
Setahun berlalu sejak kematian dari Rendy Tanubrata. Kini perusahaan Tanubrata Grup sudah beralih kepemimpinan ditangan Rangga.
Selama ini Rangga selalu berusaha untuk mengembalikan stabilisasi perusahaan yang sempat menurun akibat kejadian naas yang menimpa CEO terdahulu. Alhasil, dalam setahun perusahaan Tanubrata Grup kini sudah kembali stabil. Bahkan lebih daripada itu, perusahaan yang dipimpin oleh Rangga menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan terbesar di Asia.
Setelah menjadi CEO, Rangga kini menjadi pribadi yang dingin dan kejam. Dia tak segan-segan untuk memaki dan memecat setiap karyawan yang berbuat kesalahan.
Sikapnya di rumah pun tak jauh berbeda dengan di kantor. Sebagai seorang kepala keluarga yang menggantikan mendiang ayah dan kakaknya, Rangga bersikap sangat diktator. Semua kejadian yang berlangsung di kediaman Keluarga Tanubrata harus berjalan sesuai dengan aturan ketat yang dia terapkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat ini waktu sudah menunjukan jam 7 malam. Rangga masih terus duduk melamun di dalam ruangan CEO milik kakaknya dulu. Dia hanya duduk menyelami kesedihannya sambil meneguk botol minuman keras yang dipegangnya.
Dalam kesedihannya, dia menatap sebuah bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya.
Dia kemudian mengambil bingkai foto tersebut dan menatap dengan lekat. Dalam bingkai foto tersebut terpampang wajah dari dua kakak beradik Rendy dan Rangga yang tersenyum bahagia. Tak terasa senyuman kesedihan terlukis di wajah tampannya itu.
Setelah lama menatap bingkai foto tersebut, akhirnya air mata Rangga pecah dan membasahi pipinya.
Kakak.
Sudah setahun sejak kepergianmu.
Apakah kau bahagia disana?
Kakak.
Aku sudah memenuhi satu dari dua keinginanmu.
Aku sudah menjaga perusahaan ini sesuai dengan permintaanmu
Tinggal satu lagi keinginanmu yang belum kupenuhi.
Aku masih belum membalaskan dendam kepada wanita keparat itu.
Aku.
Rangga Arya Tanubrata.
Bersumpah akan membuat wanita itu berlutut di hadapan pusaramu kak.
Setelah meletakan kembali bingkai foti tersebut di atas meja. Rangga kemudian membuka sebuah laci kecik yang ada di sampingnya. Dari dalam laci tersebut, dia mengambil selembar foto yang sudah mulai kusut. Foto tersebut sangat jelas menampilkan gambar dari seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita tersebut memakai sebuah kalung yang berinisial huruf 'F'.
Wanita keparat.
Teruslah bersembunyi.
Karena jika sampai aku menemukanmu.
Maka disitulah hari kehancuranmu dimulai.
"Masuk saja!" teriak Rangga setelah mendengar bunyi ketukan dari arah pintu.
Setelah pintu terbuka, asisten Setya pun segera masuk menghampiri tuannya itu.
"Aih, aura tuan muda saat ini sungguh menyeramkan. Apa aku masuk di waktu yang salah ya?" gumam asisten Setya dalam hati.
"Tuan muda, saya hanya ingin memberikan laporan. Persiapan untuk memperingati satu tahun kematian dari tuan Rendy besok sudah selesai."
__ADS_1
"Bagus. Aku tak ingin ada kekurangan sedikitpun dalam upacara peringatan satu tahun kakak." Rangga pun membalas dengan nada datar.
"Satu lagi. Bagaimana dengan perkembangan dari tugas yang aku berikan dulu? Sudah hampir setahun aku menunggu tapi tak ada hasil yang cukup memuaskan darimu. Apa yang kau lalukan selama ini?" Kini Rangga sudah mulai berbicara dengan nada kesal.
"Untuk hal itu saya sudah menemukan apa yang tuan perintahkan." Setya kemudian memberikan sebuah map yang berisi informasi dari orang yang sudah dia selidiki selama ini.
"Namanya adalah Fiona Anastasya Wijaya. Dia adalah puteri dari tuan Dirga Wijaya."
"Dirga Wijaya?" tanya Rangga seolah dia pernah mendengar nama tersebut tapi entah dimana. "Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut".
"Dirga Wijaya adalah mantan pebisnis di bidang properti. Namun semenjak beliau sakit, usahanya dipegang oleh adiknya. Menurut informasi yang saya terima, adik dari beliau menipu dan merampas perusahaannya." Setya pun melanjutkan penjelasannya.
"Saat ini tuan Dirga tinggal di sebuah rumah kecil bersama putra dan putrinya. Kini kehidupan mereka ditopang oleh puterinya yang kuliah sambil bekerja."
"Apa pekerjaan dari puterinya?" Kini Rangga dibuat menjadi semakin penasaran.
"Nona Fiona bekerja sebagai seorang florist dari sebuah toko bunga. Selain itu dia juga bekerja sebagai sopir joki di malam hari dan menjadi guru privat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Untuk informasi yang lebih lengkap, semuanya ada di dalam dokumen ini."
"Baiklah, saya akan memeriksanya. Kamu sudah boleh pulang." Rangga pun menyuruh asisten Setya untuk keluar dari ruangan.
"Oh iya tuan muda, saya hampir lupa." Sebelum keluar dari ruangan, asisten Setya kemudian kembali berbicara "Apakah anda ingin saya memesankan karangan bunga untuk besok?"
"Tidak perlu! Biar aku yang beli sendiri" ucap Rangga dengan datar. "Sudah, kamu pergi sana!".
