
Pagi itu, Fiona dan Gilang sedang mengantarkan ayah merek untuk melakukan check up rutin di rumah sakit. Sejak kemarin Fiona sudah ijin kepada paman Danu, lagi pula hari ini jadwal kuliahnya nanti dimulai siang hari. Sedangkan Gilang juga sudah ijin ke sekolah untuk tidak masuk hari ini.
"Gilang, kamu tidak sekolah hari ini?" tanya ayah Dirga kepada putranya.
"Tidak, Gilang hari sudah ijin buat mengantarkan ayah. Lagi pula hari ini di sekolah ada kegiatan pentas, jadi kelasnya ditiadakan."
"Kan bagus ayah, Fio sama Gilang bisa mengantarkan ayah buat check up." Sambung Fiona sambil memapah ayahnya untuk berjalan.
Setelah berada di ruang tunggu, mereka langsung mencari tempat duduk yang kosong. Fiona dan Gilang membantu ayah mereka untuk duduk di bangku panjang.
"Gilang, tolong kamu jaga ayah ya, kak Fio mau daftar dulu." Pinta Fiona kepada adiknya.
"Baik kak, serahkan saja sama Gilang."
"Ayah tunggu sebentar ya, Fio mau ke loket dulu." Setelah itu Fiona langsung menuju ke loket Rumah Sakit.
"Permisi mbak, saya mau daftar untuk check up di poli jantung." Tanya Fiona kepada petugas loket.
"Atas nama pasien siapa ya bu?" Balas petugas loket tersebut.
"Dirga Wijaya."
"Baiklah, silahkan ibu isi formulir ini, setelah itu langsung dibawanke poli jantung ya bu. Ini nomor antriannya."
"Terima kasih mbak." Jawabnya sambil mengisi formulir yang diberikan tadi.
Tanpa Fiona sadari, sejak tadi ada dua pasang mata yang sedang mengawasinya dari posisi yang tidak terlalu jauh. Namun karena dia sedang sibuk mengurus pendaftaran, jadi dirinya tak terlalu memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Tuan muda, itu nona Fiona. Apa langsung kita hampiri saja?" Tanya asisten Setya.
"Tidak usah. Jangan sampai dia tau kalau kita mengikutinya." Jawab Rangga dengan raut wajah yang tidak nyaman. Sebenarnya dia paling benci dengan suasana di rumah sakit.
"Baik tuan muda."
"Emm. Sebaiknya aku menunggu di luar. Kamu saja yang tetap berada di sini untuk mengawasinya." Setelah itu Rangga langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia sudah merasa tidak nyaman berada di tempat ini. "Tetap awasi dia. Jangan lupa untuk mengurus semua administrasi pembayarannya. Kabari aku jika sudah selesai."
"Dasar tuan muda. Takut ke rumah sakit, tapi tetap saja memaksakan diri untuk datang. Ujung-ujungnya aku juga yang repot." Gumam asisten Setya dalam hati. "Yah, nasib bawahan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah perawat memanggil nama Dirga Wijaya, mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam ruangan dokter.
"Hallo om Dirga. Bagaimana kabar anda hari ini?" Sapa dokter Heru yang merupakan dokter spesialis jantung.
__ADS_1
Dokter Heru merupakan dokter yang menangani ayah Dirga selama satu tahun terakhir menggantikan ayahnya. Di usianya yang masih sangat muda, dokter Heru sudah menyelesaikan spesialis jantungnya di Amerika.
Ayah dokter Heru pun adalah dokter spesialis jantung yang dulu menangani ayah Dirga. Sebenarnya dahulu mereka adalah dokter pribadi keluarga Wijaya. Walaupun Dirga Wijaya sudah tidak sekaya dulu, namun tetap mendapatkan perawatan dari ayah Heru. Mereka tetap bersedia merawat Dirga Wijaya sebagai balas budi atas bantuannya di masa lalu.
"Ya kondisi saya tetap seperti biasa dokter. Saya bersyukur sampai hari ini masih diberikan nafas oleh Tuhan." Jawab ayah Dirga dengan suara lembut.
"Amin. Mari om, saya periksa dulu kondisinya." Pinta dokter Heru sambil mempersilhkan ayah Dirga untuk berbaring di atas ranjang. Dengan dibantu oleh perawat dan kedua anaknya, ayah Dirga pun berbaring di atas ranjang.
Dengan dibantu oleh peralatan medis, dokter Heru pun memeriksa kondisi dari ayah Dirga dengan seksama. Proses pemeriksaan berlangsung selama 15 menit. Setelah selesai pemeriksaan, pasien sudah diperbolehkan untuk duduk kembali.
"Fio, boleh aku berbicara secara pribadi denganmu?" Ucap dokter Heru kepada Fiona sambil melirik ke arah ayah Dirga yang sedang dibantu berdiri oleh Gilang dan perawat.
Fiona pun hanya mengangguk tanda setuju sambil ikut melirik ke arah ayahnya. "Ayah, Fio tinggal sebentar ya. Ada hal penting yang harus dibicarakan dengan dokter." Setelah itu dia langsung mengikuti langkah kaki dokter Heru menuju ke ruangan yang ada di sebelah.
"Ada apa dengan kondisi ayah saya dokter?" Tanya Fiona langsung, setelah mereka sudah berpindah ruangan.
