alternatif menu lain. Tangan Rajasa begitu lihai meracik bumbu. Keahliannya pasti didapat dari Mamahnya. Ada banyak keuntungan terlahir sebagai orang susah. Hal seperti memasak bagi laki-laki ia dapatkan juga. Anelis yang masih mengenakan handuk di kepalanya terpana. Melihat dua piring spagheti bologne buatan Rajasa tersaji.
"Waow...yummy sekali Mas. Cantik tampilannya," ucapnya sambil menggeser kursi makan. Anelis mendudukan diri, mengambil sendok dan garpu.
Aromanya begitu menggoda. Rajasa selalu memanjakannya dengan masakan. Bukan, bukan karena Anelis tidak bisa masak. Hanya saja masakannya kalah enak dibanding masakan Rajasa. Ia pun memutuskan tidak masak menu-menu mewah macam spagheti. Ia cukup memasak telur dadar atau nasi goreng dengan bumbu instan.
Tangan anelis lincah menyuapkan spagheti itu ke mulutnya. Puas dengan rasa yang lumeng di dalamnya.
"Beneran enak banget... Makasih Mas," ujarnya sembari mengacungkan jempol.
"Kalau enak, makan yang banyak. Harus habis." jawab Rajasa. Ia mencicipi hasil masakannya itu. Bangga dengan perpaduan rasa yang didapatkan.
Selesai menghabiskan makan malam, Rajasa melirik jam. Harusnya Dimas sudah datang. Mereka akan melakukan perjalanan bisnis malam. Sembari menunggu Dimas, Rajasa membersihkan diri. Sekaligus menyiapkan beberapa baju ganti. Takutnya tak hanya satu dua hari. Apalagi besok sabtu. Wekend sudah pasti menjadi hari keluarga. Bisa saja ia tak langsung bertemu clientnya.
Anelis menyalakan TV. Mencari saluran favoritnya. Ia paling senang menonton drama Korea atau drama Jepang. Drama Taiwan juga kadang diikutinya. Yang ia tidak suka hanya sinetron Indonesia. Anelis benci saat konflik keluarga dalam sinetron disajikan dengan begitu dibuat-buat. Ditambah saat sudah asik mengikuti, eh peran utamanya diganti. Atau malah alur ceritanya melebar kemana-mana, panjang sekali sampai beribu-ribu episode baru tamat. Asik menyaksikan TV sendiri, suara bel pintu berbunyi. Anelis meraih gagang pintu, lalu membukanya.
"Halo, Anelis," sapa Dimas melambaikan tangan.
"Halo juga," balas Anelis sungkan. Ia mempesilakan Dimas masuk. Anelis berjalan di depan.
Pasti Rajasa mau pergi. Jarang sekali Dimas berkunjung. Kecuali menjemput Rajasa untuk urusan kantor. Anelis berubah lesu. Rajasa keluar dari kamarnya. Memakai kaos berkerah dengan stelan celana panjang dan aksesoris jam tangan. Siapa pun yang melihatnya jelas terpana. Rajasa tampan sempurna dari sananya.
Melihat Rajasa menenteng tas pakaian, Anelis bertanya, "Bakal lama ya Mas? sampai bawa tas gitu. Kok tadi nggak bilang dulu kalau mau pergi?"
Anelis melipat kedua tangan. Menggerutu karena tak diberi tahu. Rajasa tersenyum meletakan tasnya di kursi.
"Cuma sebentar Ne. Tapi besok itu wekend takutnya nggak bisa langsung selesai urusannya. Jadi aku jaga-jaga aja," terangnya lembut.
__ADS_1
Dimas yang sejak tadi tidak dianggap oleh Rajasa ikutan bersuara, "Santai Ne. Gue jagain Rajasanya. Nggak bakal macem-macem dia. Ya meski dari wajah kemudian kekayaan dia pantas sih buat dikelilingin banyak wanita," canda Dimas pada Anelis.
Anelis melotot. Menyebalkan sekali sahabat suaminya itu. Dasar Dimas hobinya mbanyol. Justru memperkeruh suasana. Rajasa ikutan sangsi dengan ucapan sahabatnya tadi.
