
Rajasa mengacak setiap barang milik mendiang Mamahnya. Ia berusaha mencari apa saja yang bisa menjawab pertanyaannya. Tentang toko roti Daisha juga Lapis Legit serta Putri Ibu. Belum lama ia mencari jejak itu, pikirannya sudah lari kemana-mana. Jangan-jangan Mamahnya selama ini tidak jujur. Jangan-jangan ada yang disembunyikan. Rasa ingin tahunya, menambah semangat mencari petunjuk tadi. Tak peduli ayam sudah berkokok tanda pagi segera datang kembali.
Rajasa gugup melakukan itu semua. Dirinya kacau, ia pun tak tahan saat yang dicari tak kunjung ia temui.
"Mah, Mamah kenapa nggak ninggalin apa-apa buat Rajasa? Rajasa bingung Mah kalau gini," ucapnya lirih. Rajasa memandang foto mereka yang terpajang di dinding kamar.
Rajasa hampir merasa frustasi. Ia tetap mencari-cari apa saja yang bisa menjadi petunjuk tambahan. Laci milik Mamahnya yang berdekatan dengan ranjang, Rajasa buka. Ia menemukan sebuah novel kumal karya penulis ternama pada eranya.
Segurat Bianglala di Pantai Singgigi. Mira W. Novel yang bercerita tentang perjalanan seorang perempuan mencari Ayahnya. Dalam perjalanan itu, ia justru menemukan cinta, arti persahabatan dan keluarga. Rajasa tak tertarik untuk membacanya. Ia heran Mamahnya yang hampir tidak pernah dilihatnya membaca buku, bisa menyimpan hal semacam itu.
Rajasa meraih novel dalam laci, ia buka dengan penuh hati-hati. Sudah kumal takut rusak. Selama ini Mamahnya menyimpan dekat dengan ranjang tidurnya, pasti berharga. Rajasa membayangkan mendiang Mamahnya membaca novel itu sebelum terlelap, kemudian menaruhnya kembali dalam laci. Rajasa pun menyisir lembar demi lembar novel tadi, dibagian tengah halaman ia menemukan gambar. Lebih tepatnya foto Mamahnya dan seorang perempuan. Rajasa mengamati foto itu, ia dekatkan dengan matanya. Tak salah lagi perempuan yang bersama Mamahnya, adalah perempuan difoto keluarga pak Rajendra. Hanya dengan versi lebih muda. Rajasa ingat sekarang, siapa perempuan itu sebenarnya.
Takdir kadang berubah rumit dan sulit bagi beberapa orang yang diharuskan menjalani takdir itu. Kadang juga begitu mudah dan gampangan bagi sebagian lainnya. Rajasa tidak akan pernah bisa memilih takdirnya, semua sudah tepat sesuai porsi Sang Maha Kuasa. Jika semua yang dijalani terkesan ia buat-buat sendiri, itu murni kehendak hati manusia biasa yang sedang menjalani takdirnya.
Rajasa memosisikan dirinya bersandar di ranjang. Ia membuka lembar sekaligus menghayati setiap kata dari novel milik Mamahnya. Tanpa terasa air matanya jatuh, sesepi ini ternyata tidak punya siapa-siapa. Membaca dan menangis membuat matanya berat. Ia memang belum terlelap. Lewat mimpi, Rajasa menjemput Mamahnya.
***
Anelis memaksakan dirinya menelan bubur yang dibawa Nurma. Ia sengaja membawanya pulang, bentuk penghargaan atas apa yang dilakukan Nurma. Anelis ingin sekali menelpon Rajasa, melepas rindu yang mulai bersarang dihatinya. Kebersamaan mereka sudah hampir tidak pernah ada. Anelis teringat satu nama yang bisa dihubungi.
[Dim, Mas Rajasa semalam nginep kantor? Ada lemburan banyak Dim?]
Ponsel Anelis bergetar. Balasan Dimas cepat sekali datang.
[Rajasa nggak pulang Ne? Kemarin emang di kantor sampai malam. Nanti gue cek lagi dia nginep apa nggak.]
Jawaban Dimas membuat Anelis semakin lemas. Kemana suaminya pergi sampai tak kembali ke apartemen. Ucapan Nurma terngiang dikepalanya, Anelis merasa khawatir seketika. Anelis tak tahan jika hanya diam. Ini tentang Rajasa, takutnya lelaki yang dicinta kenapa-napa. Anelis menekan tombol panggil pada nomor Rajasa. Tidak tersambung hanya dialihkan ke panggilan tunggu. Anelis menggerutu, bubur dari Nurma tak lagi enak ditelannya. Ia pindah ke depan TV milik mereka. Tetap mencoba menghubungi Rajasa. Sudah jam sepuluh pagi, benarkah Rajasa tak akan pulang lagi, atau langsung kerja dihari berikutnya. Anelis semakin gusar dibuatnya.
__ADS_1
Pintu apartemen terbuka. Seseorang menekan pin dari luar. Jelas itu Rajasa. Anelis langsung menuju depan pintu, ia siap menyambut kedatangan suaminya. Anelis sengaja memamerkan gigi kelincinya.
"Astaghfirullohal'adzim. Ne! Ngapain kamu?!" Rajasa kaget dengan polah istrinya. Ia meletakkan tangannya pada dada.
