
Suasana di Toko Bunga 'Ambar' hari ini sedang ramai. Para karyawan toko begitu sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Maklum saja, hari ini adalah hari wisuda untuk perguruan tinggi sehinggah jumlah pesanan untuk karangan bunga melonjak.
Pada waktu yang bersamaan ada sebuah mobil sedan Ferrari berwarna merah yang berhenti tepat di depan toko. Setelah mobil mewah tersebut terparkir, seorang pria muda yang tampan pun akhirnya keluar dari dalam mobil itu. Pria muda dengan setelan jas berwarna biru donker dan memakai kaca mata hitam memandang ke arah toko sambil mengamati.
Merasa menemukan sosok yang dicarinya, pria tersebut akhirnya tersenyum sambil membuka kaca matanya. Tatapan mata dari pria itu sungguh dapat membuat hati para wanita luluh seketika. Dia terus menatap ke arah seorang gadis jelita yang sedang sibuk melayani para pembeli.
Setelah puas menatapnya, pria tersebut akhirnya berjalan menuju gadis pujaan hatinya.
"Selamat pagi gadis cantik." Sapaan dari pria tersebut membuat gadis pujaan hatinya mengangkat wajahnya.
"Eh, pak Dimas." Gadis tersebut tersenyum sambil menyapa pelanggan tetapnya itu "Tumben pagi-pagi sudah datang kesini"
"Waduh cantik, aku kan sudah bilang jangan panggil pak. Lagi pula umurku tidak setua itu untuk disandingkan dengan bapak-bapak." Ucap Dimas dengan ekspresi pura-pura cemberut. "Panggil namaku saja, atau bisa juga dipanggil mas."
"Iya deh, aku panggil mas Dimas saja." Ucap gadis itu dengan senyum merekah.
Itulah yang membuat hati dari Dimas seorang pengusaha sukses begitu kepincut dengan gadis yang ada di depannya ini. Selain berwajah cantik, gadis tersebut sangat sopan dan ramah terhadap semua orang. Dia selalu menampilkan senyuman yang tulus jika sedang berbicara dengan orang lain.
Fiona.
Andai saja kamu mengetahui perasaan hatiku.
Ingin rasanya diriku untuk memilikimu.
"Mas..."
"Mas Dimas..."
"Eh, ada apa cantik?" Dimas pun akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Mas kenapa? Kok malah melamun sih?" Tanya Fiona yang sudah sejak tadi memanggilnya.
"Tidak kok, mas hanya membayangkan wajah cantikmu saja." Jawab Dimas dengan senyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Mas memang paling jago kalau urusan gombal." Fiona pun akhirnya hanya tertawa kecil melihat ekspresi salah tingkah dari Dimas "Aku tadi bertanya, mas mau pesan buket bunga yang mana?"
"Oh iya, hampir lupa. Aku mau pesan buket bungan mawar untuk wisuda adik aku." Sambil mengambil jeda, Dimas kemudian melajutkan perkataannya "Tolong buatkan dua buket ya".
"Baik mas. Aku siapkan dulu. Mohon tunggu sebentar ya." Ucap Fiona sambil mulai mempersiapkan pesanan dari pelanggannya itu.
Jangankan sebentar.
Bertahun-tahun pun aku rela menunggu hatimu.
"Ini mas, buket bunga mawar pesanannya sudah jadi." Dimas pun langsung membayar pesanan bunganya itu. Setelah selesai membayar, dia menatap dua buket bunga mawar yang diberikan oleh Fiona.
"Loh, kok cuma satu yang ambil mas? Yang satunya lagi kenapa tidak diambil?" Fiona bertanya dengan heran kepada Dimas yang hanya mengambil satu buket saja.
"Yang satunya lagi buat kamu cantik." Dimas mengedipkan sebelah matanya kepada Fiona.
__ADS_1
"Ya sudah, mas pergi dulu ya. Takutnya terlambat." Ucap Dimas seraya membalikan badan untuk menuju ke mobilnya.
