
Rajasa tak mau larut dalam kesedihannya. Dua pekan Mamahnya pergi, ia memutuskan kembali fokus pada perusahaan. Rajasa menitipkan penuh rumah di Harkit itu pada Bu Ranti. Sesekali ia akan datang, mengobati rindu pada Mamahnya. Anelis mulai aktif kembali merancang project yang ia susun sendiri. Keping-keping cerita tentang dirinya dan Rajasa sebagai hadiah terbaik untuk cinta mereka. Rajasa berangkat lebih awal dari apartemennya. Untuk pertama kali mereka tinggal bersama, Rajasa sengaja tidak mengantar Anelis lebih dulu.
"Aku duluan ya Ne. Nggak enak kalau terus-terusan ninggalin Dimas. Banyak pekerjaan harus diselesaikan," ucap Rajasa sembari membetulkan dasinya.
"Rapi sekali Mas? Ada meeting besar?" tanya Anelis. Ia mengambil alih pekerjaan Rajasa, merapikan letak dasi dileher suaminya.
"Iya. Perwakilan dari perusahaan pak Rajendra mau datang. Aku harus menunjukkan kualitasku dan perusahaan. Nggak mau dihina lagi," ucap Rajasa kesal. Ia mengingat kembali wajah jelita yang menyebalkan.
"Semoga beruntung Mas." ucap Anelis mantap. "sarapan dulu ya, kopi sama roti telor."
"Maaf Ne, nggak sempat. Nih." Rajasa menunjukkan penanda waktu ditangannya.
Meski kecewa, Anelis tetap merelakan keberangkatan suaminya. "Its Okay."
Rajasa disambut baik oleh rekan juga karyawan. Meski masih berduka, ia menunjukkan siapa kelasnya. Rajasa profesional. Dimas menyiapkan ruang meeting lebih rapi dari biasanya. Semua berkas laporan dan hasil progres kerja sama mereka siap dipaparkan Rajasa. Rajasa begitu rupawan menjalani karirnya.
"Ketemu perempuan nyebelin itu lagi nggak ya Sa," Dimas meneliti ulang berkas miliknya. Jumpa mereka dengan perempuan yang menyapa dengan benci ternyata masih diingatnya.
Rajasa tersenyum, hatinya berbisik. Aku ingin bertemu. Akan kutunjukkan siapa sebenarnya diriku.
Rajasa membenarkan kembali letak dasinya. Ia berkata, "Kalau pun bertemu lagi tak masalah. Kita tunjukkan seperti apa perusahaan kita. Siap bro?!"
Dimas terkekeh sendiri. "Loe bisa gitu juga ya. Semangat abis kalau urusan hina menghina." ucap Dimas.
Rajasa kembali tersenyum. Sebuah senyum memikat bagi siapa saja yang melihatnya. Kecuali Anelis. Karena dulu Anelis tak mudah luluh dengan senyum itu. Anita datang bersama dua orang perwakilan pak Rajendra. Ia mempersilakan mereka masuk. Rajasa dan Dimas sigap berdiri, mengangguk menyapa mereka. Bukan perempuan itu, melainkan orang yang berbeda.
"Hai Mr. Rajasa, saya Ronald dari Singapore. Ini rekan saya dari perusahaan juga. Kita bisa mulai presentasinya," ucap Pria berkacamata di depan Rajasa.
Rajasa membalas sapaan itu dengan hangat. "Baik Mr Ronald, kami siap." Rajasa meminta Pak Ronald dan rekannya duduk. Ia siap menjalankan tugasnya.
Semua slide presentasi dibawakan begitu apik oleh Rajasa. Tidak bertele-tele, fokus pada inti dan membuat seisi ruangan paham. Dimas yang sudah begitu dekat dengan Rajasa paham betul. Dua puluh lima menit Rajasa maksimalkan tanpa sia-sia. Pak Ronald dan rekannya pun senang. Ia akan memberikan kabar baik pada atasannya.
"Great presentasion Mr. Rajasa," ucap Pak Ronald mantap. Ia mengambil kertas di saku dalam jasnya. Memberikan kertas tersebut pada Rajasa, "Undangan makan malam di rumah pak Rajendra. Anda dan rekan anda." Mata pak Ronald mengarah pada Dimas.