"Pagi Mas, jam segini baru nyampe rumah," sapa Anelis ramah.
Rajasa berjalan mendahului Anelis, ia meletakkan tas berisi leptopnya di meja. Rajasa beralih ke kursi TV. Menyandarkan kepala dan memijitnya dengan tangannya sendiri.
"Bikinin kopi item Ne," pinta Rajasa pada Anelis.
Anelis bergegas mengambil cangkir dan membuatkan kopi sesuai selera Rajasa. Suaminya pulang, Anelis tidak boleh terlihat sakit. Ia meletakkan kopi hitam panas di meja.
"Banyak banget kerjaannya Mas? nyampe jam pulangnya tidak teratur?" tanya Anelis seraya duduk di sebelah Rajasa.
Rajasa mengangkat alisnya, melihat sekilas istrinya. "Iya Ne. Banyak banget sampai aku pusing sendiri, terutama masalah toko roti. Mamah tidak pernah cerita, aku kalap dibuatnya," ucap Rajasa pada Anelis. Sebenarnya jika Anelis bertanya atau antusias dengan pekerjaan Rajasa, ia selalu ingin terbuka. Hanya saja Anelis jarang menanyakan.
"Nggak apa Ne, bantu doa aja," ucap Rajasa. Ia mengambil kopi panas di meja, meyeruputnya sedikit demi sedikit.
"Wah...bisa ya sekarang minum kopi panas. Biasanya nggak akan tuh langsung diminum," ucap Anelis heran.
Rajasa tersenyum, ia melihat cangkir ditangannya. "Namanya juga lagi stress Ne," ucap Rajasa sekenanya.
"Kalau stress tuh refreshing Mas, jalan-jalan atau nyalurin hobi misal biar pikirannya fresh, segar kayak habis mandi," ujar Anelis sambil melihat suaminya. Ia selalu menemukan banyak inspirasi setelah mandi. Bagi Anelis membersihkan diri adalah refreshing.
"Mandi? Kamu aja masih kumal gitu. Ngajarin orang suruh mandi," Rajasa melihat istrinya yang sudah jam sepuluh pagi belum juga rapi.
"Ngapain mandi, suaminya jarang pulang kok," ucap Anelis kesal.
__ADS_1
Mendengar ucapan Anelis membuat Rajasa tersindir. Sekarang, ia jarang memerhatikan pasangannya. Sibuk dengan pekerjaan yang tiada hentinya.
"Iya maaf Ne, aku terlalu sibuk. Dan mulai nanti malam aku juga mau ijin bakal lebih sering pulang malam. Aku usahakan nggak nyampe sebulan kerjaan ini kelar. Kamu paham aku, kan?" tanya Rajasa meyakinkan istrinya.
Meski khawatir dan sedih, Anelis berkata iya. Urusan perusahaan yang dibangun dengan susah payah jelas bagian dari diri Rajasa yang tidak bisa dibuang begitu saja. Anelis memaklumi, Rajasa sudah besar namanya jauh sebelum bertemu dengannya. Ia hanya tinggal menikmati jerih payah suaminya selama ini. Ia tak mau egois meminta hal lebih lagi dari Rajasa.
"Eh, kamu kok nggak ke kantor Ne? Sebentar mukamu pucet banget, nggak sakit, kan?" tanya Rajasa khawatir.
"Libur Mas, kata pak Faruq kantor libur. Maklum aku belum mandi belum pakai lipstik jadi pucet," jawab Anelis menutupi. Ia tak mau Rajasa tahu hari kemarin dirinya di rumah sakit.
"Beneran?" tanya Rajasa. Ia mendekat pada istrinya, ditatapnya mata yang semakin hari semakin mirip mata panda.
Anelis menggerakan kelopak matanya, mengakui jika ia benar-benar diminta libur oleh pak Faruq.
"Ne," panggil Rajasa lembut.
"Iya mas?" tanya Anelis menimpali.
"Aku mau," ucap Rajasa. Ia seperti anak kecil yang sedang merengek untuk dibelikan permen. Wajahnya dibuat kekanakan dan menggemaskan.
"Mau apa?" Mata Anelis melirik tajam pada Rajasa. Suaminya itu semakin mendekat padanya.
Rajasa tak menjawab pertanyaan Anelis, ia semakin mendekatkan dirinya pada istrinya yang belum mandi. Rajasa mendorong sedikit tubuh Anelis.
Anelis reflek menutup mata, ia sengaja menyandarkan tubuhnya pada sofa. Menyadari Anelis menyambut ajakannya, Rajasa tak membuang waktu. Sudah lama mereka tak bersua, setelah kepergian Mamahnya.
Rajasa tak lagi memikirkan kebutuhan diri yang tergeser oleh kesibukan bertubi. Setelah ini barangkali pikirannya terbuka, energinya kembali menggelora untuk menyelesaikan beberapa masalah perusahaan. Dibuangnya semua beban pikiran. Rajasa memusatkan diri menikmati setiap inchi kedekatannya dengan Anelis. Di apartemen itu, mereka hanya berdua. Anelis dan Rajasa bebas mengekspresikan rindunya.
__ADS_1