
Rajasa menyimpan rapi konsultasinya dengan Sekar. Ia memutuskan tak lagi menyapa. Rajasa sibuk dengan pekerjaannya, tak terasa waktu bergulir sampai perut Anelis semakin membesar. Usia kehamilannya tiga puluh tiga minggu. Sayang mereka tak punya keluarga untuk merayakan. Acara tujuh bulanan tak ada bagi anak pertama mereka.
Anelis mencari baju terbesar yang ia punya. Mencoba koleksi dress selututnya semakin membuatnya bulat, mencoba celana panjang beserta kemeja tak muat dibagian perutnya. Mencoba kaos oblong semakin membuat dirinya terlihat aneh. Semua serba tidak nyaman dan menjengkelkan.
"Hari ini nggak usah periksa ya Mas," ucap Anelis dengan tetap memilih baju.
"Kenapa?" tanya Rajasa dari sofa depan TV.
"Nggak mau aja, males."
Anelis melempar baju-baju itu di ranjang. Ia memilih mengenakan daster harian rumahnya lagi beranjak menuju ruang TV. Sangat tidak cantik dengan perut buncit dan wajah yang entah apa sebabnya terasa lebih kering. Kehamilannya merubah bentuk dirinya yang dulu jelita.
Anelis dan Rajasa melalui fase ini tanpa didampingi keluarga. Tak ada orang yang bisa mereka ajak bicara, terlebih masalah anak. Anelis buta soal kehamilan, juga menjadi ibu. Sayangnya kepandaian Anelis menggunakan internet tak pernah ia gunakan untuk mencari tahu. Rajasa apalagi meski perusahaannya berbasis teknologi, ia tak pernah punya keinginanan membaca artikel tentang menjadi ayah. Kehamilan Anelis datang diwaktu yang tidak ia harapkan. Satu-satunya orang yang mengingatkan Rajasa tentang anak hanyalah Sekar.
"Emang boleh kalau nggak periksa?" Rajasa memainkan remot tv, ia suka mengganti terus menerus chanelnya.
"Nggak tau." Anelis menggerutu. Moodnya berubah ubah seiring usia kandungan yang bertambah.
"Kemarin bidannya bilang apa?"
"Periksa rajin tiap bulan."
"Ya udah periksa aja." Rajasa tetap asik menonton tv.
Anelis sebal melihat tingkah Rajasa, sudah sering mereka bicara tanpa kontak mata. Rajasa selalu menghindari tatapannya. Dan Rajasa kerap menyarankan namun terkesan tidak tulus. Anelis bangkit dari kursi sofa, ia marah entah sebab apa. Anelis mengunci diri lagi di kamar.
Apa lagi sekarang? Tiap hari begitu. Pikir Rajasa kesal melihat tingkah istrinya.
Anelis menenggelamkan kepala dalam bantal, ia membiarkan tangisnya keluar. Entah sebab tak pasti dirinya ingin menangis lagi. Tanpa sadar hati Anelis merasa rindu. Ibu, Bapak, Andara, andai mereka ada tak akan sesepi ini kehamilannya. Atau Mamah yang pasti akan memerhatikannya lebih dari segalanya. Andai mereka semua mendampingi, tak akan serisau ini perasaanya menyambut jabang bayi. Anelis hanya bisa menangis lagi dan lagi dengan tetap menjalani hari-hari.
Rajasa menatap layar ponselnya. Nama pemilik kontak yang ingin sekali ia hubungi tetap diabaikannya.
__ADS_1
Sekar gimana kabarmu? Tak bisakah jika kita hanya berteman?
Rajasa menerawang jauh ingatannya tentang Sekar. Tentang pertemuan terakhir mereka juga tentang Abbas dan Daisha. Rajasa sudah jarang menyambangi mereka di kediaman pak Rajendra. Urusan perusahaan ia percayakan penuh pada Dimas. Rajasa memilih memantau dari rumah, sembari mengecek keberlangsungan hidup Daisha Bakery dan Lapis Legit. Hati terdalamnya berbisik, ia harus kembali ke Harkit melanjutkan satu-satunya peninggalan mamahnya.
Bel pintu apartemen berbunyi, menyadarkan kembali Rajasa pada dunia nyatanya. Rajasa meraih kenop pintu, ia membuka dan tak percaya dengan sosok yang berada di depannya.
"Assalamu'alaikum. Gimana kabarnya Sa?"
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik Buk," Rajasa menyalami tangan Ibu mertuanya.
"Hai Mas," sapa Andara yang ternyata di belakang Ibu.
"Hai Ra. Tambah tinggi aja kamu."
Andara tersenyum sambil menyalami Rajasa. Sudah lama mereka tak bertemu. Rajasa sigap membawa barang bawaan Ibu dan Andara. Ia tak tahu jika mertua beserta iparnya itu akan datang menyapa. Anelis masih menangis seorang diri, ia tak tahu wanita yang ia rindukan hadir di apartemen mereka.
"Ne, ada Ibu sama Andara." Rajasa mengetuk pintu kamar mereka.
"Ngacau kamu. Nggak mungkin lah mereka datang!" Anelis berbicara keras hingga Andara dan Ibunya tersenyum mendengar ucapannya.
