ANELIS

ANELIS
Bab 33


__ADS_3

Anelis membuka album kenangannya. Album perjalanan manis bersama Rajasa. Ia paling senang saat Rajasa membawanya menyusuri jalan di kawasan Candi Borobudur. Tanpa ia sadari hatinya tertinggal di sana. Borobudur beserta paket lengkapnya ia kenang terus, tak terasa sebentar lagi Anelis dan Rajasa menyambut anak pertama. Di mobil jeep merah yang membawa mereka dulu, sebuah lagu mengalun merdu.


🖤


Di sini semua berawal


Walau seribu tanya bicara


Terbungkam oleh pesona


Tanpa arah semakin jauh kubertahan


Haruskah kuhilang tanpa pesan


Akankah kurindu semua kesan


Sentuhlah hatiku ... rasakan yang berbeda


Rengkuhlah pikirku ... bawaku ke duniamu


Dengarlah harapku ... akankah kau mengerti


Bila hadirmu buat hariku ... seringan awan


Di sini semua terungkap


Walau nyata enggan berkata


Membisu oleh prahara


Tanpa arah semakin jauh ... kubertahan


Haruskah ku hilang tanpa pesan akankah kurindu semua kesan


Sentuhlah hatiku ... rasakan yang berbeda


Rengkuhlah pikirku ... bawaku ke duniamu


Dengarlah harapku ... akankah kau mengerti


Bila hadirmu buat hariku ... seringan awan


(Seringan Awan-Homogenic)


🖤


Pagi ini Anelis kembali memutar lagu itu. Ia bersiap menyambut anak pertama. Sejak Ibu dan Andara menginap, Anelis membulatkan tekad menjadi perempuan yang bisa mengubah diri lebih baik lagi. Anelis tidak mau pernikahannya berakhir seperti orang tuanya. Anelis mengerti Rajasa hanya punya teman curhat saja, belum sampai benar-benar melakukan penghianatan. Anelis memilih mengabaikan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Sudah diberesin semua Ne? Yakin nggak ada yang tertinggal?" Rajasa memastikan istrinya tidak lupa akan barang-barang pribadinya. Jangan sampai pemilik apartemen yang baru, merasa tidak nyaman.


"Udah Mas." Anelis mengusap lembut meja riasnya. Ini hari terakhir ia bercermin di kaca itu.


"Ayo." Rajasa menenteng tas pakaian Anelis.


Setelah melewati banyak perenungan, Rajasa memutuskan memboyong Anelis ke perumahah Harapan Kita. Selain ia bisa lebih sering menengok mamahnya, ia juga bisa lebih mudah mengurus Daisha Bakery. Bagi Rajasa saat ini, toko roti itu lebih berharga dibandingkan R.jasa.com. Situs jual beli itu jelas tidak akan ada jika Daisha tak hadir di kota kelahirannya. Rajasa menunjuk Dimas sebagai orang kepercayaan, menggantikan posisinya di perusahaan.


Anelis mengenakan baju terusan panjang longgar, perutnya sudah semakin membesar. Jika tidak ada arang melintang satu minggu lagi ia siap melahirkan. Anelis memegangi terus perutnya, sabuk pengaman sudah sulit ia kenakan.


"Jangan terlalu kencang, berbahaya." Rajasa ikutan mengusap perut Anelis.


"Makasih Mas." Anelis tersenyum manis, sudut matanya sedikit berair.


"Kenapa?" Rajasa menoleh sekilas, kemudian siap menyalakan mesin mobil.


"Makasih sudah jadi suamiku."


"Pagi-pagi ngegombal." Rajasa sedikit tersipu. Wajahnya berubah merah.


Perjalanan dari Jakarta menuju Harkit Tangerang begitu lancar. Mungkin karena mereka bersama calon buah hati yang sebentar lagi menyapa. Allah memudahkan jalannya.


Rumah masa kecilnya sudah berubah warna catnya. Halaman depan yang tidak begitu luas juga sudah dirapikan rumputnya. Rajasa diam-diam menyiapkan segalanya. Waktu itu, saat ponselnya tertinggal ia merasa gusar. Meski dirinya yakin tak ada hal mencurigakan dan berlebihan dari ponselnya, ia tetap saja was-was. Rajasa memikirkan kembali ucapan Mamahnya saat hendak menikahi Anelis.


