
Rangga dan Fiona kini sedang duduk saling berhadapan di sebuah cafe. Dengan wajah tertunduk, gadis itu berusaha untuk menghindari tatapan mengintimidasi dari pria yang ada di depannya. Perasaan gundah karena takut dan gelisah kini bercampur aduk di pikiran gadis tersebut.
"Ada yang ingin kamu jelaskan sama mas?". Akhirnya Rangga memulai percakapan untuk memecahkan suasana yang tidak mengenakan itu.
"Tentang apa mas?"
"Kenapa hari ini kamu menghidariku?"
"A... Aku... tidak... se... sedang... menghindari mas kok." Jawab gadis itu dengan terbata-bata.
"Fiona, ada suatu hal harus kamu ketahui tentang mas." Kini Rangga mulai memajukan wajahnya. "Mas tidak suka jika orang yang tidak jujur. Mas sangan benci dengan kebohongan."
"Maaf mas, aku saat ini sedang kebingungan."
"Apakah ini karena lamaran dari mas?". Fiona yang mendengarnya hanya diam tanpa bereaksi. " Mas mohon Fio. Tolong jawab mas."
"I... iya mas, jujur diriku sangat kaget mendengar perkataan dari ayah. Kemarin ayah bilang mas Rangga datang untuk melamar. Saat ini aku merasa kebingungan dan tidak tau harus bagaimana. Untuk itulah aku berusaha untuk menghindari mas."
"Memang benar kemarin mas datang ke om Dirga untuk melamarmu. Dan mas minta maaf untuk hal itu. Seharusnya mas mengatakannya kepada Fio terlebih dahulu." Sesaat Rangga mengambil jeda dan kemudian berbicara kembali. "Mas tau Fio saat ini pasti sedang merasa tidak nyaman. Tapi, Fio harus percaya bahwa mas mempunyai alasan untuk melakukannya."
Setelah itu, Rangga langsung mengambil cangkir kopi yang ada di depannya. Dia menyeruput minumannya dan lalu meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Selain itu, mas janji akan membantu keluarga Fio. Mas akan mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk om Dirga. Dan untuk biaya sekolah Gilang juga Fio, semua akan jadi tanggungan mas."
"Maksud mas?" Tanya Fio yang sedikit tersinggung dengan perkataan Rangga.
"Jangan salah paham dulu. Mas tidak bermaksud untuk merendakan keluargamu. Hanya saja, mas tidak ingin jika kehidupan istri mas nanti menjadi susah."
"Pada saat Fio setuju untuk menikah dengan mas. Maka seluruh kehidupan Fio dan keluarga akan menjadi tanggungan mas."
Sejenak Fiona memikirkan perkataan dari Rangga. Sebenarnya dia juga sangat menginginkan pengobatan yang terbaik untuk ayahnya. Selain itu, dia pasti senang jika adiknya dapat meneruskan pendidikan tanpa terbebani oleh biaya.
"Jadi? Bagaimana jawabanmu? Apakah Fio menerima lamaran dari mas?"
"Entahlah, aku juga bingung bagaimana harus menjawabnya. Rasanya ini terlalu cepat. Fio butuh waktu untuk berpikir mas."
"Baiklah, mas tidak ingin memaksamu sekarang. Mas akan memberikan Fio waktu untuk berpikir."
"Terima kasih mas. Beri aku waktu satu minggu untuk berpikir."
"Tiga hari!" Potong Rangga. "Mas hanya akan memberikan waktu kepadamu selama tiga hari untuk berpikir."
Walaupun merasa agak keberatan dengan waktu yang diberikan. Tapi mau tak mau Fiona harus setuju dengan hal tersebut. "Baiklah mas, beri Fio tiga hari untuk memikirkannya."
"Sepertinya kita berdua sudah mencapai kata sepakat dalam hal ini." Akhirnya Rangga merasa sedikit puas karena Fiona menuruti perkataannya.
"Sekarang, boleh mas pinjam ponselmu sebentar?" Pinta Rangga sambil mengukurkan tangannya.
__ADS_1
"Untuk apa mas?" Balas Fiona yang sedikit bingung.
"Sudah, berikan saja! Mas tidak akan berbuat yang macam-macam dengan ponselmu."
Dengar ragu-ragu Fiona pun menyerahkan ponsel miliknya kepada Rangga. Setelah menerima ponsel miliknya, Rangga pun berkata "Tolong buka kunci layarnya."
"Ponselnya tidak dipasangi sandi mas. Tidak dikunci."
Hah?
Dia tidak memakaikan sandi pada ponselnya?
Apa dia tidak takut jika ada orang yang mengutak-atik ponsel miliknya?
Dengan cepat Rangga pun langsung mengusap layar ponsel yang dipegangnya. Setelah itu dia mengetik beberapa angka di ponsel milik Fiona.
