
Setelah menutup sambungan telepon, asisten Setya langsung bergegas menuju ke ruangan Rangga. Sebelum masuk, asisten tersebut mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi tuan muda." Perkataan dari asisten Setya pun langsung membuat perhatian Rangga beralih dari dokumen yang ada di depannya.
"Mengganggu saja! Kau tidak melihat kalau aku sedang sibuk?" Gerutu Rangga karena merasa kesal kalau aktifitas bekerjanya terganggu.
"Maaf tuan muda. Tapi ada laporan yang ingin saya sampaikan."
"Aku harap laporanmu kali ini penting. Jika tidak, gajimu akan aku potong."
"Cih. Tuan muda sungguh tidak berperasaan." Pikir asisten Setya dalam hatinya. "Saya ingin melaporkan tentang nona Fiona tuan muda."
"Oh. Segera katakan! Aku tak suka menunggu!" Kini Rangga mulai menyandarkan bahunya di sandaran kursi sambil menunggu asisten Setya melanjutkan laporannya.
"Berdasarkan laporan dari mata-mata kita, saat ini nona Fiona sedang berada di kantin kampus."
"Terus?"
"Saat ini nona Fiona sedang makan siang bersama teman-temannya."
"Kau mengganggu kesibukanku hanya untuk mengatakan hal itu? Dasar tidak berguna!" Rangga yang merasa kesal kemudian melemparkan sebuah pena ke arah asisten Setya. "Keluar kamu!"
Dengan sigap, asisten Setya menangkap pena yang dilemparkan oleh Rangga. Dia kemudian berjalan ke arah meja temoat Rangga dan dengan perlahan meletakkan pena tersebut diatas meja. "Apakah muda tidak ingin mengetahui saat ini nona Fiona sedang bersama siapa?"
"Apa maksud dari perkataanmu! Cepat bicara! Jangan bertele-tele!"
"Dasar atasan yang tidak sabaran." Gumam asisten Setya dalam hati. "Saat ini nona Fiona sedang bersama dengan nona Kesya dan..." Pria tersebut sedikit mengambil jeda terhadap perkataannya.
"Dan siapa lagi? Ayo cepat bicara! Atau kau mau gajimu aku potong?"
"Tuan Dimas Raditya Novanto. Nona Fiona saat ini sedang bersama dengan nona Kesya dan tuan Dimas."
"Apa! Kenapa dia bersama Dimas?" Perkataan dari asisten Setya sontak membuat Rangga sedikit geram.
"Maaf tuan muda, saya tidak tau. Akan segera saya selidiki hubungan antara nona Fiona dan tuan Dimas."
"Awasi terus kegiatan mereka! Jangan sampai ada yang terlewatkan!"
Hmm.
Tunggu saja Dimas.
Kau tak akan menang melawanku.
Aku tak suka jika ada yang berusaha untuk mengusik barang milikku.
"Setya, suruh Naya untuk membatalkan semua jadwalku siang ini." Perintah dari Rangga. "Setelah itu, antarkan saya untuk bertemu dengan tuan Dirga di rumahnya."
"Baik tuan muda. Tapi, tumben anda ingin menemui tuan Dirga saat ini. Biasanya kan sesudah jam pulang kantor."
"Aku ingin mengubah rencanaku." Rangga mengucapkan kata-kata tersebut dengan seringai di wajahnya. "Sudah! Jangan banyak tanya! Lalukan saja apa yang aku perintahkan!"
Asisten Setya hanya bisa menarik nafas panjang karena melihat kelakuan dari Rangga. "Aih. Tuan muda. Sebenarnya apa sih yang ada di dalam pikiran anda?" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di Kantin kampus.
Ketiga muda-mudi itu sedang asik bercakap ria. Fiina dibuat tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan lelucon dari Kesya. Sedangkan Dimas hanya terus menatap kedua gadis yang berada di depannya sambil tersenyum. Sesekali dia juga ikut dalam percakapan tersebut.
Gadis cantik.
Entah mengapa, senyuman dan tawa lepasmu.
Membuat hatiku semakin bergetar.
Ingin rasanya bagi diriku untuk segera memilikimu.
Tapi.
Aku masih bingung.
Bagaima caranya merangkai kata untuk mengungkapkan perasaanku.
"Kak Dimas!" Tiba-tiba terdengar suara panggilan dengan nada marah.
Dimas pun langsung menoleh ke arah sumber suara yang sebenarnya sudah sangat dia kenal.
"Tika? Kamu sudah selesai urusannya?" Balas Dimas ke arah seorang gadis yang sedang berdiri tepat di belakangnya. Sedangkan Fiona dan Kesya langsung menghentikan percakapan mereka dan ikut menengok ke arah Tika.
"Dari tadi! Kakak ke mana sih? Katanya ingin membantu Tika, taunya malah menghilang! Tika itu sudah dari..." Akhirnya Tika menghentikan omelannya setelah melihat kode mata dari Dimas.
"Tika. Perkenalkan, ini teman-teman kak Dimas.
