ANELIS

ANELIS
Bab 24


__ADS_3

Langkah Rajasa terburu-buru. Segera mungkin membuka pintu rumah pak Rajendra yang tak henti membuatnya takjub. Sekar sudah menanti di dalam. Rajasa menerabas ruang tamu tanpa memandang lukisan seperti biasanya. Ia lurus saja ke lantai dua kamar Daisha. Sekar menekuk lututnya, menggenggam tangan Daisha yang duduk di kursi goyang, mengamati jendela kaca. Daisha sudah semakin normal saja. Dari belakang tampak rambutnya tergerai rapi.


"Gimana Sekar? Ada apa?" tanya Rajasa, canggung melihat Daisha.


Sekar bangkit, meraih lengan Rajasa begitu saja.


"Ayo, ikut aku," ucap Sekar menarik Rajasa.


Rajasa terhenyak. Jantungnya berdegup kencang.


"Duduk sini. Daisha mau ngomong," perintah Sekar.


Ia beralih menatap Daisha. "Rajasa sudah datang Daisha, kamu boleh tanya tentang foto itu."


Rajasa mengernyitkan dahi. Sedikit takut mengingat Daisha pernah menatapnya tajam saat ia membantu Abbas dulu.


Rajasa membuka mulutnya, merangkai aksara, "Hai."


Daisha tersenyum lembut. Senyum tulus yang menggambarkan seperti apa sebenarnya dirinya. Daisha melambaikan tangan menyapa Rajasa dengan sapaan sama.


"Hai."


Tangan Daisha menunjuk foto Mamah Rajasa juga bu Mutia dalam novel. Meminta keterangan apa saja tentang foto tersebut.


"Ah..Daisha ingin tahu apa itu benar-benar Mamahmu dan Ibunya," ujar Sekar menanggapi Rajasa yang bingung.


Rajasa melihat Sekar sekilas dan Sekar pun mengangguk. Meyakinkan Rajasa.


Rajasa mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkannya. Ia akan memulai penjelasan sederhana darinya untuk Daisha. Karena sebenarnya Rajasa juga tak tahu detail cerita itu.


"Ini Mamahku penjual roti di Daisha Bakery. Kalau ini Bu Mutia, Ibumu yang baik budinya. Mereka bersahabat dan sekarang sama-sama bahagia di surga," Rajasa terhenti. Dua orang yang berjasa dalam hidupnya telah pergi. "Tugas kita yang masih hidup adalah mendoakannya, bukan malah menyusahkan mereka dengan perbuatan buruk kita di dunia," imbuh Rajasa. Tak henti ia memandangi foto lama milik Mamahnya.


Daisha sedikit syok mendengar berita itu. Kematian adalah sumber traumanya. Sekar sedikit was-was, takut episode Daisha kambuh lagi. Tapi wajah ayu yang semakin terlihat normal itu justru mengukir senyum dibibirnya. Puas dengan penjelasan Rajasa. Kenangan bersama orang terdekatnya telah kembali padanya. Ia sempurna menggenggam luka yang dimilikinya. Tak lagi memendam benci seperti sebelumnya.


"Nah Daisha, sekarang waktunya kamu semakin yakin dengan dirimu. Aku yakin Ibumu tersenyum menyaksikan kamu yang cantik sekali hari ini." pungkas Rajasa.


Ia berdiri, meminta Sekar mengambil alih kendali. Tetap saja Daisha tidak seperti Anelis atau Sekar. Rajasa masih punya rasa takut. Sekar paham maksud Rajasa. Ia pun mendekat pada Daisha, kembali menekuk lututnya.


"Peluk erat luka itu bersama Novel ini. Kamu berhak bahagia dan membuat bangga Bu Mutia," Sekar tersenyum lebar dan dibalas Daisha. "Aku keluar sebentar ya, kamu boleh membaca ulang Novel ini, atau memilih istirahat di kasur. Boleh aku ijin meninggalkanmu sebentar?" tanya Sekar hati-hati.


Daisha yang selama ini merepotkan Sekar mengangguk, tanda setuju atas permintaan Sekar. Ia juga berjanji tidak akan membuat onar lagi. Daisha menyaksikan Sekar dan Rajasa pergi dari kamarnya. Mereka menuju ruang tamu yang sudah tersedia minum dan camilan di meja. Sekar tidak meninggalkan total Daisha. Di rumah besar itu ada banyak asisten rumah tangga. Abbas juga menitipkan Daisha pada tiga perawat yang sejak awal membantunya. Jika ada masalah mendesak, mereka baru boleh menghubungi Abbas dan pak Rajendra.