"Terima kasih banyak Mr, kami tidak akan melewatkannya," ujar Rajasa senang.
Setelah ini pundi-pundi hasil kerja sama akan segera mengalir ke rekening perusahaan juga rekening Rajasa pastinya. Dimas yang ingin sekali menambah aset kekayaan senang bukan kepalang.
"Akhir pekan besok Sa? Please berangkat lebih awal. Gue pingin jalan-jalan Sa," ucap Dimas girang. "Berikanlah aku bonus untuk menikmati Singapura. Gue mau nyari cewek Sa," tambah Dimas.
Melihat sahabatnya yang sudah begitu baik membackup perusahaan membuatnya tak tega. Rajasa memikirkan juga ingin jalan-jalan mengajak Anelis. Tapi ini bisnis pasti Anelis tidak mau.
Rajasa menyimak ocehan Dimas. Ia membuka undangan dari pak Rajendra. Hanya saja alamat yang tertera bukan alamat yang dikunjunginya dulu.
__ADS_1
"Kita nggak diundang ke Singapur Dim. Pak Rajendra lagi di Jakarta." ucap Rajasa tak percaya.
"Hah?! yang bener Sa?" Dimasa meraih undangan ditangan Rajasa. Seketika hatinya kecewa. "Gagal lagi jalan-jalan ke Singapure," ia menepok jidatnya sendiri.
Rajasa hanya bisa menahan tawa. Kasihan sebenarnya liat sahabat baiknya kecewa, tapi undangan makan malam itu bukan di sana.
"Tetep mau, kan? meski di Jakarta," tanya Rajasa meledek Dimas.
"Iya gue ikut. Siapa tahu anak pak Rajendra cewek terus kecantol sama gue. Kalau loe, kan udah nggak bisa Sa" ucap Dimas berbalas mengejek sahabatnya. Dimas meninju lengan Rajasa, kemudian kembali ke pekerjaannya.
Rajasa kembali memusatkan diri di ruang kantor perusahaan. Ia memeriksa dan memikirkan banyak hal. Setelah ini mau diapakan Daisha bakery juga toko lama Lapis Legit. Rajasa belum pernah membahas tentang itu semua dengan Mamahnya. Ia tak akan tahu jika secepat itu semuanya terjadi. Rajasa mengusap wajahnya. Bulir bening sedikit keluar dari manik matanya.
Dibukanya komputer yang waktu itu ditinggalkan begitu saja oleh dirinya. Ia kembali membuka email. Cerita penjang tentang Anelis sudah sampai ke email Abbas. Hanya saja belum dibalas. Pasti Dimas yang melakukan. Batin Rajasa. Meski begitu, ia sedang tidak terlalu memikirkan. Rajasa menumpuknya dengan rentetan pekerjaan panjang. Mulai hari itu Rajasa tak pernah lagi menjemput Anelis.
Jakarta
Rajasa dan Dimas mengenakan stelan casual namun tetap terkesan formal. Ini undangan makan malam perusahaan, mereka tak mau jika penampilannya memengaruhi performa perusahaan. Sebuah hunian mewah menyambut mereka kembali. Rajasa dan Dimas bisa tahu seberapa besar penghasilan pak Rajendra dari rumah yang mereka kunjungi. Baik di Jakarta maupun Singapura sama mewahnya. Rajasa juga Dimas mengikuti arahan pengurus rumah tangga. Mereka menuju ruang tamu yang begitu apik tatanannya. Pengurus rumah tangga meninggalkan mereka.
Rajasa dan Dimas melihat sekeliling, mengamati lukisan yang terpasang pada dinding. Pasti lukisan-lukisan itu dibeli dari berbagai macam negara dan rentang harga yang fantastis. Rajasa menangkap sebuah lukisan yang begitu manis menurutnya. Ia memandangnya sampai tak sadar seorang laki-laki berbadan kekar menghampiri.
"Kamu Dim?!" sapanya kaget. "Dimas Nasution. Kamu tamu pak Rajendra?" tanyanya lagi semakin kaget.
