
Sekar memastikan tak ada satu helai rambut pun menempel dijas putihnya. Tidak boleh seorang dokter ceroboh sampai tidak memerhatikan hal semacam itu. Sekar hendak mengambil kopi di pantry rumah sakit. Baru ia menutup pintu, laki-laki bertubuh kekar itu mengayunkan langkah panjang menuju arahnya. Ia membawa rangkaian bunga beserta camilan untuk calon istrinya. Abbas tersenyum lebar bersiap menemui Sekar.
Sekar yang memang sudah ngambek dua hari lalu enggan menyambut kedatangan Abbas. Ia buru-buru masuk ruangannya lagi. Lupa akan kopi di pantry. Sekar berdiri di depan cermin panjang dekat meja kerjanya.
Abbas tetap mengetuk pintu, meski tadi dirinya sudah melihat Sekar. Abbas memang pria santun.
"Ehem. Sedang apa Dok?" sapa Abbas menyadari Sekar masih ngambek.
Abbas meletakan buket bunga dan camilan bawaannya di meja kerja Sekar.
"Aku sengaja minta ijin Bapak buat langsung mampir sini. Tolong hargai usahaku," ucapnya sembari merapikan tatanan camilan.
Sekar menoleh, menatap Abbas kesal.
"Hobi kok ingkar janji. Lihat ini sudah hari senin, bukan lagi akhir minggu." Ia mengambil buket bunga kemudian merasakan wanginya. Seketika wajahnya berubah.
Abbas memilih duduk di kursi sofa tempat Sekar menerima tamu selain pasien.
"Aku tahu, untuk itu aku berikan monday love letter ku. Hebat, kan aku?"
Sekar kalah saat senyum Abbas merekah. Pria keturunan arab itu pandai mengambil hatinya.
"Dasar!" Sekar meninju lengan Abbas.
"Duh. Galaknya Bu dokterku," ucap Abbas kembali menggoda Sekar.
"Apaan sih yang!"
Sekar bergelayut manja pada Abbas. Rasa rindu mendorongnya untuk mencium calon suaminya. Abbas, cepat menyingkir.
"Ayolah sedikit saja," pinta Sekar, sadar Abbas menolak tawarannya.
Sekar terbiasa dengan penolakan macam itu. Hatinya kebal karena cintanya pada Abbas lebih besar.
"Tidak. Tetap setelah menikah jauh lebih menyenangkan." jawab Abbas masih membuat jarak pada Sekar.
"Nikahnya kapan? Kan, kamu terus yang nunda?" cecar Sekar dengan nada kesal.
"Iya bentar lagi. Sabar ya nunggu Daisha sembuh total. Kata kamu dia sudah menunjukkan penyembuhan yang jauh lebih baik."
"Daisha lagi Daisha lagi. Nyebelin!" Sekar kembali mencoba merengkuh tubuh Abbas. Ia benar-benar ingin mendekap tunangannya.
"Nggak di kantor. Aku nggak mau reputasimu turun."
Lagi lagi Abbas menghindar. Urusan profesional dia juaranya.
"Peduli apa sama reputasi. Aku kering Yang kalau gini terus." Sekar pun menyerah. Ia menghempaskan pelukannya di udara.
"Tidak, bagiku kamu tetap cantik dan segar." Abbas mengusap lembut kepala sekar.
Sekar kembali luluh.
Rajasa mengetuk pintu, menenteng dua tas belanja milik Sekar.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk! Tdak dikunci."
__ADS_1
Rajasa pun memutar kenop pintu. Ia mengangguk, memberi salam pada Abbas dan Sekar.
"Kamu tahu kantor Sekar, sejak kapan?" tanya Abbas heran.
Sekar melihat Rajasa sekilas lalu berkata, "Ya sejak dia kasih aku tebengan habis dari rumah pak Rajendra Yang."
"Tidak antar depan rumah sakit aja?" tanya Abbas lagi berganti menatap Sekar.
"Nggak Bas. Kemarin cuma antar sampai depan, ini kebetulan barang milik Sekar ketinggalan di bagasiku. Jadi aku datang membawanya," terang Rajasa, ia masih berdiri di dekat pintu.
"Duduk dulu. Taruh situ aja," ujar Sekar menunjuk kursi di depan mereka.
Rajasa mengikuti instruksi Sekar. Duduk di kursi bersebelahan dengan tas belanja.
"Udah pulang Bas?" Rajasa ingat Abbas habis pergi bersama pak Rajendra.