"Ini nomor milik mas. Sudah mas simpan." Setelah itu Rangga mengembalikan ponsel milik Fiona.
"Kamu bisa menghubungi mas di nomor itu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di rumah, Fiona sedang gelisah berpikir. Tiga hari kedepan, gadis itu harus membuat sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah seluruh kehidupannya. Saat ini, dia tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah. Dia harus membicarakan hal ini dengan ayahnya.
"Ayah, boleh Fio masuk?"
"Silahkan nak. Sejak kapan ayah melarangmu untuk masuk ke kamar ayah." Setelah mendengarkan jawaban, Fiona pun langsung masuk dan duduk di samping ranjang ayah Dirga.
"Fio ingin membahas sesuatu dengan ayah."
"Apakah ini mengenai lamaran dari nak Rangga?" Tanya ayah Dirga yang sebenarnya sudah tau dengan apa yang ingin dibahas oleh puterinya itu.
"Kenapa ayah bisa tau? Padahal Fio belum mengatakan apa pun." Mendengar perkataan dari puterinya, ayah Dirga pun hanya tersenyum.
"Nak, orang tua pasti akan tau apa yang sedang dipikirkan oleh anak-anak mereka. Sekarang ceritakanlah semuanya kepada ayah."
"Sebenarnya tadi Fio bertemu dengan mas Rangga. Kami membahas tentang lamaran darinya."
"Terus, apa jawabanmu?"
"Fio belum menjawabnya ayah. Fio meminta waktu kepada mas Rangga selama tiga hari untuk berpikir."
"Nak, apakah kamu mencintainya?"
"Itulah yang membuat Fio gelisah dan kebingungan ayah. Saat ini, Fio tidak memiliki perasaan apa pun terhadap mas Rangga."
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolak lamaran darinya?" Tanya ayah Dirga dengan sedikit heran.
__ADS_1
"Mas Rangga tadi juga bilang. Jika Fio menerima lamaran darinya. Maka mas Rangga akan menanggung seluruh biaya pengobatan ayah dan juga biaya sekolah Gilang."
"Nak, sejak awal kan ayah sudah bilang. Segala keputusan ada di tanganmu." Ayah Dirga pun langsung menggenggam telapak tangan puterinya.
"Jangan menjadikan ayah dan adikmu sebagai beban untuk keputusanmu. Lakukanlah itu untuk masa depanmu sendiri."
"Ayah tak ingin kamu menikah dengan nak Rangga hanya demi ayah dan adikmu. Ayah ingin kamu menikah karena kamu mencintainya."
"Tapi ayah. Fio juga sangat ingin melihat ayah bahagia."
"Nak, kebahagian orang tua adalah saat melihat anak-anak mereka juga bahagia. Ayah tak ingin melihat dirimu menikah hanya untuk menjadi tidak bahagia pada akhirnya."
Akhirnya ayah Dirga pun menutup pembicaraan mereka denga sebuah nasehat. "Nak, raihlah kebahagiaanmu sendiri. Ayah yakin nak Rangga itu adalah pria yang baik untukmu. Tapi, jika kamu memang tidak mencintainya. Maka janganlah memaksakan dirimu."
"Terima kasih ayah. Sepertinya Fio sudah menemukan jawabannya."
"Baguslah kalau begitu. Apa pun keputusanmu, ayah akan tetap mendukungnya."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah berkutat dengan batinnya selama tiga hari. Tibalah saatnya bagi Fiona untuk memberikan jawaban kepada Rangga.
Saat ini dia sedang duduk di depan meja riasnya. Dengan perlahan, Fiona membuka laci di meja riasnya dan mengabil kotak kecil itu kembali. Dia menatap kalung pemberian dari pria di masa kecilnya dengan tatapan sendu.
Kak Aya.
Maafkan Fio karena harus melepaskan janji kita.
Fio sudah berusaha.
Tapi sampai saat ini kak Aya tak pernah datang untuk menepati janjimu.
Kak Aya.
Semoga dirimu juga bahagia.
Biarlah Fio menyimpan kenangan ini di sudut hati yang paling dalam.
Setelah selesai menyimpan kalung itu kembali. Fiona pun meraih ponsel miliknya. Dengan perlahan dia mencari kontak milik Rangga dan menghubunginya.
"Halo, mas Rangga?"
"Iya, saya sendiri. Ada apa Fio?" Balas Rangga dari seberang telepon.
"Mas, bisakah kita bertemu hari ini?"
"Tentu saja bisa. Apakah dirimu sudah membuat keputusan?" Tanya Rangga yang sebenarnya saat ini pun sudah gugup menunggu jawaban dari Fiona.
__ADS_1
"Ya, dan saat ini aku ingin mengatakannya langsung kepada mas Rangga. Aku akan memberikan jawabannya hari ini juga."
[BERSAMBUNG...]