Anelis pun membuka pintu tanpa peduli ucapan Rajasa. Ia tetap mengenakan daster rumahnya, bergegas menuju ruang TV mereka. Dan benar sekali wanita yang ia rindukan ada di sana. Anelis langsung menghambur pada ibunya. Dipeluknya erat wanita yang dulu mengandungnya.
"Ane kangen Buk, kangen banget. Makasih udah datang," ujar Anelis seraya mencium tangan Ibunya.
Anelis semakin menangis, ia tak percaya ikatan batin dirinya dan ibu bisa terasa. Anelis hanya bertegur sapa lewat pesan whatsapp saja. Untuk sekadar video call ia jarang melakukan.
"Ibuk juga kangen banget Ne. Maaf Ibuk baru bisa datang sekarang. Gimana kabar cucu Ibuk?"
Anelis memegang perutnya, ia tak tahu pasti apakah bayinya benar-benat dalam kondisi baik.
"Baik Buk," ucap Anelis berusaha tersenyum manis.
__ADS_1
Andara yang juga merindukan kakaknya ikut merasakan keharuan yang hadir ditengah-tengah mereka. Rajasa melihat kehangatan keluarga kembali hadir, ikut merasa lega. Semua kembali seperti semula, pada tempatnya dan akan berakhir bahagia. Ia bersiap menyambut anak perempuan yang sudah ia siapkan namanya.
"Sudah tiga puluh tiga minggu belum terlambat buat tujuh bulanan ya Ne. Nanti kita bagi-bagi sedikit rizki kita aja. Kamu mau ke panti asuhan atau mana Ne?" Ibu Anelis memulai maksud kedatangannya.
Anelis dan Rajasa beritatap. Kenapa selama ini mereka tak memikirkan hal semacam itu. Kenapa mereka justru sama-sama tak peduli. Ada sesal dihati Rajasa. Ia kepala keluarga harusnya lebih bisa membaca suasana. Rajasa ikut bergabung di sofa TV.
"Ke sahabat belajar aja Buk. Aku pingin bagi kebahagiaan sama teman-teman di sana." Anelis melihat kembali Rajasa, ia meminta peesetujuan untuk idenya.
Rajasa meletakkan telapak tangannya pada pundak Anelis ia berkata, "Ya sahabat belajar ya panti asuhan. Nanti biar aku yang urus. Kamu fokus di rumah sama Ibuk juga Andara. Kalau semua siap baru aku ajak."
"Boleh?" tanya Anelis tak yakin dengan ucapan Rajasa.
Rajasa mengangguk mantap. Tersenyum tulus pada Anelis yang mulai bisa mengatur ritme tangis.
"Ide bagus Sa. Ibuk tahu kalian sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing jadi nggak sempat mikir begituan. Secepatnya saja diurus ya."
"Iya Buk."
Rajasa patuh pada mertuanya. Mau tidak mau Ibu menjadi pengganti mamahnya saat ini. Tak ada wanita lain lagi yang bisa menerima baktinya. Anelis berganti memeluk Rajasa. Ia tahu kali ini suaminya benar-benar hadir di kehidupannya. Lewat Ibu dan Andara Rajasa kembali menjelma lelaki bertanggung jawab yang ia pilih untuk mendampinginya. Rajasa terlihat begitu siap menjadi seorang Ayah. Anelis bersyukur. Kehadiran orang-orang terdekat membuatnya semangat. Ia tak lagi merasa sepi. Dan kerisauannya selama ini akan segera pergi, seiring waktu tunggunya menanti kelahiran putri cantik mereka.
"Udah siapin nama belum Mbak?" Andara yang sejak tadi hanya jadi pendengar mulai bicara.
"Udah tapi masih rahasia." Anelis menjawab senang.
"Bukan Mbakmu yang nyiapin, tapi Mas Rajasa Ra. Pokoknya ikut Mas aja nanti." Rajasa bangga dengan nama pilihannya.
Dulu mereka sudah sepakat jika anak mereka laki-laki Anelis berhak memberi nama tapi jika perempuan sepenuhnya mutlak keputusan Rajasa. Anelis memukul pelan lengan Rajasa. Hatinya tidak kesal seperti biasanya, ia justru senang Rajasa kembali riang.
"Kalah ni yeee," ucap Andara sembari menutup mulutnya.
Ibu Anelis menyikut lengan putri keduanya. Takut Anelis ngambek seperti biasanya. Melihat itu semua Rajasa justru tertawa. Andara berhasil mengejek kakaknya yang wajahnya semakin tembam. Mereka pun melepas tawa bersama.
__ADS_1
Memang adakalanya kebahagiaan memerlukan ruang dan perantara. Jika pelaku utama dalam ruang itu tak lagi mampu menghadirkan rasa bahagia, harus ada pemicu dari luar. Begitu juga dengan kesedihan. Harus ada sebab pasti yang melatar belakangi. Karena tangis dan tawa hanya sedikit sekali bedanya.
Dan hari ini, apartemen yang biasa sepi menjadi riuh. Hanya karena dua orang yang lama tak menyapa hadir memberi warna.