ANELIS

ANELIS
Bab 23


__ADS_3

Anelis membenarkan letak outernya, ia tak sabar menanti Rajasa menjemputnya. Ia tersenyum mengingat obrolannya kemarin.


Sekuat tenaga membujuk Rajasa untuk pulang dari rumah sakit. Mengaku dirinya sudah pulih, meski masih ada satu hari lagi jatahnya rawat inap. Dasar Anelis keras kepala, baru dua hari lalu dia optimis mau mengikuti intruksi pengobatan hari ini sudah berubah pikiran. Banyak alasan.


"Makasih Mas. The best kamu pokoknya," ujar Anelis senang.


Rajasa melipat selimut rumah sakit dan menenteng tas pakaian Anelis. Ia melihat sekilas istrinya.


"Dasar." ucapnya kesal.


Anelis tak peduli pokoknya dia sudah pingin pulang ada hal lain yang harus ia kerjakan. Tiga harinya ia maksimalkan untuk menelan obat rumah sakit. Bukan tanpa alasan ia menghindari banyak obat tadi.


Mobil Rajasa melaju dijalanan yang penuh pepak. Macet jadi langganan di kota besar. Biasanya Anelis ngomel panjang sekali, kali ini dia justru tersenyum manis sambil menatap Rajasa.


"Apaan?" tanya Rajasa aneh. Dilihat terus sama istrinya membuatnya canggung.


"Nggak apa-apa. Tumben macet ya Mas?" tanya Anelis basa basi.


"Tumben?" tangan kanan Rajasa menempel pada kening Anelis. "Kamu nggak salah minum obat, kan? Ini Jakarta Ne. Udah biasa kalau macet," ujar Rajasa kembali fokus pada kemudinya.


Anelis tersenyum manis, ia memamerkan gigi kelincinya. Kepalanya menggelayut pada lengan Rajasa.


"Macet asal berdua sama kamu nggak masalah sayang, makasih ya udah jadi suami super sabar." tandas Anelis.


Rajasa menyingkir sedikit, heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba suka gombal.


Mata Anelis mengerjap. Ditatapnya paras tampan Rajasa. Ia begitu bahagia. Sebentar lagi akan mendapatkan anak seperti Rajasa. Impiannya sebelum menikah ingin sekali punya anak laki-laki yang mirip sama suaminya kelak. Sepertinya impian itu semakin dekat menjadi nyata.


Rajasa memarkirkan mobilnya, membukakan pintu mobil untuk Anelis. Kembali Anelis bersikap aneh. Anelis tiba-tiba mengamit lengan Rajasa, mensejajarkan langkahnya dan berjalan beriringan.


Ya Tuhan, dulu Rajasa sungguh ingin istrinya manis seperti ini. Tapi kenapa malah baru sekarang. Saat cintanya mulai berkurang. Rajasa mengikut saja apa mau Anelis. Mereka sampai di apartemen tempat tinggal mereka.


Anelis cekatan meraih tas ditangan Rajasa. Meski berat ia bawa saja sampai kamar. Rajasa lagi-lagi bingung sendiri melihat tingkah istrinya. Rajasa tak terlalu memusingkan itu semua. Ia memilih melanjutkan niatnya sejak dari rumah sakit. Perutnya sudah mulai berbunyi.


Rajasa sigap menuju dapur. Sudah lama ia tidak masak di dapur itu untuk istrinya. Terakhir saat akan ke Singapur setelah bulan madu mereka dari candi Borobudur. Rajasa menyesal, parah sekali aktivitasnya akhir-akhir ini. Istrinya dibiarkan mandiri tanpa diberi instruksi. Anelis payah dalam segala hal. Tangan Rajasa cekatan membuka kulkas. Bahkan bahan dasar pun tak ada. Ia memutuskan membuat roti selai dan segelas minuman dari susu segar. Sisa bahan yang ada.


Anelis sibuk di kamar utama. Mengganti bajunya dengan dress selutut berwarna tosca. Sesekali berlenggak lenggok di depan cermin memastikan penampilannya. Tak ketinggalan Anelis mengoleskan cream dan menabur bedak sedikit dipipinya. Langkah terakhir ia memoleskan lipstick warna merah gelap dibibirnya. Sempurna. Decak Anelis bangga pada dirinya. Sebelum keluar kamar, ia memakai kembali gelang pemberian Rajasa dan membawa kotak hadiah untuk suaminya.


"Waow, roti selai terenak di dunia nih?" ucap Anelis melihat dua sajian sarapan ada di meja.


Rajasa hanya tersenyum, mengangkat alisnya meminta Anelis duduk. Selera makan Anelis meningkat seketika. Di depannya kembali ada Rajasa yang selalu mencintainya. Rajasa mengambil sepotong roti kemudian melahapnya.


"Ehmm, lumayan. Bahan seadanya tetap lebih enak dari buatan istri," ucap Rajasa menggoda.

__ADS_1


Anelis melotot, "Maksudnya?!"


"Nggak gosong kayak panci. Nggak kemanisan kebanyakan selai. Pas pokoknya." jawab Rajasa cuek. Ia tersenyum manis.


Anelis luluh. Ikut tersenyum bersama suaminya. Air liurnya hampir saja keluar ingin mencoba roti selai buatan Rajasa, tapi mengingat waktu itu semua isi perutnya keluar ia menundanya. Rajasa masih asik melahap roti, susu segar menjadi penutup sarapannya.


"Enak Mas?" tanya Anelis membuka obrolan.


