
Beberapa hari pun telah berlalu sejak acara makan malam di rumah keluarga Wijaya. Saat ini Fiona kembali bergelut dengan kegiatan kesehariannya. Dia tetap bekerja seperti biasa di toko bunga 'Ambar' sebagai seorang florist sambil tetap menjalankan kuliahnya.
Seperti biasa, Fiona tak pernah absen untuk mengatarkan rangkaian bunga di kantor Tanubrata Grup. Perusahaan itu merupakan salah satu pelanggan tetap dari toko bunga milik paman Danu.
Di lain pihak, Rangga selalu datang berkunjung ke rumah keluarga Wijaya. Dia selalu datang dengan alasan untuk sekedar berdiskusi atau meminta nasehat dari ayah Dirga mengenai bisnis. Karena itulah Fiona tidak tertalu mempermasalahkan hal tersebut. Lagi pula dia tidak terlalu paham dengan dunia yang pernah digeluti oleh sang ayah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat ini, Fiona sedang berada di ruang galeri lukis milik kampus tempatnya kuliah. Tangannya yang mungil begitu cekatan menggerakkan kuas pada sebuah kanvas putih. Sebagai seorang mahasiswi jurusan seni, dia memang sangat berbakat dalam hal melukis.
"Fio, kamu masih belum selesai?" Tanya Kesya yang sudah berdiri di sampingnya. "Ini sudah jam makan siang loh. Kita ke kantin yuk."
"Sebentar lagi, aku masih belum lapar. Kamu duluan saja ke kantin." Jawab Fiona sambil terus berkonsentrasi pada kanvas di depannya.
"Kamu itu ya, kalau sudah di depan kanvas pasti lupa waktu. Ya sudah, aku duluan ya. Perutku sudah keroncongan dari tadi."
"Hemm." Hanya ini jawaban yang keluar dari bibir mungil Fiona.
Kesya pun hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban dari Fiona. Dia tau betul dengan sifat dari sahabatnya itu. Jika sudah berkaitan dengan hobinya. Fiona pasti akan lupa dengan dengan segalanya. Akhirnya Kesya memutuskan untuk segera menujunke kantin sendirian.
"Emm. Semuanya sudah. Tapi, aku masih bingung. Bagaiman menggambar eksperi wajahnya?" g
Gumam Fiona sambil menatal lukisan seorang wanita yang sedang duduk di taman.
Lukisannya sudah hampir sempurna dengan paduan warna yang serasi. Hanya bagian wajahnya saja masih kosong. Saat ini Fiona kebingungan untuk menggambar ekspresi wajah dari wanita yang ada di lukisannya itu.
"Kira-kira ekspresi apa yang bagus ya? Kalau aku buat sedang bersedih, rasanya terlalu melankolis."
"Wajahnya mana? Kok masih kosong?" Tanya seseorang yang sedang berdiri tepat di belakang Fiona.
"Aku masih bingung untuk menggambarnya." Jawab Fiona yang belum menyadari sosok yang sedang mengamatinya dari belakang.
"Apa aku buat sedih saja ya ekspresinya? Atau..." Fiona pun menghentikan ucapannya sambil cepat-cepat membalikan tubuh ke arah belakang.
"Eh! Mas Dimas?"
"Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Fiona yang masih dalam keadaan terkejut.
Dimas pun hanya menatapnya dengan senyuman manis. Aura ketampanan memancar dari wajahnya.
"Aku tau kalau wajahku memang tampan. Tak perlu melihat melihatku dengan tatapan seperti itu. Nanti bisa naksir loh."
Perkataan dari Dimas sontak membuat wajah Fiona menjadi merah seperti udang rebus. Dia kemudian menundukkan wajahnya karena malu.
"Mas kenapa bisa ada di sini?" Fiona kembali mengulangi pertanyaanya setelah berhasil menguasai dirinya lagi.
"Emm. Mas tadi hanya kebetulan lewat." Jawab Dimas dengan sedikit tergagap. "Mas tadinya sedang mengurus ijazah adik mas yang baru saja lulus."
__ADS_1
Kenyataan yang sebenarnya adalah tadi pagi Dimas mampir ke toko bunga. Dia datang ke toko itu untuk bisa melihat Fiona. Tapi sayangnya pak Danu memberitahukan bahwa Fiona sedang ada di kampus.
Karena ingin bertemu dengan Fiona, akhirnya Dimas menawarkan diri untuk mengantarkan adiknya ke kampus. Kebetulan, adiknya berada di kampus yang sama denga Fiona.
Sayangnya setelah sampai di kampus, Dimas justru malah meninggalkan adiknya sendiri di gedung administrasi. Dia langsung berlarian menuju ke gedung jurusan seni. Setelah bertanya kepada beberapa mahasiswa, akhirnya dia bisa mendapatkan informasi di mana Fiona berada.
"Oh begitu ya. Terus, kenapa mas bisa tau kalau Fio ada di sini?"
"Tadi mas tersesat di kampus ini. Dan setelah berkeliling, tanpa sengaja mas melihat kamu di ruangan ini" Fiona yang apda dasarnya memmang polos tidak bisa melihat kebohongan Dimas.
"Ya sudah, mas kan bisa langsung menelpon adiknya mas."
"Oh iya, mas hampir lupa." Dengan gugup Dimas langsung meraih ponsel yang ada di dalam sakunya.
