
Anelis tak begitu memedulikan Rajasa yang akhir-akhir ini pulang larut, bahkan tidak pulang. Ia sedang asik dengan dunianya, yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri. Tempo hari Anelis menambah performa pada blog pribadinya. Ia membuat cerita bersambung dan ternyata banyak peminatnya. Anelis leluasa mengungkapkan pemikiran lewat tulisan. Ia mengemas segala kegelisahan lewat kata dengan sempurna.
Dalam rumah tangga meski raga bersama di satu ruang, kadang hati dan pikiran melayang. Anelis dengan cerita yang ia rangkai dileptopnya, sedang Rajasa dengan perusahaan yang sedang membutuhkan banyak tenaga untuk mengurusnya. Tak hanya itu, Rajasa juga mulai keteteran dengan toko roti Daisha. Semuanya menumpuk jadi satu. Kadang kala Rajasa seperti tak mampu memikul semua itu, tapi ia telanjur tak melibatkan istrinya. Jarang sekali mengeluh juga meminta bantuan. Pastilah apartemen itu bukan tempat yang nyaman sekarang. Rajasa dan Anelis tetap bertegur sapa, namun kualitas pertemuan mereka tak lagi ada.
Anelis tidak berani membangunkan Rajasa yang baru pulang jam tiga dini hari. Anelis hanya menyelimutinya dengan selimut lembut yang mereka beli di salah satu swalayan ternama di BSD Tangerang. Anelis memandang raut lelah itu, ia sedikit merasa kehilangan suaminya. Hanya saja Anelis tak bisa membantu apa-apa. Ia hanya bisa membiarkan semua berjalan seseuai alurnya. Anelis pun pergi ke tempat kerjanya mengenakan sepeda motor lagi.
Anelis memarkirkan motor Scoopi miliknya di parkiran. Nurma yang juga baru datang menyapa, "Udah nggak pernah diantar Rajasa lagi nih," ucap Nurma melepas helem.
"Mas Rajasa sibuk Kak. Perusahaan sedang butuh banyak perhatian," ucap Anelis dari sepeda motornya.
"Terus istrinya ditelantarkan gitu ceritanya?" tanya Nurma bercanda. Meski candaan, Anelis sedikit membenarkan. Apakah ia ditelantarkan? Anelis buru-buru menepis pikiran itu dengan menggelengkan kepala.
Anelis sudah siap melangkah menuju kantornya. Ia sengaja mensejajarkan langkahnya dengan Nurma. Hanya saja kepalanya begitu berat, pandangan matanya sedikit kabur. Anelis pun menghentikan langkah, seperti mau ambruk tubuhnya. Melihat Anelis sempoyongan, Nurma sigap mearih tangan rekan kerjanya itu. Nurma menahan tubuh Anelis yang sudah siap mencium paving parkiran.
"Ne! Ne, baik-baik aja kamu?!"tanyanya bingung. "Wah pingsang nih bocah," ujar Nurma semakin bingung. Dari luar Anelis terlihat kurus, tapi mengangkatnya seorang diri jelas Nurma tidak sanggup.
"Pak..tolong Pak! Anelis pingsan." seru Nurma pada salah satu karyawan yang lewat.
Pria tersebut sigap membantu. Membopong tubuh Anelis sampai ruang tamu kantornya. Ia tertidur di sofa. Nurma membawa segelas teh hangat juga minyak kayu putih untuk menyadarkan Anelis. Dioleskannya minyak tersebut pada hidung Anelis. Anelis mulai membuka mata. Kepalanya masih begitu berat, Anelis memeganginya. Pandangannya tetap kabur.
"Ne, udah sadar kan, Ne? Kamu tadi pingsan di parkiran," ujar Nurma menjelaskan.
Anelis hanya mengangguk. Rasanya dunianya berputar. Kepalanya masih begitu berat.
"Gimana? kuat nggak? atau ke rumah sakit saja?" tanya pak Faruq. Atasan Anelis di Sahabat Belajar.
__ADS_1
"Belum ngerti ini Pak, masih lemes banget Anelisnya," ucap Nurma dengan tetap mengoleskan minyak pada kening Anelis.
"Telepon suaminya saja buat jemput. Biar Anelis istirahat di rumah." imbuh Pak Faruq.
