Angin Berbisik

Angin Berbisik
Suara Merdu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Fiona langsung menghapiri kamar sang ayah. Dia membuka sedikit tirai pintu kamar ayahnya sambil mengintip ke dalam.


"Hmm. Ayah masih tidur rupanya. Baiklah, sebaiknya aku siapkan makanan buat ayah dulu. Toh masih ada waktu sebelum ke cafe." Setelah itu Fiona pun langsung menutup tirai kembali sambil menuju ke kamarnya.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Fiona berhenti sejenak di depan kamar Gilang untuk melihat adiknya.


"Gilang, kamu sedang belajar ya?" Sapa Fiona sambil melangkah masuk ke dalam kamar adiknya.


"Eh, kakak. Sudah pulang ya?" Balas Gilang dari meja belajarnya sambil mengangkat kepala ke arah kakaknya. "Ia, Gilang lagi belajar buat persiapan ujian mid semester".


"Kakak sudah dari tadi pulangnya?"


"Tidak juga, baru sampai kok. Kakak bangga sama kamu dek. Kamu anak yang tekun dan cerdas" Ucap Fiona sambil mengelus rambut adiknya.


"Hehehe. Kakak tenang saja, Gilang pasti akan sukses untuk meraih cita-cita." Jawabnya dengan bangga. "Nanti Gilang pasti bakalan jadi seorang insinyur yang sukses."


"Kakak percaya kok. Makanya kamu harus rajin belajar. Jangan sia-siakan pengorbanan kakak dan ayah." Fiona menatap adiknya dengan penuh haru. Dalam hatinya, dia sudah berjanji akan melakukan apa saja agar adiknya bisa terus bersekolah.


"Nanti kalau Gilang sudah sukses. Gantian Gilang yang menjaga kakak dan ayah. Kakak tunggu saja."


"Adiknya kakak sekarang sudah dewasa ya." Fiona pun mencubit hidung adiknya dengan gemas. "Kamu sudah makan?".


"Belum kak".


"Ya sudah. Kakak masak dulu ya. Ayah juga kayaknya sudah lapar." Fiona pun langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar adiknya.


Setelah keluar dari kamar Gilang, Fiona bergegas menuju ke kamarnya. Di dalam kamar dia hanya meletakan tas kuliahnya di atas kasur lalu langsung beranjak menuju dapur.


Di dapur Fiona menyiapkan makan malam untuk adik dan ayahnya. Untuk makan malam ayah yang menderita jantung lemah, dia membuat menu khusus bagi pasien jantung.


"Gilang. Makanan untukmu sudah siap!" Teriak Fiona sambil mengatur meja makan.


"Ia kak, sebentar." Jawab Gilang dari dalam kamar.


Selesai memanggil adiknya, Fiona kemudian mempersiapkan makanan ayahnya di atas nampan. Dia kemudian langsung membawakan makanan ke dalam kamar ayah.


"Ayah, bangun dulu. Sudah waktunya untuk makan dan minum obat." Sapa Fiona sambil meletakan nampan makanan diatas meja kecil.


"Eh, sudah pulang nak?" Balas ayah Dirga yang baru saja bangun.


"Iya. Ini Fio sudah siapkan makanan untuk ayah. Makan dulu ya, setelah itu ayah harus minum obat." Fiona kemudian mengambil makanan yang ada di atas meja. "Sini, biar Fio yang menyuapkan ayah."


"Ayah, besok lusa kita kontrol lagi di rumah sakit ya." Fiona berbicara sambil menyuapi ayahnya dengan telaten.


"Memangnya kita punya biaya yang cukup nak? Sudah, uangnya kamu tabung saja buat keperluanmu nanti."


"Ayah tidak boleh begitu. Kesehatan ayah itu adalah prioritas utama kita." Jawab Fiona sambil tersenyum. "Ayah tidak perlu memikirkan biayanya. Fio pasti bisa mendapatkan uang untuk biaya berobat ayah."


"Terima kasih nak." Balas ayah Dirga yang dibuat terharu melihat pengorbanan anaknya.

__ADS_1


"Nak, kamu jangan bekerja terlalu keras. Pikirkan juga kesehatanmu. Ayah tidak ingin kamu sampai jatuh sakit karena kelelahan bekerja."


"Ayah tenang saja. Fio juga tidak akan terlalu memaksakan diri kok." Walaupun kenyataan yang sebenarnya Fio setiap hari harus memaksakan fisiknya untuk bekerja. Dia hanya bisa beristirahat kurang dari enam jam dalam sehari.


"Sekarang ayah minum obat dulu ya. Selesai ini Fio mau siap-siap dulu buat tampil di cafenya Kesya."


"Hati-hati di sana, jangan pulang terlalu malam. Bahaya anak gadis malam-malam begini sendirian di luar."


"Ayah tidak perlu khawatir. Nanti malam Fio pulangnya diantar Kesya kok. Sekarang Fio mau siap-siap dulu ya." Fiona berpamitan sambil mencium tangan ayah Dirga.


