
Pagi sekali Nurma sudah datang ke rumah sakit. Ia nekat meminta petugas mengijinkan menjenguk Anelis. Rajasa menghubunginya. Nurma membawa menu sehat yang tadinya untuk bekal Mas Hakim. Ia memilih membawakannya untuk Anelis. Rajasa sudah pergi selepas subuh. Ia ke Harkit lagi mengambil berkas-berkas Daisha Bakery yang disimpan mamahnya.
Nurma membuka pintu kamar inap hati-hati. Ia mengendap agar Anelis tak terganggu.
"Ngapain Kak?" tanya Anelis yang ternyata sudah bangun.
"Lah udah bangun? Kan masih gasik Ne," Nurma malu sendiri pakai acara mengendap segala.
"Mas Rajasa yang ngubungin?" todong Anelis langsung. Seingatnya ia terlelap semalaman.
Nurma mengangguk, mengayunkan langkahnya sampai dekat dengan meja. Ia meletakkan kotak makanan mas Hakim.
"Iya Ne. Semalem telpon," Nurma mendudukan diri di ranjang rumah sakit. "Gimana, udah mendingan?" tanya Nurma prihatin.
"Masih mual, pingin muntah terus. Laper juga nih perut, tapi takut mbalik," Anelis mengusap perut kosongnya.
"Asam lambung lagi? apa malah gejala tifus? Kamu nggak pernah makan sih," kali ini Nurma menyalahkan sahabatnya.
"Nggak tahu, belum denger kata dokter." jawab Anelis malas.
Rajasa meminta Nurma datang, pasti ia akan pergi lagi. Dalam kondisi begini pun suaminya tetap tak peduli. Anelis mendengus kesal. Hatinya mengingat sikap Rajasa yang sudah pada tahap mencampakannya. Mungkin bagi suaminya itu, dirinya tak lagi menarik. Atau dirinya kalah cantik dengan wanita di luar sana yang tak pernah ia tahu seperti apa. Seketika hatinya ngilu, membayangkan semua yang terjadi dalam pernikahannya.
"Isinya apa Kak?" melihat kotak makanan Nurma, Anelis penasaran. Kebetulan perutnya juga sudah lapar.
"Oh itu Ne makanan sehat. Bekalku sama mas Hakim yang kubuat lepas subuh tadi. Sengaja aku bungkuskan juga buat kamu. Mau Ne?" mata Nurma mengarah pada kotak makan.
__ADS_1
"Nasi pindang sama sayur ya. Ogah ah." tolak Anelis tak sopan. Ia tidak selera mengingat menu milik Nurma. Setiap hari ke kantor bekal yang dibawa itu-itu saja. Hanya dibuat dalam kemasan beda-beda. Ikan pindang goreng, pindang balado, pindang crispy, pindang bumbu cabe ala Nurma. All about pindang. Anelis semakin tidak berselera.
"Lagi pingin nasi padang nih Kak," ucap Anelis melihat reaksi Nurma yang sedikit kesal. Ia sadar dirinya berlebihan menolak bekal dari Nurma.
"Aneh kamu. Pagi-pagi kok nasi padang. Lagian lambung kamu juga nggak bakal kuat Ne," ujar Nurma mengingatkan.
Anelis tak peduli dengan ucapan Nurma. Ia malah semakin ingin melahap nasi padang dengan lauk telur dadar yang sulit sekali membuatnya. Berkali-kali mencoba meniru hasilnya gagal melulu. Bahkan Rajasa saja tidak bisa. Anelis menelan ludah, membayangkan telur dadar itu bercampur dengan sambal hijau khas padang.
"Pingin banget Kak," rengeknya seperti anak kecil.
"Fix aku yakin seribu persen kamu hamil, kalau tingkahmu gini terus," ucap Nurma membenarkan feelingnya. "Jelas banget semua tanda orang hamil ada pada dirimu sekarang," Nurma menggantung kelimatnya. "Untung aku masih punya sisa. Nih lihat," sambung Nurma. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia biasa menyimpan di rumahnya. Telat sehari saja langung cek, ia sudah ingin memiliki anak.
"Apaan Kak? Buat apa?" tanya Anelis bodoh.
"Kamu perempuan bukan sih? Gini aja nggak paham. Dah sekarang ke kamar mandi. Lihat tuh instruksinya di kemasan," perintah Nurma. Ia sigap membantu Anelis turun. Mendorong tiang infus untuk mempermudah langkah Anelis.
Anelis masih tak paham dengan ucapan sahabatnya.
"Aku disuruh ngapain Kak di kamar mandi?" tanya Anelis semakin bodoh.
"Baca! Baca instruksi dikemasan!" Nurma mendelik kesal. "Suruh baca susah amat." Nurma berubah galak seketika. Anelis pun takut dibuatnya.
Anelis melihat sekilas tulisan dikemasan. Menurut saja apa kata Nurma. Ia mengikuti semua saran sahabatnya itu dari balik pintu kamar mandi. Mereka sama-sama perempuan dan hanya berdua. Nggak masalah bicara banyak hal.