"Nggak Ne. Dimas guyon. Aku nggak akan begitu. Kamu paham bagiamana aku. Yang penting jaga diri. Besok di rumah dulu aja ya," pesan Rajasa pada Anelis.
Melihat dua pasangan bermesra-mesra di depannya membuat Dimas ingin muntah saja.
"Astaga kalian. Kayak drama korea aja. Gue sesek nih ngliatnya. Minta air ya," Dimas melangkahkan kaki menuju dapur. Sengaja memberikan ruang untuk sahabatnya.
"Kabarin ya Mas, kalau udah sampe. Inget nggak macem-macem." pesan Anelis.
Rajasa tersenyum, sepertinya istrinya cemburu. Candaan Dimas cukup membuatnya takut ternyata.
"Iya sayang...aku jaga diri dan jaga hati," ucap Rajasa. Ia melangkahkan kaki, hendak mengecup lembut kening istrinya.
Seketika Anelis menghindar. Mundur satu langkah ke belakang. Rajasa kecewa. Ia pun cukup mengusap rambut legam istrinya. Mungkin karena ada Dimas. Batin Rajasa.
Dimas yang memerhatikan tingkah Anelis semakin mengerti. Ada yang tidak beres dari pasangan ini. Cerita Rajasa pagi tadi serasa terlihat jelas gambarannya. Dimas melirik sekilas, memberi kode pada Rajasa. Takut terlambat katanya.
"Siap bos. Driver taxi online sudah di bawah. Berangkat dulu ya Ne. Gue jagain suami loe yang tampan ini," ucapnya lagi.
Anelis menangguk. Mengantar mereka sampai depan pintu. Rajasa melarangnya mengantar sampai bawah. Rajasa dan Dimas menghilang dari balik pintu. Anelis pun melanjutkan aktivitasnya di apartemen sepi itu.
Setelah berkali kali mengganti saluran TV anelis mematikannya. Berpindah ke kamar. Membuka leptop tipis miliknya. Ia merasa bosan dengan akun media sosial yang begitu banyak menyuguhkan gambar. Baginya itu semua semu. Tidak mungkin mereka yang mengunggah setiap cerita di sana baik-baik saja. Semuanya pasti menyimpan hal pahit dalam hidupnya. Sayangnya banyak yang tak berani mengungkap itu semua. Hanya memilih yang bahagia-bahagia saja. Persis seperti dirinya. Pengikutnya di instagram pribadinya cukup banyak. Anelis kerap membubuhi caption manis, juga puitis di setiap foto. Terlebih foto yang diunggah hasil bidikan Rajasa yang jelas nampak estetikanya. Bisa saja ia fokus pada apa yang menjadi bakatnya itu. Sayangnya Anelis tak mau menekuni.
Bosan dengan hal tadi Anelis mencari plafon lain yang lebih sesuai keinginannya. Sebenarnya sudah lama ia meyuarakan pendapatnya di sana. Hanya sejak fokus dengan skripsi dan tugas akhir kuliah blog pribadinya itu mati suri. Ia kembali menilik dashbore berwana biru tua. Sejak pertama membuatnya sampai beberapa tahun berlalu, tetap tak ada yang mengikutinya. Tak ada juga yang like foto atau tulisan Anelis. Justru itu yang ia cari. Sunyi dan sepi. Saat dirinya bebas menuangkan segala cerita pada semesta, tanpa perlu bertatap muka. Saat ia tak harus terbebani dengan tatapan mata yang kadang malah menghakimi. Saat itulah perasaan Anelis mengalir. Lewat kata yang jika diresapi semakin menyayat hati. Semua tulisannya bertema luka. Kesedihan, kemarahan juga kekecewaan. Paling banyak ia bercerita di semester empat hingga tujuh. Saat badai besar menggulung semua kebahagiaan.