"Begini Fio, kondisi ayah kamu sebenarnya sudah tidak bisa ditangani dengan cara biasa. Kita harus memberikan perawatan yang terbaik baginya. Dia harus segera dirawat dengan intensif di rumah sakit khusus jantung." Penjelasan dari dokter Heru membuat hati Fiona menjadi cemas.
"Apakah akan terjadi hal buruk dengan ayah saya dokter?" Tanya Fiona yang wajahnya sudah sangat pias mendengar informasi dari dokter.
"Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi masa yang akan datang. Saat ini kita hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi kesembuhan om Dirga."
Saat ini, Fiona yang matanya sudah mulai berkaca-kaca pun memohon kepada dokter Heru. "Saya mohon dokter, lakukan yang terbaik untuk ayah saya. Saya akan berusaha untuk mencari biaya pengobatannya. Yang penting ayah saya bisa sembuh."
"Untuk saat ini, yang terpenting adalah tetap menjaga kondisi om Dirga. Jangan biarkan beliau terlalu banyak pikiran, jangan sampai stres. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi jantungnya."
"Baik dokter."
"Nanti saya akan menuliskan resep obat untuk om Dirga. Kamu harus pastikan aga beliau tetap meminum obatnya dengan rutin ya."
"Ayo kita temui om Dirga dan Gilang, mereka pasti sudah menunggu." Ajak dokter Heru sambil mempersilhkan Fiona untuk mengikutinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai chek up, Fiona kembali memapah ayahnya untuk duduk di bangku ruang tunggu sambil meminta Gilang untuk menjaga ayah mereka. Setelah itu dia langsung bergegas ke loket untuk menebus obat dan juga membayar biaya check up.
"Apa mbak? Semua sudah dibayar?" Tanya Fiona dengan begitu terkejut mendengar penjelasan dari petugas loket.
"Ia bu, semua biaya administrasi dari pasien sudah dibayar lunas, beserta obat-obatannya juga." Jawab petugas loket tersebut.
"Tapi mbak, siapa yang sudah membayarkan semua biayanya?"
"Maaf bu, saya tidak tau."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih ya mbak." Dalam hatinya masih bingung dan bertanya-tanya
"Iya, sama-sama." Jawab petugas loket itu kembali.
Setelah itu, Fiona langsung menghampiri ayah dan adiknya. Mereka langsung beranjak untuk keluar dari rumah sakit. Saat ini ayah Dirga tampaknya sudah kelelahan dan butuh untuk istirahat di rumah.
"Fiona? Wah, kebetulan sekali kita bertemu disini." Di pintu keluar rumah sakit, Fiona dikejutkan dengan suara yang menyapanya.
"Mas Rangga!" jawabnya dengan tidak percaya. Ayah Dirga dan Gilang hanya melihat dengan bingung. "Mas sedang apa di sini?"
"Emm. Aku hanya ada urusan sebentar dan kebetulan bertemu dengan kamu disini." Jawab Rangga dengan berpura-pura cuek.
"Kebetulan apanya? Padahal tuan muda sudah membuntuti nona Fiona sejak tadi." Humam asisten Setya sambil menggeleng-gelengkan kepala karena melihat akting dari tuan mudanya.
"Itu siapa nak? Temanmu?" Tanya ayah Dirga karena merasa penasaran.
"Emm... Itu... Anu ayah..." Fiona sangat bingung bagaimana cara untuk menjelaskan keopada sang ayah.
"Saya Rangga om, temannya Fiona." Sambung Rangga dengan cepat untuk memperkena diri sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh, temannya Fio toh." Balas ayah Dirga sambil menyambut uluran tangan dari Rangga. "Om pikir siapa toh". Sedangkan Fiona hanya menatap dengan tatapan yang sulit untuj diartikan.
"Om sudah mau pulang?"
"Iya nak Rangga. Kami sudah pesan taksi online." Jawab ayah Dirga.
"Jangan om, biar saya yang mengantarkan om pulang." Dengan cepat Rangga langsung menawarkan bantuan untuk mengantarkan mereka pulang.
"Tidak apa-apa kok nak Rangga. Takut merepotkan, lagi pula kami sudah pesan taksi kok."
"Saya kan teman Fiona, jadi sudah sepantasnya saya membantu. Lagi pula saya sedang lowong kok sekarang." Sekali lagi Rangga memaksa untuk mengantarkan mereka. Dia sama sekali anti dengan yang namanya penolakan. Sedangkan Fiona, sejak tadi gadis itu hanya mematung saja.
"Baiklah. Asalkan tidak merepotkan nak Rangga." Jawab ayah Dirga yang akhirnya luluh.
"Aku tidak merasa direpotkan kok om. Mari saya bantu masuk kedalam mobil." Setelah itu, dia melirik ke arah asisten Setya seolah menyuruhnya untuk tidak mengganggu.
Di dalam mobil, ayah Dirga dan Gilang duduk di belakang. Sedangkan Fiona duduk di depan bersama Rangga yang sudah duduk di kursi kemudi.
Asisten Setya?
Sayangnya dia harus menelpon salah satu bawahan untuk menjemput dirinya di rumah sakit. Dia hanya akan dianggap penggangu oleh Rangga jika ikut bersama mereka.
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1