
"Benar kata Ibu. Bahagia dan duka itu hanya sedikit sekali bedanya. Hari ini aku begitu bahagia tapi selang beberapa waktu berlalu, aku tersedu."
Anelis bersenandika sembari menatap pantulan dirinya pada cermin riasnya. Ia tak akan pernah tahu jika aura bahagia yang hadir menyapa hanya singgah sebentar saja.
Anelis menikmati atmosfir baru di apartemennya yang biasanya sesak. Tak dipungkiri ia memang senang. Hari ini ia bisa memakan makanan favoritnya. Meski bukan pete seperti sebelumnya, Ibunya tetap menyiapkan hidangan bergizi lain. Urusan persiapan hantaran tujuh bulanan ia memercayakan pada Rajasa.
Rajasa mulai mencari catering terbaik. Prioritas utamanya adalah mengirim makanan tersebut ke Sahabat Belajar. Ia juga mengontak nomor manajer Daisha Bakery untuk hantaran kue sebagai tambahan. Lagi-lagi ia memikirkan kesalahannya yang tak bisa mengurus istri dan calon anaknya. Saat ini tak ada yang perlu disesali. Ia harus segera menunaikan tugas pertamanya.
"Aku berangkat dulu Ne." Rajasa berpamitan pada Anelis yang asik membantu ibu di dapur.
"Tidak ditunggu sebentar Sa? Bentar lagi matang masakannya."
"Ndak Buk nanti saja pas makan siang nyobanya. Rajasa pamit Buk." Rajasa pun mencium punggung tangan Ibu.
Anelis meski ditinggal Rajasa kerja tak terasa kurang harinya, ada Andara dan Ibu yang menemani. Anelis tahu ia tak pernah bisa sepenuhnya jauh dari orang tuanya.
"Mbak kamu mandi dulu sana. Beneran bau asem banget."
Anelis mencium lengannya sendiri. Ia tersenyum geli pada Andara dan Ibu.
"Nah, kan lebih asem dari ikan teri yang dibawa Ibu nih." Andara mengeluarkan kotak kecil bawaan mereka.
"Oke adikku." Anelis pun beranjak dari dapur itu, ia memilih membersihkan diri di kamarnya.
Selesai mengguyur badannya dengan air, kembali Anelis melihat cermin. Jelas sekali dirinya tak lagi cantik. Anelis memilih membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Ia bahkan lupa sensasinya mengoleskan gel aloevera pada wajah. Kehamilannya benar-benar membuat Anelis semakin tidak mengurus diri. Anelis duduk di kursi riasnya, aneka rupa make up tersedia di meja dengan cermin besar di depannya. Saat tangannya hendak meraih kapas, pandangannya berubah.
Tumben sekali ketinggalan. Pikir Anelis.
Sebelumnya Anelis tak pernah mau tahu bahkan tidak tertarik sama sekali dengan ponsel Rajasa. Hampir di setiap hari mereka menjaga privasi masing-masing meski mereka sudah menikah. Hanya hari ini saat tak sengaja ia mendapati ponsel suaminya itu di meja riasnya, membuat rasa ingin tahunya muncul.
Anelis bergetar membuka ponsel yang tak terkunci. Dibagian muka tak ada foto mereka berdua lagi. Sebelumnya Anelis tahu Rajasa tak pernah lupa menjadikan foto mereka sebagai walpaper utama. Mungkin suaminya jenuh. Hatinya berbisik setidaknya Rajasa tak menyimpan rahasia. Buktinya layar ponsel itu tetap bisa dibuka olehnya.
Sebenarnya Anelis tak ingin membuka lebih jauh isi ponsel Rajasa, hanya saja rasa penasarannya tiba-tiba semakin kuat. Anelis membuka galeri foto diponsel itu. Foto mereka di Candi Borobudur dulu masih mendominasi. Belum ada tambahan foto lain. Anelis tersenyum, momen itu momen bahagia untuk mereka. Ia pun menggeser foto lainnya. Tanpa sadar ia terbawa pada perjalanan waktu itu. Perjalanan yang menjadikannya utuh sebagai seorang istri. Anelis bersyukur sampai saat ini Rajasa masih sabar menenami meski kadang ia merasa suaminya tak lagi sama.
Selesai mengenang kenangan, Anelis beralih melihat pesan whatsapp Rajasa. Ia teliti membaca satu per satu pesan itu. Tak ada yang aneh, semua tentang pekerjaan dan rekan yang hanya saling menyapa. Hati Anelis lega, Rajasa masih bisa dipercaya. Ia tak mencoba berkomunikasi dengan lawan jenis jika tak penting. Yang namanya rasa penasaran selalu menuntut untuk mencari lebih. Hal itulah yang membuat Anelis ingin melanjutkan aktivitasnya mengecek ponsel Rajasa untuk kali pertama. Anelis pun beralih ke hal lain.
