ANELIS

ANELIS
Bab 4


__ADS_3

Anelis menatap gambar dirinya dicermin. Mengoleskan gel aloe vera ke seluruh muka. Menghadirkan rasa dingin, setelah membakar kulitnya di siang hari. Ia menepuk-nepuk pipinya. Mengambil liptin yang cenderung ringan. Mengoleskan pada bibir. Anelis menanti Rajasa. Ia bilang tidak akan lama, hanya mengantar mobil jeep saja.


Anelis sengaja menyiapkan makan malam di balkon hotel. Menunya sederhana. Indomie goreng kriuk beserta telor ceplok, dan segelas es teh. Waktu menelepon service room tadi, sempat membuat geram hatinya. Pelayan bersikukuh tidak menyediakan menu itu. Tapi Anelis memaksa, ia mengancam akan memberi review buruk terhadap hotel bintang lima tersebut. Meski belum konsisten, Anelis rajin menulis di blog pribadinya. Juga akun media sosial. Anelis mengancam dengan dalih tersebut.


Ia bercita-cita menjadi penulis sejak rambutnya masih di kepang dua. Kecintaannya terhadap buku membuatnya ingin mengabadikan setiap kisah lewat goresan tinta. Mbah kakung orang pertama yang mengenalkannya pada buku.


Baju terusan selutut miliknya membuat dirinya merasa sempurna. Anelis mengenakan gelang pemberian Rajasa, waktu Rajasa menembaknya dulu. Sudah jam tujuh lebih, Rajasa tak kunjung tiba. Anelis resah. Mencoba menghubungi Rajasa lewat ponselnya. Tidak aktif, sepertinya batrenya habis. Perutnya sudah berbunyi berkali-kali. Ia memaksakan diri menanti suaminya. Indomie goreng miliknya berulangkali ia aduk dengan garpu.


Pintu kamar hotel berderit. Rajasa memasuki ruang sempit itu. Ya. Bagi Rajasa ini sangat sempit. Bersama istrinya, dan tidak bisa berbuat apa-apa, membuatnya begitu pengap. Rajasa mencari wanita pujaa


annya. Tak ada di ranjang seperti biasa. Paling sering jam segini Anelis sudah pulas. Kemudian terbangun di jam dua sampai pagi. Ia tak tidur lagi. Anelis sering insomnia.


Rajasa menyapu seluruh isi kamar. Melihat pintu balkon terbuka, ia yakin Anelis masih terjaga. Dipandangnya sosok wanita cantik dari belakang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun juga tidak dikatakan pendek. Badannya sedikit berisi, tapi tetap proporsional dengan tingginya. Rambutnya hitam legam, mengombak. Ia mengenakan terusan selutut dibalut sweater rajut. Semilir angin malam cukup terasa.


"Ehem..." Rajasa berdehem.


"Mas lama amat?! aku keburu lapar Mas," Anelis mengangkat garpunya. Indomie goreng instan mengular panjang.


"Ya ampun. Jauh-jauh nyampe hotel, pesennya indomie Ne?" ucap Rajasa heran.


"He...paling cocok kalau lagi malas makan," Anelis menyunggingkan senyum. "aku makan duluan ya, Mas. Beneran nggak tahan," ucap Anelis.


Mulutnya langsung terisi. Ia mengunyah begitu lahap.


"Pelan-pelan nanti kese-"


Belum habis Rajasa bilang, Anelis terbatuk.


"Air Mas, air...Uhuk uhuk,"


"Nggak berdoa sih, gitu kan jadinya," timpal Rajasa.


Ia mengambil alih garpu Anelis. Memotong Indomie instan. Mengaitkannya, lalu menyuapi.


"A...a...buka mulut," perintah Rajasa.


Anelis tersenyum. Menerima suapan Rajasa. Mereka menghabiskan Indomie instan bersama. Semilir angin malam, semakin membuat dingin. Anelis, membiarkan piring dan gelas berserakan. Ia buru-buru masuk ruangan. Rajasa hanya tersenyum, hafal betul tabiat istrinya. Ia merapikan meja balkon. Takutnya ada jangkrik mencuri sisa makanan ini. Dari kecil Rajasa sudah terbiasa rapi.

__ADS_1


"Mas darimana? kok lama tadi," tanya Anelis lagi.


Ia sudah bersembunyi dibalik selimut. Malam ini udara terasa lebih dingin.


"Oh...biasa safari masjid. Maghrib sekalian isya'," jawab Rajasa santai.


Anelis ber Oh ria. Punya suami alim, kaya, juga tampan tetap saja membuatnya bebal. Seolah tak peduli suatu hari nanti bisa jadi ada yang mencuri hati Rajasa. Kemudian berpaling. Memilih dengan perempuan baru. Atau perempuan pelakor. Ia tetap saja kekanakan, dan tidak peka terhadap kondisi lingkungannya.


Rajasa memilih duduk di kursi. Tidak bebarengan di ranjang bersama Anelis. Membuka kembali ponselnya, yang berisi penuh swafoto mereka berdua.


Melihat Rajasa tersenyum sendiri, membuat Anelis berkata, "Mas aku lihat fotonya dong, sama minta sekalian. Mau aku post di instagram,"


Tanpa menunggu lama, Rajasa berpindah. Mendekat pada Anelis. Ia mensejajarkan diri, mengikuti cara istrinya duduk. Menutup bagian kaki dengan selimut.


"Inih...pilih sendiri, tapi cepet ya. Aku juga mau post," ujar Rajasa.


"Eh, sejak kapan kamu main instagram Mas? Kamu, kan gak suka yang begituan" ucap Anelis kaget.


"Sejak hari ini, sejak aku memiliki foto ini," Rajasa menunjukkan foto kecupan Anelis dipipinya.


Anelis tersipu malu. Jika hadirnya bisa merubah prinsip Rajasa yang begitu kuat, kenapa ia tak bisa merubah dirinya sendiri. Kenapa ia tak pernah mau mencobanya.


-*Arupadhatu-


-Tanpa perwujudan-


-Tujuan akhir dari setiap umat (nirwana)-


Maafkan aku Bu, Maafkan aku Pak, Maafkan aku @Andaraarkaina : Aku memilih bahagia.


Candi Borobudur*.


Foto tersebut berhasil mengudara. Seketika mendapat like dari banyak pengikutnya. Termasuk Rajasa. Selama ini, Rajasa selalu memantau dengan akun lain. Akun yang tidak menunjukkan jika itu dirinya. Sejak Anelis berubah, Rajasa memilih mengamati setiap gerak gerik istrinya dari jauh.


Anelis menutup ponselnya, meletakkan pada meja dekat lampu. Ia memilih lampu remang. Rajasa paham betul. Setelah ini pasti Anelis membalikan badan. Menarik selimut, beringsut dan terlelap. Rajasa tak ingin mencobanya. Meskipun hari ini ia diingatkan lagi lewat penjual batik.


Rajasa meletakan ponselnya juga. Membiarkan hening menguasai. Ia merebahkan diri, tanpa menggeser tubuhnya untuk lebih dekat lagi. Anelis menarik selimut, tetap menghadap Rajasa. Ia tak terlelap.

__ADS_1


"Mas?" ucapnya lirih.


"Apa Ne," jawab Rajasa juga lirih.


"Malam ini aku siap Mas. Bantu aku," pintanya pelan.


Rajasa menoleh, mencari mata Anelis untuk meyakinkan diri. Anelis pura-pura tidur. Ia menggengam tangan Rajasa.


"Mas, pintunya tutup Mas. Dingin," ujar Anelis.


Rajasa tak berkata-kata. Ia memeluk mesra wanita pujaannya. Degup keduanya begitu terasa. Anelis menenggelamkan kepala pada dada bidang Rajasa.


"Kamu yakin Ne?" tanya Rajasa.


Tangannya mengusap lembut rambut Anelis. Aroma sampo semerbak wangi. Sepertinya malam ini Rajasa tak bisa lagi, lebih lama menanti.


Anelis mengangguk pelan. Membiarkan sengatan hangat menjalar disekujur badan. Luapan cinta, kesabaran dan keresahan menjadi satu. Terlalu lama Anelis mengurung diri dalam nestapa. Rajasa mengambil alih tubuh Anelis.


Hingga semua rasa tersampaikan, mata Anelis berkaca. Ia tak merasakan nyaman seperti yang dibilang banyak wanita. Justru dirinya mendera luka. Air mata membasahi pipinya. Tangannya terkulai lemah. Anelis hilang kesadarannya.


Rajasa menghentikan aktivitasnya, mengamati Anelis yang tiba-tiba terdiam.


"Ne, Ne...hey! Anelis kamu bisa dengar aku Ne?!" Rajasa menepuk pipi Anelis.


Wajah Anelis kaku. Mulutnya sedikit terbuka. Rajasa meraih minum didekat ranjang, meneteskannya ke mulut Anelis.


"Ne..Ne, kamu baik-baik saja Ne?!" Rajasa panik. Bingung apa yang harus dilakukan.


Tenang, kamu harus tenang Rajasa. Jangan panik. ucap Rajasa pada dirinya. Melihat mulut Anelis terbuka, Rajasa mencoba memberi nafas buatan untuk Anelis. Satu kali, dua kali, Anelia tak merespon. Ke tiga kalinya dengan tenaga lebih Anelis berjingkat, tersadar. Menghela nafas panjang. Dadanya kembang kempis.


"Are you oke?" tanya Rajasa lagi.


Anelis mengangguk lemah. Bulir bening mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia menangis tanpa menyadarinya. Ada sesal dihati Rajasa. Sekarang ia paham kenapa istrinya begitu takut berhubungan badan. Trauma. Anelis memiliki trauma. Rajasa tak berpikir negatif, ia meyakinkan dirinya Anelis belum pernah melakukan ini semua. Tetap dirinya lah yang pertama bersama Anelis.


Rajasa tak kuasa melihat Anelis begitu lara. Ia memeluknya erat.


"Maafin aku Ne, maafin aku. Aku nggak pernah tahu. Maafin aku," sesal Rajasa.

__ADS_1


Anelis mengangguk. Ini bukan karena Rajasa, tapi karena dirinya sendiri. Isak Anelis tak terelakan lagi. Malam ini Anelis membuka diri, berbagi rasa sakit dengan Rajasa yang begitu mencintainya. Hanyut dalam dekap erat lelaki pilihannya.


__ADS_2