
Saat ini Fiona pulang dengan menumpangi mobil milik Kesya. Sepanjang perjalanan, Kesya dibuat stres oleh sahabatnya yang hanya diam melamun. Tak ada satu pun kata-kata yang terlontar dari bibir Fiona. Gadis itu hanya terus duduk melamun menatap pemandangan dari kaca mobil.
"Fio, kamu yakin tidak memiliki perasaan apapun dengan kak Dimas?" Akhirnya Kesya memecahkan keheningan di antara mereka.
"Fio, Fio..."
"Hoyyy! Kamu mendengarkan perkataanku atau tidak sih?" Akhirnya Kesya mulai berteriak karena kesal dengan Fiona.
"Eh? Kamu bicara apa tadi?" jawab Fiona yang kaget mendengar teriakan sahabatnya.
"Ya ampun Fio! Jadi, dari tadi aku bicara sama kaca spion ya?"
"Hehehe. Aku minta maaf tuan putri." Balas Fiona kembali dengan senyum memelas sambil menyatukan kedua telapak tangannya. "Kamu tadi mau tanya apa sih?"
"Aku tadi hanya ingin bertanya saja. Apa kamu memang tidak punya perasaan apa-apa sama kak Dimas?"
"Hemm. Sebenarnya aku juga bingung Key. Mas Dimas orangnya sangat baik, ramah dan perhatian."
"Terus? Kurang apa lagi coba? Fio, persediaan pria seperti kak Dimas itu sangat terbatas loh di dunia ini. Jangan sampai kamu menyesal nanti."
"Entahlah, aku juga sampai saat ini tidak punya perasaan apa pun dengannya. Lagi pula, belum tentu juga kan kalau mas Dimas suka sama aku."
"Sepertinya aku lebih nyaman jika hanya menganggapnya sebagai teman atau sebagai kakak. Tidak lebih."
Mendengar penjelasan dari Fiona hanya membuat Kesya menarik nafas panjang. "Apakah kamu masih memikirkan pria dari masa kecilmu itu?"
Pertanyaan dari Kesya otomatis membuat Fiona kembali menerawang ke masa kecilnya dulu. Masa di mana dia pertama kali bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sampai saat ini masih dia rindukan.
"Itu juga salah satu alasannya Key."
Perkataan dari Fiona akhirnya membuat Kesya menepikan mobil yang dia kemudikan di tepi jalan. Setelah mobilnya berhenti, Kesya pun langsung menatap ke arah Fiona.
"Fio, sampai kapan kamu mau menunggunya? Lagi pula kamu kan tidak tau keberadaannya sampai saat ini. Mungkin saja saat ini dia sudah berumah tangga."
"Tapi, bisa saja belum kan. Mungkin saat ini kak Aya juga sedang mencariku. Dia memintaku untuk menunggunya untuk datang melamarku saat kami sudah dewasa. Aku pun sudah berjanji untuk menunggunya."
"Sampai kapan Fio? Sampai kamu jadi tante-tante? Kamu mau jadi perawan tua demi menunggu janji seorang anak kecil?"
"Tidak juga seperti itu Key. Aku mana mau jadi perawan tua."
"Ya sudah. Begini saja. Kamu tunggu bisa menunggunya untuk datang menjemputmu. Tapi jangan terlalu lama. Jika memang pria itu tidak pernah muncul, maka kamu juga harus bisa untuk membuka hatimu bagi pria lain. Kamu harus janji sama aku."
"Baiklah, aku janji sama kamu. Aku akan menunggunya sampai kita selesai kuliah. Kalau memang dia tidak pernah muncul, maka aku akan menyerah dengannya. Bagaimana?"
"Aku setuju!" Jawab Kesya singkat. "Kita lanjut ya? sudah sore. Badan aku sudah gerah ingin cepat-cepat mandi."
"Yang tadi memberhentikan mobil kan kamu!" Protes Fiona.
"Iya juga ya. Hehehe."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di depan rumah, Fiona melambaikan tangan kepada Kesya saat sahabatnya itu pergi. Setelah itu, dia langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Sebelum menuju ke kamarnya, terlebih dahulu dia menghampiri kamar ayah Dirga.
"Ayah sudah bangun?" Tanya Fiona kepada ayahnya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"Eh, puteri ayah sudah pulang ya? Bagaima kegiatanmu hari ini nak?" Balas ayah Dirga dengan senyumannya yang hangat.
"Fiona baik-baik saja ayah. Keadaan di kampus dan di toko paman Danu juga berjalan dengan baik."
Fiona lalu mengambil gelas air minum yang berada di atas nakas. "Ayah minum dulu ya." Ucapnya sambil memberikan gelas tersebut untuk ayah Dirga.
"Fio, ada yang ingin ayah sampaikan kepadamu." Ayah Dirga kembali berbicara setelah selesai meneguk air yang diberikan oleh putrinya.