"Diminum dulu Sa," perintah Sekar sembari mengambil segelas jus orange lalu menegaknya.


"Abbas kemana? Kok sepi?" tanya Rajasa, tersadar tak melihat Abbas maupun pak Rajendra.

__ADS_1


"Ke Singapur sama Bapak pagi tadi. Makanya dia minta aku kesini. Padahal udah ada janji lain sama aku." jawab Sekar kesal. Ia meletakkan kembali gelasnya di meja sampai bunyi.


Rajasa terperanjat, "Sabar Woy."


Sekar tersenyum manis, "Bosen gini terus." Ia seolah tak peduli dengan kalimatnya. Sekar mengambil handbag nya lalu bangkit. "Aku nebeng ya Sa kayak biasa."


Sekar berjalan lurus membuka pintu utama. Menoleh ke Rajasa meminta Rajasa segera mengikutinya. Rajasa tak jadi meminum jus orange digelasnya, ia ikut pergi bersama Sekar. Sekar sudah berdiri tepat di depan pintu mobil Rajasa.


"Eh. Oke," Rajasa cekatan membukanya untuk Sekar.


Mobil Rajasa melesat pergi menuju tempat tujuan Sekar.


"Rumah sakit?" tanya Rajasa mengamati Sekar yang menggigit kukunya.


Sekar menggeleng. "Butik sebelum rumah sakit," jawabnya tanpa melihat Rajasa.


Keduanya terdiam. Denting lagu kesukaan mereka dari band indie Homogenic mangalun lirih dari audio mobil Rajasa. Sekar menekan tombol volume mengeraskan lagu berjudul Sedikit Waktu itu. Mereka semringah.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rajasa mengikuti Sekar masuk ke butik yang menyediakan macam gaun pengantin. Pintu kaca besar dibuka oleh Sekar, ia menyapa perempuan yang berdiri di sebelah kanan pintu, ramah. Rajasa mengangguk tanda sapaan untuk pelayan butik itu. Sekar menaiki anak tangga yang di-desain khusus oleh pemilik butik. Di lantai dua ragam gaun pengantin terpajang bersama manekin yang begitu menarik mata pelanggan untuk melihatnya.


"Selamat siang Bu," Sekar menyapa perempuan yang mengalungkan meteran dilehernya, Bu Siska, pemilik butik baju pengantin kenalan Sekar.


"Hey. Selamat siang juga. Aduh lama nih gak mampir ke butik." Mereka becipika cipiki ria.


"Sibuk Bu, banyak kerjaan. Mumpung lewat sekalian memastikan."


Sekar takjub melihat pesanannya, Bu Siska selalu pandai menerjemahkan keinginan Sekar.


"Mana Abbas? Biar coba juga tuxedonya." ujar Bu Siska. Kepalanya menoleh mencari Abbas, ia justru menemukan Rajasa.


Keningnya mengernyit, semakin terlihat garis garis penuaan diwajahnya.


"Ah. Dia temen aku sama Abbas. Namanya Rajasa. Sa kenalan dulu sama Bu Siska," perintah Sekar denga nada elegan.


Rajasa selalu kalah dengan instruski Sekar. Ia menurut saja.


"Rajasa." Mengulurkan tangan pada Bu Siska yang dibalas senyum genit tidak jelas. Rajasa buru-buru melepas tangannya.


Bu Siska kembali fokus pada gaun milik Sekar. Ia meminta dua asistennya membantu Sekar mencoba gaun itu. Selang lima belas menit, Sekar keluar dan melihatkan tampilannya pada Bu Siska juga Rajasa. Gaun itu begitu sempurna melekat dibadan Sekar. Sangat proporsional dengan tinggi Sekar yang ideal. Sudah seperti Megan Markle saat melangsungkan pernikahan dengan Pangeran Harry. Rajasa dibuat terpana oleh penampilan Sekar. Seingatnya momen pernikahan dengan Anelis tidak diawali membuat gaun seperti ini. Semuanya serba mendadak dan disiapkan langsung oleh Mamahnya.


"So beautiful," Bu Siska berdecak kagum melihat Sekar. "Abbas bakal kaget liat kamu. Tuh temennya aja mlongo gitu." Bu Siska menunjuk Rajasa yang mematung. Sejak Sekar mencoba gaun disuruh duduk tidak mau.


Sekar terseyum kembali, lagi lagi senyum memikat bagi lelaki. Ia mengangkat gaunnya sedikit, melangkahkan kaki mendekat pada Rajasa. "Kenapa? Cantik?" godanya manja.


Rajasa buyar seketika. Kadang kesempatan untuk mendua datang tanpa pernah diduga. Demi apa coba mereka harus bertatap seperti itu dengan Sekar mengenakan gaun pengantin. Sekar cantik, anggun, dewasa dan sempurna. Rajasa lupa istrinya di rumah sudah mulai berbadan dua.

__ADS_1


Rajasa mengangguk. Anggukannya begitu kikuk. Nafasnya memburu, membayangkan Sekar benar-benar menjadi pendampingnya. Untung Sekar cepat berbalik dan menuju ruang ganti. Jika tidak keringat Rajasa sudah mengucur deras.


"Aku bawa semua aja sekalian. Abbas nggak mungkin sempat buat fitting baju," ucap Sekar pada Bu Siska. Terdengar nada kecewa di sana.


"Lagi? Singapur? Pak Rajendra?"


Bu Siska sampai hafal kebiasaan pasangan itu. Harusnya tiga tahun lalu mereka sudah mengenakan gaun pengantin. Yang akhirnya penyelesaiannya terus-terusan tertunda karena permintaan Sekar.


"Yap. Betul Bu."


"Yang sabar ya. Kadang cinta memang demikian. Sabar menanti pasangan," ujar Bu Siska mengusap lengan Sekar.


"Ini bu gaun dan tuxedonya." Pelayan menyerahkan dua tas belanja pada Sekar. Sekar pun berpamitan pada Bu Siska.


Rajasa cekatan mengambil alih tas belanja dari tangan Sekar. Bu Siska mengamati gerak gerik mereka. Ia mengantar sampai depan butik pelanggan setianya itu. Menunggu mobil yang membawa mereka menjauh lalu hilang.


"Ada yang pindah ke lain hati." ucap Bu Siska pada diri sendiri. Ia pun menutup kaca besar butiknya.


Rajasa dan Sekar melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Sekar tak langsung masuk seperti biasa. Ia berinisiatif mengajak Rajasa makan di resto dekat rumah sakit. Lagi-lagi Rajasa menurut. Seperti tersihir oleh pesona Sekar.


"Makanannya enak. Tapi lebih enak greentea nya. Jadi aku pesen itu aja," ucap Sekar seraya membuka daftar menu.


Rajasa melakukan hal sama. Ia memilih coffe latte berpadu dengan tiramisu.


"Abbas ngapain ke Singapur?" tanya Rajasa sebelum meminum pesanannya lewat sedotan.


"Biasa bisnis pak Rajendra. Aku nggak ngerti sampai kapan kayak gini. Abbas nggak pernah ada waktu, selalu sibuk balas budi sama keluarga pak Rajendra," curhat Sekar, tiba-tiba enteng menjelaskan semua.


"Balas budi?"


"Iya. Abbas yatim piatu, keluaga pak Rajendra merawatnya. Tapi lama-lama hatiku layu juga kalau diginiin terus. Capek rasanya." Sekar kembali menegak habis minumannya. Tanpa jeda lalu meletakkan gelas dengan kesal.


"Sabar. Bisa pecah tuh gelas,"


"Hehe. Lupa Sa. Kalau kamu gimana?"


"Gimana apa?" tanya Rajasa memainkan sedotan digelasnya.


"Single? Jomblo apa udah nikah?" tanya Sekar penasaran. Sudah sering bersama tapi ia belum tahu banyak tentang Rajasa.


Rajasa terhenyak. Pertanyaan apa ini. Ia ingin menjawab sudah menikah, tapi takut kedekatannya dengan Sekar berubah.


"Jomblo. Eh single." ucap Rajasa cepat. Segera menegak habis minumannya. Menyembunyikan gugup atas kebohongannya.


"Ehm.. Oke lah. Aku masuk dulu ya. Kapan waktu kita ngobrol lagi. Ah aku yang bayar kamu bisa langsung pergi."

__ADS_1


Sekar beranjak dari kursinya berjalan cepat menuju rumah sakit. Melambaikan tangan dengan tetap fokus menghadap depan. Persis saat di kediaman pak Rajendra. Hanya saja waktu itu, ia melambai pada Abbas.


Rajasa terpaku. Tak paham maksud Sekar. Tapi ia tak peduli, meski hari ini lidahnya mengungkap fakta berbeda. Kadang hubungan gelap dimulai memang dengan kebohongan. Kesempatan yang membuat satu sama lain saling meneruskan. Setelah ini akan ada pertemuan lagi. Perempuan itu selalu membuatnya terpanggil untuk datang, lagi dan lagi.


__ADS_2