"Baru banget pulang. Langsung nyamperin nyonya besar. Lagi ngambek dia," Abbas menutup mulutnya sedikit. Berbisik pada Rajasa.
"Apaan! mulai deh!" Mata Sekar kembali melotot. Abbas dan Rajasa kompak mengernyitkan dahi.
"Gimana kabar Anelis? Sudah ada kemajuan belum hubungan kalian?" tanya Abbas mengingat email Rajasa dulu.
Sekar menatap tajam Rajasa. Baru bebarapa hari lalu dia bilang single. Kenapa ada hubungan? pikir Sekar.
"Siapa Anelis? Hubungan apa?" Sekar memancing ketidaktahuannya lewat Abbas.
"Istrinya. Mereka ada masalah cukup lama. Dia cerita sama aku lewat email, aku coba teruskan sesi konsultasi ngindar terus dia," jawab Abbas menunjuk Rajasa.
"Ah. Jangan bahas itu aku malu mengingatnya." ujar Rajasa menggaruk kepalanya.
"Punya masalah itu bukan suatu hal memalukan. Kamu bisa cerita ke kami atau psikolog lain yang kamu percayai." terang Abbas pada Rajasa.
Abbas membalasnya juga dibalas senyum canggung Rajasa.
"Kalau sungkan sama aku, kamu bisa teruskan kasusmu sama Sekar. Nanti aku kasih draft emailnya Yang," ujar Abbas kembali menatap Sekar.
"Siap Bos!" jawab Sekar mantap.
"Astaga sudah mau siang. Aku balik dulu ke rumah, belum mandi bau sayur asem. Rajasa, mumpung di sini lanjut aja buat konsultasi. Aku duluan ya Yang," ucapnya pada calon istrinya.
Abbas hanya mengusap lengan Sekar kemudian beranjak tanpa ucapan mesra sesuai harapan. Mata Sekar mengikuti gerak Abbas, ia bahkan lupa membahas masalah gaun pengantinnya. Selalu begitu, keluarga pak Rajendra nomor satu. Belum mandi hanyalah alasan, jelas Abbas pamit setelah membuka ponselnya.
"Aku ambilkan kopi dulu di pantri Sa. Tunggu bentar ya," ucap Sekar hendak berdiri meninggalkan Rajasa.
"Tidak usah. Kamu balik ke meja kerja aja. Kebetulan aku sudah mendaftar untuk sesi konsultasi hari ini denganmu,"
Sekar urung meninggalkan Rajasa, ia terpaksa menyambut pasiennya.
"Silakan duduk." Sekar meminta Rajasa beralih ke kursi depan meja kerjanya.
"Bagaimana rasanya Dok?" tanya Rajasa memulai sesi sebagai pasien.
"Rasanya? Maksud anda?" Sekar tak paham pertanyaan Rajasa.
"Rasanya memiliki pasangan dingin." Rajasa menggantung kalimatnya sejenak. "Lelah bukan? Saat kita memiliki pasangan yang demikian. Kita sibuk mencinta sedang pasangan kita asik dengan dunianya." Kalimat Rajasa menghujam di dada Sekar. Rajasa mengamati apa yang Sekar alami tadi. "Bukankah itu melelahkan Bu Dokter? Itu lah masalah saya. Pasangan saya bahkan tidak bisa melakukan segala macam bentuk sentuhan fisik, meski kami sudah menikah lama." Rajasa memutar balik kisahnya dengan Anelis.
Masalah itu jelas sudah lama berlalu. Hanya akal-akalan Rajasa saja untuk berkata banyak pada Sekar.
__ADS_1
"Sebenarnya aku mulai putus asa ditambah Ibuku ingin segera memiliki cucu. Sayang, beliau meninggal sebelum mendapatkannya. Aku sudah berusaha berkali-kali mengajaknya bulan madu. Tetap saja istriku tak bisa. Sebenarnya aku tertekan atas itu semua. Dan aku hampir gila," Sekar sabar mendengar cerita Rajasa. Ia membiarkan Rajasa mengungkap semua terlebih dahulu. "Tapi, ditengah rasa frustasiku aku menemukian sedikit dunia baru yang mungkin akan menyelamatkanku. Waktu itu di Singapur. Aku bertemu perempuan manis yang bahkan tidak menyapaku dulu dan meremehkanku. Awalnya aku membencinya, setelah selang waktu berganti aku kembali bertemu dan semakin yakin jika wanita itu akan menjadi duniaku." ucap Rajasa semakin berbusa.
"Sebentar, maksudnya anda berselingkuh juga dengan pasangan anda, atas alasan tadi?" sergah Sekar.