"Fiona, Kesya. Ini Tika adikku." Dimas pun memperkenal mereka.
Ketiga gadis itu pun sambil bersalaman dengan senyum ramah sambil memperkenalkan diri.
"Jadi, ini adiknya mas Dimas ya? Cantik sekali. Gayanya pun begitu elegan." Puji Fiona dalam hati.
"Jadi? Yang mana nih gadis incarannya kak Dimas?" Goda Tika kepada kakaknya.
Dimas pun sontak langsung berdiri dan mencegat adiknya yang sedang mengeser kursi untuk dia duduki.
"Emm. Tika kita pulang sekarang ya. Mami pasti sudah menunggu kita di rumah." Kali ini wajah Dimas yang putih berubah menjadi merah.
"Ta... Tapi kan kak. Tika lapar. Mau makan dulu."
"Makannya di rumah saja. Ayo kita pulang." Sebelum beranjak dari tempat itu, Dimas melirik Kesya dan Fiona. "Kes, aku balik dulu ya. Cantik, mas pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi."
Fiona dan Kesya pun hanya membalas dengan anggukan. Mereka tidak bisa berkata apa-apala lagi melihat adegan barusan.
"Fiona Anastasya Wijaya, jelaskan semuanya padaku!" Setelah melihat kedua kakak beradik tersebut menghilang, Kesya langsung menatap tajam kepada sahabatnya.
"Apanya?" Tanya Fiona dengan bingung.
"Jangan sok lugu! Kamu pikir aku bodoh? Cepat, ceritakan semua hal tentang calon iparku itu."
__ADS_1
"Jangan sembarangan menyebut mas Dimas dengan panggilan kakak ipar. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia" protes Fiona.
"Yakin tidak ada hubungan apa-apa? Terus, kenapa sejak tadi dia terus menatapmu seperti itu? Lagi pula, kenapa dia memanggilmu dengan sebutan cantik? Coba jelaskan semuanya padaku!"
"Itu sih urusannya. Lagi pula aku juga merasa risih selalu di panggil cantik."
"Ya ampun Fio!" Pekik Kesya sambil memegang kedua pipi sahabatnya itu. "Kamu itu polos atau pura-pura bodoh sih?"
"Kak Dimas itu naksir kamu! Memangnya kamu tidak bisa melihat dari gelagatnya?"
"Kesya sahabatku. Kamu tau sendiri kan, aku masih belum memikirkan yang namanya cinta."
"Terserah. Tapi kalau nanti jadi bucin, baru tau rasa kamu!"
"Sudah, berhenti membahas tentang mas Dimas. Kelasnya pak Efan sudah mau mulai loh." Fiona mengingatkan tentang kelas dari dosen yang masih muda dan tampan tersebut.
"Astaga! Aku hampir lupa. Ayo buruan! Kita harus dapat tempat duduk di paling depan." Balas Kesya dengan wajahnya yang bersemangat.
Pak Efan adalah seorang dosen yang mengajar mata kuliah Estetika Bentuk. Walaupun sudah menjadi dosen, tapi usia beliau masih sangat muda. Wajahnya begitu tampan sehingga membuat para mahasiswi selalu tersihir saat menatapnya mengajar di depan kelas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kak, tadi Tika mengganggu ya?" Tanya sang adik yang sedang duduk di samping Fimas yang sedang menyetir.
"Sudah tau, masih bertanya lagi!" Jawab Dimas dengan ketus.
"Fiona itu orangnya seperti apa sih kak? Sampai membuat kakakku satu-satunya menjadi mabuk kepayang begini?"
"Dia itu orangnya sangat cantik, lembut dan berkepribadian yang baik. Orangnya juga sangat mandiri dan memiliki tekat yang kuat."
"Disaat gadis-gadis seusianya hidup dengan enak. Dia justru berjuang membanting tulang untuk membiayai keluarganya. Itulah yang membuat kakak kagum dan jatuh hati kepadanya."
Tika bisa melihat ada keseriusan di mata kakaknya. Dia berharap bahwa kali ini kakaknya bisa bahagia setelah mendapatkan gadis pujaan hati. Selama ini, kakanya selalu sibuk dengan pekerjaan.
"Dengan kehadiran Fiona. Mudah-mudahan kali ini bisa membuat kak Dimas bisa sedikit menikmati hidup. Aku tak mau kakak jadi perjaka tua" batin Tika.
"Jadi, kapan nih kak?"
"Kapan apanya?"
"Kapan Fiona mau dibawa ke rumah? Memangnya kakak tidak mau memperkenalkannya sama mami dan papi?"
"Tunggu saja tanggal mainnya. Kakak harus merebut hatinya dulu."
"Jangan terlalu lama kak. Nanti diambil orang baru tau rasa!"
"Kamu sebenarnya mendukung kakak atau tidak sih?"
"Tika mendukung kakak kok. Lagi pula Tika juga sengan dengan Fiona. Dari yang Tika lihat, orangnya sangat tulus."
"Adik manis. