
Di kantin kampus, dua orang gadis dengan seorang pemuda sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Fiona dan Kesya begitu larut dalam percakapan mereka berdua. Dan untuk Rangga sendiri pun, sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya.
"Kak Rangga." Pangil Kesya tiba-tiba.
"Hmm." Jawab Rangga singkat tanpa melirik ke arah Kesya.
"Sejak kapan kak Rangga kenal dengan Fio?"
"Belum terlalu lama."
"Terus, kapan rencananya kalian akan menikah?" Tanya Kesya kembali seakan belum ingin menyerah untuk mengajak Rangga berbicara.
"Dua minggu lagi."
"Apakah kalian sudah mempersiapkan segala sesuatunya?"
"Hemm."
"Seperti apa busana yang akan kalian pergunakan nanti? Apakah kalian akan menggunakan setelan gaun dan jas atau pakaian adat? Kalian sudah fitting baju kan?"
Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Kesya pun hanya dijawab oleh Rangga dengan mengangkat kedua bahunya saja. Hal tersebut sontak membuat gadis tersebut kehilangan akal. Dengan wajah pias Kesya pun melirik ke arah Fiona yang hanya membalasnya dengan senyuman getir.
Setelah selesai berkutat dengan ponselnya, Rangga pun akhirnya berdiri sambil berbicara kepada Fiona. "Sayang, sudah selesai? Ayo kita pergi. Nanti kita terlambat."
"Baiklah mas. Ayo!" Balas Fiona sambil ikut berdiri.
"Key, aku duluan ya." Pamit Fiona kepada sahabatnya itu.
Sebenarnya Fiona agak merasa tidak enak kepada sahabatnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Diasadar betuk dengan sikap dari Rangga yang selalu dingin kepada siapa saja.
"Iya, aku juga sudah mau pulang. Sampai jumpa Fio, kak Rangga."
"Hmm." Balas Rangga dengan singkat sambil menggenggam tangan Fiona. Mereka berdua pun segera meninggalkan Kesya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mas, sebenarnya kita mau ke mana sih?" Tanya Fiona sambil memakai sabuk pengamannya.
"Ke mall."
"Ke mall? Untuk apa mas?"
"Nanti juga sayang bakalan tau sendiri." Mendengar jawaban yang khas dari Rangga membuat Fiona berhenti bertanya lagi.
"Ya sudahlah, tidakada gunanya aku bertanya." Gumam gadis itu dalam hati.
Sesampainya di parkiran mall, Rangga langsung mencari tempat untuk parkir. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun langsung turun dan berjalan ke arah pintu masuk.
"Ikut aku!" Pinta Rangga sambil menggandeng tangan Fiona. Sedangkan gadis itu hanya dia mengikuti calon suaminya tanpa protes sedikit pun.
Kini mereka sudah berada di depan sebuah butik mewah yang ada di dalam mall tersebut. Rangga dan Fiona langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam butik tersebut.
"Eh, Rangga? Kamu kenapa tidak bilang sama tante kalau mau datang?" Sapa seorang wanita paru baya yang merupakan pemilik dari butik tersebut yang langsung memeluk pemuda tersebut.
__ADS_1
"Tante Sarah." Ucap Rangga sambil membalas pelukan dari wanita paru baya tersebut.
"Kamu itu, sudah jarang menemui tante dan om di rumah. Dasar anak nakal." Tegur tante Sarah.
"Wah, siapa gadis manis ini?" Ucap tante Sarah lagi sambil melihat ke arah Fiona. "Pacarmu?"
"Tante, ini adalah Fiona. Dia adalah calon istriku. Fiona, ini adalah tante Sara. Tante Sarah adalah sepupu dari mamaku sekaligus pemilik dari butik ini."
"Apa? Calon istrimu?" Tanya tante Sarah dengan ekspresi terkejut.
"Iya. Bagaimana? Calon istriku cantik kan tante?" Balas Rangga dengan ekspresi bangga.
"Dasar anak nakal! Sudah jarang berkunjung, eh pas muncul tau-taunya sudah bawa calon istri." Tante Sarah pun langsung menjewer telinga ponakannya itu.
"Aduh! Sakit tante!" Teriak Rangga. "Bagaimana kalau telingaku sampai putus sebelum acara pernikahan nanti?"
"Jangan bodoh kamu! Mana ada orang yang telinganya putus hanya karena jeweran seperti itu?"
"Hehehe." Balas Rangga cengengesan. "Oh iya, tante tolong carikan gaun yang cantik untuk Fiona kenakan malam ini."
"Memangnya kalian mau ke acara apa malam ini?"
"Bukan ke acara, kami hanya akan makan malam saja. Tolong pilihkan yang cocok ya."
Setelah itu Rangga menatap ke arah Fiona. "Sayang, kamu ikut tante Sarah ya." Perkatan dari Rangga pun hanya dibalas dengan anggukan dari gadis itu.
"Mari sini sayang." Ajak tante Sarah kepada Fiona dengan senyuman ramahnya.
