Angin Berbisik

Angin Berbisik
Tuan Muda Keluarga Tanubrata Yang Tampan


__ADS_3

Acara peringatan satu tahun mendiang Rendy Adrian Tanubrata dilanjutkan di rumah kediaman Keluarga Tanubrata. Tenda-tenda besar didirikan di pekarangan rumah yang begitu luas. Acara ini memang sengaja dilaksanan secara outdoor, karena Rangga sendiri sangat tidak suka jika ada orang asing yang berkeliaran di dalam rumahnya.


Seluruh tamu undangan pun sudah mulai memenuhi tenda-tenda yang disediakan. Para tamu yang hadir merupakan keluarga, kerabat, para karyawan serta relasi bisnis. Banyak juga relasi bisnis Keluarga Tanubrata yang datang dari luar negeri untuk menghadiri acara tersebut.


Tepat jam 7 malam pintu utama dari rumah Keluarga Tanubrata terbuka. Sosok yang di nantikan oleh para tamu undangan akhirnya muncul juga. Dengan langkah yang tegap, tuan rumah keluar untuk menyambut para tamu undangan. Rangga berjalan dengan didampingi oleh Setya asisten kepercayaannya yang kemudian diikuti oleh nyonya Linda dan juga nona Aurel.


Malam itu, Rangga tampil mempesona dengan dibalut kemeja dan setelan jas serba hitam. Para tamu yang hadir terutama kaum hawa seolah tersihir melihat maha karya Tuhan yang sedang berdiri di depan mereka.


Para wanita saling berbisik-bisik untuk memuji ketampanan dari pria bak Dewa Yunani tersebut.


"Tuan muda Keluarga Tanubrata itu sangat tampan. Calon suami idamanku." Bisik salah seorang wanita kepada temannya.


"Benar. Sudah orangnya tampan, kaya lagi." Jawab wanita yang satunya lagi.


Wajah tampan milik Rangga dan mendiang kakaknya memang sudah merupakan faktor gen. Mereka merupakan campuran gen unggul. Seluruh keturunan Tanubrata mewarisi wajah yang tampan dan juga cantik. Kakek buyut mereka merupakan orang asli Perancis yang menikah dengan wanita Jepang sehingga menghasilkan keturunan bak Dewa-Dewi Yunani.


Saat itu Rangga sudah berdiri di atas podium yang disediakan untuk memberikan sambutan serta pidato singkat yang menceritakan kisah perjuangan mendiang kakaknya. Dia berdiri dengan didampingi oleh asisten Setya. Sedangkan nyonya Linda dan nona Aurel berdiri di belakang dengan didampingi oleh seluruh pelayan dari Keluarga Tanubrata.


Di depan para undangan, Rangga berbicara dengan gaya yang sangat menawan serta suara yang begitu tegas sehingga memancarkan aura seorang pemimpin dari dalam dirinya.


Pidato yang diucapkan oleh CEO Tanubrata Grup itu pun diakhiri dengan tepuk tangan dari seluruh tamu undangan yang hadir. Selesai berpidato, akhirnya Rangga turun dari podium yang diikuti oleh Setya dan juga anggota keluarga lainnya.


Saat ini Rangga sudah duduk membaur dengan rekan-rekan bisnisnya di meja undangan. Dia didampingi oleh asisten Setya yang berdiri dibelakangnya. Mereka begitu sibuk membicarakan tentang kerja sama bisnis.


"Rangga, sebentar nak. Mama mau memperkenalkan kamu dengan teman mama dan papa." Panggil nyonya Linda sambil menuju ke meja Rangga bersama seorang pria paru baya dan juga puterinya.


Melihat ibunya, Rangga pun segera pamit dengan rekan-rekan bisnisnya untuk menemui sang nyonya.


"Ini adalah Pak Wiratma bersama denga putrinya. Beliau adalah teman lama mendiang papamu" Ucap nyonya Linda sambil memperkenalkan pria paru baya yang berdiri disampingnya.


"Ternyata kabar yang saya dengar memang betul. Anda adalah orang tampan dan juga cerdas. Senang berkenalan dengan anda." Pak Wiratma kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabatan denga Rangga.


