
"Maaf tuan. Anda ingin saya menata bunga-bunga ini di mana?" Saat ini Fiona sedang berusaha untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Tak perlu, nanti biar sekretarisku saja yang mengaturnya." Jawab Rangga dengan singkat. "Kamu letakan saja bunga-bunga itu disini."
"Baiklah tuan. Saya letakan di sini ya." Dengan cepat Fiona meletakan tiga ikat bunga yang dia bawa di atas meja milik Rangga. "Kalu begitu saya permisi dulu tuan."
"Aku harus cepat pergi dari sini." Gumam Fiona dalam hatinya.
"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi mulai besok kamu harus mengantarkan bunga ke ruanganku setiap hari." Setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Rangga penuh dengan nada intimidasi. "Dan satu hal lagi. Jangan memanggilku tuan. Panggil Rangga saja."
"Tapi, sangat tidak sopan jika saya hanya memangginl anda dengan nama saja. Lagi pula, kita kita juga tidak sedang berada di dalam sebuah hubungan yang mengijinkan untuk hanya saling memanggil nama".
"Tidak apa-apa. Toh sekarang kita kan sudah saling kenal." Balasan dari Rangga justru membuat Fiona semakin bingung. Biar bagaimanapun, Rangga adalah seorang CEO dari perusahaan besar sedangkan dirinya hanya seorang gadis biasa.
"Hmm. Begini saja, saya panggil anda mas Rangga? Lagi pula, anda kan lebih tua dari saya. Bagimana?"
Sejenak Rangga memikirkan perkataan dari Fiona sambil memegang dagunya sendiri. "Hmm. Mas Rangga? Boleh juga."
"Baiklah, kamu boleh memanggil saya dengan sebutan mas."
"Kalau begitu, saya permisi pulang dulu tuan."
"Hemmm!" mendengar kata tuan membuat Rangga menatap Fiona dengan tidak senang.
"Maaf. Maksud saya mas Rangga. Saya permisi dulu." Setelah memberi hormat, Fiona pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
Setelah Fiona pergi, Rangga pun mengambil handphone yang ada di sakunya untuk menghubungi asisten Setya.
"Setya, tolong kamu cari tau segala hal yang berhubungan dengan Fiona. Termasuk semua kegiatan yang dia lakukan dan juga siapa saja yang dekat dengannya. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Dan satu lagi, perintahkan Naya untuk menata bunga-bunga yang dibawa oleh Fiona di ruanganku." Setelah memberikan perintah, Rangga langsung mematikan sambungan telepon tanpa mendengarkan jawaban dari asisten Setya.
"Aku harus mengetahui segala sesuatu tentang dirimu. Agar nanti aku bisa tau tindakan apa saja yang akan kulakukan terhadapmu gadis manis." Desis Rangga sambil bersandar di kursinya dengan senyuman yang penuh arti.
Huhh.
Tuan muda selalu saja seenaknya.
Pekerjaanku kan sangat banyak.
Kenapa juga dia harus menyuruhku untuk mengawasi nona Fiona?
Dasar tuan muda.
Mau dekat dengan wanita saja ribetnya minta ampun.
Di ruangan kerjanya, asisten Setya masih memegang handphonenya dengan wajah kusut. Setelah itu, dia memutuskan untuk menghubungi orang kepercayaannya yang akan ditugaskan untuk mengawasi Fiona.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di luar gedung Tanubrata Grup, Fiona hanya berdiri sambil sambil memikirkan sesuatu. Tadinya dia berencana untuk membawa ayahnya check up di rumah sakit. Namun baru saja dia dihubungi oleh pihak rumah sakit untuk memberitahukan bahwa jadwal checkup ditunda besok karena dokter sedang berada di luar kota.
"Nah. Setelah ini, aku sebaiknya kemana ya?" ucapnya dalam hati. "Ah, lebih baik aku ke galeri saja." Setelah itu dia memutuskan untuk pergi ke galeri lukisan di kampusnya. Saat ini Fiona memang sedang mengambil kuliah jurusan seni. Dari dulu dia selalu bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis di masa depannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, Rangga sudah menunggu kedatangan Fiona. Dia berdiri di depan cermin yang berada di ruanganya sambil mengatur gaya rambutnya yang memang sudah terlihat keren tanpa perlu diapa-apakan lagi.
Hmm.
Hari ini aku terlihat begitu tampan.
Kira-kira dia bakalan terpeson dengan diriku atau tidak ya?
Rangga yang sejak tadi hanya cengengesan di depan cermin akhirnya dibuat terkejut dengan suara ketukan dari pintu.
"Dia sudah datang, aku harus cepat-cepat!" Dengan segera, pria tampan itu langsung lari ke tempat duduknya. Dengan cepat dia langsung mengatur posisi duduknya agar terlihat berwibawa.
