
"Hai cantik." Sapa Dimas yang baru saja datang ke toko bunga Ambar.
"Eh, mas Dimas. Tumben datang pagi-pagi ke sini mas." Balas Fiona sambil menata berbagai macam bunga dengan telaten.
"Mas hanya kebetulan lewat. Pas liat ada kamu di sini, ya mas langsung singgah saja." Padahal niat Dimas sebenarnya adalah untuk mengajak Fiona makan malam. Pemuda itu sudah berniat untuk mengutarakan perasaannya kepada gadis itu malam ini.
"Cantik, malam ini kamu ada acara tidak?"
"Memangnya kenapa mas?"
"Mas hanya ingin mengajak kamu untuk menemani mas makan malam. Itu saja sih." Jawab Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sebenarnya Fiona sudah tau perasaan Dimas kepadanya. Tapi sayang sekali, saat ini gadis tersebut sudah menjalin hubungan Dengan Rangga.
Fiona tak ingin jika nantinya terjadi kesalah pahaman di antara mereka. Untuk itu, dia akan mencoba menolak dengan halus ajakan dari Dimas.
"Maaf mas, aku tidak bisa." Jawab Fiona dengan penekanan yang dibuat sehalus mungkin. "Malam ini aku ada urusan penting dengan temanku."
Saat ini, terlihat dengan jelas kekecewaan di wajah Dimas. Rencana yang sudah disusun olehnya semua gagal total.
"Hmm. Baiklah, mas tidak ingin memaksa." Jawab Dimas sambil berusaha untuk menutupi rasa kecewa di dalam hatinya.
"Kalau begitu, kapan kamu punya waktu luang?" Masih dengan usahanya, Dimas pun kembali bertanya.
"Entahlah mas. Nanti aku kasih kabar." Sedapat mungkin Fiona berusaha untuk menghindar dari Dimas. Dia tidak ingin jika Rangga nantinya salah paham.
"Boleh mas minta nomor kamu cantik?"
"Hmm. Tapi mas." Jawab Fiona dengan sangsi.
"Mas hanya ingin menyimpan nomor kamu. Masa tidak boleh?"
"Baiklah." Akhirnya Fiona mengalah dan memberikan nomornya kepada Dimas.
"Terima kasih cantik. Mas pergi dulu ya." Dengan senyuman yang menawan, Dimas pun pamit kepada Fiona.
Kekecewaan Dimas agak sedikit terobati. Walaupun tidak bisa mengajak gadis pujaan hatinya untuk makan malam. Setidaknya di berhasil mendapatkan nomor dari gadis itu.
Di dalam mobilnya, Dimas kembali melihat nomor dari Fiona. Setelah itu dia menyimpan nomor itu dengan nama 'Bunga Cantik' di kontaknya.
Setelah Dimas pergi, Fiona pun kembali ke aktifitasnya. Gadis tersebut sedang sibuk menata bunga-bunga yang ada di depannya tanpa menyadari ada sepasang mata yang sudah memperhatikannya sejak tadi.
"Ada hubungan apa antara kamu dengan Dimas?" Tiba-tiba Rangga sudah berdiri di belakang Fiona.
__ADS_1
"Eh! Mas Rangga? Sejak kapan mas ada di sini." Tanya Fiona yang kaget melihat kehadiran Rangga.
"Sejak mas melihat kamu bermesra-mesraan dengan dia." Jawab Rangga dengan nada ketus.
"Siapa yang bermesraan mas?" Fiona kembali berbicara untuk mengalihkan kecurigaan Rangga. "Mas cemburu ya?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Fiona." Kali ini Rangga mencengkram lengan Fiona. Matanya menatap dengan tajam.
"Sekali lagi mas tanya. Ada hubungan apa antara kamu dan Dimas?"
Fiona yang merasa agak kesakitan di pergelangan tangan pun meringis. "Mas, tanganku sakit." Seketika Rangga pun melonggarkan genggamannya.
"Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan mas Dimas. Aku hanya menganggapnya seperti kakakku sendiri mas."
"Tadi mas Dimas mengajakku untuk makan malam. Tapi sudah ku tolak." Lebih baik bagi dirinya untuk berkata jujur.
"Untuk apa dia mengajakmu makan malam? Apakah dia juga mengejarmu?" Tanya Rangga kembali dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku tak tau tujuannya mengajakku makan malam. Lagi pula ajakannya sudah ku tolak." Kali ini Fiona berusaha untuk menjelaskan kepada Rangga. Dia menyadari bahwa pria yang ada di depannya ini sedang terbakar api cemburu.