Rajasa mengangguk, bangkit dan mencuci tangan di wastafel. Setelah itu ia meraih tisyu dilapnya tangan yang basah. Selalu demikian, urusan kebersihan nomor satu. Mungkin menikah dengan Anelis yang jorok membuatnya tersiksa. Anelis nyengir, melihat kebiasaan suaminya.


"Inih Mas, buat kamu," ucap Anelis. Ia meraih kotak kecil yang sudah ia siapkan.


"Apa?" tanya Rajasa tidak antusias. Pokoknya Anelis bersikap baik malah aneh baginya.


"Buka aja." ucap Anelis mantap.


Rajasa melepas pita pembungkus kotak berwarna merah maroon. Didalamnya terdapat benda yang aneh baginya. Rajasa melihat Anelis meminta penjelasan.


"Buka dulu suratnya di bawah, terus dibaca," Wajah Anelis sumringah.


Rajasa mengikut saja permintaan Anelis. Ia membukanya, mengeja kata yang membuatnya tercengang.


"Sungguh?" tanya Rajasa bingung. "Anak siapa?" Rajasa cepat meralat kalimatnya.


Anak siapa?


Ia berusaha menimpali dengan biasa.


"Bercanda ya Mas? Emang suamiku siapa?" tanya Anelis balik.


"Kok bisa? Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu pas Mamah masih ada?" suara Rajasa tercekat. Ia teringat mendiang Mamahnya.


"Mas! Parah kamu bercandanya," Anelis tak mau mengakui jika ini nyata. Harusnya Rajasa bahagia bukan malah menanyakan banyak hal.


"Iya. Kenapa nggak dari dulu Ne?! Kenapa baru sekarang?!" Rajasa meninggikan suaranya.


Mendengar itu Anelis semakin tergugu. Matanya panas, bulir bening keluar begitu saja.


"Kalau kita coba dari awal Mamah pasti bahagia. Nggak seperti sekarang beliau tiada. Telat Ne beritanya!" ucap Rajasa, mendorong kasar kotak merah maroon itu.


Ponsel Rajasa berdering. Nama Sekar terpampang dilayar. Rajasa cepat-cepat menerimanya.


"Iya Halo?"

__ADS_1


"Sa, bisa ke rumah pak Rajendra sekarang? Daisha pingin ketemu kamu. Dia mau tanya soal foto dinovel. Cepat ya Sa."


Suara Sekar renyah sekali terdengar ditelinga Rajasa.


"Oke. Aku segera kesana." tutup Rajasa.


Anelis mendengar obrolan mareka. Suara wanita ia tangkap dari ponsel Rajasa. Rajasa bersiap merapikan sisa sarapan ia harus bergegas ke tempat Daisha.


"Kemana Mas? Bisnis? Harus banget sekarang?" tanya Anelis menahan geram.


"Iya. Lebih penting dari apa pun." ujar Rajasa beranjak dari dapur mereka.


"Bahkan daripada aku dan darah dagingmu?! Harus pergi sekarang Mas?" tanya Anelis kembali.


Rajasa tak menjawab perkataan Anelis. Ia menyambar kunci mobilnya, beranjak pergi meninggalkan Anelis kembali. Tanpa pak Rajendra dan Daisha tidak mungkin usahanya berkembang. Tidak mungkin ia dan Mamahnya memiliki kehidupan layak. Rajasa telanjur tak memberitahu Anelis soal itu, ia enggan menceritakan dari awal.


Daun pintu terturup rapat.


"Pyar!!!"


Anelis membenturkan gelas susu miliknya ke lantai. Ia menyalurkan kemarahannya di sana.


"Bodoh! Perempuan bodoh! Harusnya kamu nggak hamil. Bodoh!" Anelis berteriak kencang.


Dari luar Rajasa terperanjat, mendengar kalimat Anelis yanh memekakan terlinga. Ia ingin kembali membuka kenop pintu tapi suara Sekar menggema ditelinganya.


Cepat datang Sa.


Rajasa harus cepat, ia tak mau mengecewakan Sekar. Langkah Rajasa terayun menuju parkiran. Meninggalkan Anelis tanpa pikir panjang.


Sedang di dalam, hati Anelis hancur seperti gelas susu yang berisi manfaat baik itu. Belum sempat diminum sudah tumpah tak berguna. Anelis sama saja. Buat apa ia mengandung benih Rajasa jika Rajasa tak menginginkannya. Buat apa ia memiliki manfaat membiarkan benih itu berkembang, jika ia telanjur terbuang.


Anelis kembali berteriak. Kali ini perutnya lah yang jadi sasaran. Ia memukul sekerasnya. Menanam benci pada calon buah hati yang masih berupa segumpal darah. Anelis belum memastikan usia kandungannya. Ia terpaksa membenci penyejuk mata mereka karena Rajasa.


"Kamu bohong Kak Nurma, Rajasa semakin tak suka. Ia tak mengharapkan bayi ini. Kamu salah besar Kak Nurma! Rajasa justru semakin meninggalkanku." racau Anelis mengingat ucapan Nurma.


Bayang mertuanya yang selalu menanyakan cucu hadir dalam pecahan gelas susu.


Hatinya remuk redam menyaksikan itu.


Haruskah kuakhiri semua cerita hari ini? Haruskah aku segera menyusulmu Mah?


Haruskah aku mempertahankan sementara aku dicampakkan?

__ADS_1


Tanya itu semakin menumpuk jadi satu. Anelis memupuk keberanian untuk mengakhiri hidupnya bersama air mata yang membasahi wajahnya.


__ADS_2