
Hujan di luar begitu deras. Sesekali kilat menyambar menembus kaca jendela kamar Anelis. Dulu ia merasa begitu senang saat bisa menghabiskan banyak waktu sendiri. Mengunci diri di kamar, menghabiskan dengan banyak buku dan menulis apa saja. Tapi, sore ini turunnya hujan terasa begitu menyedihkan. Menambah rasa sepi yang hampir setiap hari mengisi. Ia ingin menelpon Rajasa, tapi ia tak mau mengganggunya. Anelis gengsi.
Perutnya masih belum terisi dari pagi. Lama-lama tak bisa diajak kompromi juga. Anelis membuka ponselnya, mencari menu makanan yang sedang ingin ia makan. Dibukanya aplikasi pengirim makanan, Anelis mencarinya berkali-kali, sayang ia tak menemukan apa yang ingin ia makan. Anelis teringat menu itu tidak mungkin ada di layananan pengiriman makanan. Ia memutuskan menghubungi Nurma.
[Kak, minta tolong pesenin bakso deket kantor ya Kak. Banyakin kecap sama sambal aja, tapi dipisah.]
[Sekarang?]
[Bareng Kak Nurma pulang aja nggak apa. Tolong banget ya Kak. Dari pagi belum makan.]
[Ya.]
Anelis merasa senang. Setidaknya dia masih punya Nurma yang sudah seperti kakaknya. Nurma tak ambil pusing dengan permintaam Anelis. Toh waktu pulang ia melewati apartemen Anelis dulu dan bakso itu memang favorit mereka.
Aneh, semua makanan persediaan di kulkas rasanya tidak enak bagi Anelis. Ia mencoba memakan roti dicampur selai kacang, sekadar mengisi perutnya yang mulai kosong. Rasa selai yang manis justru membuatnya mengeluarkan isi perutnya. Ia mual seketika. Anelis refleks ke kamar mandi, air ludah terasa pahit sekali dikerongkongannya. Kepalanya terasa pusing, Anelis semakin tidak enak badan. Anelis pun kembali ke dapur sempoyongan. Ia menegak air putih, berharap bisa menghilangkan rasa tidak nyaman itu, sayang isi perutnya malah semakin naik. Hanya air yang keluar, dan bertambah pahit. Anelis pasrah, ia merebah di sofa ruang TVnya.
Pusing sekali. Gumam Anelis.
Selang tiga puluh menit, suara bel pintu terdengar. Anelis terbangun dari tidurnya yang hanya sekejap, ia meraih gagang pintu sekuat tenaga.
"Assalamu'alaikum. Nih baksonya den Ayu," sapa Nurma seraya mengangkat bingkisan ditangannya.
"Wa'alaikumsalam. Makasih Kak, masuk dulu,"
Anelis menolehkan kepala. Meminta Nurma masuk sebentar ke apartemennya. Anelis memegangi perutnya yang masih kosong. Untuk berdiri tegak, terasa begitu berat.
"Kamu sakit lagi Ne? Rajasa kemana?"
Nurma berinisiatif mengambil mangkok dan menuangkan bakso yang dibawanya. Melihat Anelis yang mulai dicuekin Rajasa, Nurma merasa iba. Ia ingat kondisinya dulu, ia tidak mau Anelis mengalami hal sama.
"Duduk dulu. Makan bakso nggak bisa kalau sambil tiduran," Nurma meletakkan bakso di meja. "Rajasa kemana? Belum dijawab," Nurma duduk disebelah Anelis.
"Sibuk Kak," Anelis berubah semangat, melihat bakso bulat seperti bola pingpong di hadapannya. "Sedep banget aromanya Kak, makasih ya," ujar Anelis sambil tersenyum.
Ia menyendok sedikit kuah bakso yang belum ditambahkan kecap dan sambal. Kalau mau tahu rasanya enak atau tidak cara itu ampuh dilakukan. Anelis riang, bakso yang masuk ke perutnya tak buru-buru minta keluar seperti roti selai kacang tadi.