"Masuk!" Rangga pun langsung mengubah mimik wajahnya seolah-olah terlihat begitu cuek.
"Loh? Kenapa kamu yang masuk? Mana Fiona?". Seketika Rangga berubah menjadi kecewa setelah melihat sekretraris Naya yang masuk membawakan bunga, bukan Fiona.
"Maaf tuan muda, hari ini nona Fiona tidak bisa datang, jadi temannya yang menggantikan tugasnya untuk datang kemari." Jawab sekretaris Naya.
"Kenapa dia tidak bisa datang? Apakah terjadi sesuatu pada dirinya? Atau jangan-jangan dia tidak mau datang kesini?" Saat ini ekspresi Rangga sudah mulai masam. Dia tidak suka jika dirinya diabaikan.
"Saat ini nona Fiona sedang berada di rumah sakit tuan muda."
"Apa! Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Apakah dia sedang sakit?" Kali ini suara Rangga sudah menggelegar di dalam ruangannya. Hatinya saat ini sedang memikirkan hal yang tidak-tidak yang bisa saja menimpa Fiona.
"Dia sedang mengantarkan ayahnya untuk check up tuan muda".
"Oh, saya pikir dia sedang sakit." Akhirnya Rangga bisa merasa sedikit lega. "Dia membawa ayahnya di rumah sakit mana?"
"Maaf tuan muda, saya tidak tau." Ucap sekretaris Naya sambil menundukan kepalanya.
"Aish. Kalian ini memang tidak berguna. Untuk apa aku menggaji kalian jika hal seperti ini saja kalian tidak tau?" Setelah melampiaskan kekesalannya, Rangga kemudian mengambil jas dan langsung beranjak dari temopat duduknya.
"Kok malah aku yang disalahkan sih?" Gumam sekretaris Naya dalam hati setelah kena semprot dari tuan mudanya.
"Ya sudah, saya mau keluar dulu, kamu atur saja bunganya seperti biasa." Perintah Rangga sambil berjalan meninggalkan ruangan. "Kalau ada yang mencariku, bilang saja aku ada urusan pribadi."
"Baik tuan muda." Jawab sekretaris Naya singkat.
Setelah berada di luar ruangan, Rangga berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi asisten Setya.
"Setya, segera cari tau di rumah sakit mana Fiona membawa ayahnya untuk checkup. Aku tunggu kamu di depan lift. Jangan lama-lama." Setelah memberikan perintah, seperti biasa Rangga langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban.
__ADS_1
Aihhh.
Semakin lama tuan muda semakin aneh saja.
Kehadiran nona Fiona membuat tuan muda melakukan hal-hal konyol.
Dan aku juga yang kena imbasnya.
Semoga saja kehadiran nona Fiona bisa merubah tuan muda.
Mudah-mudahan tuan muda Rangga bisa kembali seperti dulu, sewaktu tuan muda Rendy masih hidup.
Melacak di mana posisi Fiona saat ini, bukanlah merupakan hal yang sulit bagi asisten Setya. Dengan bantuan dari jaringan informasi yang dimilikinya, saat ini dia sudah menemukan posis rumah sakit tempat Fiona saat ini berada.
Setelah menemukan posisi Fiona, asisten Setya langsung bergegas untuk mengikuti tuan mudanya yang sudah menunggu di depan lift.
Di depan lift, Rangga sudah berdiri dengan ekspresi masam.
"Lama sekali kamu. Apa membuatmu begitu lamban sehingga aku harus menunggu dengan lama." Padahal dia hanya menunggu sesaat saja sebelum asisten Setya datang menghampirinya.
"Maaf tuan muda, saya sedang mencari keberadaan nona Fiona." Jawab asisten Setya.
"Dan kamu sudah menemukan posisinya?"
"Sudah tuan muda." Kali ini asisten Setya langsung menyerahkan handphonenya kepada Rangga.
"Hmm. Baiklah, kita langsung menuju kesana. Jangan buang-buang waktu." Setelah mendengar ucapan Rangga, asisten Setya pun segera menekan tombol lift untuk membuka pintu.
[BERSAMBUNG...]
~Info Dari Author~
Dear, readers...
Mohon maaf, author baru bisa up malam ini.
Untuk berikutnya, akan author usahakan untuk bisa up setiap hari...
Maaf sudah membuat menunggu (itupun kalau ada yang menunggu sih... hehehe...)
Untuk info,
saat ini author sedang sedikit merevisi bab 2 tentang penyakit yang diderita oleh ayah Fiona....
Author merubah penyakit ayah Fiona dari diabetes menjadi jantung lemah...
Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini...
__ADS_1