
Pesawat yang membawa Rajasa dan Anelis sampai di Bandara International Soekarno Hatta. Mereka menyempatkan diri mengunjungi Mamah Rajasa di perumahan Harkit (Harapan Kita) kota Tengerang. Meski hidup seorang diri, tak membuat perempuan paruh baya itu meninggalkan rumahnya. Ia tak mau meninggalkan kota Tangerang dan memilih tinggal bersama Rajasa di Jakarta. Baginya Tangerang adalah jiwanya. Jauh sebelum Rajasa dan Mamahnya tinggal di perumahan Harapan kita.
Kampung Cibodas Besar, Tahun 2000
Sejak pagi Bu Karti sibuk mengaduk adonan kue. Kue bulat bolong tengah atau kue donat. Penghasilannya sebagai petugas kebersihan di SD Negeri Cibodas 4 tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bu Karti pun harus berupaya lebih giat lagi.
Ia menitipkan beragam cemilan sehat di kantin sekolah. Mulai dari kroket, kue basah juga mendoan. Sesuai modal yang sedang ia miliki. Kadang, Bu Karti juga menjadi buruh masak. Saat tetangga atau kolega mengadakan hajatan. Kepiawainnya dalam meracik bumbu memang tak diragukan. Seluruh warga gang sudah paham.
Rumah bu Karti paling kecil sendiri. Berada diujung gang dan bersebelahan langsung dengan lapangan. Sebenarnya itu bukan rumahnya. Ia sama saja mengontrak di sana. Beruntung, pemilik kontrakan itu masih saudara suaminya. Ia mendapat setengah harga.
Setelah memastikan anak laki-lakinya terbangun, bu Karti pamit bekerja.
"Sa, Mamah berangkat dulu. Nanti kamu berangkat sendiri ya. Ingat nggak boleh terlambat. Cuma beda gang sama rumah doang, kok terlambat," ucap bu Karti lembut.
"Iya Mah," jawab Rajasa masih setengah dasar.
Rajasa kelas enam, sebentar lagi masuk SMP. Bu Karti pun sibuk mencari tambahan sana-sini. Rajasa begitu riang, saat tau Mamahnya membuat kue donat. Kalau diijinkan ia bisa menghabiskan lima buah kue donat. Sebelum menuju sekolah, Rajasa menenteng bekal makan siangnya. Nasi dengan telor dadar. Setiap hari menu mereka hanya itu-itu saja. Tapi Rajasa tak merasa dirinya menderita. Ia tumbuh menjadi pria bertanggung jawab. Itu semua berkat keseriusan bu Karti dalam mendidik Rajasa.
Rajasa anak pandai. Selalu mendapat rengking pertama. Ia juga kerap mewakili sekolah di beberapa lomba. Terutama yang berkaitan dengan pelajaran. Ingatannya utuh sempurna. Rajasa anak tangguh. Ia tak pernah malu atas kondisi hidupnya. Meski Mamahnya tukang bersih-bersih di sekolah, Rajasa tetap percaya diri.
Setiap hari bu Karti melakukan pekerjaanya dengan gembira. Saat jam pelajaran tiba, siswa SD N Cibodas 4 masuk kelas masing-masing. Saat itulah ia melakukan tugasnya mengepel lantai teras. Sampai pada kelas Rajasa, ia menghentikan aktivitasnya. Melirik masuk. Anaknya begitu khusuk menyimak materi, memerhatikan setiap penjelasan gurunya. Andai ia punya cukup banyak uang. Andai suaminya masih hidup. Rajasa bisa mengembangkan setiap potensi dalam dirinya. Ia bisa melejit menjadi anak cerdas.
Bu Karti berpindah dari satu teras ke teras lainnya. Hingga ia tiba di teras ruang kepala sekolah. Pintunya terbuka. Ia bisa melihat jelas Bu Mutia, kepala SDN Cibodas 4, sedang merapikan isi lemarinya. Membenahi satu per satu tatanannya. Melihat orang terpenting di sekolah beres-beres, bu Karti mendekat. Sigap menawarkan bantuan.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" ucapnya dari luar.
"Eh bu Karti, sudah selesai ngepelnya? kalau sudah boleh bantu saya," ujar Bu Mutia.
Tanpa menunggu lama, bu Karti menuruti setiap arahan atasannya. Pekerjaan beres-beres selesai dalam waktu saju jam.
Bu Mutia belum lama menjadi kepala SDN Cibodas 4 Kota Tangerang. Tapi, kebaikannya sudah terkenal di lingkungan sekolah. Bahkan warga juga ikut senang dengan kehadiran bu Mutia. Ia guru Bahasa Indonesia. Pegawai Negeri sekaligus pengusaha konveksi di kota. Beliau terkenal sangat derwanan.
"Bu Karti sini, duduk dulu di ruangan saya. Silakan diminum dulu," ujar bu Mutia. Minuman dingin dari kulkas diserahkannya.
