
Bangku SMP Anelis
Anelis kembali ke rumahnya setelah lelah jalan kaki dari sekolah. Ia bersama teman-temannya bicara banyak hal. Mulai dari pelajaran yang membosankan sampai dengan acara TV favorit.
Rumah bagi Anelis adalah tempat bercerita juga. Keluarganya biasa membahas hal-hal seru saat berkumpul. Waktu itu tak biasanya rumah sepi. Bapak Anelis masih kerja di luar, Ibunya sepertinya sudah pulang. Anelis meletakkan tasnya di kamar.
"Buk, Buk." Anelis mencari Ibunya di dapur.
Tak ada respon dari Ibunya meski rumah tak terkunci sana sini. Anelis mencari Ibunya di kamar siapa tahu ketiduran. Ia melangkahkan kaki menuju kamar itu, kamar bangunan baru hasil sekat ruang TV dan ruang makan. Ibunya tak ada di sana. Hanya telepon genggam milik Ibunya saja yang tertinggal.
"Tring ..." Anelis dibuat kaget dengan bunyi telepon tadi.
Dalam hati Anelis ingin cuek, tak peduli suara telepon itu berdering tak berhenti. Sejak awal telepon ibunya adalah barang pribadi di rumah. Ia tak berani hanya sebentar saja meminjam. Anelis keluar dari kamar itu. Ia beralih ke kamarnya sendiri lagi.
"Tring ..." Kali ini deringnya lebih sering.
Rasa penasaran membawanya kembali ke kamar ibunya. Siapa tahu telepon penting urusan pekerjaan. Anelis pun mengangkatnya.
[Halo Yang kok pesanku nggak dibalas?] Suara berat seorang lelaki terdengar di telinga Anelis.
[Halo. Bisa dibantu?] Anelis berusaha membuat sapa yang biasa.
[Halo? Ibu sedang keluar. Ini Anelis.] Meski Anelis tahu tak ada respon lagi. Ia tetap menyebut namanya sendiri.
Tut ... tut... Sambungan terputus setelah selang beberapa detik tak ada suara. Aneh. Anelis pun meletakkan kembali telepon tadi, hanya saja pesan berjibun dari nama pengirim yang sama membuatnya penasaran. Anelis membuka satu kotak pesan.
Sayang jangan lupa besok ketemu.
Anelis bergetar membaca pesan milik Ibunya. Sayang? Siapa yang memanggil sayang ke Ibu. Setahu ia Bapak tak pernah memanggil dengan sebutan sayang. Anehnya lagi nama pengirim pesan tersebut adalah nama perempuan. Ibunya jelas menamai dengan Airin. Apa mungkin Airin itu laki-laki?
Anelis dipenuhi banyak tanya dalam kepala. Tanpa berpikir lagi ia membca satu demi satu pesan dengan nama sama. Seketika Anelis dibuat mual. Ia benar-benar ingin muntah. Semua berisi rayuan juga gombalan maut khas anak muda. Tangan Anelis bergetar. Seusianya sudah harus menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang memanggil ibunya mesra selain Bapak. Setiap hari Ibu dan bapak selalu romantis. Bahkan hubungan mereka kerap menjadi panutan bagi pasangan lainnya dalam keluarga besar. Tapi apa ini semua? Sebuah pengkhianatan? Perselingkuhan. Anelis semakin merasa mual.
Tiba-tiba bayang kehancuran keluaganya seenak sendiri datang. Ia pun meletakkan telepon tadi, membuka pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu juga. Anelis mengeluarkan air liurnya.
Setelah rasa mual itu pergi Anelis kembali menyimak pesan-pesan tadi. Kali ini ia beralih ke pesan lebih lama. Bahkan ada beberapa pesan yang tidak masuk di kotak masuk melainkan tersembunyi. Anelis terus mencari, semakin banyak ia tahu semakin hatinya beralih. Kini ia merasa terkhianati oleh pesan-pesan tadi. Baginya ibu sudah mencari kehidupan lain selain Bapak, ia dan Andara.
Anelis merangkai kesimpulan sendiri. Airin bukanlah perempuan. Bukan sahabat atau teman Ibu saja. Lima pesan baru yang sudah ia baca sengaja ia hapus. Juga riwayat panggilan masuk dan tak terjawab atas nama Airin. Anelis meletakkan kembali telepon genggam Ibunya. Ia biarkan rahasia itu tersimpan dalam memorinya selamanya.
***
Bangku SMA Anelis.
Waktu itu sudah lepas maghrib Ibu Anelis belum pulang. Acara kantor yang mengharuskan ia pergi ke luar kota selama tiga hari. Bapak, Anelis juga Andara mengiyakan saja sembari berpesan agar perempuan itu menjaga diri. Anelis sengaja menyimpan semua pesan rahasia dan cerita kotak masuk. Meski setiap sore ia melihat Ibu yang belum berjilbab besar bergelayut manja pada lengan Bapak. Setiap hari ia harus menyaksikan mereka begitu saling mencinta tanpa tahu rahasia sebenarnya. Anelis berharap cerita itu tak terungkap sampai kapan pun. Ia tak ingin orang tuanya terlibat cekcok lain selain masalah Mbah Putri.