Setelah berpura-pura untuk mencari kontak yang ada, Dimas langsung segera menekan tombol power.
"Waduh, ponsel mas mati. Tadi mas lupa untuk mengisi baterainya." Ucap Dimas sambil memperlihatkan layar ponselnya yang sudah gelap kepada Fiona.
"Hmm. Pas pakai ponsel aku aja." Fiona langsung menyodorkan ponsel miliknya. "Silahkan hubungi adiknya mas".
"Mas tidak hafal nomornya." Balas Dimas dengan cepat.
"Yah, gawat juga kalau begini." Akhirnya Fiona pun berpikir sesaat dan kembali berkata. "Begini saja, adiknya mas kan sedang mengurus ijazah. Pasti dia sedang ada di gedung administrasi. Fiona antarkan mas ke sana ya?"
"Boleh juga. Tapi..."
"Perut mas lapar. Soalnya belum makan dari tadi pagi. Kita cari makan dulu yuk."
Ada perasaan iba yang muncul di hati Fiona ketika melihat ekspresi dari pria yang ada di depannya. Padahal itu hanya akal-akalan dari Dimas saja.
"Baiklah, Fio juga kebetulan belum makan siang." Mendengar ucapan dari gadis pujaannya, hati Dimas langsung kegirangan.
"Tapi kita makan di kantin kampus saja ya?" Kadar kebahagiaan Dimas agak sedikit terkikis mendengar permintaan dari Fiona. Padahal dia sudah merencanakan untuk mengajak gadis pujaannya makan siang di restoran.
"Terserah kamu saja cantik. Mas akan ikut."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di kantin, Fiona dan Dimas langsung menuju ke sebuah meja kosong yang ada di sudut ruangan. Dimas memundurkan kursi agar Fiona bisa duduk.
"Silahkan duduk cantik."
"Mas, panggil Fio saja. Jangan pakai kata cantik. Kan malu kalau yang dengar." Sebenarnya Fiona merasa agak risih setiap Dimas memanggilnya dengan sebutan cantik.
"Panggilan itu memang pantas buat gadis secantik kamu."
"Dasar gombal."
__ADS_1
"Hmm. Mau makan apa? Nanti Fio yang pesankan". Tanya Fiona sambil berdiri untuk pergi memesan makanan.
"Mas ikut apa yang kamu makan saja."
"Kalau minumnya?"
"Sama". Akhirnya Fiona langsung pergi untuk memesan dua porsi nasi goreng ditambah dengan dua gelas es teh manis.
Sambil menunggu pesanan mereka datang. Dimas dan Fiona pun berbincang tentang berbagai hal yang bisa dijadikan topik pembicaraan. Dimas merasa sangat senang karena Fiona bisa mengusir kecanggungan di antara mereka berdua. Dia tidak seperti wanita lain yang kebanyakan selalu menjaga imej mereka. Tutur kata dan kedewasaan yang ditunjukan oleh Fiona semakin membuat Dimas mengaguminya.
Saat ini, mereka berdua menjadi pusat perhatian di dalam kantin. Banyak yang terpesona ketika menatap Dimas. Tidak sedikit juga yang menatap iri kepada Fiona sambil mencibir.
"Bagus ya kamu. Katanya tadi belum lapar. Taunya sekarang malah muncul dengan cowok ganteng." Teriak Kesya yang langsung saja duduk di samping Fiona. Dia menampilkan wajah cemberutnya yang khas ketika sedang merajuk.
"Aku minta maaf Key. Aku juga kan tadi memang berniat untuk menyusul kamu ke kantin. Kebetulan aku ketemu sama mas Dimas. Jadi, sekalian saja aku ajak kesini." Saat ini Fiona sedang berusaha untuk membujuk sahabatnya.
"Oh iya, hampir lupa. Key, perkenalkan inj mas Dimas. Dan mas, ini Kesya sahabat aku." Sambung Fiona sambil memperkenalkan kedua sahabatnya ini.
"Mas kan yang sering datang berkunjung ke cafe milikku?" Tanya Kesya sambil mengulurkan tangan ke arah Dimas. Uluran tangan dari Kesya dibalas oleh Dimas sambil mengangguk dengan senyuman tipis.
Akhirnya, suasana akrab mulai terjalin di antara mereka bertiga. Mereka berbincang dengan santai tanpa merasa canggung sedikitpun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak jauh dari posisi mereka duduk, ada sepasang mata yang terus mengamati. Setelah itu orang tersebut langsung mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan.
"Lapor tuan, saat ini nona Fiona sedang berada di kantin."
"Dia sedang sendirian atau bersama teman-temannya?" Tanya seseorang di panggilan sebelah.
"Nona Fiona sedang bersama dengan nona Kesya dan..."
"Dan apa? Coba kamu bicara yang jelas!"
"Nona Fiona sedang bersama dengan nona Kesya dan tuan Dimas Raditya Novanto." Jawab orang itu dengan gugup.
"Apa? Tuan Dimas? Sedang apa dia di situ?"
"Saya tidak tau tuan. Saya dengan menyelidikinya."
"Kalau begitu, kamu pantau terus mereka. Jangan sampai ada yang luput dari pengwasanmu!"
"Baik tuan."
Setelah itu panggilan telepon pun terputus.
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1