"Saya juga sangat senang berjumpa dengan anda." Balas Rangga dengan suara datarnya sambil membalas jabatan tangan dari Pak Wiratma.


"Oh iya. Kenalkan, ini Monica putri saya satu-satunya." Pak Wiratma kembali berbicara sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang berpenampilan cukup seksi. "Putri saya baru saja balik ke Jakarta setelah menyelesaikan studinya di London."


Monica segera mengulurkan tangannya sambil menampilkan senyuman yang genit. "Perkenalkan, aku Monica. Aku sudah menanti-nantikan pertemuan denganmu."


Rangga pun hanya menatapnya dengan senyum tipis namun enggan untuk membalas uluran tangan dari Monica. Hal tesebut membuat gadis itu sedikit malu dan kemudian menarik tangannya kembali.


Sejak kematian kakaknya, Rangga menjadi dingin pada semua wanita. Dia sangat membenci para wanita yang selalu berpakaian seksi dan juga bersikap genit. Mereka semua akan kembali mengingatkannya pada sosok wanita yang sudah menghancurkan kehidupan mendiang kakaknya.


"Pak Wiratma, saya pamit undur diri dulu. Saya ada urusan sebentar." Rangga kemudian berjalan meninggalkan Nyonya Linda, Pak Wiratma dan Monica dengan tergesa-gesa. Dia sangat malas berada di dekat Monica.

__ADS_1


"Dasar pria angkuh. Namun tenang saja, aku akan membuatmu menjadi milikku." Gumam Monica yang merasa tidak terima diabaikan. Baru kali ini dia merasa diabaikan oleh seorang pria.


"Setya, kamu urus acara ini hingga selesai." Perintah Rangga kepada asistennya.


"Anda mau kemana tuan muda?" Tanya asisten Setya.


"Aku capek, mau istirahat." Balasnya sambil berjalan tanpa melihat ke arah Setya.


"Baik tuan muda." Asisten Setya pun segera kembali untuk menangani acara yang sedang berlangsung.


Di dalam rumah yang megah bagaikan istana, Rangga berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Para pelayan yang melihatnya langsung menundukan kepala untuk memberi hormat.


"Anda butuh sesuatu tuan muda?" Sapa Pak Albert yang merupakan kepala pelayan di keluarga tersebut.


"Saya akan beristirahat di kamar. Dan saya tidak ingin diganggu oleh siapapun." Balas Rangga dengan nada ketus.


"Baiklah. Selamat beristirahat tuan muda. Panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu." Pak Albert pun segera mengangguk dengan hormat kemudia pergi meninggalkan tuan mudanya.


Di dalam kamarnya yang sangat luas, Rangga melepaskan jas dan dasi yang dia pakai kemudian meleparnya ke atas sofa. Setelah itu dia berjalan menuju ke sebuah lemari kaca sambil membuka satu kancing bagian atas dan menggulung lengan kemejanya.


Rangga kemudian membuka lemari kaca tersebut dan mengambil sebuah botol minuman beralkohol dan sebuah sloki kecil. Setelah itu, dia berjalan menuju ke balkon sambil memegang botol dan sloki di tangannya.


"Hufff..."


"Sungguh merupakan hari sangat membosankan." Desahan nafas yang panjang menandakan bahwa saat ini CEO tampan tersebut sedang kelelahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mama kenapa? Dari tadi Aurel perhatikan mama seperti kebingungan."


"Mama sedang mencari kakakmu. Acara masih sedang berlangsung, tapi dia malah menghilang." Jawab nyonya Linda dengan gusar "Apakah kamu melihat kakakmu?"


Aurel pun hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Dia juga yang sejak tadi sibuk bersama dengan teman-temannya tidak terlalu memperhatikan keberadaan kakaknya.


"Albert. Dimana Rangga?" Nyonya Linda pun memanggil kepala pelayang keluarganya yang kebetulan sedang lewat.


"Tuan muda sedang beristirahat di kamarnya nyonya." Albert menjawab majikannya dengan sopan.


"Dasar anak itu. Para tamu belum pulang, tapi dia malah mengurung diri di kamar. Ya sudah, aku akan memanggilnya." Dengan sedikit kesal, Nyonya Linda pun berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamar puteranya.