"Oh iya! Hampir lupa! Karena kita sudah berada di sini, sekalian saja kita fitting baju untuk pernikahan nanti." Usul Rangga kepada kedua wanita tersebut. "Bagaimana?"
"Johan!" Panggi tante Sarah kepada asiatennya.
"Ya? Ibu memanggil saya?" Jawab Johan yang langsung segera datang.
"Tolong kamu bantu ponakan saya untuk mengukur badannya. Kita akan membuatkan baju pengantin untuk mereka."
"Baik ibu." Jawab Johan kembali dengan sopan. "Mari tuan muda, silahkan ikuti saya."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di ruang fitting tante Sarah kini sudah bersama dengan Fiona yang didampingi oleh beberapa asisten lainnya.
"Hmm. Wajahmu sangat cantik. Bentuk badanmu juga sangat proporsional." Komentar dari tante Sarah sambil mengamati wajah dan badan Fiona.
Mendapat pujian seperti itu membuat wajah Fiona tersipu merah. Dia merasa sangat malu karena diperhatikan seperti itu.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya tante Sarah yang melihat wajah Fiona sudah memerah. "Kamu sakit?"
"Tidak nyona. Aku hanya merasa malu saja."
Mendenga perkataan dari Fiona membuat tante Sarah kembali tersenyum. Dia pun meletakan tangannya di pundak Fiona. "Kamu tidak perlu merasa sungkan kepadaku. Sebentar lagi kamu akan segerah menikah dengan ponakanku. Itu artinya sebentar lagi kamu akan menjadi ponakanku juga."
"Dan satu hal lagi. Jangan panggil aku nyonya. Panggil saja tante Sarah. Sama seperti Rangga memanggilku."
__ADS_1
"Ba, baik nyo... Eh, tante." Jawab Fiona dengan gagap.
"Nah, begitu kan lebih enak. Bisa kita mulai sekarang." Tanya tanye Sarah yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Fiona.
"Linda, tolong kamu bantu aku untuk mengukur badannya." Perintah tante Sarah kepada salah satu asistennya.
Dengan cekatan, Linda pun segera melingkarkan benang meteran ke setiap sudut tubuh Fiona. Sedangkan asisten yang satunya lagi sibuk mencatat angka-angka yang diucapkan oleh Linda.
Setelah selesai mengukur badan. Tante Sarah kembali menghampiri Fiona dengan membawa beberapa setelan gaun malam di tangannya.
"Mari sayang, kita akan mencoba beberapa gaun ini." Ajak tante Sarah kepada Fiona. Mereka berdua pun segera menuju ke kamar pas.
Di kamar pas, Fiona mencoba beberapa gaun yang diberikan oleh tante Sarah. Setelah mencoba semuanya, akhirnya pilhan jatu kepada sebuah gaun dengan paduan antara warna pink dan biru langit.
"Kamu terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Seperti artis Jepang." Komentar dari tante Sarah sambil mengagumi Fiona. "Kulitmu yang putih bersih memang cocok menggunakan pakaian-pakaian yang berwarna cerah."
"Terima kasih tante. Aku juga suka dengan gaun yang ini." Jawab Fiona sambil tersenyum mengagumi dirinya sendiri di depan cermin.
"Ya sudah. Kita pilih yang ini saja. Silahkan kamu ganti pakaianmu kembali. Tante tunggu di depan ya. Rangga juga sepertinya sudah selesai."
"Iya tante. Aku ganti baju dulu."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai berganti pakaian, Fiona pun menghampiri Rangga dan tante Sarah yang sedang duduk di sofa.
"Bagaimana? Sudah dapat gaun yang cocok?" Tanya Rangga kepada Fiona.
"Sudah mas." Jawab Fiona singkat.
"Gaun seperti apa pun pasti akan cocok dengan Fiona." Sambung tante Sarah. "Kamu memang pintar memilih calon istri."
"Tante tidak menyangka, pria dingin sepertimu bisa juga ada yang melirik." Goda tante Sarah kepada Rangga yang jutsru malah membuat Fiona menjadi malu.
"Tante terlalu meremehkan kemampuan ponakanmu yang satu ini." Jawab Rangga sambil melirik ke arah Fiona.
"Hanya dengan sekali kedipan saja membuat Fiona langsung jatu hati loh tante. Dia bahkan sampai mengejar-ngejar Rangga."
Sembarangan.
Bukannya mas Rangga yang justru mengejar-ngejar diriku?
Cih!
Dasar pembohong.
"Hahaha. Berhentilah menggodanya. Apa kamu tidak bisa melihat wajah calon istrimu yang sudah merah seperti udang rebus?" Balas tante Sarah yang sudah tidak tahan melihat sikap narsis dari ponakannya itu.
"Oh iya, kapan kalian akan melangsungkan acara pernikahan? Supaya tante bisa memperkirakan waktu untuk menyelesaikan pakaian kalian nanti" Kali ini tante Sarah sudah mulai serius berbicara.
"Dua minggu lagi tante." Jawab Rangga dengan santai.
"Apa! Kamu tidak sedang bercanda kan!"
__ADS_1
[BERSAMBUNG... ]