Di ponsel Rajasa tak ada media sosial seperti miliknya. Satu-satunya bentuk komunikasi lain yang bisa dilakukan melalui email. Anelis membuka email milik Rajasa. Dibacanya satu persatu judul email yang masuk. Kebanyakan hanya email promo dan spam lainnya. Anelis tersenyum sendiri. Suaminya bersih sekali bahkan email saja tak sampai menumpuk banyak. Tidak seperti dirinya. Puas dengan kotak masuk, Anelis beralih ke email terkirim. Raut wajah Anelis berubah. Ia terperangah. Saat itu juga hati Anelis merasa lara. Ia tahu tak ada yang salah dari isi email itu, semua adalah fakta tentang dirinya. Hanya saja Rajasa tak pernah berdiskusi lebih dulu tentang semua itu, membuat Anelis bertanya.
__ADS_1
Haruskah sembunyi-sembunyi? Kenapa tak langsung bicarakan dari hati ke hati? Haruskah sejujur ini untuk sebuah konsultasi? Separah itukah aku dimatamu Mas?
Tanggal di email tersebut sudah lama. Tepatnya saat Anelis sudah mulai hamil. Saat itu Rajasa membuat jarak dengannya dan kerap tidak pulang.
Anelis merasa dirinya dicurangi. Meski tak ada balasan lain dari email tersebut hanya saja psikiater yang dikontak Rajasa adalah wanita. Itu alasan yang semakin membuat Anelis tak nyaman.
Sebuah email dengan detail cerita tentang dirinya yang sebenarnya. Anelis menyimak setiap kata yang dituliskan Rajasa. Perih, perih sekali perasaan yang hadir di sana. Suaminya selama ini diam karena tak mau membuat masalah. Suaminya selama ini terlihat baik-baik saja dan semuanya hanya dusta belaka. Sebenarnya Rajasa menyimpan banyak cerita luka yang sengaja ia tutup rapat. Email itu menjelaskan semuanya. Bulir bening membasahi pipinya.
"Mbak cepetan mandinya. Kata Ibu mumpung masih anget enak dimakannya." Andara berbicara dari balik pintu kamar Anelis.
"Ya. Udah selesai kok Ra."
Anelis menyeka pipinya yang basah. Perpaduan gel dan air mata semakin membuat lembab. Ia menutup ponsel Rajasa, berusaha meletakkan seperti semula. Takut Rajasa akan kembali mengambilnya. Ia pun melanjutkan kembali niatnya berdandan. Email dan nama psikiater kenalan Rajasa membuatnya gusar. Jangan-jangan ia kalah cantik dari wanita itu.
Apa selama ini Rajasa berubah dingin karena itu juga?
Anelis menggelengkan kepala ia berusaha tetap berpikir jernih, sejernihnya.
"Oke. Sempurna." Anelis mengoleskan liptin sebagai sentuhan terakhirnya. Ia beranjak dari kursi riasnya menuju dapur.
"Nah gini dong cantik. Meski hamil dan cuma di rumah aja tetap harus tampil cantik dimata suami. Ingat loh Ne nggak boleh kamu sembarangan awut-awutan." Ibu menyiapkan hidangan di meja.
"Harus Ne. Kita nggak pernah tahu seperti apa suami kita di luar sana. Yang pasti kita memang percaya tapi namanya menjaga jauh lebih utama. Apalagi nanti waktu anak kamu lahir, kamu tetap harus berusaha menjaga penampilan."
Anelis menerima piring dari ibunya. Ia semakin menerka seperti apa wajah wanita yang menjadi tempat curhat Rajasa.
"Emang dulu Ibuk njaga juga?"
Seingat Anelis ibunya tak kalah berantakan setelah melahirkan Andara.
"Kamu itu suka membalikkan kata terus. Dah makan yang banyak. Jangan biarin anak kamu kelaparan. Dia nggak tahu apa-apa soal dunia luar, kamu wajib menjaganya. Kalau lancar enam minggu lagi kamu lahiran, kan?" Ibu Anelis kesal dengan ucapan putrinya.
"Kok Ibu bisa tahu?" tanya Anelis polos.
"Ibu dulu juga hamil juga lahiran. Pasti tahu berapa usia ideal melahirkan. Harusnya kamu belajar Ne sedikit-sedikit tentang ilmu menjadi seorang ibu. Jangan masa bodoh terus." Ibu Anelis prihatin melihat kehamilan putrinya. Terlebih ia jauh dan tak bisa setiap waktu menemani.
