
Dokter dan perawat sepakat. Wanita paruh baya itu tak bisa lagi selamat. Mereka sudah menuntaskan pekerjaannya.
Rajasa mendorong keras pintu. Sekat yang sempat menghalangi ia dan Mamahnya. Rajasa menghambur ke tubuh wanita kesayangannya.
"Mah, bangun Mah. Mah, ini Rajasa datang Mah," ucapnya serak. Tangis yang sedari tadi membasahi tak terbendung lagi.
"Mah..jangan bercanda Mah. Rajasa nggak suka Mamah diam begini. Rajasa lebih senang Mamah melakukan banyak hal. Mah, Mah..." Ia memanggil Mamahnya. Sayang, Mamahnya jelas tak bisa membalas ucapannya.
"Mah! Bangun Mah! Rajasa udah pulang, Bangun Mah!" Rajasa mengguncang keras tubuh Mamahnya. Ia tak percaya dengan kenyataan dihadapannya. Baru tadi siang ia bercakap dengan Mamahnya lewat sambungan udara.
"Mah,Mamah. Please Mah!!!" Tangisnya semakin menjadi. Hatinya pilu melihat Mamahnya terbujur kaku.
Anelis mendekat. Tak percaya juga mertuanya meninggal dunia. Matanya basah. Anelis meraih tangan wanita kesayangannya, ia tak bisa merangkai banyak kata. Diciumnya punggung tangan wanita yang tak pernah marah. Sejak pertama menerima Anelis sebagai menantu, tak sekali pun Anelis diperlakukan dengan tidak baik. Anelis bahkan lebih menyayangi mertuanya daripada ibunya sendiri.
"Mah,bangun Mah,"ucap Anelis lirih. Ia menggerakan tangan mertuanya. Berharap ada respon dari pemiliknya. Tapi, pemilik tubuh itu tak mungkin lagi bisa membalas. Tenang dalam tidur panjangnya. Mertua yang disayanginya, sudah tiada. Anelis menunduk. Lututnya bersimpuh. Dunianya hari itu runtuh.
Rajasa mendekap tubuh Mamahnya. Meski sulit untuk percaya ia mencoba mencerna. Rajasa tak membantu Anelis yang masih menangis. Dirinya juga terluka, jiwanya kosong seketika. Jarak rumah sakit Siloam dan rumahnya tak jauh. Sirine ambulance menemani Anelis, Rajasa dan Mamahnya. Bu Ranti sudah pulang lebih dulu. Melakukan beberapa persiapan.
Rajasa mengusap tubuh Mamahnya yang sudah tertutup kain. Sesekali merapal doa, menguatkan hatinya. Anelis duduk di sebelah. Melihat beberapa kolega datang, tak tega jika ia membiarkan. Anelis berusaha kuat. Ia tak bisa mengandalkan Rajasa. Harus dirinya lah yang lebih menerima keadaan. Sebagai pasangan suami istri, memang baiknya demikian. Saat satu terpuruk, satunya bangkit. Tinggal siapa yang lebih membutuhkan banyak porsi untuk kesedihan itu sendiri, yang boleh larut. Sisanya harus dibereskan pasangannya.
Dimas datang bersama Anita dan karyawan lain di R-jasa.com. Anelis memberitahu lewat pesan whatsapp.
"Sabar Ne, yang kuat," ucap Dimas menyapa Anelis. Anelis menganggukkan kepala. Memberi tanda pada Dimas, Rajasa di dalam. Siapa tahu Rajasa bisa sedikit tenang.
__ADS_1
Dimas menyalami Rajasa, ditepuknya bahu sahabatnya itu. "Yang kuat Sa, gue juga kenal banget sama tante Karti. Gue ikut kehilangan," ucap Dimas seraya menyeka air matanya.
Rajasa melihat sahabatnya yang kenal dekat dengan Mamahnya, ia berkata, "Maafin Mamah kalau ada salah Dim, doain jalannya lapang."
Dimas mengangguk, "Pasti Sa. Pasti gue doain. Tante Karti orang baik, dia nggak mungkin kesepian di sana." Dimas juga merasakan kehilangan seperti Rajasa. Ia merangkul sahabat yang sudah seperti saudara baginya. Rajasa menangis lagi. Isaknya semakin menyayat hati.
Pelayat berdatangan di perumahan Harkit kota Tangerang. Kabar mendadak meninggalnya Bu Karti cepat sampai di lingkungan itu. Karyawan toko roti Daisha Bakery, toko lama mereka Lapis Legit dan para mitra menyambangi rumah Rajasa. Beberapa tetangga di kampung Cibodas Besar dan guru SD N Cibodas 4 yang mengenalnya juga melayat. Nurma dan tentor lain dari Sahabat Belajar juga hadir. Memberi penghormatan terakhir untuk Mamah Rajasa. Hanya saja, dibanyaknya pelayat yang berkerumun hanya Anelis dan Rajasa yang murni keluarga. Rajasa tak pernah mengenal apa itu sanak saudara.
Anelis menelpon Bapak dan Andara, juga Ibunya di Jawa. Meski tak bisa hari itu juga sampai, setidaknya ada kabar untuk mereka.
Hatinya tersayat. Di Jakarta mereka sempurna hanya berdua.
"Makasih Dim, udah nyempetin sampai malam. Sory kalau kita nggak bisa kasih apa-apa," ucap Anelis sekenanya.