"Ibu sudah ngabarin belum, mau jemput jam berapa?" Pak Arkain bertanya pada Anelis yang sedang asik bermain HP.
"Belum Pak."
__ADS_1
"Sudah setengah tujuh masa belum selesai juga. Coba kamu telepon Ne."
"Ane nggak punya pulsa." Anelis cuek saja. Sudah sering saat dinas luar Ibunya pulang larut malam.
"Ah kamu itu, suka gak peduli sama Ibumu." Pak Arkain beranjak dari ruang TV, ia memilih mengamati jendela ruang depan yang masih terbuka.
Memang sejak Anelis membaca pesan-pesan itu Anelis sedikit menjaga jarak. Lebih tepatnya Anelis kurang nyaman saat harus menanyakan masalah pekerjaan pada ibunya. Pikiran Anelis dipenuhi dengan prasangka yang justeru menyiksanya. Ia takut kebenaran pesan-pesan itu nyata adanya. Anelis kembali memainkan ponselnya. Sebuah pesan menggetarkan hp itu.
[Jemput Ibu 10 menit lagi di trotoar biasa.]
Selama ini Anelis memang kerap menjemput Ibunya. Tapi tak pernah selarut ini. Biasanya jika itu urusan kerja dan harus sampai malam, ibunya akan langsung menelepon Bapak. Tapi hari ini tidak. Tanpa berpikir panjang Anelis berteriak.
"Pak, Ibu minta jemput di trotoar biasa."
"Sekarang?" tanya Bapak dari ruang tamu.
"Iya Pak."
Anelis lupa membaca detail pesan ibunya. Sepuluh menit lagi bukan sekarang. Anelis kembali meneruskan aktivitasnya. Kali ini ia memasang headset di telinga.
***
Pak Arkain begitu semangat menjemput istrinya. Pulang sampai jam setengah tujuh sudah begitu larut baginya. Ia pun menyelah motor bebek miliknya dan berkendara sampai trotoar jalan kecamatan. Istrinya habis dinas luar di kabupaten yang mengharuskan menginap sampai tiga hari. Bagi pak Arkain itu wajar saja, pelatihan untuk meningkatkan profesioanalitas bagi karier istrinya.
Pak Arkain sampai di daerah dekat trotoar. Kini ia memelankan laju kendaraannya sambil melihat bis bis yang berdatangan. Siapa tahu bis yang berhenti membawa istrinya. Tepat dibelokan pak Arkain seperti melihat sosok istrinya hanya saja ia tidak turun dari bis melainkan dari sebuah mobil pribadi.
Deg. Jantung pak Arkain seolah berhenti. Ia tak akan pernah menyangka istri yang begitu dipercayainya justeru mendua. Istrinya mencium punggung tangan lelaki itu kemudian membiarkan lelaki yang mengantarnya pergi bersama mobilnya. Pak Arkain kembali bersembunyi, takut mobil tadi berbalik arah. Ternyata tidak.
Ibu Anelis berjalan lurus kemudian belok kanan menuju trotoar tempatnya dijemput Anelis. Ia berjalan santai seolah tak ada yang salah. Pak Arkain menyelah kembali motor bebeknya. Ia benar-benar menjemput istrinya di trotoar. Tanpa kata juga salam pembuka ia meminta istrinya naik dan secepat mungkin membawa motornya kembali ke rumah. Hatinya bergemuruh. Ia jelas tak bisa membahasnya malam ini. Terlebih Mbah Putri ada di rumah. Esok hari waktu yang tepat untuk meluapkan emosinya.
***
Pagi hari yang biasanya hangat menjadi dingin. Atmosfir kemarahan sudah menyelimuti rumah Anelis. Setelah Mbah Putri berangkat ke kiosnya di pasar, adu mulut tentang perselingkuhan ibunya tak terelakan. Bapak membawa celurit yang harusnya ia gunakan untuk mencari rumput. Tapi celurit itu ia tempelkan pada panci juga wajan milik istrinya.
Ibu Anelis yang meski berusaha membela diri jelas sudah salah langkah. Apalagi Anelis juga pernah mendapati pesan-pesan itu sebelumnya. Anelis sedikit pun tak angkat bicara ia diam dan berusaha menutup telinga Andara yang usianya lebih muda. Anelis berusaha kuat juga tegar di kamarnya.
"Beraninya kamu hianatin aku ya! Mentang-mentang aku nggak punya mobil kamu berlagak dengan pria itu. Siapa dia!"
Pak Arkain mengacungkan celurit tepat di muka istrinya.
"Dengarkan aku dulu, itu tidak seperti yang kamu dengar."
Memang selama ini desas desus tentang Ibu Anelis yang selingkuh sudah kerap terdengar tapi pak Arkain selalu mengabaikan. Sayangnya Ibu Anelis tidak tahu jika suaminya itu kemarin melihat langsung di dekat trotoar.