"Hati-hati di jalan ya mas. Terima kasih buat bunganya." Hari ini hati Fiona merasa sangat bahagia. Walaupun dia sudah lama bekerja di temoat ini, tapi baru kali ini dia menerima buket karangan bunga dari seseorang.
"Wah, kayaknya hari ini ada yang lagi bahagia nih." Tiba-tiba terdengar suara seorang pria paru baya yang menjadi pemilik dari toko bunga tersebut.
"Eh, paman Danu. Tidak kok." Fiona membalas perkataan dari pemilik toko tersebut sambil tersenyum menatap buket bunga yang dipegangnya.
"Nak Fio. Kesini sebentar, paman mau biacara." Ajak paman Danu sambil menunjuk ke arah meja. Fiona pun mengikutinya kemudian meletakan buket bunga mawar tersebut di atas meja lalu duduk di kursi.
"Nak Fio. Kamu sekarang sudah dewasa. Sudah saatnya bagi dirimu untuk memikirkan masa depan." Paman Danu sudah mengenal Fiona sejak kecil. Dia selalu menganggap Fiona sebagai puterinya sendiri. Mungkin karena paman Danu tidak memiliki anak perempuan sehingga dia begitu sayang kepada Fiona. Kedua anak paman Danu semuanya adalah laki-laki yang kini sudah memiliki keluarga masing-masing.
"Mungkin sudah saatnya bagi nak Fio untuk mencari pendamping hidup. Paman lihat nak Dimas itu begitu perhatian terhadapmu." Paman Danu hanya berharap bahwa dengan menikah maka Fiona tidak perlu lagi bekerja keras untuk membiayai keluarganya. Dengan menikah, pasti segala kebutuhan akan dipenuhi oleh suaminya. Dia tidak tega melihat Fiona yang masih begitu muda tapi sudah memikul beban kehidupan yang begitu berat.
"Paman, untuk saat ini prioritas utama Fio hanyalah kesembuhan dari ayah serta sekolahnya Gilang. Fio belum nemikirkan untuk berumah tangga." Fiona akan merasa sangat bersalah jika dia menikah nanti. Pastinya setelah menikah dia harus menelantarkan ayah dan adiknya itu. Untuk itulah dia selalu menolak untuk menjalin hubungan dengan pria manapun. Sebenarnya, sudah banya pria yang berusaha mendekati bahkan melamarnya. Tapi Fiona selalu menolak.
"Lagi pula saat ini Fio kan masih harus menyelesaikan kuliah dulu."
"Ya sudah. Apapun keputusan nak Fio, paman percaya." Ucap paman Danu dengan penuh kasih sayang.
"Hari ini Fio ada jadwal kuliah?"
"Iya paman, sebentar siang Fio ada kelas di kampus."
"Kalau begitu kamu pulang saja, persiapkan dirimu untuk masuk kelas. Belajar yang rajin yah nak. Jangan sia-siakan beasiswamu."
"Baiklah, Fio pulang dulu. Terima kasih untuk nasehat paman. Fio akan selalu mengingatnya." Fio langsung menempelkan dahinya di punggung telapak tangan paman Danu. Dia begitu hormat kepada majikan yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.
Sesampainya di rumah, Fiona langsung meletakan buket bunga mawar pemberian Dimas di atas meja ruang tamu. Dia kemudian bergegas menuju ke kamar ayahnya.
Di dalam kamar, Fiona melirik ke arah ranjang. Dia pun langsung tersenyum dan melangkah menuju ayahnya yang sedang beristirahat. Dirga Wijaya saat itu sedang tidur dalam kondisi yang lemah.
Saat ini Fiona sudah duduk di samping ranjang milik ayahnya. Dia menatap dengan lirih wajah dari ayahnya yang sedang tertidur.
Ayah.
Kumohon.
Ayah harus kuat.
Ayah harus bertahan.
Masih ada aku dan adik Gilang yang membutuhkan ayah di sini.