Mendengar kata suami seketika Anelis menggeleng. Nurma paham maksudnya.
"Rumah sakit aja pak Faruq, pakai mobil kantor ya." ucap Nurma pada atasannya. Pak Faruq mengangguk, tanda setuju. Ia paling perhatian dengan karyawan.
Anelis yang masih lemas dan belum seutuhnya sadar hanya bisa pasrah. Ia tak punya tenaga untuk menolak ucapan Nurma.
Mobil kantor mengantar Anelis dan Nurma. Biasanya jika sakit Anelis tidak pernah separah ini. Minum tolak angin saja sudah bisa sembuh lagi. Badannya memang ringkih, tapi juga cepat pulih.
Perawat sigap memberikan pelayanan pada Anelis. setelah melakukan beberapa pemeriksaan, ia memasang infus untuk Anelis. Nurma yang juga menyaksikan sedikit gugup. Sakit apa nih bocah sampai harus infus. Batin Nurma. Anelis hanya diam saja. Meski telinganya mendengar kasak kusuk suara, badannya tak bisa merespon. Begitu berat tubuhnya untuk bangun. Ia pun terlelap hingga malam kembali datang. Nurma ingin sekali menghubungi Rajasa, tapi ia tak mau lancang memeriksa ponsel Anelis kemudian mengambil nomornya. Nurma pun memutuskan menitipkan Anelis pada perawat. Ia tuliskan secarik kertas untuk Anelis di meja. Anelis menghabiskan malamnya dengan bermimpi indah. Awal jumpa dengan Rajasa kembali hadir menyapa. Saat Rajasa begitu kukuh untuk memilikinya. Saat Rajasa sengaja menarik hatinya lebih dalam. Ia biarkan mimpi-mimpi itu berkelana. Berharap pagi tiba Rajasa benar-benar disampingnya. Hanya saja harapan itu sebatas mimpi belaka.
Rajasa tak peduli lagi dengan aturan kerja jam kantor. Jam berapa pun itu, selama audit laporan penjualan Daisha Bakery dan Lapis legit belum kelar dia tidak akan berhenti.
"Nanggung Dim. Bentar lagi kelar, loe kalau mau pulang nggak apa-apa. Gue berani di sini " ucap Rajasa dengan mata yang masih mengarah pada komputernya.
"Okay. Gue duluan ya." Dimas menutup pintu kaca bertuliskan CEO perusahaan itu. Ia melenggang pergi meninggalkan kantornya juga Rajasa.
Berkali-kali mengamati laporan penjualan dan modal, Rajasa tak menemukan jika itu murni dikelola Mamahnya. Ada beberapa aliran dana yang dia sendiri tidak paham asalnya dari siapa. Nama rekening juga laporan tertulis Putri Ibu. Rajasa semakin bingung dan kalut. Otaknya yang biasanya begitu cepat menyusun solusi tak didapatkan kali ini. Ia tidak tahu apa-apa tentang usaha Mamahnya. Ia tak pernah benar-benar perhatian pada Mamahnya. Hatinya seketika lara, mengingat Mamahnya yang selalu bilang semua baik-baik saja. Rajasa semakin suntuk. Ia pun pergi meninggalkan kantornya. Malam semakin kelam tak menghalanginya membawa mobil kesayangannya. Ia pulang ke rumah di Harapan Kita. Rajasa memutuskan tidur di sana.
***
Anelis membuka mata, dilihatnya ruangan putih itu perlahan. Anelis berharap menangkap sosok Rajasa. Sayang, Nurma yang dilihatnya pertama.
__ADS_1
"Udah bangun Ne? Alhamdulillah,"ucap Nurma bersyukur.
Anelis mengangguk, lalu tersenyum manis. Ia berusaha bangun, duduk bersandar di ranjang.
"Makasih Kak, udah datang," ucap Anelis pada Nurma.
"Sama-sama Ne. Kita sama-sama anak rantau jadi nggak punya sodara. Yang penting kamu udah baikan. Nih aku bawain bubur sebelum ke kantor," Nurma menunjuk kotak makan berisi bubur di meja.
"Makasih Kak," Anelis beruntung memiliki senior seperti Nurma.
