
Hari demi hari dilalui oleh Fiona. Disaat teman-teman sebayanya mempunyai kehidupan yang normal dan bahagia, dia justru harus menjalani kehidupan yang berliku.
Setiap hari Fiona harus membagi waktunya untuk bekerja di toko bunga dan juga kuliah di jurusan seni rupa. Untuk menambah pengasilan, dia biasanya menjadi supir joki dan juga manggung di cafe milik sahabatnya.
Gadis jelita ini bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis dan suatu saat nanti akan membuka galeri lukisannya sendiri. Untuk itulah dia selalu menyisihkan sebagian dari uang hasil kerja kerasnya untuk menggapai cita-citanya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hufff.
Obat-obatan ayah sudah hampir habis.
Di mana lagi aku harus mendapatkan uang buat beli obat?
Lagi pula, aku sudah tidak enak hati untuk meminjam uang sama Paman Danu.
Aku sudah terlalu sering merepotkan beliau.
Ya Tuhan.
Tolonglah hamba-Mu ini.
"Fio... Fio..."
Tiba-tiba suara dari paman Danu membuyarkan lamunan dari gadis tersebut.
"Eh, paman Danu. Ada apa?"
"Kamu melamun lagi ya nak? Tidak baik loh seorang gadis cantik melamun di pagi hari. Pamali."
"Hehehe. Tidak kok paman" jawab Fio dengan cengengesan karena merasa malu kepergok sedang melamun.
"Kamu itu kalau ada masalah jangan malu-malu untuk cerita sama paman." Kata paman Danu dengan aura kebapakan.
"Tidak kok paman. Fio lagi nggak punya masalah." Balasnya untuk menyembunyikan kegundahan hati dari gadis itu.
"Yakin?" Tanya paman Danu menyelidik.
"Ia yakin. Emm. Paman tadi panggil Fio kenapa?" Dengan cepat Fiona langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, paman hampir lupa. Fio tolong kamu antarkan bunga-bunga ini ke perusahaan Tanubrata Grup." Balas paman Danu sambil menyerahkan beberapa ikat bunga lavender kepada Fio.
"Bunga-bunga ini dipesan oleh tuan Rangga Arya Tanubrata. Tolong kamu antar ya. Ini alamatnya." Kemudian paman Danu memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat dari Tanubrata Grup.
"Baiklah paman, segera Fio antar."
"Ini pakai motor saja, lagi pula tempatnya agak jauh. Nanti kamu perginya sama Ranti saja."
"Jangan paman, biar Fio saja. Lagi pula Ranti juga sedang sibuk." Balas Fiona sambil mengerling ke arah rekannya.
"Baiklah."
__ADS_1
"Fio pamit berangkat dulu ya." Pamit Fiona sambil mencium tangan dari pria yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri.
"Hati-hati di jalan nak. Kabari paman kalau ada apa-apa."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi ini kantornya ya?" Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya Fiona tiba juga di depan gedung Tanubrata Grup.
Setelah memarkirkan motornya, dia langsung bergegas masuk untuk mengatar pesanan bunga.
"Hmm. Ruangan pak Rangga di mana ya? Kantor ini begitu besar." Gumamnya sambil kebingungan. "Ah aku titipkan saja ke resepsionis itu ya?"
"Permisi mbak." Akhirnya Fiona memutuskan untuk bertanya di meja resepsionis.
"Ya. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab resepsionis itu dengan nada suara yang ramah.
"Saya mau menitipkan pesanan bunga dari pak Rangga."
"Oh, silahkan langsung saja menuju ke ruangan CEO di lantai 20 mbak". Ucap resepsionis itu yang sebelumnya sudah diberitahu kalau ada yang akan mengantarkan bunga.
"Sepertinya tidak perlu mbak. Saya titip disini saja. Soalnya saya harus buru-buru untuk balik lagi." Fiona sebenarnya merasa enggan untuk berlama-lama di perusahaan itu karena minder dengan penampilannya.
"Baiklah. Silahkan letakan saja di sini."
"Terima kasih mbak. Saya permisi balik dulu ya." Setelah berpamitan, akhirnya Fiona memutuskan untuk balik lagi ke toko.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di ruangan CEO, Rangga sedang sibuk memeriksa berkas-berkas laporan bulanan milik perusahaan. Lembar-demi lembar diperiksa olehnya sambil memberikan catatan koreksi. Dia memang orang yang sangat teliti dalam hal pekerjaan.
"Masuk!" Teriak Rangga sambil tetap fokus pada tumpukan dokumen di atas mejanya.
Setelah pintu dibuka, sekretaris Naya langsung masuk dengan membawa beberapa ikat bunga lavender di tangannya.
"Loh? Kenapa kamu yang bawa? Kemana orang yang mengantarnya?" Yanya Rangga dengan heran. Dia berharap bahwa pengantar bungan itu sendiri yang datang membawanya.
"Ini tadi dititipkan oleh resepsionis tuan muda." Jawab dari sekretaris Naya.
