
Saat ini Fiona dan keluarganya tengah berada di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Rangga. Suasana di dalam mobil tersebut sangatlah canggung. Fiona hanya duduk melamun sambil menatap ke arah luar dari jendela kacanya. Sedangkan Rangga hanya terus sibuk memperhatikan jalan di depannya sambil memikirkan bahan untuk membuka percakapan.
"Nak Rangga, kalau boleh om tau kamu kenal putri om di mana?" Akhirnya ayah Dirga pun membuka percakapan di antara mereka.
"Emm. Itu om, aku kenal Fio di..." Pertanyaan dari ayah Dirga membuat Rangga kebingungan untuk menjawabnya.
"Fio sering mengantarkan bunga ke perusahaan mas Rangga ayah." Dengan cepat Fiona langsung gantian menjawab pertanyaan dari ayahnya. Dia paham betul bahwa Rangga pasti kebingungan untuk menjawabnya. Jangankan Rangga, Fiona sendiri pun sampa saat ini masih bingung dengan hubungan di antara mereka.
"Oh begitu ya. Memangnya nak Rangga kerja di perusahaan apa?" Setidaknya, walaupun sekarang ayah Dirga sudah bukan lagi seorang pengusaha tapi beliau masih mengenal beberapa perusahaan besar dan juga pemiliknya. Sewaktu masih mempin perusahaannya, ayah Dirga sering bekerja sama dengan beberapa perusahaan papan atas baik dari Indonesia maupun darinluar negeri.
"Saya bekerja di perusahaan Tanubrata om." Jawab Rangga yang membuat ayah Dirga sedikit terperanjat. Siapa yang tidak kenal dengan Tanubrata Grup, salah satu perusahaan terbesar di Asia.
"Mas Rangga adalah pimpinan dari perusahaan tersebut." Sambung Fiona yang membuat ayahnya semakin terkejut.
"Pimpinan? Nak Rangga siapanya tuan Rendy?" Kali ini ayah Dirga semakin penasaran untuk mengetahui identitas dari orang yang ada di depannya ini.
"Saya adalah adiknya. Sepeninggalan mendiang kak Rendy, saya menggantikannya untuk memimpin perusahaan keluarga kami."
"Pantas saja dari tadi aku merasa tidak asing dengan wajahnya." Gumam ayah Dirga dalam hati.
"Oh begitu rupanya. Om cukup mengenal mendiang kakakmu. Beliau adalah seorang pebisnis yang sangat handal, padahal usianya saat masih sangat muda."
"Kalau dengan mendiang ayahmu, om sangat kenal baik. Om dan mendiang ayahmu dulu sering menjadi rekan bisnis. Om tak percaya kalau saat ini malah bertemu dengan putera dari Willy Tanubrata." Ungkap ayah Dirga sambil mengenang masa-masa di mana dia menjadi seorang pengusaha yang sukses.
"Wah, ternyata om juga mengenal mendiang ayah dan kakak saya ya?" Kali ini Rangga bertanya dengan ekspresi yang pura-pura terkejut. Padahal sebelumnya dia sudah menyelidiki latar belakang dari keluarga ini.
"Mereka berdua adalah orang-orang terhebat yang pernah om kenal. Begitulah kehidupan nak Rangga. Kita tak bisa menebak apa yang akan terjadi kedepannya. Semua sudah diatur oleh Tuhan."
Sejak tadi, Fiona hanya diam sambil mendengarkan percakapan dari kedua orang ini. Dia merasa enggan untuk ikut berbicara. Hanya saja ada sedikit keterkejutan di dalam hatinya setelah mengetahui bahwa ayahnya mengenal keluarga dari Rangga.
Di satu sisi, Gilang yang sejak tadi memang tidak terlibat dengan percakapan yang terjadi di dalam mobil itu. Anak itu hanya terus fokus dengan handphone yang ada di tangannya. Setelah selesai membalas chat dari teman-temannya, dia kemudian mengankat kepalanya dan mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Kak Rangga dan kak Fiona pacaran ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari bibirnya yang polos.
"Hah!" Sontak Fiona dan Rangga memberikan reaksi secara bersamaan.
"Bicara apa kamu dek? Jangan sembarangan! Kak Fio dan mas Rangga hanya berteman saja." Fiona berusaha untuk memberikan penjelasan agar ayah dan adiknya tidak menjadi salah paham. Di lain pihak, Rangga sendiri memilih untuk diam tak ikut menjawab. Namun samar-samar kedua ujung bibirnya sedikit terangka menandakan senyuman yang tersirat.
"Oh, Gilang pikir kak Rangga dan kak Fiona memang betul-betul pacaran." Balasnya dengan santai.
"Ide kamu bagus juga Gilang." Sahut Rangga sambil menatap Fiona dengan senyuman genit.
"Mas Rangga apaan sih? Jangan membuat adik dan ayahku salah paham. Lagi pula, itu bukanlah sebuah ide". Jika saat ini ada doraemon, tentu Fiona akan langsung memintanya untuk mengeluarkan pintu di mana saja sehingga dia bisa kabur dari tempat ini. Saat ini dia sudah sangat malu dan gugup. Wajahnya sudah sangat merona seperti udang rebus karena malu.