"Nggak apa-apa Dim. Makasih banget. Nitip perusahaan ya, kayaknya Rajasa berat buat kembali normal. Butuh waktu," ujar Anelis, mengambil keputusan untuk Rajasa. Saat seperti ini harus ada yang diandalkan di perusahaan. Beruntung mereka memiliki Dimas.
Malam semakin larut, rumah duka itu berangsur sepi. Bu Ranti kembali ke rumahnya yang hanya berjarak satu hasta. Tembok mereka jadi satu. Karyawan Daisha bakery yang menyempatkan membenahi perlengkapan sebelum pulang pun sudah tak ada. Tersisa Anelis dan Rajasa yang masih berkubang duka.
Anelis mengambil segelas air untuk Rajasa. Mencoba membujuknya bicara. Dari siang perut Rajasa belum terisi, ia khawatir kondisi Rajasa tidak baik. Pria yang begitu hebat menyeselaikan segala masalah bisa tumbang juga. Pria yang selama ini menjadi poros jalannya hidup Anelis tak berdaya. Ia duduk sendiri, di kamar berukuran sedang yang ditinggal pemiliknya.
"Mas," panggil Anelis. Berdiri di daun pintu kamar.
Rajasa menoleh, sedikit mengangkat wajahnya. Ia tak menjawab sapaan Anelis. Rajasa justru membuang muka. Anelis melangkah maju, menyodorkan segelas air untuk suaminya. Tangan kanannya ia biarkan memegang gelas, sedang yang kiri mencoba mengusap lengan Rajasa.
__ADS_1
"Mas, minum dulu," ucap Anelis.
Rajasa tetap tak berbalik. Ia menjelajah jauh pada ingatannya. Tentang Mamahnya yang begitu baik mengurusnya. Tentang Mamahnya yang begitu piawai membuat kue donat. Juga tentang percakapan terakhir mereka di telepon. Sebuah permintaan terakhir yang gagal ia kabulkan. Baktinya sebagai anak tak tertunaikan. Mengingat itu semua membuat Rajasa sakit. Ia merasa semua salahnya, juga salah wanita yang dicintainya. Andai mereka bisa cepat memberi kabar bahagia, andai mereka tak berkali-kali gagal. Sudah pasti Mamahnya tak merasa sepi. Rajasa menyesal memikirkan itu, hatinya terluka, hancur tak bersisa. Harga dirinya juga terhina. Ia tidak berhasil membahagiakan Mamahnya. Saat itu juga perasaan benci menyusup dihati Rajasa. Membuatnya tak berguna.
Rajasa membalikkan badan, ditepisnya gelas ditangan Anelis. Suara beling yang menghantam lantai membuat Anelis kaget. Anelis kembali menitihkan air mata. Belum sempat Anelis memungut pecahan gelas miliknya Rajasa bicara,
"Semua gara-gara kamu Ne! Salahmu! Kalau kamu nggak punya masalah, sudah pasti Mamah bisa melihat anak kita. Kalau kamu nggak menunda-nunda, sudah pasti Mamah bahagia. Mamah nggak mungkin pergi secepat ini!" Rajasa menunjuk Anelis tepat di muka. "Percumah kamu sayang sama aku. Percumah kita menikah Ne, kalau endingnya begini!" Rajasa membentak Anelis keras. Rajasa mengungkap isi hati yang selama ini ia simpan sendiri..
"Mas, tenang dulu Mas," ucap Anelis bingung. Ia tak mengira gelas ditangannya jatuh begitu saja.
"Aku nggak bisa tenang Ne. Hidupku nggak ada artinya tanpa Mamah Ne. Aku belum siap Mamah pergi!" Rajasa semakin menyesali diri. Air mata kembali mengalir dari pelupuk mata.
"Mas, sabar Mas. Aku juga kehilangan Mamah Mas. Aku juga nggak nyangka Mamah pergi ninggalin kita," ucap Anelis lara. Hari ini suaminya begitu berbeda.
Rajasa menatap Anelis. Kini, tatapannya tak lagi cinta melainkan benci atas semua yang terjadi. Rajasa menyalahkan Anelis.
"Mana bisa sabar kalau gini Ne! Kamu tuh cuma mantu. Aku yang anak Mamah. Aku yang paling tahu rasa sakit itu. Pergi Ne! tinggalin aku sendiri. Aku nggak mau liat kamu!" Bentak Rajasa kembali.
"Mas, mas. Jangan begitu Mas," Anelis mencoba meraih tangan Rajasa.
"Pergi Ne! Pergi!" Rajasa semakin membentaknya. Ia mendorong Anelis keras. Meminta Anelis segera keluar dari kamar Mamahnya.
Anelis tak berdaya. Tenaganya tak cukup kuat melawan Rajasa. Anelis keluar dengan hati lara. Pintu kamar itu tertutup rapat. Rajasa mengeluarkan segala rasa. Tangisnya melengking namun menyayat hati. Siapa pun yang mendengarnya, ikut merasa juga.
__ADS_1
Anelis membiarkan tubuhnya luruh ke bumi. Ia memegang lemah daun pintu itu. Sekat yang menghalanginya dengan suaminya. Sebuah batas yang sengaja dibuat Rajasa. Anelis terkulai lemah, hatinya lebih terluka. Ia tak hanya kehilangan Mamah. Malam itu Rajasa seolah membuangnya. Membuatnya semakin tak berharga. Lewat daun pintu yang membisu, keduanya menyemai luka.