"Tidak. Aku bahkan belum memulainya, karena wanita itu sudah punya calon suami. Bu Dokter, apa Ibu tidak ingat saya?" Rajasa menatap mata Sekar tajam. Ia semakin ingin menjalin hubungan dengan wanita berjas putih di depannya.
"Kediaman pak Rajendra, Singapura. R-jasa.com Bu." tandas Rajasa berharap Sekar benar-benar ingat.
Sekar memutar memori kepalanya. Singapur? Pak Rajendra? Berarti tugas rahasia yang membuat kecewa.
"Dim mas?" Sekar mulai ingat satu nama.
"Ya. Dia temanku, dan aku Rajasa pemilik perusahaan itu." Rajasa meninggalkan gaya formalnya.
Sekar menutup mulutnya tercengang. Tak menyangka pria yang mendapat bogem mentah kekesalan dirinya ke Abbas adalah Rajasa.
"Wah. Haha. Dunia sempit sekali Sa," ucapnya meninju lengan Rajasa.
"Aduh, sakit Sekar! Kamu nggak pantas jadi perempuan kasar." ujar Rajasa.
"Maaf. Maaf. Nggak nyangka aja ya," Sekar menebar senyum pada Rajasa.
Hati Rajasa semakin berbunga. Satu langkah pendekatan ke Sekar berhasil.
"Aku punya sesuatu untukmu." Rajasa beralih ke tas belanja Sekar, mengambil hadiah yang sudah ia siapkan.
"Album lama Homonegic yang kusimpan sendiri. Aku tahu kamu suka itu, jadi kuberikan satu untukmu," Rajasa meletakkan album itu bersebelahan dengan camilan dari Abbas.
Sekar mengambilnya, tak percaya itu album yang didambanya sejak lama.
"Oh May God. Makasih Sa, aku senang sekali sama lagu Untukmu Duniaku. Ya walau sekarang bisa pakai aplikasi di hp tetap aja punya koleksi album band favorit tetap menyenangkan," jelas Sekar.
"Iya benar sekali. Aku juga senang ketemu orang satu frekuensi denganku. Ngeklik jadinya." Ujar Rajasa merayu Sekar.
Sekar masih takjub dengan album itu, ia membaca setiap judul disampul.
"Dengarkan lagu lain juga di album itu. Aku yakin kamu akan lebih pandai dalam membuat keputusan,"
Kata-kata Rajasa menggema di langit-langit.
"Maksudnya?"
"Memilih bersama orang yang punya frekuensi sama denganmu jauh lebih baik. Daripada harus terus-terusan menghiba tanpa balas pasti. Dulu aku melakukannya, dan itu semua sia-sia."
Sekar semakin tak paham dengan ucapan ngelantur Rajasa. Tapi keterkaitannya dengan album homogenic membuat ucapan Rajasa perlu dicerna juga.
"Aku memang beristri Sekar, tapi aku tak lebih buruk dari Abbas. Pastikan kau mendengar untukmu duniaku ya. Jika kau mau meneruskan pertemuan ini dikemudian hari, lagu itu kupersembahkan khusus untukmu. Aku ingin menyelamatkan hidupku dengan mengganti duniaku,"
Rajasa mencoba kembali merayu Sekar.
"Jika kau mau meneruskan, hubungi aku. Dan aku akan lebih sering datang untuk sesi konsultasi." pungkas Rajasa sekaligus berpamitan dari ruang kerja Sekar.
Sekar membiarkan Rajasa pergi begitu saja. Terperangah serta tak percaya atas apa yang dibuat Rajasa barusan. Antara konyol, bingung juga kaget.
Rajasa sempurna menelanjanginya lewat kata-kata. Rajasa menunjukkan semua hal yang ia rasa dan memilih dipendamnya selama ini menjadi semakin nyata. Tentang Abbas yang seolah tak mencintainya. Tentang Abbas yang selalu punya dunia sendiri. Terlebih baru saja Abbas mengabaikan setiap keinginannya. Menahan begitu lama, menunda pernikahan hingga ingkar janji berkali-kali. Semua demi orang lain yang jelas lebih berharga bagi Abbas. Dirinya bukan prioritas utama.
Sekar gamang, pendiriannya goyah. Ia menyadari itu semua, dan yang diucap Rajasa benar adanya. Tapi, jelas jelas Rajasa bilang sudah beristri.
__ADS_1
Apa tidak masalah?
Rajasa berhasil membuat dokter yang usianya tak lagi muda itu, memikirkan banyak hal.