
Kondisi di dalam mobil begitu senyap. Tak ada percakapan sama sekali di antara mereka berdua. Dimas yang sedari tadi hanya sibuk menyetir dengan terus memperhatikan jalan. Otaknya terus berputar untuk mencari bahan pembicaraan yang cocok.
Sedangkan Fiona yang duduk disampingnya, sejak tadi hanya terus menyandarkan kepalanya di kaca mobil sambil melihat pemandangan malam kota Jakarta.
"Fio, kamu sekolahnya di mana?" Akhirnya Dimas berhasil melesatkan satu kalimat dari bibirnya.
"Aku sudah tidak sekolah lagi mas." Jawab Fiona singkat.
"Eh? Memangnya kamu sudah putus sekolah?"
Karena merasa lucu dengan pertanyaan dari Dimas, akhirnya Fiona pun mengalihkan pandangannya ke arah Dimas yang sedang menyetir. Dia kemudian menatap pria itu sambil menahan tawanya.
"Menurut mas, sebenarnya aku ini umur berapa sih?"
"Hmm. 16? 17?" Tebak Dimas.
"Waduh, tidak semuda itu juga mas." Fiona pun tertawa lepas mendengar tebakan dari Dimas. Kalau dilihat sepintas, setiap orang mungkin akan mengira bahwa Fiona masih pelajar SMA.
"Jadi kamu sudah bukan anak sekolah lagi? Kamu sudah kerja atau masih kuliah? Umur kamu berapa sebenarnya?" Dimas yang merasa penasaran pun mencerca Fiona dengan rentetan pertanyaan.
"Kalau mau bertanya itu satu-satulah mas." Rentetan pertanyaan dari Dimas membuatnya bingung untuk menjawab mulai dari mana.
"Umurku sekarang 21 tahun, dan saat ini aku sedang kuliah." Fiona mengambil jeda sedikit sebelum melanjutkan penjelasannya. "Kalu untuk pekerjaan, mas kan sudah liat sendiri bagaiman pekerjaan sampinganku."
"Oh, ternyata begitu toh. Mas pikir kamu masih anak SMA. Hehehe."
"Untunglah gadisku yang cantik ini bukan anak di bawah umur. Kan bisa panjang urusannya kalau aku disangka pedofil." Gumam Dimas dalam hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga.
"Terus, kamu kok bekerja sampingan di beberapa tempat? Orang tua kamu?" Tanya Dimas kembali. Dalam hatinya merasa penasaran kenapa gadis muda ini harus bekerja sampingan bahkan sampai larut malam.
"Maaf mas. Bolehkan aku tidak menjawab pertanyaan yang itu? Agak pribadi soalnya." Jawab Fiona dengan sopan. Dia tidak ingin mengumbar kehidupan pribadi keluarganya kepada orang lain, apalagi ke orang yang baru dia kenal.
"Oh, maaf ya kalau mas sudah lancang menanyakan tentang kehidupan pribadimu?" Sebenarnya Dimas juga tidak ingin membuat Fiona tersinggung.
"Tidak apa-apa kok mas. Santai aja. Oh iya, di depan nanti belok kiri ya mas." Sambung Fiona sambil menunjuk sebuah lorong di deoan yang mengarahkan ke arah kompleks perumahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kamu tinggal di sini?" Tanya Dimas sambil memperhatikan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.
Walaupun hanya bangunan kecil, tapi rumah Fiona tampak sangat asri dan terawat. Di bagian depan rumah ada sebuah taman kecil yang dihiasi oleh berbagai jenis tanaman hias.
"Ia, mas mau mampir dulu?" Jawab Fiona sambil membuka pintu pagar.
Di dalam hatinya, dia bisa menebak bahwa kedepannya pria ini pasti akan menjauhinya setelah melihat pemandangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Itu merupakan hal yang lumrah menurutnya.
Banyak teman-temannya yang menjauh setelah melihat kehidupan keluarganya. Karena itulah Fiona selalu menutup diri dari pergaulan.
"Hmm. Nanti lain kali saja ya, sudah tengah malam. Mas mau langsung balik ke rumah." Sambil terus menatap rumah Fiona, Dimas kemudian melanjutkan kata-katanya "Rumah kamu bagus. Walaupan hanya sederhana, tapi tetap terawat. Pekarangannya juga begitu indah."
"Terima kasih ya mas. Mohon maaf jika rumahku sangat kecil dan sederhana." Sebenarnya dia juga agak sedikit terkejut dengan komentar yang diucapkan Dimas. Baru kali ini ada orang kaya selain Kesya yang tidak merasa jijik dengan tempat tinggalnya.
"Ya sudah, kamu langsung istirahat saja. Mas balik dulu ya." Setelah berpamitan, Dimas kembali masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Mas juga hati-hati di jalan. Terima kasih buat tumpangannya."
Setelah menyalakan mobil, Dimas kemudian membuka kaca untuk melambaikan tangan kepada Fiona.
Fiona pun akhirnya langsung masuk ke dalam rumahnya setelah mobil milik Dimas sudah menghilang dari pandangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kediaman Keluarga Tanubrata, saat ini Rangga sedang duduk di balkon kamarnya sambil memegang gelas sloki minuman keras miliknya.