"Gilang, kakak mau siap-siap dulu ya buat ke kafenya kak Kesya. Nanti kamu belajarnya di kamar ayah saja, sambil menjaga ayah."


"Sippp. Kakak tenang saja."


"Kalau gitu kakak mau mandi dulu, takut terlambat. Kakak nanti makan di cafe." Setelah itu Fiona langsung bergegas menuju ke kamar mandi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suasana di cafe pada malam ini lagi ramai-ramainya karena kebetulan juga bertrpatan dengan malam minggu. Sebagian besar pengunjung yang merupakan pasangan muda-mudi datang untuk menikmati suasana romantis.


Saat ini Fiona sedang beristirahat di belakang panggung setelah lelah membawakan beberapa lagu sebelumnya. Sedangkan di atas panggung sudah ada Tina yang menggantikannya untuk lanjut bernyanyi. Malam ini, cafe milik Kesya memang sudah menyediakan dua orang penyanyi untuk menghibur para pengunjung.


Sementara itu, di meja VVIP ada empat orang pemuda yang sedang asik menimati hidangan yang ditemani oleh alunan musik. Mereka adalah Rangga, Dimas, Setya dan Bara. Mereka berempat sebenarnya sudah sahabat sejak dari masih duduk di bangku SMA.


"Bagaimana tempat yang aku pilih? Bagus kan?" Ucap Dimas sambil bersandar di sofanya.


"Kebetulan saja sih. Aku kemarin sempat nongkrong di tempat ini sama teman-teman kantorku." Sebenarnya Dimas sering nongkrong di cafe ini karena dia tau kalau Fiona juga sering manggung di sini.


"Cafe ini juga menyediakan live music loh. Penyanyi di tempat ini sangat cantik, suaranya juga merdu." Dimas menjelaskan kepada para sahabatnya dengan bersemangat.


"Benarkah? Aku dari tadi hanya mendengarkan suaranya sih, tapi tidak melihat wajah penyanyinya." Balas asisten Setya sambil mengug minumannya. Sejak tadi hanya Dimas, Bara dan asisten Setya yang saling berbincang. Sedangkan Rangga hanya cuek dan sibuk dengan ponselnya.


Setelah melihat Fiona kembali naik ke atas panggung, Dimas langsung memanggil seorang pelayan dan membisikan sesuatu.


"Kamu bicara apa sama pelayan itu?" tanya Bara.


"Ada deh. Lihat saja nanti." Balas Dimas dengan senyum misteriusnya.


Di atas panggung, Fiona kembali menyapa para pengunjung. Rencananya dia akan menyanyikan lagu terakhir pada malam ini.


"Selamat malam semua, masih semangat kan dengan penampilan dari kami?" Pertanyaan dari Fiona disambut denga tepuk tangan yang meriah dari para pengunjung.


Rangga yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba agak sedikit terkejut setelah mendengar suara yang dikenalnya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah panggung.


"Buat anda semua pengunjung yang spesial, malam ini ada satu lagu persembahan terakhir yang juga spesial." Setelah itu Fiona kemudian memberikan kode kepada para pemain musik untuk memainkan intro lagu 'Jika Cinta Dia' dari band Geisha.


Terlampau sering kau buat air mataku


Tak pernah kau tahu dalamnya rasa cintaku

__ADS_1


Tak banyak inginku jangan kau ulangi


Menyakiti aku sesuka kelakuanmu


Ku bukan manusia yang tidak berfikir


Berulang kali kau lakukan itu padaku


Jika cinta dia jujurlah padaku


Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu


Jika cinta dia ku coba mengerti


Teramat sering kau membuat patah hatiku


Kau datang padanya tak pernah kutahu


Kau tinggalkan aku disaat ku butuh kan mu


Cinta tak begini selama ku tahu


Tetapi ku lemah karena cintaku padamu


Jika cinta dia jujurlah padaku


Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu


Jika cinta dia ku coba mengerti


Mungkin kau bukan cinta sejati dihidupku...


Penampilan akhir dari Fiona sukses membuat para pengunjung terhanyut pada malam ini. Suara tepuk tangan dari para pengunjung menyelimuti suasana cafe.


Tak terkecuali dengan keempat pemuda yang duduk di meja VVIP. Bara dan Dimas sibuk memberikan pujian bagi gadis cantik yang bersuara merdu tersebut. Kalau Setya, sejak tadi dia sibuk menatap Rangga dan Fiona secara bergantian.


"Wah. Ternyata nona Fiona juga bekerja di sini ya? Kira-kira tuan muda bakal menghampirinya atau tidak ya?" gumam Setya dalam hati. Sedangkan Rangga pun dari tadi hanya menatap tajam ke arah Fiona tanpa mengalihkan pandangannya.


Hmm.


Selain berparas cantik.


Ternyata kamu juga bersuara merdu ya.


Kejutan apalagi yang nanti akan ku temukan dari dalam dirimu?


Rangga menampilkan senyuman licik yang terpancar dari wajah tampannya.


[BERSAMBUNG...]

__ADS_1


__ADS_2