"Rajasa belum kesini Ne? kamu udah ngubungin dia?" tanya Nurma penasaran.
"Belum Kak, Mas Rajasa lagi sibuk. Aku nggak mau dia khawatir." ucap Anelis getir. Suaminya sudah datang dalam mimpi indahnya semalam.
"Ya udah. Yang penting kalian baik-baik ya. Nggak ada masalah. Pesenku jaga Rajasa Ne, kita nggak pernah tahu di luar sana laki-laki kayak apa. Kalau pun Rajasa tidak sembarangan, banyak perempuan yang sembarangan. Aku sudah pernah cerita tentang kisahku dulu, kan? sebelum aku sama suamiku sekarang," ucap Nurma mengenang masa pilunya dulu. Mantan suaminya membawa kabur semua harta bersama selingkuhannya. Beruntung ia bisa bangkit, memulai hidup lagi dengan cintanya yang baru.
Anelis mengangguk. Dari segi pengalaman dan usia Nurma jauh di atasnya. Anelis akan mengingat setiap pesan yang Nurma sampaikan.
"Ya udah aku berangkat kantor dulu ya Ne. Nanti pulang pesan taxy online aja. Motormu aman di kantor. Inih tas kamu, kemarin snegaja aku bawa biar aman." ucap Nurma seraya pergi dari kamar bercat putih itu.
Anelis sedikit menahan tangis, saat seperti ini ia sempurna seorang diri. Harapannya ada Ibu, Andara juga Rajasa yang memberikan perhatian lebih untuk dirinya. Tapi Anelis sendiri yang memutuskan untuk tidak memberi kabar. Anelis disusupi perasaan rindu pada semua orang baik dihidupnya. Ia tak betah terus-terusan menunggu di rumah sakit. Anelis memutuskan pulang lebih awal. Meski masih lemas, badannya sudah mampu berdiri dan tak sempoyongan lagi.
Anelis menekan pintu apartemen rumahnya. Harapannya Rajasa sudah pulang dan menyambutnya. Tepat pintu terbuka, suasana lengang menyapanya pertama. Tak ada suara dan tanda-tanda keberadaan Rajasa. Anelis masih bisa menguasai diri, mungkin suaminya sedang tidur nyenyak di kamar. Anelis beranjak menuju kamar itu, sedikit berlari. Ia membuka pintu kamar, Rajasa tak tidur di sana. Anelis pun masih belum puas, ia buka kamar mandi tempat dirinya bersemedi. Mencari inspirasi untul tulisan-tulisannya selama ini. Pintu terbuka dan Rajasa tak ada juga.
Anelis menghela nafas kecewa. Ia menyandarkan dirinya pada dinding kamar mandi berornamen keramik bunga daisy. Ia biarkan tubuhnya merosot sampai lantai. Hatinya begitu kosong. Saat sedang ingin diperhatikan, saat sedang ingin disayang tak ada satu pun orang datang. Anelis terisak, sepi yang tiba-tiba datang membuatnya sesak. Anelis tahu jika ia memberi kabar pada Rajasa pasti Rajasa akan secepat kilat menghampiri. Hanya saja Anelis tak sampai hati. Suaminya sedang begitu kalut memikirkan toko roti Mamahnya. Ia tak tega menambah beban pikiran Rajasa.
__ADS_1
Terkadang rasa cinta memang demikian, rela menahan segala masalah sendirian tanpa memberi tahu pasangan. Simpel saja alasannya, takut pasangannya bertambah khawatir. Padahal itu tidak tepat, justru diam yang diteruskan akan selalu berkepanjangan. Membuat semua terlihat baik-baik saja, dan akan meledak diwaktu yang tak disangka.
Anelis semakin merasa sepi. Di kota Jakarta yang begitu riuh ia hanya berdua dengan Rajasa. Keluarganya jauh, kerabat tak ada yang dekat. Saat sakit, perasaan orang menjadi lebih sensitif. Anelis ingin kembali menjadi pusat perhatian Rajasa, yang semakin hari semakin jauh dari jangkauannya. Anelis melipat lututnya,ia pegang erat dan membenamkan kepalanya. Anelis menangis seorang diri untuk alasan yang dia sendiri tak tahu pasti.