
Bu Ranti sudah sibuk menanak nasi di dapur rumah Rajasa. Setiap hari Bu Ranti memang membantu Mamah Rajasa mengurus urusan dapur dan bersih-bersih.
Melihat laki-laki yang dicintainya tak ada, Anelis mencari di area rumah. Ia melangkah ke dapur. "Bu Ranti lihat Mas Rajasa nggak? Ane cari-cari dari tadi nggak ada," tanya Anelis.
"Tadi pagi sekali pergi Mbak, pake motor. Mungkin cari udara di luar." jawab Bu Ranti yang berpapasan dengan Rajasa di gerbang.
"Tapi bilang nggak Bu mau kemana?" tanya Anelis lagi tidak puas dengan jawaban Bu Ranti.
"Nggak Mbak, nggak bilang saya." Bu Ranti kembali mengaduk kuali berisi nasi yang sudah ditanaknya. Bersiap memindahkan ke wadah nasi berukuran sedang.
"Gitu ya, makasih Bu." Anelis beranjak dari dapur itu. Wajahnya semakin sayu.
Mau seberat apa pun kejadian yang dialaminya, Anelis tetap harus memasang wajah berseri. Hari ini, pasti masih banyak pelayat yang datang. Ia tak boleh kalah dengan keadaan. Sejenak Anelis melupakan ucapan Rajasa semalam, dirinya berusaha memaklumi. Rajasa pasti terpukul berat. Kalau pun suaminya yang selama ini tenang, kemudian beriak wajar sekali. Terlebih ia kehilangan keluarga kesayangannya. Selama ini Rajasa sudah terlalu sering menahan diri, bahkan menganggap semua baik-baik saja. Meski Anelis kerap tidak jelas saat moodnya berantakan. Anelis harus lebih menata hatinya, seperti Rajasa yang selalu memahaminya.
Anelis mengenakan baju terusan putih dipadu dengan kerudung yang diselempangkan. Kerudung itu cukup menutupi rambut legamnya dengan tetap terlihat dari luar. Anelis melihat sekilas mobil sedan yang berhenti di depan rumah. Keluarganya dari Bogor datang.
Anelis tak mengerti sebenarnya untuk siapa mereka datang. Rajasa hanya seorang diri, jelas tak ada keluarga yang akan menyapa kerabat Anelis. Demi menghormati orang yang dikenal baik, mereka tetap menyempatkan. Sebagai bentuk dukungan untuk Anelis. Dalam pernikahan, keluarga menjadi faktor penentu kelanggengan cinta yang diikrarkan lewat perjanjian saklar ijab qabul. Saat bersedia menikah berarti bersedia juga menerima keluarganya. Tidak bisa jika hanya menerima pasangan, tapi mengabaikan keluarganya. Memiliki suami yang bisa akrab dengan keluarganya sendiri membuat Anelis yakin, cinta Rajasa pantas dipertahankan. Itu salah satu alasan juga ia menerima pinangan Rajasa.
Andara, orang pertama yang turun dari mobil. Ia segera menyalami kakaknya yang berdiri di teras menunggunya. Andara memeluk Anelis. Didekapnya wanita yang tingginya kalah dengannya.
"Mbak Ane yang tabah ya, Ara turut berbela sungkawa," ucapnya penuh haru. Andara tak bisa menyembunyikan tangisnya.
__ADS_1
Anelis menerima pelukan tulus adiknya, ia berucap pada Andara, "makasih Ra, doain Mamah amalnya diterima. Maafin kalau selama ini Mamah ada salah sama Ara,"
"Amiin... Pasti Ara doain dan maafin Mbak, yang penting Mbak Ane tabah ya," ucapnya lagi. Andara sangat mengkhawatirkan kakaknya itu.
"Assalamu'alaikum," suara pak Arkain, Bapak Anelis dan Andara menghentikan pelukan mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anelis. Anelis mencium punggung tangan Bapaknya.
"Kamu tabah ya Ne. Bapak turut berduka," pak Arkain mengusap lengan putri pertamanya.
Anelis mengangguk, beralih menyapa kerabatnya dari Bogor. Mbah Putri tidak ikut, kondisinya yang sudah renta membuat anak-anaknya yang lain tidak mengijinkan. Hanya ada Om Arga adik Bapak dan istrinya. Mungkin dari keluarga besar lain, hanya mereka yang sempat. Anelis mempersilakan keluarganya masuk, menyuguhkan hidangan yang sudah disiapkan Bu Ranti.
"Sedang pergi sebentar Om, mungkin cari udara di luar," ucap Anelis.
Hingga jam makan siang Rajasa tak kunjung pulang. Anelis mencoba menghubungi ponselnya, dan tidak aktif. Anelis semakin tidak enak hati pada keluarganya. Ia sedih sekaligus bingung. Rumah besar itu bukan miliknya. Tapi ia harus menjadi tuan rumah yang ramah dan tabah. Dalam hati ia menahan tangis. Pak Arkain yang mulai mengerti keadaannya seperti apa mengajak Anelis bicara, hanya berdua di halaman belakang rumah Rajasa.
