ANELIS

ANELIS
Bab 27


__ADS_3

Anelis mengikuti semua anjuran dokter. Vitamin dan bedrest total untuk memperkuat janin yang dilakukannya berhasil. Empat minggu ia fokuskan mengurus dirinya. Rasa mual juga tidak nyaman pada badan tetap menyerangnya. Tapi ia berusaha melawan dan tak menghiraukan.


Rajasa juga melakukan sebuah pencapaian. Dengan tetap pulang tepat waktu, menunggui Anelis yang bahkan ke kamar mandi saja harus digendong. Usahanya tetap berjalan. R-jasa.com tak jadi kusut berkat kucuran dana dari pak Rajendra. Ucapan terima kasih atas perkembangan pesat Daisha lewat novel milik mamah Rajasa.


"Makasih Mas udah jagain aku. Maaf ngrepotin melulu," ucap Anelis dengan tetap berbaring.


Rajasa mengangguk saja, kemudian keluar kamar membawa gelas dan mangkok yang sudah kosong. Meski Rajasa menemani setiap hari, ia tak lagi ceria saat menemani Anelis. Hatinya sudah kosong sejak Mamahnya meninggal. Dan Anelis bukan lagi dunianya.


Hari-hari Rajasa ia habiskan dengan membuka laptop. Ia berhenti jika Anelis meminta bantuan.


"Mas, Mas sini," ucap Anelis dari kamar.


"Apa?" Rajasa memanjangkan lehernya dari pintu.


"Bisa duduk sebentar?" Anelis menepuk sisi ranjang sebelahnya.


Meski malas Rajasa tetap menghampirinya.


"Apa? Kamu tuh disuruh istirahat kok malah main leptop aja." Rajasa kesal dengan sikap Anelis yang selalu keras kepala. Dari dulu tidak pernah berubah.


"Lihat deh bagus nggak performa blogku? Aku sengaja membuat beberapa hal baru." Anelis menunjukkan projectnya yang sempat tertunda. Setelah resign dari Sahabat Belajar ia memang berniat fokus di dunia maya.


Tanpa melihat leptop Anelis, Rajasa mengangguk. Ia pun tak duduk di sebelah Anelis.


"Bagus Ne. Kalau menurutmu bagus pasti bagus," ujar Rajasa kemudian pergi.


Anslis menatap monitor hampa. Dulu suaminya paling semangat memberi komentar dan masukan. Suaminya juga selalu antusias. Kini, hati suaminya berubah dingin. Bahkan lebih beku dari hatinya seperti awal ia mengenal Rajasa.


***


Sekar mangamati layar ponselnya. Walpaper foto dirinya bersama Abbas di Singapura tampak sempurna. Ia memikirkan tentang hubungan mereka yang meski sudah berlangsung lama tetap belum sampai pelaminan. Keluarganya yang tinggal dilain kota kadang juga menanyakan keseriusan hubungan mereka. Sekali dua kali saat orang tuanya berkunjung mereka kerap meminta Abbas segera menikahinya.


Niat itu sudah ada sejak tiga tahun lalu, sayang Abbas harus ke Singapura bersama pak Rajendra dan Daisha. Bagi Sekar Abbas seperti terikat dan terkait erat dengan keluarga yang telah memberi banyak jasa pada hidupnya. Sekar pun tak bisa mengelak dari takdir itu, karena ia memang lebih mencintai Abbas.


Sekar bergeser menatap nomor kontak Abbas yang diberi tambahan tanda hati berwarna merah. Ia berhenti memainkan ponselnya. Sekar mengeja nama Abbas di layar.


Kenapa harus aku dulu yang menghubungi? Kenapa harus aku terus yang mengejar?


Memang selama ini cinta Sekar jauh lebih besar. Abbas jarang menunjukkan cintanya. Atau sebenarnya mungkin Abbas menyimpannya setelah mereka menikah? Sekar tak mendapat jawaban atas kemungkinan-kemungkinan lain yang terjadi. Nyatanya memberi terus tanpa menerima tetap membuat hati Sekar jengah juga.


