
Di perusahaan Tanubrata Grup.
Rangga saat ini sedang memeriksa proposal usulan kerja sama dengan salah satu perusahaan raksasa asal negeri tirai bambu. Proyek kali ini merupakan sebuah tangkapan besar bagi Tanubrata Grup.
Perusahaan Tengs Corp berniat untuk melakukan investasi dalam proyek resort milik Tanubrata Grup. Oleh karena itu, Rangga tak ingin melakukan kesalahan sedikit pun.
"Tuan muda. Semalam, tuan Daniel Zhou menghubungi saya melalui sekretarisnya." Asisten Setya pun datang untuk memberikan informasi kepada Rangga. "Katanya, bulan depan beliau akan datang ke Indonesia untuk meninjau langsung proyek resort kita."
"Baiklah, nanti kita akan mempersiapkan untuk penyambutan kedatangannya." Jawab Rangga sambil meletakan proposal yang tadi diperiksa olehnya.
"Hmm. Lagi pula aku sudah mengutus Krisna untuk menjadi perwakilanku di sana. Biarkan dia yang mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Tengs Corp."
Satu lagi yang menjadi orang kepercayaan dari Rangga selain asisten Setya. Orang tersebut adalah asisten Krisna. Dahulu, dia adalah asisten kepercayaan dari mendiang Rendy. Karena pengabdian dan kesetiaanya, akhirnya Rangga memutuskan untuk tetap menjadikan Krisna sebagai asistennya.
"Baik tuan muda. Saya juga akan selalu berkomunikasi dengan asisten Krisna terkait perkembangan dari kerja sama ini."
"Emm. Aku akan memanggil Krisna kembali setelah kerja sama ini disahkan. Lagi pula, kondisi seluruh cabang perusahaan kita di luar negeri sudah stabil."
"Saya akan sangat senang jika asisten Krisna bisa pulang kembali tuan muda. Dengan demikian, dia membantu untuk meringankan tugas dan pekerjaan saya."
Tentu saja asisten Setya merasa sangat senang jika asisten Krisna kembali ke perusahaan induk. Selama ini, dia selalu kerepotan karena hanya sendirian mendampingi tuan muda mereka.
Sebagai asisten, mereka berdua mempunyai tugas yang berbeda. Asisten Setya bertugas untuk selalu mendampingi Rangga dan memastikan segala sesuatu berjalan dengan sempurna untuk tuan mudanya. Sedangkan asisten Krisna, dia hanya bergerak jika diberikan tugas khusus oleh Rangga. Selain itu, dia juga menjadi perwakilan yang menangani seluruh urusan Tanubrata Grup di luar negeri.
"Bilang saja kalau kau malas. Pakai alasan segala!" Ketus Rangga kepada asistennya.
"Cih. Dasar tuan muda yang kejam. Tidak bisa melihat penderitaan anak buahnya sendiri. Padahal aku jadi kesusahan seperti ini kan karena ulahnya." Asisten Setya hanya bisa berkeluh kesah di dalam hatinya saja. Menghadapi sikap tuan muda yang seperti ini memang harus membutuhkan kesabaran yang ekstra.
"Permisi tuan muda." Setelah mengetuk pintu, sekretaris Naya pun segera masuk. Dia membawa beberapa ikat bunga hias di tangannya.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Rangga keheranan. Biasanya Fiona yang datang membawakan rangkaian bunga. "Kenapa kamu yang yang membawanya? Mana Fiona?"
"Maaf tuan muda. Tadi rangkaian bunga-bunga ini diantarkan oleh orang lain, bukan nona Fiona." Perkataan dari sekretaris Naya membuat Rangga semakin kesal dan bertanya-tanya di dalam hatinya. Sedangkan asisten Setya hanya sesekali melirik ke arah sekretaris Naya.
Kenapa dia tidak muncul?
Apakah dia menghindariku?
Mungkin lamaran ku yang secara tiba-tiba sangat mengejutkannya.
Setelah itu, Rangga langsung berdiri dan mengambil jas miliknya. Dengan terburu-buru dia memakai jasnya dan memberikan perintah. "Naya, kamu tau apa yang harus dilakukan dengan bunga-bunga itu! Setya, ikut aku!" Akhirnya Rangga berjalan meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh asisten Setya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Huhh. Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Fiona yang saat ini hanya duduk melamun. Tampaknya hari ini dia tidak terlalu fokus untuk bekerja.