"Bapak ikut sedih Ne, mertuamu pergi secepat itu. Tapi semua sudah kehendak yang di atas, kita sebagai manusia hanya bisa menerima,"Pak Arkain memulai obrolan berat untuk putrinya. "setelah ini kamu akan melewati masa sulit yang tak kunjung selesai. Dengan tidak adanya Rajasa, Bapak tahu permasalahannya. Suamimu terpukul berat. Sulit baginya untuk kembali seperti semula. Bapak sama Ibu cerai banyak faktornya Ne," Anelis mengernyitkan dahi. Dalam kondisi seperti ini kenapa Bapaknya justru membahas masalah cerai. "salah satu faktornya karena keluarga. Bapak tidak bisa membawa Ibu masuk dalam keluarga, Bapak salah dalam memahami keinginan Ibu tentang itu, akhirnya Ibu pergi meninggalkan kita," dalam hati ingin sekali Anelis menolak perkataan Bapak. Tidak jelas sekali arah pembicaraannya disuasana duka yang sedang dialaminya. "maksud Bapak, kamu harus lebih kuat. Kamu harus lebih sabar menghadapi luapan rasa milik Rajasa saat ini. Jangan egois mintanya dimengerti tapi tidak memberikan hal sama. Bagi Rajasa Mamahnya itu begitu penting, pasti ia akan sulit menghadapi hari-harinya nanti. Jangan sampai kamu juga menyulut hatinya, membuatnya semakin tidak bisa menghadapi semua," terang Bapak panjang lebar. "Intinya Bapak ndak mau kamu sama Rajasa berakhir sama kayak Bapak. Cukup di Bapak sama Ibumu saja." Pak Arkain mengakhiri ucapannya.
Anelis tak memasukan ucapan Bapaknya itu ke memorinya. Ia tak paham dan justru merasa benci. Andara yang sebernarnya ingin sekali menginap tak bisa. Tak ada alasan yang tepat. Terpaksa kerabat Anelis meninggalkan Anelis seorang diri, tanpa bertemu Rajasa. Hujan mengiringi mobil sedan yang membawa mereka.
Anelis tak tahu harus berbuat apa. Ia sempurna sendiri dikesedihannya. Rajasa tetap tak memberi kabar, semakin sore Anelis semakin gusar. Anelis mencoba melacak keberadaan Rajasa, lewat ingatan perjalanan mereka. Hal apa dan tempat apa yang sering dikunjungi Rajasa. Sekilas pikirannya tertuju pada makam Mamahnya, tapi hati Anelis tak menuntunnya ke sana. Satu tempat yang selalu menjadi favorit suaminya. Disambarnya kunci mobil Rajasa. Ia berpamitan pada Bu Ranti dan menitip rumah beserta isinya. Beberapa pelayat yang masih datang, disapanya sekenanya. Anelis mengajak mobil Rajasa mencari tempat itu.
__ADS_1
Anelis memarkirkan mobil di halaman muka. Petugas parkir mengangguk padanya, tanda mobilnya tepat berada digaris. Jika kelebihan makan tempat untuk mobil lain. Anelis menaiki undakan kecil tanpa mengenakan alas kaki. Ia tak keliru. Tempat sepi yang menjadi favorit suaminya. Suaminya tak pernah lupa tempat terbaik untuk orang kalut, suntuk dan menangis. Meski pedih, ada hal lain yang membuatnya bahagia. Suaminya tak pernah lupa siapa penciptanya.
Anelis duduk bersimpuh cukup jauh dari pria yang semakin dicintainya. Waktu sholat Maghrib belum tiba, Anelis bisa maju di perbatasan shaf laki-laki. Ia memandang Rajasa dari jauh.
Rajasa duduk, kepalanya bersandar di tembok. Wajahnya lelah, matanya rapat. Anelis hanya menunggunya bangun dari tidur yang tak sengaja. Tapi dari jauh, Rajasa tampak begitu lara. Anelis tak tahan hanya melihatnya. Anelis mendekat pada Rajasa, mencoba membangunkannya. Anelis menggerakan tangan Rajasa. Rajasa terkesiap, membuka mata meski berat.
"Pulang Mas," ucap Anelis lirih.
Rajasa tak menyangka istrinya menemukannya. Tempat itu baru sekali Rajasa mengajak Anelis kesana, tapi Anelis hafal.
"Pulang Mas, sudah cukup cari tempat sepinya. Orang kalut, suntuk paling tepat ke Masjid. " ucap Anelis mengingatkan obrolan mereka saat Anelis menangis. "Setelah ambil air wudhu dan solat harusnya kamu pulang Mas. Di rumah masih ada banyak tamu. Aku nggak bisa Mas, jalan sendiri. Aku pincang tanpa kamu di masa sulit ini," Anelis menyeka air matanya. Ia tak tega mengatakan itu, tapi dari hati terdalamnya memang demikian.
Rajasa mengusap wajah Anelis. Ia teringat akan janjinya, tak akan membuat Anelis menangis lagi. Tapi hati ini ia melanggarnya. Anelis juga terpukul, tambah ia menambah dengan kata-kata yang menggores hati juga. Rajasa menyesal seketika. Tak bisa berucap apa pun, hanya memandang istrinya yang menangis tertahan. Anelis memegang tangan Rajasa itu, memejamkan mata menguatkan hatinya. Ia tertunduk lesu.
"Ayo pulang Mas, aku mohon." tangisnya tak terelakan lagi.
Rajasa menyeka air mata diwajahnya, ia mendongakan kepala Anelis. Mencari retina istrinya, melihat pantulan dirinya di sana. Rajasa kembali menemukan cintanya.
"Iya Ne. Ayo kita pulang," ucapnya lega. Semalam dan seharian ini ia tak menyapa Anelis. Bagi Rajasa itu menyiksa.
Rajasa melihat kembali seberapa besar cinta mereka, tepat dibola mata. Ke dua anggota tubuh itu, tak akan pernah berbohong. Rajasa dan Anelis berhasil melewati fase ini.
__ADS_1