
Malam ini, Rangga dan asisten Setya dijamu oleh keluarga Wijaya. Di meja makan, semua orang sudah sudah berkumpul untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Ayah Dirga, Fiona dan Gilang sedari tadi hanya memperhatikan Rangga dan asistennya yang terlihat begitu menikmati makanan mereka. Sedangkan kedua orang itu menikmati makanan mereka dengan lahap tanpa memperdulikan tiga pasang mata yang sedang menatap.
"Wah, hidangannya enak om." Ucap Rangga sambil melahap sepotong paha ayam yang dimasak dengan saus inggris.
"Nak Rangga suka ya?" Tanya ayah Dirga sambil menghirup aroma teh herbal di cangkirnya.
"Ia om, lebih enak dari masakan koki di rumah" Jawab Rangga dengan tulus.
Di rumah keluarga Tanubrata memang mempekerjakan beberapa koki handal. Semua masakan yang buat oleh para koki di rumah mereka memang sangat enak dan sesuai dengan standar gizi. Namun, baru kali ini Rangga merasakan masakan yang jauh lebih enak dari pada masakan di rumahnya.
"Di rumah nak Rangga ada koki?" Tanya ayah Dirga kembali.
Dahulu, seluruh urusan dapur di keluarga Wijaya ditangani langsung oleh mendiang ibu Ayu. Padahal waktu itu mereka masih merupakan keluarga yang kaya raya. Namun, mereka bukanlah keluarga manja yang terlalu bergantung pada jasa ART.
"Iya om, soalnya mamaku tidak bisa memasak. Begitu juga dengan adikku, mereka berdua sama saja." Jawab Rangga kembali dengan cuek.
"Aih. Tuan muda. Kenapa anda malah membuka aib keluarga sendiri." Gumam asisten Setya dalam hatinya.
"Om, Rangga boleh bertanya?" Seakan mendapat persetujuan dari anggukan ayah Dirga, Rangga pun mulai lanjut berbicara. "Ini pesan di restoran mana ya om? Kok beda rasanya?"
"Hahaha" ayah Dirga akhirnya tertawa lepas setelah mendengarkan pertanyaan yang keluar dari mulut Rangga.
"Ini semua putri om yang masak." Fiona yang mendengarkan pujian dari ayahnya pun hanya tersipu malu.
"Hah? Benar Fio yang masak om?" Rangga menatap ayah Dirga dan Fiona bergantian. Rasanya agak sulit untuk mempercayai ucapan yang baru dia dengar.
"Wah. Ternyata nona Fiona memang pintar memasak. Sangat cocok dengan tuan muda yang mempunyai selera tinggi dalam hal makanan." Kembali asisten Setya hanya berkomentar dalam hatinya.
"Bakat memasak kak Fio itu menurun dari mendiang ibu. Dulu mendiang ibu adalah seorang koki loh kak Rangga" sambung Gilang yang saat ini mulai ikut dalam percakapan.
"Oh pantas saja masakannya enak" gumam Rangga.
"Sudah cantik, pintar masak pula. Fiona memang cocok untuk jadi calon istri." Gumam Rangga dengan spontan dan cuel sambil menikmati makanannya.
Disaat Rangga mengatakan hal tersebut dengan santai. Berbeda dengan yang lainnya, mereka terkejut dengan perkataan spontan dari pemuda itu. Fiona agak tersedak mendengarkan perkataan dari Rangga dan langsung meminum air yang ada di gelasnya. Wajahnya sudah terlihat seperti udang rebus. Sedangkan ayah Dirga dan Gilang yang sesaat terkejut akhirnya hanya saling bertukar pandang dan kemudian tersenyum.
"Tuan muda! Anda sadar dengan ucapan anda tersebut?" Sebenarnya asisten Setya ingin mengucapkan kata-kata tersebut. Namun dia hanya bisa menahannya di dalam hati.
Acara makan malam pun berlanjut kembali. Walaupun hanya merupakan jamuan yang sederhana, namun terasa begitu spesial bagi semua orang.
__ADS_1
Setelah selesai makan, kegiatan mereka kini dilanjutkan dengan percakapan di ruang tamu. Rangga dan ayah Dirga bercerita tentang dunia bisnis. Ayah Dirga yang sudah berpengalaman di dunia itu sesekali memberikan masukan untuk Rangga.
Kehangatan yang diberikan oleh keluarga Wijaya pada malam itu membuat Rangga merasa nyaman. Dia terlihat begitu lepas dan bersemangat ketika berbicara dengan ayah Dirga.
Asisten Setya hanya duduk di samping Rangga tanpa banyak berbicara. Sesekali dia menjawab pertanyaan dari ayah Dirga.
Apa aku tidak salah lihat?