"Wah..wah. Katane tadi nggak enak badan tapi kok makan bakso lahap gitu," Nurma heran melihat sahabatnya yang tak henti menyendok kuah bakso.
"Asli enak banget Kak, plus kepingin banget. Nggak tahu nih makan apa aja pahit rasanya. Malah mbalik lagi ke mulut Kak. Hoek," Anelis nyengir, mengingat bolak balik kamar mandinya tadi.
__ADS_1
"Ehm. Jangan-jangan kamu ngidam lagi Ne," Nurma meletakan jari telunjuknya di kepalanya. Ia berpikir mengingat ciri-ciri orang hamil. Dan itu terlihat pada Anelis.
"Apaan sih Kak, nggak mungkin lah ngidam karena hamil," jawab Anelis enteng, dengan tetap mengunyah bakso bulat. Terasa begitu nikmat olahan daging khas Indonesia ini.
"Punya suami kok nggak mungkin?! Ya nggak apa-apa to hamil. Kecuali kamu nggak punya suami, baru salah," Nurma sangsi dengan ucapan Anelis. Hamil jelas suatu hal wajar bagi seorang istri. "Coba kamu cek kalender telat belum? Jangan-jangan nggak ngeh lagi kapan terakhir kali dapet?" selidik Nurma pada Anelis.
Anelis tetap fokus menghabiskan bakso di mangkok. Ia mengangkat dan menghabiskan kuahnya tanpa sisa.
"Nggak tahu Kak, lupa. Suka nggak pasti juga dapetnya, tapi bulan ini belum datang tamunya." Anelis meletakkan kembali mangkoknya. Rasanya masih kurang habis satu porsi sendiri. "Ah enak banget Kak." Anelis mengacungkan jempol pada Nurma. Tenaganya langsung terisi. Benar-benar bakso bulat kesukaan.
Nurma menepuk wajahnya. Ia heran dengan polah sahabatnya. "Parah kamu Ne." Nurma menggelengkan kepala.
"Makasih ya Kak udah nyempetin antar bakso. Kayaknya habis ini aku mau tidur lagi, nih perut nggak karuan bawaannya. Kepala juga berat banget." Ucap Anelis setelah menegak air dingin dari gelasnya.
"Beneran kamu lagi ngidam kalau kayak gitu. Bilang Rajasa aja apa yang kamu alamin hari ini. Ngobrol, jangan diem-dieman terus," Nurma kembali menasihati Anelis. Ia begitu peduli dengan sahabatnya yang usianya jauh lebih muda darinya. "Dah aku pulang dulu ya, udah sore. Kalau bulan ini nggak dapet jangan lupa cek ya. Beli di apotik banyak." ucap Nurma sekalian berpamitan pada Anelis.
Di luar hujan sudah cukup reda. Nurma hanya perlu menggunakan mantol sebentar saja untuk sampai rumahnya.
Anelis kembali terlelap di sofa ruang TV apartemennya. Ia tetap menangkupkan tangannya pada perut. Kalimat Nurma sengaja tidak ia proses dikepalanya. Hamil? Mustahil.
***
"Menu sederhana ala Sekar, makan yang banyak sayang," Sekar mengerling manja pada Abbas. Ia menambahkan olahan ayam kecap pada piring Abbas.
Abbas menatap hangat Sekar, beruntung ia memiliki Sekar. Hanya saja ia terlalu membiarkan kekasihnya itu menunggu lama. Semua karena balas budi yang tak akan habis dalam hidupnya.
Pak Rajendra memulai suapan pertamanya, diikuti yang lainnya. Mereka menghabiskan makan malam dengan diam, sesekali tersenyum kagum pada rasa masakan Sekar.