"Iya Buk," ucap Anelis malas.
__ADS_1
Anelis merasa tak ingin lagi memakan masakan Ibunya. Saat mereka kembali akrab ibu mulai melancarkan nasihat-nasihat untuknya. Dan ia belum begitu suka.
"Satu lagi. Lahiran baik normal atau cesar sama-sama sakit dan butuh perjuangan. Tak selalu mudah, tapi tak ada yang sulit juga jika Allah sudah berkehendak. Sesakit apa pun nanti jangan pernah menyesal. Karena terbukti banyak wanita yang memilih mengulang proses itu sampai dua atau tiga kali bahkan ada yang lebih. Anelis Arkaina putri Ibu juga harus sama kuat dan tangguhnya." Ibu Anelis tersenyum. Ia tahu Anelis mulai malas mendengarkan. "Makan yang banyak." Wanita berjilbab itu menambahkan lauk dipiring putrinya.
"Makasih Buk." Anelis senang Ibunya tak lagi banyak bercerita.
Baru satu suap nasi masuk ke mulut Anelis pintu apartemen terbuka. Rajasa kembali ke rumah dengan tergesa.
"Loh sudah selesai Sa?" tanya Ibu Anelis heran.
"Belum Buk ada yang ketinggalan." Rajasa lurus saja menuju kamar. Ia mengambil cepat ponselnya.
Anelis yang tadi sudah membaca semua email Rajasa bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Ketinggalan Mas? Kok bisa?" tanyanya saat Rajasa keluar kamar.
"Lupa Ne. Kamu nggak lihat? Kan ketinggalan di meja rias."
"Aku malah nggak tahu Mas," ucap Anelis menutupi.
"Oke. Aku balik lagi ya."
"Nggak sekalian makan Sa?" Ibu kembali bertanya.
"Nanti saja Buk. Silakan dinikmati."
Tanpa mendekat pada Anelis, Rajasa pergi begitu saja. Raut wajahnya tak seperti awal pamitnya dipagi hari. Anelis kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Andai tak ada Ibu dan Andara air matanya jelas akan tumpah. Gelagat Rajasa memunculkan kecurigiaan pada diri Anelis. Ibu yang diam-diam mengamati Anelis dan Rajasa menangkap kejanggalan. Sepertinya hubungan mereka tidak baik-baik saja.
"Diam tidak akan menyelesaikan masalah. Jika itu mengganggumu, sebaiknya kamu utarakan langsung. Jangan dipendam dan menyiksa diri." Ibu Anelis sengaja membuka obrolan berat untuk putrinya. "Jika ada yang salah dalam sebuah hubungan baiknya kalian perbaiki. Jangan membuat asumsi tanpa mengoreksi. Jangan membantah setiap kebenaran dengan dugaan-dugaan tak pasti. Pastikan kamu mengonfirmasi terlebih dahulu apakah itu valid atau tidak. Jangan buru-buru mengambil kesimpulan akhir."
Anelis tak mampu lagi mengunyah nasi dan lauk. Ingin rasanya ia menyudahi makan pagi yang kesiangan itu lalu mengunci diri. Sorot mata Ibu Anelis nampak tajam. Ia tak suka putri pertamanya terlihat begitu lemah.
"Tetap makan, sekali pun itu terasa berat. Tetap teruskan setiap kunyahan demi anakmu dan bukan demi dirimu. Kamu harus kuat Ne." Ibu mengusap lembut tangan kiri Anelis. Ia beralih memandang Andara yang jelas tak paham ucapannya.
"Ayo Andara makan juga."
Andara mengangguk. Ia menyuapkan nasi pada mulutnya dengan tetap melihat kakaknya yang menunduk dalam. Ucapan ibunya menyentak Anelis. Ikatan batin ibu dan anak jelas tak bisa dikalahkan. Tanpa perlu prolog dari sebuah cerita seorang ibu sudah tahu isinya akan seperti apa. Hatinya ikut merasakan saat hal buruk menimpa anaknya. Ya. Anelis sedang tidak baik-baik saja. Ia menerka apa yang terjadi sebenarnya. Email itu dan nama perempuan sebagai tujuan berputar dikepalanya. Tanpa terasa, air mata kembali keluar. Anelis tersedu, ia tak bisa menipu dirinya lagi, menganggap semua baik-baik saja.
__ADS_1
Apa yang nampak dipermukaan belum tentu selalu benar. Bisa jadi setiap orang menyimpan rapi setiap masalahnya sendiri, dan tetap menjalani hari-hari seolah tanpa beban berat yang menimpa diri. Anelis semakin tersedu bersamaan dengan masakan ibunya yang saat ini terasa tak nikmat.