🍁Sebelum Lamaran🍁


"Sudah mantap?" Wanita paruh baya itu sengaja masuk ke kamar Rajasa. Memastikan putranya benar-benar mengambil keputusan yang benar.


"Sedikit ragu di beberapa hal." Rajasa mengamati wajah teduh Mamahnya.


"Apa yang menjadi keraguanmu?"


"Perceraian orang tuanya. Hari ini Rajasa dengar dari seseorang, hal tersebut bisa turun menurun ... pada anak cucu."


"Serius? Siapa yang bilang?" Mamah Rajasa berusaha memahami suasana hati putranya.


"Paman Dandu. Siang tadi Paman bicara banyak hal. Termasuk kekhawatiran Paman tentang pilihan Rajasa."


Bu Karti diam sejenak. Ia mengumpulkan cara terbaik agar putranya tak salah paham dengan ucapan pamannya.


"Benar, bisa jadi turun temurun ... bagi orang-orang yang tidak bisa menghindar." Mamah Rajasa memutuskan duduk di sebelah putranya. Rajasa tak paham dengan penjelasan itu. "Maksudnya, kalau sejak awal kamu sudah berpikiran demikian, kemungkinan besar ya kejadian. Tapi, kalau kamu bisa menghindari dan mau mengubah garis takdir itu, bisa saja ucapan Paman tak akan terjadi."


"Terus Rajasa harus bagaimana?"


"Anak Mamah udah mau nikah, jago segala bidang, urusan perasaan kok masih aja belajar. Kembali ke niat awal apa tujuanmu menikahi Anelis. Kenapa dari sekian wanita di dunia Anelis lah yang kamu pilih?" Bu Karti geram mendengar pertanyaan Rajasa.


"Rajasa nyaman. Rajasa merasa butuh. Rajasa ingin terus bersamanya." Rajasa mengingat-ingat sebab perasaan cintanya muncul.

__ADS_1


"Bukan karena kalian tidak ada kesempatan cari gandengan lain, kan?"


"Maksud Mamah?"


"Nyaman, butuh bisa jadi modal awal untuk saling mencinta. Karena mungkin cinta itu sendiri ada setelah syarat tadi terpenuhi. Tanpa rasa nyaman, sulit seseorang bertahan. Kalian sudah punya modal, tinggal maksimalkan. Harapan Mamah kamu benar-benar bisa nyaman terus sama Anelis. Patahkan argumen Pamanmu, buktikan cinta kalian tak sekecil itu." Bu Karti menepuk lembut lengan putranya. Melepas Rajasa meski berat baginya, tetap suatu kebanggan juga. Ia tak pernah memikirkan soal latar belakang keluarga Anelis.


"Mamah merestui?"


"Kalau sejak awal Mamah memepermasahkan, Mamah tak akan menyiapkan segala macam parcel untuk lamaran. Mamah juga tidak akan mengiyakan saat kamu membawanya memasuki rumah kita. Apa yang kamu takutkan belum tentu jadi kenyataan Rajasa. Kalaupun suatu waktu kamu benar-benar dalam posisi itu, ingat terus pesan Mamah ini." Bu Karti membenarkan posisi duduknya. Kali ini ia benar-benar menghadap pada Rajasa. "Perceraian memang dihalalkan oleh Allah Rajasa, tapi Allah jelas-jelas membencinya. Walaupun diijinkan, kalau dibenci buat apa. Jadi tidak perlu urusan pernikahan kalian sampai dibawa ke arah perceraian. Mamah, tidak akan rela dan pasti akan kecewa. Jadi, Mamah pesan banget sama Rajasa. Jaga Anelis, jaga cinta kalian dan jaga keutuhan rumah tangga kalian. Sesulit apapun itum Jangan jadikan perceraian sebagai pilihan." Bu Karti mengusap lembut wajah putranya. Rajasa yang selalu pandai dan ia banggakan. "Sudah ya. Waktunya kita berangkat. Kamu bersiap, nanti Mamah tunggu di depan." Bu Karti beranjak dari kamar Rajasa.Harapannya Rajasa tak ragu dengan keputusan yang sudah diambil.