__ADS_1
Bu Karti mengangguk, menerima minuman tersebut canggung. "Terima Kasih Bu," jawabnya segan.
"Bu, nanti Rajasa mau lanjut sekolah dimana? Dia anaknya rajin dan pandai. Berkali-kali lomba, selalu dapat piala," ucap bu Mutia membuka obrolan. "Kalau mau, Rajasa bisa sekolah di SMP favorit Bu, di kota," imbuh bu Mutia.
"Saya belum tahu Bu, paling ya saya sekolahkan dekat sini saja. Sekolah negeri yang tanpa biaya." ucap bu Karti getir. "Alhamdulillah Bu, kalau Rajasa pandai. Itu semua berkat bantuan Bapak Ibu guru di sini," tambah bu Karti.
Urusan pendidikan anak, bu Karti tak mau main-main. Meski dirinya hanya lulusan SD, ia ingin Rajasa bisa kuliah. Memiliki gelar sarjana tidak seperti dirinya dan suaminya. Dalam hati ingin sekali menberikan yang terbaik untuk Rajasa, tapi apa daya. Ia hanya seorang petugas kebersihan. Penghasilannya hanya cukup untuk makan, juga menyewa kontrakan.
"Bu Karti, kan bisa bikin kue ya? Saya beberapa kali beli kue dan cemilan bu Karti di kantin. Rasanya enak lho Bu. Kenapa ndak dikembangkan jadi usaha saja? untuk menyalurkan hobi, sekaligus menambah penghasilan," ucap bu Mutia berhati-hati.
Ia tak ingin bu Karti tersinggung dengan ucapannya. Bu Mutia paham betul bagaimana kecerdasan Rajasa. Jiwa kemanusiaannya selalu terasah melihat situasi begitu. Bisa saja dirinya menawarkan beasiswa atau membiayai total sekolah Rajasa di SMP nanti. Masalah uang jelas dia lebih punya. Tapi bu Mutia tidak begitu. Ia selalu punya cara sendiri menolong orang-orang disekitarnya. Tak hanya memberikan kecukupan, tapi sifat dermawannya juga mencoba mengangkat setiap derajat hidup orang yang dibantu. Bagaiamana caranya pahalanya nanti tetap mengalir.
"Sempat kepikiran Bu. Tapi saya nggak punya modal. Makanya saya nyoba nitip di kantin sekolah Bu, sesuai modal yang saya punya," terang bu Karti.
Bu Mutia tersenyum, wajahnya menjelma malaikat yang turun ke dunia. Orang baik selalu punya niat baik dan cara-cara terbaik.
"Begitu ya bu Karti, kebetulan adik saya punya usaha toko roti. Tapi ia tidak membuat sendiri. Ia mengumpulkan hasil roti, kue kering, kue basah juga aneka jajanan tradisional dari tetangga, saudara dan koleganya. Nanti kue kue tadi dikemas lebih rapi kemudian dipasarkan di toko tersebut. Kalau kata adik saya, nggak pingin cari untung banyak. Bisa bantu orang lain udah seneng katanya," terang bu Mutia.
Bu Karti menyimak setiap kata yang diucapkab atasannya itu. Takjub melihat kebaikan keluargaa bu Mutia.
Bu Mutia bangkit mengambil secarik kertas. Menuliskan alamat toko, lalu memberikannya. Bu Karti gugup menerima kertas itu. Rasa syukur merasuk dihatinya. Mungkin beginilah cara Tuhan membantu hambanya. Lewat orang-orang baik yang memiliki kemampuan lebih. Dimana harta, jabatan, bukan lagi menjadi ukuran kebahagiaan. Melainkan sebuah perantara ketaatan terhadap penciptanya.
Sejak saat itu, hidup Rajasa dan bu Karti berubah. Perlahan mereka mampu mengontrak rumah yang lebih besar. Rajasa tumbuh semakin besar dan selalu giat belajar. Ia menghabiskan waktu SMPnya dengan rajin membawa kue buatan Mamahnya. Bu Karti menjadi mitra tetap Daisha Bakery. Penghasilannya, lebih dari cukup untuk membuka usaha sendiri. Tapi ia memilih setia tetap menjadi mitra. Hingga kabar tentang kepindaham Bu Mutia membuat bu Karti menjadi pemilik baru Daisha Bakery.
Wanita paruh baya itu mengerjapkan mata. Melanjutkan mengaduk adonan kue donat. Mengetahui putra satu-satunya pulang, membuatnya rela mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Aroma donat madu menyembul melalui lubang jendela. Menggoda indra perasa dan siap dinikmati.
Pengemudi grab car menghentikan mobilnya. Rajasa dan Anelis turun, menenteng bingkisan kresek hitam. Oleh-oleh untuk Mamahnya. Dari luar, Rajasa bisa mengerti. Mamahnya membuat kue donat. Kue favoritnya waktu kecil.