Melihat Abbas yang sudah lama tak dijumpainya, membuat Dimas sama kagetnya.
"Fine. Dan aku yakin kamu juga baik, melihat kamu bisa jadi partner kerja bagi orang seperti pak Rajendra," jawab Abbas kagum.
"Thats right," Dimas mengacungkan jempolnya. "Eh..lupa. Inih temenku Rajasa. Lebih tepatnya bosku," ucap Dimas sedikit berbisik.
Abbas tersenyum, ia mengulurkan tangannya pada Rajasa. "Ini bukan kali pertama kita menyapa, Hai Mr. Rajasa,"
Rajasa menyambut tangan itu, "Hai Abbas." jawabnya singkat.
"Aku sudah membaca emailmu, besok-besok kita bisa ngobrol lebih banyak," ujar Abbas mengingatkan Rajasa.
Dalam hati Rajasa malu sekali. Harus bertemu Abbas dengan cara seperti ini. Mereka asik berkenalan dan saling bertukar kabar.
"Aku sampai lupa tujuanku apa. Ayo kita ke ruang makan. pak Rajendra sudah menunggu," ajak Abbas pada Dimas dan Rajasa.
Rajasa mengekor di belakang Abbas. Ia tetap mengati rumah besar itu. Ada beberapa foto keluarga yang terpasang. Rajasa tak asing dengan sosok wanita dalam foto-foto tadi. Ia tak bisa mengingatnya.
Pak Rajendra duduk di kursi utama dengan meja panjang berisi aneka makanan. Ia begitu menunjukkan kelasnya. Abbas menyapa pak Rajendra, mengangguk kemudian duduk di kursi terdekat pak Rajendra. Tidak berjajar hanya berdekatan. Kursi pak Rajendra tepat di bagian lebar meja.
"Silakan duduk," pinta Abbas pada Dimas dan Rajasa.
__ADS_1
Rajasa pun mengikuti arahan. Pak Rajendra mengangguk pada mereka. Mempersilakan makan. Tidak ada suara yang keluar dari mulut pak Rajendra. Abbas menerjemahkan bahasa untuk Rajasa.
"Beliau senang sekali kalian mau hadir di sini. Terutama Rajasa. Rajasa pemilik toko roti Daisha yanh namanya seperti anaknya," ucap Abbas membuka percakapan. Rajasa dan Dimas meski bingung tetap menurut saja. Mereka sedang bertemu client terbesarnya. "Bapak tadi sudah bilang ke aku banyak, tentang apa yang akan disampaikan. Rajasa, bagaimana kabar Ibumu? sehat?" tanya Abbas mengagetkan Rajasa.
Rajasa menunduk. Ia tak tahu bagaimana pak Rajendra mengenal Ibunya. Dimas menepuk punggung sahabatnya. Ia tahu Rajasa masih berduka.
"Mamah sudah tenang di atas Pak," ucap Rajasa pilu.
Dimas menjelaskan detail peristiwa itu.
"I'm sorry to hear that, Mr. Rajasa," ucap Abbas.
Pak Rajendra tak menyangka Bu Karti yang begitu dekat dengan mendiang istrinya pergi juga tanpa sempat dijumpainya. Kedua mata pak Rajendra berkaca. Ia mempersilakan Rajasa dan Dimas menikmati hidangan. Mereka takzim mengunyah masakan western yang disuguhkan. Dimas menggoyangkan lidahnya tak percaya rasa yang ada dimulutnya begitu nikmat. Hingga kunyahannya terhenti saat tiba-tiba terdengar lengkingan tangis seorang wanita. Tangisnya disertai tawa di ujung. Dimas merinding dan bingung.
Abbas meletakkan garpu dan pisau. Berlari menuju sumber suara tadi. Pak Rajendra juga sama, secepat mungkin mengejar Abbas. Dimas dan Rajasa saling pandang, tak paham maksud semua ini. Belum lama Abbas masuk ke ruang itu, ia sudah keluar lagi. Menyeru pada Dimas dan Rajasa.
"Dim, Sa, tolong bantu. Nggak bisa kalau cuma aku dan pak Rajendra," ujar Abbas meminta bantuan. Rajasa dan Dimas berdiri, segera mungkin memenuhi panggilan Abbas.