"Aku melihatnya. Aku mengamati kalian berdua. Jangan-jangan selama ini Anelis bersekongkol denganmu karena dia yang selalu menjemputmu."
"Yang benar Mas kalau bicara. Jangan bawa-bawa Anelis." Ibu Anelis tak kalah membentak.
__ADS_1
Anelis dari kamar itu mendengar ucapan Bapaknya. Ia merasa dirinya disalahkan dan memang salah. Anelis pun menitihkan air mata. Pesan-pesan yang membuatnya mual dulu, seolah kembali terbaca.
"Aku tak akan bisa percaya lagi sama kamu juga Anelis. Kalian sama saja, buat kecewa." Pak Arkain mengayunkan celuritnya. Hampir saja sampai muka istrinya tapi ia putarkan dan menyasar pada wajan juga panci. Ia biarkan piranti masak memasak itu peyot tak berbentuk.
Dalam hati ibu Anelis menahan geram. Selama ini ia hanya diam karena masih ingin mempertahankan. Ya, dulu ia menjalin hubungan dengan lelaki waktu itu, awalnya hanya sebatas mencari kesenangan saat suaminya selalu kasar di rumah. Lelaki itu hanya tempat curhat baginya. Tapi melihat suaminya semakin menjadi-jadi saat marah, membuatnya ingin segera lepas dan bebas dari jerat lelaki yang berhasil membuatnya memiliki dua anak. Ia semakin muak.
"Baiklah. Ceraikan saja aku. Aku jelas-jelas telah menghianatimu dan merusak keluarga kita. Kalau perlu bunuh saja aku dengan celuritmu. Selama ini kamu sudah membunuh perasaanku dengan sikapmu!" Ibu Anelis pun melengkingkan tangis.
Pak Arkain yang menyaksikan istrinya semakin lemah justeru merasa tambah marah. Ia tak hanya menyasar wajan juga panci melainkan gelas dan piring. Semua ia pecahkan. Bunyi pecahan itu terdengar jelas ditelinga Anelis. Hatinya semakin teriris. Puas dengan barang-barang rumah, pak Arkain melesat pergi. Tak peduli tetangga mendengar cekcoknya di pagi hari.
Sejak saat itu keluarga Anelis tak sama lagi. Meski mereka berdamai lewat Pak De, tetap saja mereka sudah saling terluka. Bapak dan Ibunya hanya memakai topeng demi nama baik keluarga dan anak-anaknya.
Sekali retak tetap akan retak. Sulit untuk membuatnya utuh dan kembali tegak. Terbukti mereka kembali mengulang cekcok yang sama dengan masalah berbeda.
Hingga suatu hari salah satu dari mereka lebih memilih mengakhiri jalinan kasih yang tak lagi menyejukkan hati.
***
Anelis mengerjapkan mata. Entah kenapa kepingan-kepingan itu kembali menyapa. Meksi ibunya kini telah berubah, telah berjilbab dan berpakaian lebih syar'i, meski semua sudah jelas dan ada klarifikasi, hatinya tetap saja luka. Ya, perceraian kedua orang tuanya terbawa sampai ia berumah tangga. Karena ia menyaksikan langsung hangat dan hancurnya keluarga itu. Ia paham semua akar masalahnya.
"Kamu baik-baik saja Ne?" Ibu mengusap lengan Anelis yang masih tertunduk dalam.
Sekuat hati Anelis mengangkat kepala. Ia akan bertanya untuk terakhir kalinya.
"Buk ... Apakah mungkin dulu Ibuk mencari persinggahan lain karena Bapak begitu keras kepala? Buk, apa menurut Ibuk mas Rajasa juga akan melakukan hal sama?"
Pertanyaan Anelis menghujam dalam hati wanita berjilbab itu. Ia tahu dulu dirinya khilaf dan penuh dosa. Semua bukan mutlak kesalahannya.
"Iya. Adakalanya hati kita lelah menghadapi orang yang tak mau berubah. Itu cerita lama, Ibu harap kamu benar-benar melupakannya." Ibu Anelis beranjak dari meja makan. Ia menuju kamar tamu di apartemen Anelis.
Andara yang tak paham lagi soal cerita, hanya bisa memandang kakak dan ibunya bergantian.
Anelis kembali memikirkan email terkirim Rajasa. Cinta tak selamanya berujung duka. Anelis siap merubah hidupnya sebelum apa yang terjadi pada Bapak Ibunya menimpanya. Ia tak mau buah hatinya nanti bernasib sama.
πππ
Dear pembaca setia ANELIS.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Mohon tinggalkan like, komen dan vote serta masukan yang membangun.
Sementara waktu ANELIS akan berakhir seperti ini. Kepadatan dan kesibukan di dunia nyata mengharuskan untuk fokus sejenak.
Nantikan kelanjutan cerita dan kejutan lainnya Ya.πππ
Salam Hangat.
πΊSafira Lutfiani dan Keluarga. πΊ
__ADS_1