
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini keluarga Dirga Wijaya mengundang Rangga untuk datang makan malam di rumah mereka. Saat ini Fiona sedang sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan semua menu yang akan disajikan sebentar malam.
Kebetulan hari ini Fiona tidak memiliki jadwal kuliah sehingga bisa memiliki banyak waktu untuk menyiapkan segalanya. Sepulang dari tempat kerjanya, gadis itu langsung menuju ke pasar swalayan untuk berbelanja bahan masakan. Untung saja uang yang dia terima dari kemarin belum terpakai sehingga dirinya tidak perlu cemas untuk berbelanja di pasar swalayan.
Jelang sore, Fiona masih berkutat di dapur. Berbekal pengetahuan memasak yang diturunkan dari mendiang ibunya, dengan telaten gadis itu menyiapkan berbagai macam menu hidangan.
"Wah, rajin sekali putri ayah hari ini." Sapa ayah Dirga yang datang menghampiri puterinya di dapur.
"Eh, ayah. Sudah bangun?" Jawab Fiona sambil melumuri dagin cumi dengan bumbu yang sudah dia haluskan.
"Masak apa hari ini nak?"
"Hanya bebera jenis masakan saja ayah, semuanya Fio buat dari buku resep milik ibu."
"Untunglah kamu mewarisi keahlian memasak dari ibu kamu." Saat ini ayah Dirga sedang menerawang untuk mengenang kejadian manis di masa lalunya. Kenangan dimana pertama kali dia bertemu dengan mendiang istrinya di sebuah restoran. Dahulu, ibu Ayu adalah seorang koki di restoran langganan ayah Dirga.
"Ayah..."
"Ayah kenapa? Sakitnya kambuh lagi ya?"
"Eh. Tidak kok, ayah tidak apa-apa nak. Melihatmu memasak, ayah hanya kembali teringat sama mendiang ibu kamu." Kini tatapan ayah Dirga menjadi sendu.
Setelah melihat kondisi sang ayah, Fiona menghentikan kegiatannya sejenak dan berjalan menuju ayahnya. Fiona kemudian memeluk sang ayah dan menenggelamkan kepalanya di dada ayah Dirga.
"Fio juga rindu sama ibu."
"Kita sama-sama merindukan ibu. Puteri ayah jangan sedih lagi ya. Nanti ayah juga jadi ikut sedih." Ucap ayah Dirga sambil mengelus rambut puterinya. "Di sana, ibu juga pasti bangga melihat kamu dan adikmu saat ini."
Setelah mendengarkan kata-kata dari ayah Dirga, Fiona pun kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum walaupun dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Jangan lupa untuk menyelipkan nama ibu dalam setiap doa-doamu nak. Ayah yakin, ibu juga pasti selalu mendoakan kita dari surga."
"Itu sudah pasti ayah. Fio akan selalu berdoa untuk ibu dan juga untuk keluarga kita agar selalu diberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan".
"Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu. Ayah mau kembali ke kamar dulu. Oh iya, mana adikmu?"
"Gilang pasti sedang belajar di kamarnya ayah, kan sebentar lagi dia sudah mau ujian kelulusan." Jawab Fiona sambil memapah ayahnya "Sini, biar Fio antar ayah kembali ke kamar."
Setelah selesai mengantarkan ayah Dirga ke kamar, Fiona kembali meneruskan kegiatan memasaknya di dapur. Masih ada beberapa jam sebelum kedatangan Rangga. Dengan kemampuannya, dia yakin bisa menyelesaikan kegiatan di dapur dengan tepat waktu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di kantor Tanubrata Grup, saat ini Rangga sedang disibukan dengan pekerjaannya. Dengan bantuan asisten Setya dan sekretaris Naya, Rangga memeriksa satu persatu dokumen-dokumen laporan dari berbagai divisi.
Akhirnya seluruh dokumen selesai diperiksa bertepatan dengan jam pulang kantor. Saat ini, Rangga yang sudah kelelahan menyandarkan bahunya di kursi sambil memijit keningnya.
"Naya, kerjaanmu hari inj sudah selesai. Kamu boleh pulang" ucap Rangga kepada sekretarisnya.
"Baik tuan muda saya permisi dulu." Pamit sekretaris Naya sambil menundukan kepala. Rangga hanya membalasnya dengan anggukan, sedangkan asisten Setya hanya melihat dengan tatapan sinis.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa dengan Naya?" Tanya Rangga yang tadi sempat melihat ekspresi asisten Setya. "Bukankah kalian dulu sangat akrab? Bahkan aku pikir dulu kalian itu pacaran. Kenapa sekarang kalian terlihat seperti air dan minyak?"
"Tidak ada apa-apa tuan muda." Jawab asisten Setya dengan ekspresi datarnya.