Dilihatnya wanita yang sedang meronta, berusaha melepaskan ikatan ditangan dan kakinya. Sekilas ia begitu tersiksa. Matanya membelalak seperti mencari-cari seseorang.
"Cepat, pegang dia! Aku harus memberikan suntikan untuk menenangkannya," ujar Abbas.
Meski bingung, Rajasa sikap membantu. Ia memegang lengan perempuan berambut panjang yang berantakan. Tatapan mereka beradu. Tatapannya penuh kebencian. Rajasa mengerjapkan mata, ia melakukan permintaan Abbas. Kali ini perempuan itu tak menangis, melainkan tertawa terbahak-bahak. Hingga suntikan yang diberikan Abbas mampu menenangkannya, ia melemah dan terlelap.
Dimas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pak Rajendra sudah tersedu menyaksikan putri semata wayangnya yang sudah tak lagi belia merana oleh trauma yang dideritanya. Pak Rajendra pasrah di dekat ranjang putrinya. Melalui bahasa isyarat dia berkata, "Selamat ulang tahun putriku, selamat terlahir kembali. Hari ini Ayah membawa orang yang kenal baik dengan Ibumu. Lekas sembuh Daisha."
Abbas menyaksikan itu, hatinya ngilu. Rajasa dan Dimas yang tak paham hanya terdiam. Mereka pergi meninggalkan Pak Rajendra dan Daisha.
"Post traumatic stress disorder atau PTSD. sebuah kecemasan dan kegelisahan akut yang disebabkan oleh trauma psikologi yang mendalam. Ibunya meninggal kecelakaan, selang beberapa minggu ia baru tahu jika suaminya Gay. Dan punya selingkuhan lawan jenis. Hancur hidupnya, ia tak bisa menerima," ucap Abbas membuka obrolan di teras rumah besar itu. "Awalnya Daisha keliatan baik-baik saja tapi lama-lama itu menjadi penyakit. Aku orang pertama yang menangani, panjang ceritanya." tambah Abbas saat melihat Rajasa dan Dimas bingung.
"Oh..Ya Bas, gue nggak ngerti." jawab Dimas yang masih bingung dengan keadaan tadi.
"Ah ya. Aku baca emailmu Mr. Rajasa. Tentang Anelis dan tanda-tandanya juga pertanyaanmu itu aku jawab iya. Ada kemungkinan Anelis Depresi. Tapi aku yakin ia tak akan seperti Daisha. Ia punya suami perhatian sepertimu. Hanya saja kau tetap harus hati-hati," ucap Abbas.
Rajasa masih tidak paham dengan keadaan ini. Sekilas ia melihat sorot mata Anelis mirip dengan Daisha. Penuh luka dan menderita. Rajasa tak kuasa membayangkan Anelis menjadi seperti itu. Ia benar-benar tak akan bisa melihatnya. Rajasa mengusap wajahnya, nama perempuan tadi Daisha. Mirip toko roti Mamahnya.
"Sepertinya makan malam kalian hanya akan berakhir begini. Pak Rajendra tidak pernah membawa urusan pekerjaan ke rumah. Paling ada suatu hal yang ingin disampaikan, tapi malam ini mungkin tertunda. Kalian boleh datang lain kali. Pastikan menghubunginya dulu," ucap Abbas menjelaskan. Abbas begitu paham tentang pak Rajendra.
"Tapi Bas, kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja putrinya itu. Kenapa di rumah dan loe?" tanya Dimas pada Abbas.
"Ceritanya panjang. Tak akan selesai dalam satu kali duduk. Aku kirim nomorku ke email. Sorry aku harus mendampingi Daisha." Abbas undur diri. Rajasa dan Dimas meninggalkan rumah besar pak Rajendra. Beserta pertanyaan-pertanyaan yang hanya ada dalam kepala mereka.
Rajasa merasa tak asing dengan foto wanita di ruang keluarga pak Rajendra. Ia seperti sudah lama mengenalnya. Tapi siapa, Rajasa tak mengingatnya. Mobil Toyota Calya milik Rajasa kembali terparkir di R-jasa.com. Company.
__ADS_1