Tuan muda tersenyum dan tertawa dengan lepas.
Tuan muda seperti kembali ke dirinya yang dulu lagi.
Akhirnya, tanpa disadari waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam. Rangga dan asisten Setya harus kembali untuk pulang. Sedangkan ayah Dirga pun sudah harus kembali beristirahat.
"Om, kami permisi dulu untuk pulang." Pamit Rangga kepada ayah yang sudah mengantarkan mereka di depan pintu.
"Terima kasih untuk jamuannya malam ini. Kapan-kapan Rangga ingin membalas dengan mengajak keluarga om untuk makan malam bersama."
"Tidak perlu repot-repot nak. Om justru berterima kasih karena nak Rangga sudah menerima undangan dari keluarga kami."
"Baiklah, kami permisi dulu om. Fio terima kasih ya untuk makanannya."
Setelah Rangga dan asisten Setya pulang, Fiona langsung bergegas untuj membersihkan meja makan. Dibantu oleh Gilang, mereka berdua merapikan meja kembali dan menyusun tumpukan piring kotor.
"Fio, sepertinya nak Rangga punya perasaan sama kamu." Ucap ayah Dirga sambil datang menghapiri mereka.
"Betul ayah, Gilang juga dari tadi memperhatikan mata kak Rangga yang terus menatap kak Fio." Sambung Gilang untuk memperkuat perkataan ayahnya.
"Itu tidak mungkin ayah. Fio dan mas Rangga juga belum sedekat itu." Balas Fiona sambil tersenyum.
"Lagi pula, mas Rangga itu berasal dari keluarga kaya. Kita hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak mungkin mas Rangga mau untuk menjadikan Fio sebagai pendampingnya."
"Saat ini, Fiona juga belum berpikiran untuk mencari pendamping hidup. Fio hanya ingin fokus untuk menyelesaikan kuliah." Jelas Fiona yang memang belum punya pikiran untuk berumah tangga.
"Hmm. Perasaan ayah tidak menyinggung soal pendamping hidup." Balas ayah Dirga sambil tersenyum jahil.
"Ah, ayah. Jangan menggoda Fio terus. Kan jadi malu." Ucap Fiona yang merasa salah tingkah.
"Ya sudah, kami sama Gilang teruskan saja pekerjaan kalian. Ayah mau kembali ke kamar dulu."
"Baiklah, ayah istirahat dulu. Selesai membereskan meja, Fio akan mengantarkan obat untuk ayah di kamar."
__ADS_1
"Gilang, kamu antar ayah ke kamar ya. Nanti kak Fio saja yang membereskan ini semua." Pinta Fiona kepada adiknya.
"Oke!" Jawab Gilang singkat.
Di dapur, Fiona sedang yang sedang sibuk mencuci piring tampak tidak fokus. Dia sedang memikirkan perkataan dari ayahnya tadi.
"Apa benar ucapan ayah tadi? Mas Rangga punya perasaan sama aku?"
"Perlakuan mas Rangga memang agak aneh juga sih akhir-akhir ini."
"Ah, itu tidak mungkin. Lagi pula mas Rangga kan dari keluarga kaya. Mana mau dia sama gadis miskin sepertiku." Akhirnya dia kembali menepis semua yang ada di pikirannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kediaman kelurga Tanubrata.
Saat ini Rangga sedang menikmati angin malam di balkon kamarnya. Dia duduk di sofa sambil meneguk minuman alkohol dari gelas sloki.
Saat ini pikirannya sedang bingung. Tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya dia merasakan ada kehangatan dari sebuah keluarga. Bukan kehangatan dari keluarga Tanubrata, melainkan dari keluarga Wijaya.
Sudah lama dirinya merindukan sebuah kehangatan kekuarga yang seperti ini. Dahulu, cahaya kehangatan pernah hinggap di keluarga Tanubrata. Saat itu, jumlah anggota keluarga mereka masih lengkap.
Setelah selesai melamun, Rangga kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten Setya.
"Setya, aku punya tugas untukmu. Mulai besok, kamu harus mencari tau semua kegiatan dari keluarga Wijaya."
"Baik tuan muda. Ada lagi?" Terdengar jawaban asisten Setya dari seberang telpon.
"Cari tau jadwal chek up kesehatan dari tuan Dirga. Kamu pastikan untuk melunasi semua biayanya. Selain itu, lunasi juga semua biaya sekolah Gilang dan kuliah Fiona sampai tamat."
Setelah selesai mengucapkan perintahnya, Rangga langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari asisten Setya.
Fiona.
Saat ini aku sudah memutuskan untuk mendapatkan dirimu.
Apa pun yang terjadi.
Kau harus menjadi milikku.
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1