Angin Berbisik

Angin Berbisik
Rencana Pernikahan 2


__ADS_3

"Rangga, apa kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil nak?" Nyonya Linda kemudian bertanya dengan nada cemas.


"Betul nak Rangga, apa kamu yakin?" Sambung ayah Dirga. Kali ini raut wajahnya berubah menjadi serius.


Melihat keraguan dari semua orang, membuatnya agak sedikit jengkel. Setelah itu Rangga pun mengangkat wajahnya dan menatap ke semua orang. "Rangga sangat yakin dengan keputusan ini."


"Tapi nak, melangsungkan pernikahan itu tidak mudah. Kita perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Apalagi ini pernikahan keluarga kita, keluarga Tanubrata." Sambung nyonya Linda yang merasa keberatan. "Mama tidak ingin jika acaranya hanya dilangsungkan dengan asal-asalan. Bagaimana nanti tanggapan dari keluarga dan kolega kita?"


"Rangga tidak peduli dengan tanggapan mereka. Lagi pula, acara pernikahan ini memang hanya akan dilangsungkan secara sederhana."


"Om sih setuju-setuju saja dengan rencana dari nak Rangga. Tapi, sebaiknya kita tanyakan juga pendapat dari Fiona. Putri om juga berhak untuk memutuskan." Sambung ayah Dirga sambil melirik ke arah puterinya.


Sejak tadi Fiona hanya diam sambil melihat perdebatan yang ada di depannya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.


"Bagaimana nak? Apakah kamu setuju?" Tanya ayah Dirga.


"Emm. Jujur Fiona juga kaget mendengar rencana dari mas Rangga. Fio rasa ini terlalu cepat."


"Fio tidak suka untuk menikah dengan mas?" Tanya Rangga dengan ekpresi sedikit cemberut.


"Buka begitu mas. Aku hanya kaget saja. Tapi kalau itu sudah keputusan dari mas Rangga. Aku akan mengikutinya. Aku percaya sama mas." Jawab Fiona untuk mencoba menenangkan pria yang ada di depannya.


Mendengar jawban dari Fiona, membuat Rangga mengakat kedua bibirnya. Seketika jantung Fiona berdetak kencang melihat wajah dari pria yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya.


"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yg perlu dibahas maka kami mohon pamit untuk kembali. Untuk rencana acara pernikahan nanti, biar Rangga yang mengatur semuanya om."


Setelah itu, seluruh keluarga Tanubrata langsung pamit untuk kembali ke kediaman mereka. Fiona pun mengantarkan keluarga dari calon suaminya sampai di depan pintu.


"Besok jadwal kamu seharian apa saja sayang?" Tanya Rangg kepada Fiona di depan pintu. Mendengar kata 'sayang' dari bibir Rangga membuat Fiona sedikit tersentak. "Hmm. Mas boleh kan panggil kamu sayang? Lagi pula sebentar lagi kita akan segera menjadi suami istri."


"Terserah mas Rangga saja." Fiona menjawab dengan senyuman manis di wajahnya. "Besok selesai bekerja di toko, aku langsung ke kampus mas."


"Baiklah, besok mas akan menjemputmu di toko. Setelah itu kita akan makan siang bersama. Nanti sekalian biar mas yang akan mengantarmu ke kampus."


Setelah itu Rangga langsung mencium Fiona tanpa meminta ijin terlebih dahulu. "Mas pulang dulu ya."


Mendapatkan ciuman secara tiba-tiba membuat wajah Fiona menjadi merah merona. Tentu saja saat ini gadis itu merasa malu dengan kejadian barusan.


Melihat wajah Fiona yang merah merona membuat Rangga tertawa. Tentu saja tindakan jahilnya berhasil membuat gadis itu terkejut dan malu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nyonya Linda selalu memasang wajah masam selama perjalanan pulang. Tentu saja hal ini menjadi pukulan telak baginya. Entah bagaimana nantinya dia akan menjelaskan kepada keluarga, kolega serta rekan-rekan sosialitanya.


Putra dari keluarga Tanubrata yang terhormat hanya menikah dengan seorang gadis dari keluarga biasa. Tentu saja hal ini akan mencoreng kehormatan dari keluarga mereka.

__ADS_1


"Rangga, apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?"


"Berhentilah membahasnya ma. Apapun keputusan yang Rangga buat, tidak akan diubah lagi." Jawab Rangga yang malas untuk berdebat lagi.


"Dasar perempuan kurang ajar. Berani-beraninya kau menggoda anakku. Lihat saja nanti, aku pasti akan menendangmu keluar. Perempuan miskin sepertimu tidak pantas untuk menjadi menantuku." Gumam nyonya Linda dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sebuah bar.


Rangga, Setya, Bara dan Dimas terlihat sedang asik duduk di dalam ruangan VVIP. Mereka minum bersama untuk melepaskan kepenatan mereka setelah bekerja seharian.


"Ini minumannya tuan." Ucap seorang pelayan berseragam seksi sambil melemparkan senyuman genit ke arah Rangga.