Anelis kembali membaca kata per kata yang ia rangkai di setiap judul cerita. Tanpa ia ijinkan air matanya merembas keluar. terlebih saat ia sampai pada kisah dirinya, Bapak, Ibu dan Andara. Ia tak pernah tahu jika keluarga kecilnya harus hancur dengan cara yang tidak manusiawi. Ia harus merelakan setiap bingkai indah keluarga yang rusak dalam sekali prahara. Waktu itu, Anelis pulang ke Bogor libur semester empat.
Akhir semester empat Anelis
__ADS_1
Kepulangannya kali ini jelas berbeda. Ia sudah menerima pesan dari Andara tentang konflik Bapak dan Ibunya. Anelis sudah bersiap diri, menjadi penengah sekaligus penyelesai masalah. Harapannya tak perlu ada konflik lanjutan yang lebih seram. Ia anak tertua dan sudah kuliah juga. Dianggap mampu mengurusi urusan orang dewasa. Andara masih kelas tiga SMP.
Anelis pulang ke rumah milik Mbah putrinya itu. Sejak kecil keluarganya tinggal di tempat Mbah dari Bapaknya. Sudah berapa banyak konflik yang ia saksikan antara Ibu dan Mbah putrinya. Namanya juga berumah tangga, pasti ada prahara. Jadi Anelis menganggap santai, begitu juga Ibu dan Bapaknya. Apalagi Mbah sudah tua. Wajar saja, kalau tingkahnya kembali seperti anak kecil saja. Pada tahap ini harusnya yang muda yang lebih paham. Legowo menerima apa pun perlakuan orang yang lebih tua. Belum tentu umurnya masih lama. Tapi urusan terakhir ini sepertinya tidak santai. Hingga Ibunya tega, pergi meninggalkan Andara seorang diri.
Seperti biasa Anelis menghabiskan waktu menonton acara televisi. Andara sekolah. Bapaknya pergi kerja. Mbah putrinya jualan sembakao di pasar. Sedang Ibunya sudah pergi. Minggat entah kemana. Asik dengan berita gosip para artis yang kawin cerai, kawin cerai membuat Anelis mengernyitkan dahi. Sebegitunya para artis itu. Batin Anelis. Tanpa ia sadari pernikahan kedua orangtuanya juga diambang perceraian. Hanya saja orang tuanya menyembunyikan dari Anelis. Takut mengganggu kuliah Anelis.
Suara perempuan mengucap salam dari luar. Anelis menjawab salam kemudian membuka pintu.
"Bapak Arkain ada Mbak?" tanyanya pada Anelis.
"Bapak sedang kerja Bu, ada yang bisa saya bantu?" jawab Anelis ramah. Ia memerhatikan ibu berbaju batik itu. Motornya berplat merah. Pasti pegawai pemerintah.
"Ya sudah saya nitip ini saja ya Mbak, nanti minta tolong sampaikan pada Bapak." perempuan itu menyerahkan amplop coklat yang tidak bersegel. "Bisa tanda tangan di sini?" imbunya lagi.
Anelis menerima amplop coklat dan membubuhkan tanda tangan sesuai permintaan. Perempuan berbaju batik pun melesat pergi bersama motor plat merahnya. Anelis menutup pintu. Melihat amplop yang tidak tersegel membuatnya penasaran. Kalau tidak disegel berarti tidak masalah ia buka dulu, pikir Anelis. Ia pun mengeluarkan kertas putih dari amplop tersebut. Sekilas semacam pemberitahuan pembayaran tagihan sekolah. Anelis membukanya. Melihat kops surat tersebut langsung membuatnya limbung. Undangan sidang perceraian kedua. Tergugat Pak Arkain Samudra. Penggugat Ibu Hening Widyowati. Seketika tubuh Anelis meluruh ke bumi. Kabar berita itu bukan hanya kabar burung. Bahkan ibunya sudah mendaftakan perceraian mereka ke pengadilan agama. Anelis tidak pernah mengira dan menyangkanya. Ibunya begitu mencintai Bapak. Mereka selalu kompak menjalani hidup, kemana-mana bersama. Masa iya sampai Ibunya menggugat cerai. Apa jangan-jangan itu hanya semu semata? Agar terlihat baik-baik saja? Apa sebenarnya mereka punya masalah tapi menyembunyikannya dari Anelis dan Andara? Saat itu juga anelis menangis. Air matanya tak hanya gerimis melainkan hujan besar.