"Siap-siap kita makan banyak kue donat," ujar Rajasa sambil melepas sepatu.
"Sok tahu kamu, emang Mamah bilang mau bikinin Mas?" tanya Anelis.
Rajasa menggelengkan kepala, "Tidak, tapi aku bisa menciumnya." ujar Rajasa.
__ADS_1
Mamah membuka pintu. Ia begitu senang melihat dua anaknya pulang. Rajasa meletakan kresek hitam, meraih punggung tangan Mamahnya.
"Assalamu'alaikum. Gimana kabarnya Mah?" Rajasa memeluk Mamahnya mesra.
"Baik Sa," ucapnya bahagia.
"Gantian woy, aku juga pingin peluk Mamah," ucap Anelis.
Anelis sangat beruntung. Ia juga mendapatkan ibu mertua yang luar biasa baiknya. Mamah Rajasa tak pernah menganggap Anelis sebagi menantu, melainkan menganggapnya sebagai anak sendiri. Anelis memeluk tubuh mertuanya, bercipika cipiki ria. Malam ini mereka memutuskan untuk menginap. Anelis mengajukan satu hari tambahan cuti dengan alasan sakit. Rajasa setuju. Ia juga rindu Mamahnya, ingin menemani dulu.
Donat madu buatan Mamah Rajasa menjadi sumbu nyalanya api bahagia. Setelah satu bulan tak berkunjung, rumah itu terasa ramai. Anelis merebahkan diri di kamar Rajasa, yang juga kamar miliknya. Harusnya malam pertama mereka ya di kamar ini. Tapi, itu tak terjadi. Anelis justru menangis serta mengurung diri.
Tanpa Rajasa dan Anelis tahu, Mamahnya sebenarnya paham. Kenapa ia belum bisa menimang cucu. Mamahnya juga kerap mendapati Rajasa tidur di ruang TV sampai pagi. Belum pernah dirinya mendapati Rajasa mandi pagi. Hanya saja wanita paruh baya itu, lebih memilih diam. Tak mau ikut campur urusan anaknya. Namun setelah hampir satu tahun tak dapat kabar berita, ia menjadi gelisah. Ia rindu menimang bayi lagi. Setelah dua puluh delapan tahun.
Anelis memejamkan mata. Perjalanan dari Borobudur ke Jogja kemudian naik pesawat membuatnya merasa lelah. Anelis kalah, di kasur empuk kamar. Rajasa membiarkan Anelis terlelap. Ia mencari Mamahnya di dapur. Tempat favorit wanita kesayangannya selain Anelis.
"Lagi apa Mah?" tanya Rajasa dari pintu.
"Biasa, cari-cari kerjaan beres-beres dapur. Habis ruang tengah sama tamu bersih mulu. Nggak pernah kotor. Ya lari ke dapur," ucapnya.
"Bags dong Mah kalau bersih. Dari pada kotor, malah repot," ucap Rajasa. Ia duduk dikursi makan.
"Nggak. Mamah pinginnya kotor. Mamah pingin rumah Mamah berantakan. Banyak mainan, banyak sisa makanan anak kecil," Tangannya menggosok wastafel dengan penuh tenaga. "Mamah, sudah pingin punya cucu Sa. Kali ini tidak gagal lagi, kan?" tanyanya getir. Ia meletakkan lap kain, mencuci tangannya.
Rajasa tertunduk, tak tahu harus berkata apa. Ia tak paham apakah malam itu berhasil atau tidak. Tapi setidaknya malam itu Rajasa dan Anelis mencobanya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, yang hanya terlewat tanpa melakukan apa-apa.
Mamah Rajasa mendekat, iba melihat putranya. Dalam hati ia mengingkari atas apa yang terjadi dengan anaknya. Ia berharap kabar gembira segera diterimanya.
Rajasa mengangkat kepala. Menatap lurus wajah Mamahnya. Ia meyunggingkan senyum, "Doakan Mah, kali ini jadi. Rajasa dan Anelis sudah berusaha," terangnya.
Melihat raut wajah Rajasa yang begitu meyakinkan, membuatnya bersyukur. Semoga Rajasa tak membohonginya seperti dulu. Semoga ia benar-benar berhasil. Wanita paruh baya itu terus meyakinkan diri.
"Mamah udah tua, takut nggak bisa liat anak kamu nanti kayak apa. Pokoknya sebelum Mamah meninggal, kasih cucu buat Mamah ya Sa," pintanya perih.
__ADS_1
Rajasa ikut merasakan harapan yang begitu besar. Ia juga ingin segera melihat buah hatinya. Bukan, bukan karena mereka tak bisa mempunyai anak. Masalahnya mereka sulit melakukannya. Bukan Rajasa melainkan Anelis. Harapan Rajasa dan Mamahnya sama, semoga bulan depan tamu bulanan Anelis tidak datang.