Saat ini, pikiran dari pria tampan itu sedang berputar-putar. Di terus memikirkan kejadian yang di parkiran cafe tadi.
Ternyata kamu memang suka mendekati pria kaya ya?
Dulu kamu mendekati kakakku, sekarang kamu malah mendekati sahabatku.
Hmm.
Tak semudah itu nona manis.
Aku tak akan membiarkan hubungan kalian berdua.
Karena aku punya rencana besar untukmu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suasana kota Jakarta pada hari senin sudah begitu ramai sejak pagi hari. Jalanan begitu dipadati oleh lautan kendaraan. Masyarakat pun berlalu-lalang di samping jalan dengan kesibukannya masing-masing. Pemandangan seperti ini memang sudah sangat lumrah untuk kota besar yang menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan di negri ini.
Saat ini Fiona sudah berada di depan gedung Tanubrata Grup untuk mengantarkan pesanan bunga. Toko bunga tempatnya bekerja memang sudah mendapatkan orderan untuk mengantarkan bunga segar setiap hari ke perusahaan itu.
Setelah memastikan bahwa tak ada terlupakan, dia pun langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.
Fiona langsung berjalan menuju ke meja resepsionis dengan penuh semangat.
"Permisi mbak" tanya Fiona kepada salah satu pegawai resepsionis di depannya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" jawab resepsionis itu dengan ramah.
"Saya mau mengantarkan bunga pesanan untuk tuan Rangga. Saya titip di sini saja ya mbak seperti kemarin?" ucapnya sambil meletakkan tiga ikat bunga yang dibawanya dia atas meja.
"Maaf mbak, saya sudah diberi pesan bahwa mbak sendiri yang harus mengantarkannya di ruangan CEO."
"Eh? tapi kan..."
"Maaf mbak, saya hanya mendapatkan instruksi seperti itu" ucapan dari resepsionis yang langsung memotong perkataan dari Fiona.
"Silahkan mbak naik lift yang ada di sebelah sana. Ruangan CEO ada di lantai tiga puluh."
Akhirnya Fiona pun mengalah dan mengambil kembali bunga-bunga yang ada di atas meja. Dia kemudian menuju ke lift dan langsung memencet tombol angka tiga puluh setelah berada di dalam.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" sapa sekretaris Naya begitu melihat kedatangan Fiona.
"Saya mau mengantarkan pesanan bunga milik tuan Rangga" jawab Fiona yang sejak tadi memperhatikan dengan takjub suasana di dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Oh, mbak Fiona ya. Anda sudah ditunggu oleh tuan muda di dalam ruangannya. Langsung saja masuk ke dalam" balas sekretaris Naya dengan senyuman ayu khasnya.
"Wah, mbak ini sangat cantik. Penampilannya juga begitu elegan." Pikir Fiona dengan penuh kekaguman.
Fiona pun langsung bergegas untuk menuju ke pintu ruanga CEO. Dia mengetuk pintu tersebut dengan pelan. Setelah mendengarkan jawaban dari dalam, dia pun langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Permisi tuan, saya Fiona dari toko bunga Ambar" sapanya dengan wajah yang tertunduk.
"Saya membawakan bunga pesanan... Eh?" ucapannya kemudian terpotong setelah melihat pria yang sedang duduk di kursi singgasananya itu.
"Hai, kita bertemu lagi nona" sapa Rangga sambil menampilkan senyumannya yang bisa membuat hati setiap wanita meleleh.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di situ sambil terus menatapku?" goda Rangga.
"Ma.. maaf" ucap Fiona dengan gugup melempar pandangannya ke sembarang arah. Sesaat, dia pun terpesona dengan sosok pria bak dewa yunani itu.
"Tuan kan yang waktu itu datang untuk membeli bunga di toko kami?" tanya Fiona sambil berjalan ke arah meja CEO.
"Daya ingat kamu memang sangat kuat ya." Rangga terus menatap Fiona dengan lekat sambil memancarkan pesonanya.
"Silahkan duduk. Tak usah sungkan" pintanya.
Setelah Fiona duduk dengan posisi tepat berada di depan. Rangga memajukan kepalanya untuk menatap gadis itu lebih dekat. Sedangkan gadis yang ditatapnya itu hanya menunduk karena berusaha untuk menghindari tatapan maut dari Rangga.
Ya Tuhan.
Wajahnya begitu cantik.
Walupun hanya dengan riasan yang minimalis, tetap saja terlihat begitu indah.
Kenapa jantungku berdetak dengan cepat begitu melihat wajahnya?
Apakah diriku juga sudah jatuh terjerat kepadanya*?
[BERSAMBUNG...]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
~Seuntai Kata Dari Author~
Hai readers yang autor banggakan.
Kita bertemu lagi di cerita "Angin Berbisik"...
Saat ini author akan berusaha untuk bisa upload 1 episode setiap harinya.
Mohon dukungan dari kalian agar author tetap semangat dalam menyelesaikan karya ini.
Jangan lupa like, vote dan juga komentarnya ya...
Dukungan dari kalian sangat author butuhkan sebagai penyemangat...
☺☺☺
__ADS_1
(Manado, 28-5-2020)