Anelis keluar membawa alat tes kehamilan. Terlihat dua garis biru dari alat tersebut. Anelis membaca kemasannya saja serampangan, tak paham apa maksudnya. Ia masih saja bodoh. Membawanya risih seolah jijik.
__ADS_1
"Coba aku lihat Ne," Nurma cekatan meraihnya dari tangan Anelis. Ia tercengang sekaligus bahagia. Meski setiap bulan ia belum bisa melihat dua garis itu, hari ini ia tetap bahagia. Sahabatnya akan menjadi seorang ibu.
"Selamat Ne, kamu beneran hamil. Ya Allah begini senengnya bisa punya anak," ucap Nurma haru. Ia memeluk Anelis yang masih bingung dengan ucapannya.
"Maksud Kakak? Diperutku?" kali ini Anelis memegang perutnya. Di sana lah benih Rajasa akan berkembang.
"Iya Ne. Diperut kamu," terang Nurma sabar.
Sontak hatinya tak percaya. Meski gagap dengan segala pengetahuan kehamilan, ia sedikit bahagia.
Hamil? Anak Rajasa? Jadi Ibu? pikirnya.
Nurma masih memeluk erat Anelis, matanya basah tiba-tiba.
"Anak bisa jadi jembatan cinta kita sama pasangan Ne. Anak bisa jadi penyatu kembali saat cinta tak lagi menemukan ruhnya. Anak bisa menjadi penyemangat hidup dalam berumah tangga. Sekali lagi selamat Ne, kamu berhasil dan kamu dipilih sama Tuhan untuk mendapat gelar ibu kedepannya. Selamat atas kehamilanmu," ujar Nurma pada Anelis yang diam sekaligus bingung. "Aku setengah mati menunggu dua garis biru itu dan belum juga dikasih sama Allah. Tapi melihat kamu memilikinya, aku bahagia. Ikut lega kamu punya jalan keluar untuk masalahmu dan Rajasa," Nurma menasihati lagi sahabatnya. Ia mengingat perceraiannya dulu karena dirinya gagal memenuhi keinginan mertuanya untuk segera punya anak. Dan sekarang dengan mas Hakim ia juga dihadapkan pada masalah sama. Dalam hati Nurma sebenarnya iri, tapi ia tak pantas mengejek kabar bahagia dari Tuhan Maha Esa. Ia bersyukur atas berita hari ini.
"Jadi perempuan itu yang kuat Ne. Jangan lemah kayak biasanya kamu. Ingat, mulai hari ini kamu tak lagi menanggung satu nyawa milikmu saja, melainkan nyawa yang akan hidup dan berkembang dalam rahimmu itu," Nurma mengusap-usap punggung Anelis. "Jaga amanah Allah dengan baik ya Ne. Besok kalau sudah pulang kasih kejutan sama Rajasa. Aku yakin sikap dinginnya akhir-akhir ini bakal hilang. Dan kupastikan cintanya yang mungkin mulai pudar akan kembali pendar. Pada hatimu lewat buah hati kalian. Selamat Anelis." pungkas Nurma. Ia melepaskan pelukannya. Tersenyum hangat pada sahabatnya. Ia mengusap lembut perut Anelis.
Anelis canggung melihat Nurma. Ia tak begitu paham dengan kalimat panjang sahabatnya. Ia pun sama terkejutnya. Tapi merubah sikap dingin Rajasa membuatnya semangat. Bisa jadi ini solusi atas kebuntuan komunikasi yang dialami.
Segera setelah pulang dari rawat inap, ia akan memberitahu Rajasa. Lelaki cerdas nan manis itu akan menjadi seorang ayah. Anelis mengukir senyum dibibirnya ia berterimakasih pada Nurma.
Keluarga tak harus memiliki darah yang sama. Nurma yang jauh lebih dewasa dari Anelis menunjukkan itu semua. Meyakinkan Anelis tentang arti memiliki teman, sahabat dan keluarga yang sebenarnya. Hati dinginnya pun berangsur hangat. Terlebih dalam rahimnya kini, cinta Rajasa bersemayam. Anelis bertekad segera melepas jarum infusnya dan kembali sehat seperti sedia kala. Ia tak akan lagi kabur dari rumah sakit seperti waktu itu. Ia akan mengikuti prosedur pengobatan sesuai yang diinstruksikan.
Pintu kamar inap itu berderit. Perawat membawa makanan dan juga obat untuk Anelis. Nurma dan Anelis berusaha bersikap biasa meski hati mereka sama-sama melonjak keluar.
__ADS_1
"Selamat pagi Ibu Anelis, bisa kembali berbaring sebentar?" pintanya pada Anelis.
Anelis menurut saja. Ia bahkan menghabiskan semua sajian rumah sakit yang rasanya hambar. Baginya kini kesehatan juga keselamatan hidup jauh lebih penting. Ia tak sabar bertemu Rajasa. Dari rumah sakit Anelis mempersiapkan kejutan besar untuk suaminya.