Sekar beranjak ke lemari pakaian miliknya. Ia ingin jalan-jalan sekadar mengusir penat. Sekar mengambil potong baju, matanya tak sengaja menangkap dua tas belanja. Bahkan urusan gaun pengantin, Abbas lupa begitu saja. Saat Sekar tak membahas, Abbas pun demikian. Tak pernah berinisiatif lebih dulu. Sekar sengaja menyimpannya sendiri.


Sekar menutup lemari kasar. Hatinya menjadi gusar. Seharian alunan music band indie favoritnya menghentak di kamarnya. Juga dihatinya.


Sekar memikirkan banyak hal. Ucapan Rajasa yang ia coba hilangkan tetap menggema ditelinga. Ia tak pernah tahu kalau ada orang lain yang mungkin lebih baik mencintainya di luar sana. Sekar juga tak mengerti jika selama ini hatinya ternyata merasakan hal sama seperti pasiennya. Sekar pun mengambil ponselnya, sebuah pesan ia tulis dan biarkan mengudara.

__ADS_1


[Saya siap buka konsultasi pak Rajasa.]


Rajasa sedang menganalisis laporan kiriman dari Dimas. Sejak awal ia tak mau rasa kagumnya pada Sekar terkesan menyalahi aturan. Rajasa tak mengusik Sekar dengan terus menghubunginya, ia biarkan Sekar benar-benar memilih dunianya dari hatinya. Hingga pesan dari Sekar membuatnya melonjak senang.


[Baik. Hari ini?]


[Iya. Tapi tidak di rumah sakit. Aku tunggu di caffe dekat rumah sakit.]


Rjasa menekan tombol ctrl+save pada dokumennya kemudian menutup leptopnya. Ia beralih ke kamar mandi lalu mencuci muka. Penampilannya sengaja ia buat lebih sempurna.


"Ne, aku kantor dulu. Ada urusan mendadak."


"Nggak libur Mas? Weekend?" ucap Anelis dari kamar.


"Dadakan."


Rajasa menutup pintu apartemen. Tanpa berpamitan langsung pada Anelis, ia berlari.


Anelis berusaha bangkit dari ranjangnya. Ia ingin tahu kenapa suaminya begitu terburu-buru. Leptop, bekas gelas kopi dan beberapa berkas masih berserakan di meja.


Sepenting itukah?


Lagi-lagi Anelis hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata, menepis semua pikiran buruk yang melintas dikepala.


***


Satu gelas greentea latte sudah siap diantar ke meja pelanggan. Pemilik caffe itu paham betul apa yang akan dipesan pelanggannya saat ia datang.


"Buat sahabatku yang selalu awet muda," ujar wanita berbaju hitam.


"Awet muda? Berarti aku udah tua dong."


"Ups. Keceplosan," Rahma, sahabat Sekar membawa langsung pesanan. Ia meletakkan gelas itu, kemudian duduk menemani sahabatnya. Setiap weekend ia sengaja mengurus langsung caffenya.


"Untuk ukuran seorang wanita dengan profesi kerja mentereng sepertimu, kamu udah tua." Rahma mengamati sahabatnya yang usianya tahun ini munuju angka tiga puluh tiga.


Bagi beberapa wanita karier usia segitu masih pantas melajang. Tak perlu buru-buru menikah. Hanya saja Sekar punya Abbas yang sejak lama ingin ia nikahi.


Sekar mengaduk mimunannya dengan sedotan. Enggan menanggapi ucapan sahabat seumuran dengannya yang sudah beranak dua.


"Abbas baik-baik aja, kan?" Kali ini Rahma mengganti topiknya.


Sekar pun meminum greentea latte pesanannya. Ia tahu Abbas pasti baik-baik saja di kediaman pak Rajendra. Apa yang tidak bisa diberikan Bapak angkatnya itu? Abbas juga pasti nyaman di sana, sampai-sampai harus Sekar yang lebih sering datang. Abbas tak lagi sering menjemputnya atau sekadar memberi ucapan manis jangan begadang terus ya. Fokusnya hanyalah kesembuhan Daisha dan balas budi tiada akhir.