Rajasa memerhatikan Abbas dan Sekar yang terlihat saling cinta. Bisakah ia mendapatkan perhatian Sekar juga. Ia merangkai tanya yang mengular sampai hati terdalamnya. Sisi hati lainnya masih menyebut nama Anelis. Tapi setiap hari ia tak mendapat perlakuan semacam ini.
"Nggak mau diantar Yank?" tanya Abbas saat Sekar sibuk mencari sinyal untuk order taxy online.
"Kalau Daisha kenapa-napa gimana? Hari ini ia menunjukkan progres yang cukup baik. Aku nggak mau dia lepas dari pengawasanmu," ucapnya dengan tetap fokus pada ponselnya.
"Bareng aku aja gimana Bas? Kebetulan mau balik ke perusahaan dulu. Bisa putar arah sedikit kalau mau ke rumah sakit Sekar," Rajasa menawarkan diri.
"Ah Ya aku lebih percaya kalau kamu sama Rajasa. Gimana yank?" tanya Abbas lagi.
Sekar berpikir sejenak. Jika arah jalannya sama tak masalah bersama. Toh Rajasa juga kenal dekat dengan Abbas.
__ADS_1
"Oke, boleh. Nebeng ya Sa?" Sekar tersenyum lebar. Senyum yang menawan Rajasa.
Abbas melambaikan tangannya pada Sekar dan Rajasa. Ia kembali menikmati malamnya di kediaman pak Rajendra.
Sampai kapan aku bebas berkelana. Sampai kapan aku bisa kembali ke duniaku yang sebenarnya.
Abbas menutup pintu, bersamaan dengan mobil Rajasa yang mulai menghilang dari halaman depan rumah pak Rajendra.
***
Rajasa memacu lambat mobilnya. Kesempatan ini tak akan ia dapat dua kali. Rajasa memulai obrolan canggungnya dengan Sekar.
"Rencana nikah kapan Sekar? Jangan lupa aku diundang ya," ucapnya dengan tetap fokus mengemudi.
Sekar malas bicara sebenarnya, tapi sudah diberi tumpangan ia tak enak hati.
"Tiga tahun lalu. Mundur terus sampai sekarang," Sekar mengatupkan bibir. Berharap Rajasa tak menanyakan lebih lanjut.
"Semoga tahun ini lancar untuk kalian," ungkap Rajasa yang berbohong atas ucapannya. Ia melihat Sekar sekilas, Sekar menerawang cakralawa dari kaca .
"Amiin Sa. Abbas sibuk terus, lebih tepatnya sibuk ngurus Daisha," Sekar menoleh, menutup sedikit mulutnya. Berbisik pada nama Daisha.
"Oh..ya, ya. Keliatan sih," jawab Rajasa juga berbisik. Rajasa mengukir senyum pada Sekar.
"Semua orang yang liat juga paham. Ah lima belas menit lagi paling sampai. Aku turun depan rumah sakit aja." Sekar melonggarkan sabuk pengamannya.
"Boleh bertukar nomor hp? Untuk jaga-jaga menanyakan tentang Daisha." Rajasa berbasa basi.
Belum sempat Sekar menjawab, Rajasa sudah menyerahkan ponselnya. Sekar pun menerima dan mengetikkan nomornya.
Rajasa menelpon nomor Sekar. Nada dering sebuah lagu nyaring terdengar.
"Suka lagu itu?" tanya Rajasa pada Sekar yang sedang menyimpan nomornya.
"Iya, banget." Jawab sekar singkat.
Rajasa fokus mengatur kecepatannya. Ia masih ingin menikmati momen ini. Rajasa memutar lagu dari play list mobil miliknya. Ia sengaja membesarkan volume. Lagu yang sama dengan nada dering ponsel Sekar.
Sekar tak menyangka. Ia tersenyum, melirik Rajasa dan dibalas. Sekian detik Rajasa dan Sekar saling pandang, kemudian bersenandung ria lewat lagu favorit mereka.
__ADS_1