Bapak yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang, melihat Anlelis menangis reflek menghampiri.
"Kamu kenapa Ne?" tanya Bapak penasaran.
Anelis menyerahkan amplop coklat itu. Matanya merangkai tanya. Bapaknya membuka. Kemudian menghela nafas panjang. Mulutnya siap menceritakan banyak hal.
"Kita pindah ke kursi dulu," pinta Bapak Anelis padanya.
"Iya. Ibu sudah menggugat cerai Bapak. Bapak tidak paham apa masalahnya. Waktu Andara kirim pesan ke kamu dulu adalah puncaknya. Ibu pergi ke Jawa. Balik ke rumah Mbah sana. Yang tahu detail ceritanya Andara," ucapnya berat.
Anelis terperangah. Ia tidak pernah tau cerita itu. Air matanya semakin bertumpah ruah.
"Kenapa Bapak nggak cerita? Kalau Bapak ngabarin Ane, kan Ane bisa pulang Pak," ucap Ane menyesal. Jakarta Bogor tak begitu jauh. Harusnya ia bisa menyempatkan waktu.
"Kamu sedang ujian. Bapak tidak mau mengganggumu," jawab Bapak Anelis. Ia menundukkan kepala. "Sudah, biarkan Ibumu memilih jalannya sendiri. Merasa bahagia dengan segala urusannya. Bapak sudah berusaha menahan, agar sidang ini gagal. Tapi sepertinya sulit. Ibumu menyewa pengacara untuk mebereskan semua," terang Bapak Anelis.
__ADS_1
Demi apa pun itu perasaan Anelis hancur. Ia tidak pernah mengira Ibunya akan setega itu. Ia tidak pernah tahu jika masalah rumah tangga begitu pelik adanya. Yang ia tahu saat itu ia begitu benci dengan sosok perempuan bernama ibu. Ia tak akan pernah memaafkannya, apa pun alasan nanti yang dirangkai ibunya. Ia juga tak pernah berusaha bertanya pada Andara atau Ibunya. Anelis hanya mengandalkan satu sumber. Cerita Bapaknya yang diulang-ulang macam radio bodol. Gelombangnya diputar terus hinggal melekat erat dikepala Anelis. Tersemat jelas dalam ingatan dan menjadikan setiap detail cerita itu begitu menyakitkan.
Ingatan-ingatan tentang Andara, Bapak, juga Ibu mengumpul jadi satu. Seolah mengoloknya dan bicara bahwa ia tak pantas bahagia. Anelis menyeka air matanya. Selagi tak ada Rajasa ia tak perlu merangkai alasan kenapa matanya sembab. Lingkar matanya memang gelap, ia cukup bilang tidur kemalaman. Tapi, Rajasa selalu pandai menebak dan Anelis tidak bisa menutupi. Ini kesempatan untuknya mengeluarkan semua sesak. Disetiap kata yang ia tulis dan baca ulang. Sebenarnya sama saja dirinya menabur garam, pada luka lama yang belum sempurna sembuh. Luka itu masih menganga dibagian terdalam hati Anelis. Dan ia tidak tahu kapan luka itu akan hilang. Takutnya justru bertambah parah. Saat ia harus memulia kehidupan rumah tangga. Ia takut cerita Bapak dan Ibunya terjadi juga di kehidupannya. Anelis kembali menyeka air mata. Mencukupkan diri membaca curahan hatinya di blog. Mulai malam ini Anelis akan aktif menulis lagi. Mengutarakan segala kisah untuk membantunya mengusir gundah. Termasuk tentang dirinya dan Rajasa yang begitu mencintainya. Anelis menutup leptop pribadinya. Membuat sandi agara tak semua orang bisa membuka, termasuk Rajasa. Malam ini ia menemukan kembali teman sepi. Menangis membuat mata Anelis lelah. Ia memejamkan mata menutup harinya. Anelis bermimpi bertemu ibunya kembali.