Rajasa mengusap wajahnya. Benar, sejak awal ia tak mempermasalahkan keluarga Anelis yang bercerai. Ia juga tak peduli Anelis terkesan sebatang kara di Jakarta. Baginya, rasa nyaman dan saling membutuhkan yang ia rasa tak sebatas bualan belaka. Ia benar-benar mencinta tanpa syarat lebih seperti lainnya. Rajasa merapal doa sejenak, bangkit dari duduknya. Bersiap menjadi pendamping setia untuk kekasih hatinya, Anelis Arkaina. Selamanya.


***


Rajasa sengaja mengubah warna cat dan dekorasi kamarnya menjadi lebih feminim. Bukan pink mencolok melainkan dusty pink yang lebih bisa diterima Anelis. Istrinya cenderung suka warna gelap, suram seperti masa lalunya.


"Kapan kamu nyiapin ini semua Mas?" Anelis terperangah melihat kamar itu. Semua peralatan dan perlengkapa bayi juga ada.


"Saat aku sering pulang ke Harkit."


"Ngambil berkas?"


"Iya. Aku gak cuma ambil berkas. Aku ... menyiapkan semua." Rajasa membelai box bayi yang ia siapkan sendiri.


"Lantas, kenapa kamu tidak jujur Mas?" Anelis yang dulu kerap mengira Rajasa berselingkuh sedikit malu.


"Buat apa menjelaskan. Toh pikiran kamu sudah kotor. Aku pikir cukup dengan membuktikan apa yang kulakukan saja suatu hari nanti, sudah cukup. Tidak perlu banyak bicara Ne." Rajasa melihat wajah Anelis sekilas. Ia berpindah ke lemari besar.


"Apa itu Mas?"


"Sini. Buka sendiri." Rajasa mengulurkan tangannya. Ia ingin istrinya sendiri yang pertama melihatnya.


Tangan Anelis lincah membuka kenop pintu lemari. Ia merasa haru sekaligus malu. Anelis menutup wajahnya.


"Kenapa Ne, ada yang salah?" Rajasa ikut memegang pergelangan tangan Anelis.


"Aku gak nyangka Mas. Sama sekali gak kepikiran. Kamu, bahkan sampai baju anak kita begitu rapi kamu menyusunnya Mas. Ini baju terakhir yang kita beli, kan? Sudah di sini aja."


Rajasa tersenyum. Ia membiarkan Anelis malu dalam peluknya. Rajasa mengusap lembut rambut Anelis.


"Sudah kubilang aku mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkanmu. Sebelumnya kuakui, aku berada pada titik tertentu yang membuatku kadang melupakanmu. Setelah kupikir ulang ... aku keliru. Aku ... tidak terbuka padamu tentang konsultasi itu." Rajasa terus saja mengusap rambut Anelis. "Aku ... hampir saja melakukan kesalahan."


Anelis tak mau membahas tentang itu. Ia sendiri merasa bersalah atas sikapnya selama ini. Bagi Anelis apa yang terjadi kemarin cukuplah menjadi pelajaran berharga dan kesempatan memperbaiki segala kekurangan. Ia ingin berubah. Ia tidak mau buah hatinya memiliki cerita sama tentang keluarga.


"Sudah Mas, aku sudah memaafkan segala kesalahanmu." Anelis berucap lirih.


Rajasa mengecup puncak kepala Anelis. Ia memikirkan Sekar yang dulu sempat ia ajak kencan. Beruntung, perempuan yang berusaha dirayunya dulu bukan perempuan gampangan. Punya etika dan tata krama. Sekar tak mau menjadi penghalang kebahagiaan orang. Lewat Sekar, Rajasa jadi tahu cintanya pada Anelis tulus bersumber dari hati. Bukan sekadar rasa kagum, nyaman atau saling membutuhkan saja. Anelis, bagi Rajasa tak hanya sebatas itu. Cinta mereka bersemi seiring berjalannya waktu. Tumbuh berkembang, berdampingan selaras dengan irama hidup mereka. Jatuh, bangkit, jatuh lalu bangkit lagi. Mereka saling mengisi di masa sulit yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2