Namun, sayang sekali kode dari pelayan itu tidak di gubris oleh Rangga. Dengan kesal, akhirnya dia langsung berbalik untuk keluar dari ruangan itu.


"Bro, pelayan tadi lumayan manis loh. Pakaiannya seksi lagi. Langsung tancap saja. Pasti dia mau sama kamu." Celetuk dari Bara yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik dari pelayan tersebut.


"Kalau kamu berminat. Kenapa tidak kamu saja yang mengejarnya?" Jawab Rangga dengan cuek.


"Apa aku tidak salah dengar? Seorang tuan muda Rangga tidak lagi tertarik dengan gadis seksi?" Balas Bara dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.


"Tuan muda akan segera menikah!" Asisten Setya kini langsung memotong pembicaraan antata Bara dan Rangga.


"Apa?" Teriak Bara yang kaget dengan dengan ucapan dari asisten Setya. Sedangkan Dimas yang hanya diam saja sejak tadi pun kini ikut menatap ke arah sahabat-sahabatnya itu.


Baru saja asisten Setya hendak menjawab, namun dengan cepat Rangga mengankat tangannya agar asistennya itu diam.


"Kalian lihat saja nanti." Ucap Rangga dengan santai.


"Aku penasaran. Kira-kira, wanita mana yang sudah membuat pria sedingin es ini takluk?" Sambung Dimas yang kini sudah ikut dalam pembicaraan.


"Kalian pasti akan segera mengetahuinya." Jawab Rangga dengan senyum liciknya. "Kamu juga jangan terlalu berlama-lama dengan status jomblo mu itu Dimas."


"Tenang saja, aku sudah menemukan calon yang cocok untukku." Jawab Dimas dengan sedikit menampilkan ekspresi bangga.


"Betulkah? Siapa wanita itu?" Tanya Rangga sambil memicingkan matanya.


"Masih rahasia. Pokoknya nanti akan ku perkenalkan pada kalian."


"Oh." Balas Rangga singkat sambil kembali memperlihatkan senyuman liciknya.


Kita lihat saja Dimas.


Kamu pasti akan sangat suka dengan kejutan yang sudah ku siapkan.

__ADS_1


"Hei! Mentang-mentang hanya aku yang jomblo disini. Kalian berdua memang sengaja memamerkan kepadaku ya kalau kalian sudah punya calon pendamping." Protes Bara yang jiwa jomblonya sudah bergelora sejak tadi.


Cih.


Apakah kamu tidak menganggap keberadaanku di sini?


Bukan hanya kamu saja yang jomblo di sini.


Aku juga ingin segera mendapatka jodoh seperti tuan muda dan Dimas.


Setelah itu entah mengapa malam ini seperti menjadi ajang perlombaan minum bagi asisten Setya dan Bara. Namun, di antara mereka berempat asisten Setya yang memiliki ketahanan tubuh yang paling kuat.


"Sudah, kamu jangan terlalu banyak minum." Perintah Rangga kepada asistennya. "Aku tak mau jika kita berakhir di Rumah Sakit."


"Maafkan saya tuan muda. Saya akan berhenti minum sekarang." Jawab asisten Setya.


Walaupun dirinya tidak mudah untuk mabuk, tapu tetap saja dia tidak bisa membuat tuan mudanya dalam keadaan bahaya.


"Kita tidak sedang berada di kantor. Kenapa kau selalu saja memanggil Rangga dengan sebutan tuan muda?" Tanya Dimas kepada asisten Setya sambil meneguk minuman yang ada di sloki miliknya.


"Saya tetap akan memanggi atasan saya dengan sebutan tuan muda." Jawab asisten Setya denga lantang. Sedangkan Rangga hanya tersenyum simpul melihat kesetiaan dari sahabat sekaligus asistennya ini.


"Dasar, asisten yang gila kerja!" Balas Dimas dengan nada mencela. "Ayo kita pulang. Spertinya Bara sudah tidak bisa bergerak."


"Dia pulang bersama denganmu kan?" Tanya Rangga sambil melirik ke arah Bara yang sudah terlungkup di meja.


"Tentu saja! Mana bisa manusia lemah ini akan menyetir dengan keadaan teler?"


Setelah itu, mereka berempat pun beranjak dari ruangan tersebut. Dimas dan asisten Setya memapah Bara yang sudah tidak sadarkan diri. Setelah sampai di mobil milik Dimas, mereka segera menidurkan Bara di bangku belakang.


"Rangga!" Panggil Dimas.


"Kenapa?" Balas Rangga sambil membalikan badan.


"Kamu serius dengan rencana pernikahanmu?"


"Tentu saja. Kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan perkataanku?"


"Bukan itu maksudku. Hanya saja, selama ini aku tidak melihat kamu pernah dekat dengan wanita mana pun."


"Kita lihat saja nanti. Kamu pasti akan setuju dengan calonku nanti." Balas Rangga sambil berjalan meninggalkan Dimas yang kebingungan.


Tunggu saja Dimas.


Kamu pasti akan senang dengan kejutan yang sudah ku siapkan.

__ADS_1


[BERSAMBUNG...]


__ADS_2