"Maaf nyonya. Tapi tuan muda berpesan bahwa dia tidak ingin diganggu." Pak Albert mencoba untuk menahan majikannya agar tidak naik ke atas.


"Tidak ingin diganggu bagaimana? Acara kan masih sedang berlangsung." Jawab sang nyonya dengan kesal "Sudah, jangan menghalangiku. Pergi sana!"

__ADS_1


"Nyonya tau sendiri kan apa akibatnya jika tuan muda marah?" Kali ini Pak Albert berbicara sambil menekankan di setiap kata-katanya.


Perkataan dari kepala pelayan tersebut membuat sang nyonya tertegun. Dia tau betul dengan watak anaknya itu. Apalagi sejak Rangga menjadi kepala keluarga di rumah itu, dia bersikap sangat otoriter dalam memimpin keluarganya. Tak ada seorang pun yang berani membantah perkataannya. Hal tersebut juga berlaku untuk ibu dan adiknya sendiri. Rangga menerapkan aturan tanpa pandang bulu dirumahnya sendiri. Jika berbuat kesalahan, walupun itu adalah ibu dan adiknya sendiri, mereka tetap akan menerima hukuman dari Rangga.


Sikap Rangga sendiri sebenarnya bukan tanpa alasan. Sejak kematian kakaknya, dia bertekat agar tak ada seorang pun yang dapat menginjak harga diri keluarganya. Dia begitu keras kepada ibu dan adiknya agar mereka tidak melakukan kecerobohan yang dapat merusak nama baik keluarga.


"Jika sudah tidak ada lagi yang dibutuhkan. Saya pamit dulu nyonya. Saya akan ke depan untuk membantu Tuan Setya." Pak Albert pun segera pamit kemudian berjalan meninggalkan Nyonya Linda dan Nona Aurel.


"Sekali lagi saya mohon untuk tidak mengganggu tuan muda yang sedang beristirahat." Ucapnya untuk mengingatkan kembali sebelum meninggalkan nyonya dan nona muda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di balkon kamar, Rangga sedang duduk menikmati angin malam sambil meneguk sloki minumannya dengan ditemani sebatang rokok.


Setelah meletakan gelas sloki, Rangga pun mengambil lembaran foto yang ada di atas meja. Dia menatap wajah wanita yang begitu dibencinya itu sambil memikirkan sesuatu.


Hmm.


Bagaimana caraku untuk memberimu hukuman ya?


Apa kau langsung kuhabisi saja?


Jangan.


Itu terlalu mudah bagimu nona Fiona.


Aka akan membuatmu tersiksa sehingga kau akan mengemis kematian di kakiku.


Dengan seringai jahat, Rangga kemudian meletakan kembali foto tersebut dan meraih ponsel yang ada di dalam sakunya.


"Setya, dengarkan perintahku."


"Mulai besok aku ingin bunga segar yang ada di ruanganku diganti setiap hari. Seluruh bunga segar itu harus berasal dari Toko Ambar" perintahnya kepada asisten Setya. "Dan satu lagi. Bunga-bunga tersebut harus diantar oleh Fiona ke ruanganku setiap hari." Rangga pun langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari asistenya.


Di depan kediaman Keluarga Tanubrata, Setya yang selesai menerima telepon dari tuan mudanya pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


"Huh. Dasar tuan muda. Mau mendekati seorang wanita saja susah. Ujung-ujungnya aku juga yang kena imbas." Lirih Setya yang kebingungan dengan tingkah tuan mudanya itu.


"Pakai modus antar bunga segala lagi. Tapi baguslah, akhirnya tuan muda bisa kembali membuka hatinya untuk seorang wanita. nona Fiona juga lumayan cantik kok."


"Mudah-mudahan dengan kehadiran nona Fiona, bisa membuat tuan muda melupakan nona Nasya yang menyebalkan itu." Gumam asisten Setya dalam hati.


"Tapi, nyonya bisa menerima keberadaan nona Fiona atau tidak ya? Nyonya kan selalu mengutamakan bibit, bebet dan bobot untuk calon menantu."

__ADS_1


"Ah, untuk apa aku memikirkannya. Lagi pula yang berkuasa di rumah ini sekarang kan tuan muda."


[BERSAMBUNG...]


__ADS_2