"Kamu itu juga manusia Setya. Masih punya perasaan. Kalau kamu memang suka dengan Naya, kan tinggal minta dia jadi kekasihmu. Perempuan itu tidak suka kalau hatinya digantung."
Aihhh.
Tuan Muda.
Seperti sudah punya pengalaman dalam soal asmara saja.
"Maaf tuan muda. Untuk saat ini saya belum berpikir ke situ." Jawabnya kembali dengan ekspresi yang sama.
"Cih. Nanti menyesal, baru tau rasa kamu!" Balas Rangga dengan nada jengkel.
"Jadwal saya sebentar malam memang kosong tuan muda. Anda mau kemana?"
"Sebentar kita akan menghadiri undangan makan malam di rumah Fiona."
"Oh, baiklah tuan muda." Balas asisten Setya sambil menganggukan kepalanya. "Eh! Makan malam di rumahnya nona Fiona?" Pekik asisten Setya dengan terkejut setelah sadar dengan nama yang disebutkan oleh majikannya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rangga dengan ekspresi kurang senang.
"Maafkan saya tuan muda. Baiklah, saya akan menjemput anda sebentar malam."
"Cih. Ternyata tuan muda diam-diam tapi perkembangannya sudah sejauh ini. Bikin iri orang sedang jomblo ini saja." Gumam asisten Setya dalam hati.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Aku tidak mau sebentar malam kita terlambat." Rangga langsung berdiri dan mengambil jasnya dari sandaran kursi. Setelah memakai jasnya, dia langsung berjalan keluar dari ruangan denga diikuti oleh asisten Setya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tepat pukul 7:00 malam, Rangga dan asisten Setya tiba di rumah kediaman keluarga Wijaya. Mereka saat ini sedang berdiri di depan pintu sambil menunggu tuan rumah untuk keluar.
__ADS_1
Mata Rangga tiba-tiba dibuat tercengan setelah melihat sosok yang membukakan pintu. Dia begitu takjub melihat penampilan Fiona. Gadis itu hanya memakai polesan minimalis di wajahnya dengan rambit yang dibiatkan terurai. Bibirnya yang dilapisi oleh lipstik berwarna pink membuat dirinya terlihat cantik natural. Untuk pakaian yang dipakai, Fiona hanya menggunakan dress selutut berwarna biru tosca.
"Mas? Mas Rangga? Kok melamun sih?" s
Sapa Fiona yang keheranan melihat Rangga yang hanya menatapnya tanpa berkedip.
"Eh. Maaf!" Jawab Rangga yang menjadi salah tingkah karena seperti habis kepergok mencuri ayam tetangga.
"Aih. Tuan muda, berhentilah membuat diri anda terlihat bodoh di hadapan wanita." Gumam asisten Setya sambil tersenyum tipis.
"Siapa nak?" Tanya ayah Dirga dari ruang tamu.
"Ini ayah, mas Rangga sudah datang bersama...."
"Setya!" Sambung asisten tersebut dengan cepat. Memang Fiona baru satu kali bertemu dengan asisten Setya, itupun sewaktu di rumah sakit. Jadi dia belum tau nama dari orang itu.
"Tamunya kok tidak dipersilahkan masuk?" l
Lanjut ayah Dirga sambil datang menghampiri mereka.
"Oh, maaf. Mari masuk mas Rangga, mas Setya." Dengan senyum sumringah, Fiona mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
"Selamat malam om." Sapa Rangga dan asisten Setya sambil menyalami tangan ayah Dirga. "Mohon maaf, kami datang tidak membawa apa-apa untuk om dan keluarga".
"Itu tidak perlu. Kedatangan nak Rangga malam ini saja sudah membuat keluarga om senang kok." Balas ayah Dirga.
Setelah itu, ayah Dirga mempersilahkan Rangga dan asisten Setya untuk langsung menujunke ruang makan. Di meja makan, Fiona sedang sibuk menata seluruh hidangan dengan dibantu oleh Gilang.
Rangga dan asisten Setya dibuat takjub dengan melihat berbagai jenis hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Cacing-cacing yang ada di dalam perut mereka kini sudah mengamuk untuk meminta jatah.
"Wah, ini pasti makanan yang dipesan di restoran" pikir Rangga dalam hatinya.
[BERSAMBUNG...]
~Seuntai Kata Dari Author~
Hai readers.
Mohon maaf kalau author baru bisa up ceritanya.
Harap maklum, akhir-akhir ini author sedang sibuk dengan urusan pekerjaan...
__ADS_1
Kedepannya, author akan berusah untuk bisa up setiap hari ya...
Mohon terus dukung author agar bisa menyelesaikan cerita ini tanpa kurang suatu apapun...