"Masalah di mengejarku atau tidak. Itu urusannya mas. Lagi pula aku tidak punya perasaan apapun terhadap mas Dimas. Aku hanya menganggap dia sebagai seorang kakak, tidak lebih."
Rangga kini menatao mata Fiona dengan dalam. Dia berusaha mencari kebohongan yang teroqncar di mata gadis tersebut. Namun, tak ada satupun kebohongan yang terlihat dari sepasang mata indah gadis tersebut.
"Baiklah, kali ini mas percaya sama kamu. Tapi lain kali, mas tidak ingin melihatmu dekat dengan laki-laki lain." Jelas Rangga dengan penuh penekanan di setiap perkataannya.
"Aku mengerti mas. Aku tak akan mengecewakanmu. Mas sudah tidak marah lagi kan?"
"Kata siapa mas sudah tidak marah lagi?" Balas Rangga sambil membuang muka ke samping. Dia menampilkan ekspresi cemberut yang justru membuat Fiona menjadi gemas melihatnya.
"Aduh-aduh. Wajah ganteng calon suamiku ini hilang loh kalau sedang cemberut." Hibur Fiona sambil memegang kedua pipi Rangga.
"Begini saja, mas tunggu aku selesai bekerja dulu. Setelah itu kita pergi makan siang bersama. Bagaimana? Mas mau kan?"
"Dengan makan malam juga!" Tambah Rangga.
"Iya-iya, terserah mas saja. Bagaimana? Masih marah lagi?" Tanya Fiona kembali sambil menatap wajah calon suaminya.
"Sayang, jika kamu berusaha untuk meluluhkan hati calin suamimu ini. Maka kamu sudah berhasil." Balas Rangga yang kini sudah tersenyum manja kepada Fiona.
"Ingat ya, jangan lupa! Sayang punya hutang makan siang dan makan malam." Ucap Rangga sambil mengingatkan.
"Iya mas, aku tidak mungkin ingkar. Ya sudah, aku mau lanjut kerja dulu ya mas."
__ADS_1
"Emm. Mas tidak ke kantor? Inikan masih pagi. Masih ada beberapa jam lagi untuk makan siang."
"Tidak!" Jawab Rangga singkat. "Mas mau menemani calon istri saja. Untuk urusan di kantor biar asisten Setya yang mengerjakannya."
"Ya sudah, mas tunggu di situ saja." Balas Fiona sambil menunjuk ke arah sebuah sofa. "Supaya tidak bosan, mas ke ruangan paman Danu saja."
"Siap sayangku! My Princess!" Jawab Rangga sambil mengangkat tangannya memberikan hormat. Sedangkan Fiona hanya tersenyum simpul melihat kekonyolan dari calon suaminya itu.
Ternyata.
Seorang CEO yang dingin, juga memiliki sisi yang menggemaskan.
Ckckck.
Setelah itu, Rangga pun mengambil ponsel miliknya. Sambil berjalan ke arah ruangan oaman Danu, Rangga pun menghubungi asisten Setya.
"Hallo..."
"Setya, pagi ingin aku tidak ingin ke kantor. Aku sedang menemani istriku. Tolong kau urus semua pekerjaan pagi ini. Dan satu hal lagi, tunda semua jadwal rapatku pagi ini."
Seperti biasa, setelah selesai memberikan perintah Rangga langsung mematikan sambungan teleponnya. Tidak tidak berminat untuk mendengarkan jawaban dari asisten Setya.
*Cih.
Dasar tuan muda.
Selalu saja seenaknya.
Ujung-ujungnya saya juga yang dibuat repot.
Padahal pagi ini ada rapat penting dengan klien.
Memang susah jika berurusan dengan orang yang lagi kasmaran*.
Asisten Setya hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat sambungan telepon dari Rangga terputus. Tentu saja, pagi ini dirinya harus menyelesaikan segudang pekerjaan.
"Dasar tuan muda. Dia yang sedang asik-asik pacaran, malah aku yang repot. Apakah anda tidak merasa kasihan denga asistenmu yang jomblo ini?" Desah asisten Setya sambil berjalan meninggalkan ruangannya.
"Naya!" Panggil asisten Setya dengan nada yang datar. "Tolong kamu batalkan semua jadwal pertemuan dengan klien pagi ini. Pindahkan semua jadwalnya ke sebentar siang."
"Baik tuan." Jawab sekretaris Naya sambil menunduk.
"Cih. Kamu sama dan tuan muda sama saja. Membuatku jengkel." Setelah itu, asisten Setya langsung berjalan meninggalkan sekretaris Naya.
__ADS_1
"Lah. Memangnya aku salah apa ya?" Gumam sekretaris Naya dalam hatinya.
[BERSAMBUNG...]