"Maaf, aku hanya bercanda kok." Jawab Rangga sambil tak kuasa untuk menahan tawanya. Sedangkan Gilang hanya menatap mereka berdua.
"Apanya yang tidak pacaran? Dasar kak Fiona, pura-pura lugu!" Humam Gilang dalam hatinya.
Berbeda dengan ayah Dirga. Sejak tadi dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya beliau juga sudah bisa menebak. Walaupun kecil kecil, tapi ada kemungkinan bahwa Rangga sedang berusaha untuk mendekati puterinya.
Di satu sisi, ayah Dirga merasa bahagia jika nanti Fiona bisa menemukan pendamping hidupnya. Dengan ini dia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Tapi di sisi lain, ayah Dirga juga merasa ada kekuatiran di dalam benaknya. Beliau masih tidak percaya bahwa tuan muda dari keluarga konglomerat ini tertarik dengan putrinya. Biasanya orang-orang kaya enggan untuk dekat dengan orang-orang miskin kecuali ada maksud tertentu.
"Ayah kenapa?" Tanya Gilang yang sejak tadi melihat ekspresi ayahnya yang agak aneh.
"Eh! Ayah baik-baik saja kok. Hanya sedikit merasa lelah saja." Jawab ayah Dirga setelah tersadar dari pemikirannya.
"Sebentar lagi kita sampai di rumah. Setelah itu ayah langsung makan, minum obat dan istirahat ya." Sambung Fiona yang merasa agak sedih melihat ayahnya yang sudah kelelahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Wijaya. Sebuah rumah yang sangat sederhana namun tetap terlihat begitu indah dan asri.
Setelah memarkirkan mobil, Rangga langsung keluar untuk membukakan pintu bagi Fiona dan juga ayah Dirga. Dengan perlahan Fiona memapah ayahnya berjalan ke dalam rumah yang dibantu oleh Gilang.
__ADS_1
"Nak Rangga tidak mampir dulu?" Tanya ayah Dirga sambil menyuruh Fiona untuk membuatkan secangkir teh untuk Rangga.
"Saya langsung balik saja om. Saya tidak ingin merepotkan. Lagi pula om kan harus istirahat" Balas Rangga yang menolak dengan halus.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuan nak Rangga kepada keluarga om".
"Sama-sama, saya senang kok bisa membantu." Sesaat Rangga terdiam sejenak. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia sampaiakan. Tapi dia bingung bagaimana cara untuk mengatakannya.
"Ada apa nak? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan." Tanya ayah Dirga bisa menebak ekspresi dari pemuda itu.
"Emm. Anu om." Jawab Rangga dengan sedikit terbata. "Sebenarnya besok saya ingin mengundang keluarga om untuk makan malam di restoran." Akhirnya kata-kata tersebut berhasil lolos dari bibir pemuda itu.
Fiona bersama adik dan ayahnya sontak dibuat terkejut dengan undangan dari Rangga. Mereka bertiga saling menukar pandangan dengan tatapan bingung.
"Keluarga om sangat berterima kasih atas undangan dari nak Rangga." Akhirnya ayah Dirga yang berinisiatif untuk berbicara.
"Namun, nak Rangga bisa melihat sendiri kan bagaimana kondisi om saat ini. Kalau Fiona dan Gilang mau, mereka bisa pergi ikut kok. Om nanti menunggu di rumah saja."
"Tapi ayah, Fiona dan Gilang tidak mungkin meninggalkan ayah di rumah sendirian." Protes dari Fiona yang otomatis membuat wajah Rangga sedikit pias. Dalam hatinya sudah pasti rencana makan malam ini akan gagal.
"Hmm. Begini saja. Bagaimana kalau besok nak Rangga yang om undang untuk makan malam di rumah kami?" Usul ayah Dirga. Disatu sisi beliau tidak ingin membuat anak-anaknya kuatir. Sedangkan di sisi yang lain, beliau juga merasa tidak ingin mengecewakan Rangga.
"Anggap saja ini sebagai ungkapan terima kasih dari keluarga kami." Ucapan ayah Dirga begitu tulus terdengar di telinga Rangga.
"Kak Rangga tenang saja, masakan kak Fio semuanya enak loh." Sambung Gilang dengan antusias. Sedangkan Fiona hanya tertunduk malu mendengarnya.
"Bagaimana? Nak Rangga mau kan menerima undangan dari kami?" Tanya ayah Dirga kembali.
Rangga sejenak memikirkan undangan dari keluarga ini. Walaupun ajakannya untuk makan malam di restoran mahal menjadi gagal, setidaknya dia mendapatkan ganti yang lebih besar lagi. Undangan makan malam dari keluarga Wijaya membuat hatinya senang dengan ketulusan dari keluarga ini.
"Baiklah. Saya menerima undangan dari om dengan senang hati." Jawabnya dengan senyum. "Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya om."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan ya nak. Dan satu lagi, nak Rangga tidak perlu berbicara dengan formal sama om." Setelah itu Rangga pun langsung memutuskan untuk kembali ke kantornya denga hati yang berbunga-bunga.
[BERSAMBUNG...]