"Terus, mana si pengatar bunga itu?"
"Tadi dia langsung pergi setelah menitipkan ini pada resepsionis."
"Ya sudah, kamu ganti bunga-bunga yang lama di dalam vas dengan yang baru."
"Baik tuan muda." Sang sekretaris pun dengan telaten mengeluarkan bunga-bunga yang lama dari dalam vas. Setelah itu dia menggantinya denga bunga lavender yang dibawanya. Setelah diganti, kini seluruh ruangan pun dipenuhi oleh aroma bunga lavender yang menenangkan.
"Sudah selesai tuan muda. Ada lagi yang anda butuhkan?"
"Tidak. Kamu boleh keluar" Perintah Rangga dengan nada datarnya sambil tetap berfokus pada tumpukan dokumen.
"Baik tuan muda. Saya permisi dulu." Sekretaris Naya pun akhirnya bergegas meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Di depan pintu CEO, secara kebetulan sekretaris Naya bepapasan dengan asisten Setya yang berniat untuk masuk ke ruangan atasan mereka. Selama beberapa saat mereka berdua bertatap mata hingga akhirnya Setya lebih dulu membuang muka. Naya pun hanya bisa tertunduk.
"Maaf. Saya permisi dulu." Ucap sekretaris Naya yang langsung bergegas kembali ke meja kerjanya. Sedangkan asisten Setya hanya memandang dengan sinis tanpa mejawab. Tanpa memperdulikan lagi, dia langsung membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan CEO.
Ya Tuhan.
Cobaan apa lagi ini?
Kenapa setiap hari aku harus bertemu denganya?
Apa sebaiknya aku berhenti saja dari pekerjaan ini?
Tapi, di mana lagi aku akan menemukan pekerjaan sebaik ini?
Di meja kerjanya, sekretaris Naya hanya bisa duduk dengan pasrah. Memori di otaknya kembali memutarkan kejadian-kejadian yang memilukan bersama asisten Setya. Entah apa yang terjadi di masa lalu antara mereka berdua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kampus Fiona sedang duduk melamun di depan kelas sambil menunggu jam kuliah yang akan segera mulai.
"Hari cerah begini kok malah melamun sih? Awas kerasukan setan loh." Tegur Kesya sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Eh, kamu Key. Bikin kaget saja!"
"Lagi pula, kenapa juga kamu menghayal di depan kelas? Mirip emak-emak yang bingung memikirkan uang belanja saja." Celetuk Kesya dengan gaya bicaranya yang khas.
Kesya adalah sahabat Fiona dari masih duduk di bangku SD. Di saat semua teman-teman sekolah menjauhi Fiona, hanya Kesya lah teman yang selalu setia bersahabat dengannya. Kesya dan Fiona berdua bersahabat karena dulu kedua ayah mereka adalah rekan bisnis.
Persahabatan mereka berdua tetap terjalin sampai saat ini. Ditambah lagi mereka berdua mengambil jurusan yang sama, yaitu seni rupa. Sebenarnya, Fiona merasa agak minder jika berteman dengan Kesya. Alasannya karena Kesya adalah anak orang kaya, sedangkan dirinya hanyalah anak mantan orang kaya.
Berkali-kali Kesya selalu menjelaskan kepada Fiona bahwa dia berteman tanpa memandang status sosial. Kesya juga orang yang paling tau tentang kehidupan keluarga Fiona.
"Fio, nanti malam kamu ada jawal manggung di cafe kan?" Tanya Kesya kepada sahabatnya itu.
"Iya. Kenapa juga kamu pake tanya-tanya segala? Itu kan cafe kamu sendiri."
"Hehehe. Cuma buat memastikan saja kok." Balas Kesya dengan tertawa nyengir.
"Nanti malam kan weekend. Pasti cafe bakalan ramai. Kamu harus dandan yang cantik ya. Penampilan kamu harus spesial malam ini."
"Kenapa harus spesial?" Fiona berpura-pura menaikan nada bicarannya.
"Ya ialah. Kalau kamu tampil spesial, pasti pelanggan cafe kita akan semakin banyak. Kamu kan mesin pencetak uang aku." Kata-kata tersebut keluar dengan santai dari bibir Kesya.
"Tega sekali kamu menganggap aku mesin pencetak uang. Tapi, memang benar sih. hehehe." Fiona kini menatap Kesya dengan serius "Tapi kamu harus menaikan bayaranku malam ini."
"Emm. Aku tidak janji ya. Kita liat saja sebentar malam. Kalau pelanggannya banyak. Nanti aku pertimbangkan."
"Dasar kamu. Majikan pelit!" Fiona kemudian menjitak kepala Kesya tapi tidak dengan sungguh-sungguh.
"Memamang aku terlahir pelit. Weekkk!" Balas Kesya sambil menujulurka lidah.
__ADS_1
"Eh, kelas sudah mau mulai. Ayo masuk. Aku tidak mau kalau sampai diusir sama pak Hardjo karena terlambat." Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam kelas karena dosen sudah ada.
[BERSAMBUNG...]