Gadis itu sebenarnya sedang kebingungan denga sikap dari Rangga yang tiba-tiba mengejutkannya. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah dengan menghindarinya. Maka dari itu, Fiona sengaja meminta rekannya yang mengantarkan bunga ke perusahaan Tanubrata. "Mudah-mudahan mas Rangga tidak marah karena aku tidak ke sana."
"Nak Fio, kamu kenapa? Lagi banyak masalah?" Tegur paman Danu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Kamu kalau ada masalah, cerita sama paman. Jangan dipendam sendiri."
"Eh, tidak kok paman. Fio baik-baik saja." Balas Fiona berbohong. "Fio, hanya kelelahan saja."
"Ya sudah, kamu jangan bekerja terlalu berat. Pikirkan juga kesehatan kamu nak." Sebenarnya paman Danu langsung mengetahui kalau ada hal yang disembunyikan oleh Fiona. Tapi, dia tak ingin memaksakan gadis itu untuk berbicara. Biar bagaimana pun, setiap orang punya sisi privasi masing-masing.
Fiona pun kembali ke dalam lamunannya setelah paman Danu pergi. Dia terlalu larut kedalam pikirannya tanpa menyadari bahwa sudah ada seseorang yang sedang berdiri tepat di sampingnya.
"Tidak baik bagi seorang gadis manis melamun seperti itu. Apakah dirimu sedang mengkhayalkan aku?"
"Eh! Mas Rangga! Kenapa bisa ada di sini?" Pekik Fiona dengan kaget.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau mas ada di sini? Justru mas yang ingin bertanya." Balas Rangga sambil menatap mata Fiona dengan lekat. Hal tersebut malah semakin membuat gadis itu menjadi malu dan salah tingkah.
"Kenapa kamu tidak datang ke kantor mas seperti biasanya? Bukankan kita sudah sepakat bahwa kamu yang akan datang setiap hari untuk mengatarkan bunga?" Tanya Rangga dengan penuh selidik.
"Emm. Itu, anu mas. Aku sedang sibuk, jadi tidak bisa pe ke kantornya mas Rangga." Jawab gadis itu sambil berusaha untuk menghindari tatapan Rangga.
"Sibuk melamun maksudmu?" Kini Rangga semakin mendekatkan wajahnya ke arah Fiona.
Kedua mata mereka kini bertemu dengan sangat dekat. Hal tersebut membuat jangtung Fiona semakin berdetak lebih kencang. Dia tak mengerti kenapa jantungnya seperti ingin melompat ketika ditatap oleh pria ini.
Di lain sisi, sebenarnya hal yang sama juga tengah menyelimuti Rangga. Jantungnya juga berdetak dengan kencang. Baru kali ini jantungnya dibuat berdetak tak karuan. Biasanya dia selalu tak merasakan apa pun setiap didekati oleh para wanita-wanita yang cantik dan seksi.
"Ma, maaf mas. Aku ke belakang dulu, ada urusan." Saat Fiona beranjak untuk pergi, tiba-tiba tangannya dicengkram oleh Rangga.
"Kenapa kamu terus menghidariku? Apakah aku berbuat salah kepadamu?"
"Bu, bukan begitu mas. Aku tidak ada niat untuk menghindar." Jawabnya dengan gugup sambil berusaha untuk melepaskan cengkraman Rangga. "Mas, tolong lepaskan. Tanganku sakit."
"Ikut dengan mas! Ada yang ingin mas bicarakan." Bukannya melepas tangan Fiona, Rangga justru menarik gadis itu untuk berjalan keluar mengikutinya.
"Tuan Rangga? Maaf saya tidak tau kalau anda datang berkunjung." Tegur paman Danu sambil menatap kedua orang itu secara bergantian. Tatapannya kemudian terkunci pada tangan Rangga yang sedang menggenggam tangan Fiona. "Apakah terjadi sesuatu?"
"Tidak apa-apa om. Saya hanya ingin meminta ijin pada om untuk meminjam Fiona sebentar." Jawab Rangga dengan nada datar seperti biasanya.
"Oh, saya pikir ada masalah. Silahkan saja tuan, saya tidak melarang. Yang penting Fiona tidak keberatan." Gadis yang dimaksud justu hanya terus diam sambil menunduk.
"Baiklah, kami permisi dulu." Ucap Rangga dengan singkat tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Paman, Fio keluar sebentar ya. Nanti Fio pasti kembali lagi kesini."
__ADS_1
"Iya, paman mengerti kok. Hati-hati di jalan ya nak."
[BERSAMBUNG...]