"Kapan dia tidak baik?" ucap Sekar beserta raut wajah yang berubah.

__ADS_1


Dulu Sekar paling antusias membahas Abbas. Awal-awal kerja di rumah sakit Sekar tak henti menceritakan Abbas pada Rahma di caffe sahabatnya.


"Maksudku kalian. Kalian baik-baik saja? Sekarang jarang sekali kalian terlihat bersama," ucap Rahma lagi.


Sekar hanya tersenyum kemudian kembali memainkan greenteanya.


"Selalu pas kalau kamu yang bikin," ucap Sekar puas.


"Oke nyonya Sekar, saya permisi dulu. Ada tamu lain di caffe saya."


"Nyonya kamu bilang? Belum setua itu kali." Kali ini Sekar sedikit geram.


Rahma cuek saja. Sekar yang tiba-tiba tak pernah membahas Abbas ia biarkan. Mungkin sedang ada masalah, pikir Rahma. Ia pun beranjak ke pengunjung lainnya.


"Mari, selamat datang." Rahma memberi salam pada pengunjung caffenya.


Laki-laki dengan kaos berkerah dan celana staylist itu mengangguk. Matanya mencari sosok Sekar di caffe yang ukurannya tidak terlalu besar. Hanya saja beberapa pengunjung di sisi kiri pintu tidak terlihat langsung.


"Sini Sa!" Sekar melambai pada pengunjung yang baru disapa Rahma.


Rajasa melangkah mendekati meja Sekar. Rahma melihat sekilas mereka kemudian kembali pada aktivitasnya. Wajar jika sahabatnya yang berprofesi sebagai psikolog itu bertemu banyak orang. Pikir Rahma.


"Aku habiskan minumanku dulu, setelah itu baru kita keluar." Sekar menegak habis greente latte.


Rajasa yang mengira pertemuannya akan berlangsung di caffe itu ternyata keliru. Rajasa mengangguk saja. Mengikuti apa kata Sekar.


"Mau kemana?" tanya Rajasa saat Sekar sudah berada di mobilnya.


"Muter aja Sa sama puter lagu Homogenic. Jam buka praktikku masih nanti."


"Tanpa tujuan?" tanya Rajasa lagi. Ia sudah siap membawa Sekar ke tempat yang Sekar minta.


Sekar melihat Rajasa kemudian mengangguk. Ia tak tahu harus kemana diwaktu senggangnya.


"Oke karena hanya tersisa setengah jam kita habiskan waktu di rumah sakit saja. Aku antar kamu, lalu kamu bersiap. Biar konsultasiku dapat giliran pertama aku akan mengantre dari awal."


"Harus prosedural begitu?" tanya Sekar balik yang justru bingung.


"Loh. Aku mendaftar sebagai pasien. Aku wajib mengikuti aturan. Dari awal sudah kubilang, kan aku beristri." Rajasa benar-benar menjelaskan statusnya. Ia seolah tak mau kedekatannya dengan Sekar menimbulkan masalah dikemudian hari.


Sekar pun hanya bisa mengangguk. Ia sendiri bingung mau pergi kemana. Dan lebih tepatnya ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya juga.


Rajasa memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Ia membiarkan Sekar turun terlebih dulu. Hubungannya dengan Sekar harus profesional. Rajasa sudah memilih mengenal Sekar lewat profesi psikolognya. Siapa tahu dengan konsultasi, hal-hal yang selama ini tertumpuk dikepalanya bisa terurai. Ia memang butuh sosok wanita yang mampu membantunya memecahkan masalah. Wanita dengan kecakapan khusus sesuai standarnya. Ia tak mau mendapat perlakuan sama, seperti dengan Anelis dulu.


Rajasa mengayunkan langkah lebar ke meja pendaftaran. Ia mengantre di ruang tunggu sesi konsultasi. Hatinya ia siapkan sedemikian rupa agar Sekar benar-benar bisa menerima dirinya.

__ADS_1


__ADS_2