"Baik tuan muda, saya permisi dulu" pamit Setya sambil menutup pintu kembali.
Jadi ternyata kau mendekati kak Rendy karena harta ya.
Dasar wanita miskin.
Hmm.
Tunggu saja Fiona.
Akan kuhancurkan kehidupanmu.
Di luar ruangan, sambil berjalan menuju lift, asisten Setya sedang memikirkan mengenai orang yang diselidikinya itu.
"Hmm. Dasar tuan muda. Bilang saja kalau dia ingin mendekati gadis yang bernama Fiona itu. Pakai modus segala." Setya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menekan tombol lift.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, mobil Rangga berhenti di depan sebuah toko bunga yang bernama 'Ambar'. Dia mengamati toko tersebut sebentar dari dalam mobilnya lalu kemudian memutuskan untuk keluar.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu pak?" Sapaan hangat dari Fiona sesaat membuat Rangga terperanjat.
"Emm..."
"Saya ingin memesan buket bunga mawar putih." Rangga kemudian berbicara untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Bapak sedang berkabung ya?" tanya Fiona dengan senyum ramah khasnya.
"Iya, ini untuk peringatan satu tahun mendiang kakak saya." Balas Rangga dengan suara datar.
"Baiklah. Mohon menunggu sebentar ya pak, saya rangkai dulu bunganya." Fiona kemudian merangkai buket bunga mawar putih dengan tangan yang cekatan. Entah kenapa, Rangga begitu terpesona dengan gadis ini.
Setelah beberapa saat, akhirnya Fiona selesai merangkai buket bunga mawar putih pesanan Rangga.
__ADS_1
"Ini pak, karangan bunganya sudah jadi." Ucap Fiona sambil menyerahkan buket bunga tersebut.
"Baiklah, terima kasih nona...?" Rangga menggantung ucapannya seraya menunggu balasan.
"Fiona. Tapi bapak bisa panggil saya Fio saja."
"Saya Rangga. Tidak perlu untuk memanggil saya bapak, karena saya belum terlalu tua." Setelah itu Rangga pun berjalan menuju ke mobilnya.
Saat menyetir, Rangga menatap buket mawar putih yang diletakan di kursi samping. Bayang-bayang wajah Fiona mulai merasuki kepalanya. Memikirkan wajah Fiona membuatnya senyum-senyum sendiri. Tanpa dia sadari, kata Fiona terucap dari bibirnya.
"Arrrggghhh...!"
"Ini tidak benar...!"
"Rangga, jangan sampai tertipu dengan senyuman palsunya...!"
"Dia itu pembunuh kakakmu...!"
"Hehh! Gadis licik sepertimu jangan harap bisa menipuku. Aku tidak akan bisa kau bodohi seperti kakak. Kita lihat saja nanti, akan kubuat kau berlutut di depan pusara kakak." Kini seringai jahat terpancar dari wajah Rangga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat itu, suasana di dalam sebuah kompleks pekuburan elit sudah mulai dipadati oleh orang-orang. Keluarga, dan juga sebagian kerabat dan para karyawan berkumpul di depan makam dari Rendy Adrian Tanubrata. Mereka memberikan penghormatan kepada mendiang CEO Tanubrata Grup tersebut.
Setelah memarkirkan mobil, Rangga langsung menuju ke pusara milik kakaknya. Dia disambut oleh ibu dan adik perempuannya.
"Rangga, kamu dari mana saja? Kenapa baru datang nak?" Nyonya Linda menyapa dengan halus sambil memegang lengan anaknya.
"Rangga tadi habis beli bunga untuk kakak, lalu terjebak macet di jalan."
"Ya sudah, pergilah untuk melihat pusara kakakmu." Nyonya Linda pun akhirnya berjalan meninggalkan putranya.
Rangga menatap pusara milik Rendy yang sudah dipenuhi oleh berbagai karangan bunga. Dia kemudia menggeser beberapa karangan bunga yang menutupi foto kakaknya itu dengan agak kasar. Setelah itu dia meletakan buket bunga yang dia bawa sambil duduk di samping pusara kakakny itu.
Kak.
Tau tidak.
Itu adalah buket bunga yang dibuat sendiri oleh orang yang sudah menghancurkan hidup kakak.
Sekarang aku sudah menemukan wanita keparat itu.
Bersabarlah kak.
Sebentar lagi aku akan menyeretnya untuk bersujud di depan kakak.
"Kak Rangga!" Suara Aurel yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. "Aurel juga rindu dengan kak Rendy." Tak terasa matanya yang sembab sejak tadi kembali mengeluarkan cairan bening.
"Sampai mati pun Aurel tak akan memaafkan orang yang sudah membuat kak Rendy seperti ini." Dari matan Aurel yang sembab terpancar sebuah dendam yang yang begitu besar.
"Aurel tenang saja, kak Rangga janji akan menghancurkan orang itu." Rangga kemudian merangkul adik perempuannya itu "Kamu jangan bersedih lagi, nanti kak Rendy juga akan ikutan sedih disana."
"Baiklah kak. Aurel janji tak akan bersedih lagi." Sambil menghapus air matanya Aurek kembali berkata. "Kak Rendy juga jangan sedih ya disana. Aurel janji akan menjaga mama dan kak Rangga di sini. Kak Rendy temani papa saja di sana".
Perkataan dari adiknya membuat hari Rangga menjadi kagum. "Ternyata adiknya kakak sudah besar sekarang." Rangga berkata sambil mengusap kepala Aurel.
Setelah itu, acara pun dilanjutkan di kediaman Keluarga Tanubrata.
__ADS_1
[BERSAMBUNG...]