Dahulu, Dirga Wijaya adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia menggeluti bidang usaha property yang sudah dirintisnya saat masih muda. Dibalik kesuksesannya itu, ada seorang istri serta dua anak yang selalu mendapinginya. Dia begitu mencintai istri dan kedua anaknya. Bagi dirinya, mereka adalah sumber kekuatan serta penyemangat bagi dirinya.
Namun, sejak istrinya meninggal akibat penyakit kanker. Kehidupan ayah Dirga menjadi hampa. Dia terlalu larut dengan kesedihan bahkan sampai melupakan pekerjaan serta sempat mengabaikan kedua anaknya.
Terus-menerus berada di dalam kesedihan membuat kondisi fisiknya menurun. Enam tahun yang lalu, dokter memvonis bahwa ayah Dirga menderita penyakit jantung lemah. Saat itu Fiona masih duduk di bangku SMP, sedangkan Gilang masih duduk di bangku SD.
__ADS_1
Demi memfokuskan diri pada penyembuhan, akhirnya ayah Dirga menunjuk adiknya untuk bertanggung jawab terhadap perusahaan. Awalnya, Yuda melaksanakan tugas dari kakaknya denga penuh tanggung jawab. Namun, Yuda sebenarnya adalah orang yang serakah. Sejak dulu, dia berambisi untuk menguasai perusahaan milik kakaknya.
Akhirnya, Yuda berhasil memanipulasi seluruh saham dan aset perusahaan. Perusahaan yang dirintis oleh ayah Dirga sepenuhnya berpindah tangan kepada Yuda.
Setelah kehilangan segalanya, akhirnya ayah Dirga memutuskan untuk menjual rumah mewah milik mereka satu-satunya dan membeli sebuah rumah kecil untuk ditinggali. Karena kondisinya yang sudah sakit-sakitan, akhirnya Dirga harus pasrah melihat puterinya harus bekerja part time untuk mebiayai kehidupan mereka.
Ayah.
Aku akan terus berjuang demi kesembuhanmu.
Sosok seorang ayah adalah cinta pertama bagi puterinya.
Maka.
Komohon.
Ayah harus bertahan.
Ayah adalah cinta pertamaku.
Fiona pun membetulkan posisi tidur dari ayahnya. Dia menarik selimut menutupi ayahnya agar tidak masuk angin. Setelah itu, dia menggenggam tangan ayahnya lalu menempelkan di pipinya. Tak terasa air mata mengalir membasahi pipinya dan juga tangan dari ayahnya.
"Putri ayah sudah pulang ya?" Tanya sang ayah kini sudah bangun dan membuka matanya. Fiona langsung cepat-cepat mengelap air matanya. Dia tak ingin sang ayah melihat dirinya sedang menangis.
"Sudah ayah, hari ini Fio pulang cepat dari toko paman Danu." Dengan menyembunyikan kesedihannya, dia menatap wajah ayahnya dengan senyum yang hangat. "Hari ini Fio ada kelas di kampus".
"Kalau begitu kamu cepat-cepat bersiap ke kampus." Sang ayah kemudian mengelus kepala dari putrinya denga lemah. "Tidak perlu khawatir, ayah baik-baik saja kok".
"Fio minta maaf ayah. Harusnya Fio itu menjaga ayah."
"Sudah, kamu fokus saja untuk menyelesaikan kuliahmu nak. Jangan sia-siakan beasiswa mu."
"Tapi Fio tidak bisa meninggalkan ayah sendiri di rumah."
"Kan sebentar lagi adikmu pulang sekolah. Jadi puteri ayah tidak perlu cemas."
"Baik ayah. Fio janji selesai kelas nanti akan langsung pulang untuk menjaga ayah." Setelah mencium tangan ayahnya Fiona langsung berdiri untuk menuju ke kamarnya.
"Ayah jangan lupa minum obat ya. Supaya cepat sembuh."
"Terima kasih nak." Balas ayah Dirga menatap punggung putrinya yang kemudian menghilang di balik pintu.
Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini.
Ayah telah menyebabkan hidup kalian menderita.
Ayu.
Mas mohon.
__ADS_1
Tolong lindungilah putera dan puteri kita dari surga.
[BERSAMBUNG...]