"Ada apa ayah?" Tanya Fio kembali sambil meletakan gelas air minum di atas nakas.
"Tadi nak Rangga datang berkunjung."
"Mas Rangga kan memang sering berkunjung ke sini." Jawab Fiona yang tidak terkejut sama sekali.
Bagaimana caraku untuk menyampaikannya ya?
Fiona pasti akan sangat terkejut jika mendengarnya.
"Ada apa sih ayah?".
Akhirnya ayah Dirga menarik nafas untuk memberikan kekuatan dan keberanian. Dia yakin perkataannya pasti akan membuat puterinya kaget setengah mati. "Tapi sebelumnya, semua keputusan ada di tanganmu. Ayah hanya ingin menyampaikannya saja."
"Ayah, jangan buat Fio cemas. Ada apa sebenarnya?" Tentu saja saat ini Fiona sudah diselimuti oleh kegelisahan.
"Iya, Fio janji ayah."
"Tadi nak Rangga datang untuk meminta ijin ayah".
"Ijin untuk apa? Mas Rangga meminta ayah untuk bekerja di perusahaannya? Tidak ayah! Tidak akan Fio ijinkan."
"Dengar dulu. Ayah belum selesai bicara."
"Hehehe. Maaf ayah. Kalau begitu silahkan ayah lanjutkan."
"Maksud ayah, tadi nak Rangga datang meminta ijin. Lebih tepatnya dia datang meminta restu dari ayah. Dia ingin melamarmu."
"Apa?" Saat ini jantung Fiona seperti ingin melompat keluar karena mendengarkan perkataan dari ayahnya.
"Ayah tidak sedang bercanda kan?"
"Ayah tidak sedang bercanda nak. Sekali lagi ayah ingatkan. Semua keputusan ada di tanganmu."
"Fio kembali ke kamar dulu yah." Dengan gugup gadis itu lansung mencium tangan ayahnya lalu mengambil gelas air yang sudah kosong. Dengan tergesa-gesa dia langsung berjalan keluar dari kamar ayahnya.
"Ada apa kak?" Tanya Gilang yang melihat kakaknya keluar dari kamar ayah dengan ekspresi yang tidak wajar.
"Kakak tidak apa-apa. Kamu tolong jaga ayah sebentar, kakak mau mandi dulu." Balas Fiona sambil meninggalkan adiknya yang keheranan.
__ADS_1
Setelah meletakan gelas di dapur, Fiona langsun kembali menuju ke kamarnya. Di dalam kamar gadis itu langsung merebahkan tubuhnya dia atas kasur. Berbaring merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menenangkan pikiran.
Ya Tuhan.
Apa yang harus aku lakukan?
Jika ini memang bagian skenario-Mu terhadap hidupku.
Aku mohon.
Tolong jangan bercanda dengan kehidupan hamba-Mu ini.
Setelah menyampaikan keluh kesahnya, Fiona kemudian bangun dari ranjang. Dia segera beranjak menuju ke arah meja rias miliknya. Dengan perlahan gadis itu membuka laci yang ada di sisi kanan meja riasnya untun mengambil sebuah kotak kecil.
Fiona kini sedang menatal sebuah kotak kecil yang sedang dipegangnya. Dengan hati-hati dia membuka kotak kecil itu dan mengambil sebuah kalung yang tersimpan di dalamnya.
Matanya menatap lekat sebuah kalung yang kini sedang dipegangnya. Sebuah kalung emas putih dengan gantungan berbentuk bulat dan memiliki motif bintang.
Sebenarnya mata kalung ini hanya setengahnya saja. Jika disatukan, mata kalung ini akan berbentuk bulat dengan motif bintang di tengahnya. Saat ini Fiona hanya memiliki potongan sebelah kirinya saja. Untuk potongan yang sebelah kanannya lagi, tentu saja dimilikinoleh si pemberi kalung.
Kak Aya.
Kapan dirimu akan kembali?
Aku selalu menunggu dirimu di sini.
Apakah dirimu sudah melupakanku?
Haruskah aku menyerah dengan janji kita dulu?
Akhirnya Fiona kembali menuju ke ranjangnya. Dia membaringkan tubuhnya sambil terus menggenggam kalung yang ada di tanganya. Tak terasa bulir-bulir air pun kini telah muncul dari kedua ujung matanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain.
Seorang pemuda sedang duduk di meja kerjanya. Tatapan matanya begitu sendu menatap sebuah kalung yang ada di tangannya. Tentu saja kalung tersebut memiliki gantungan yang sama dengan yang dimiliki oleh Fiona. Sebuah mata kalung yang berbentuk bulat dan hanya setengahnya saja.
Gadis kecilku.
Di manakah kau berada sekarang?
Sampai saat ini kakak terus mencarimu.
Gadis kecilku.
Apakah kau sudah hidup bahagia sekarang?
Apakah kau sudah melupakanku?
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1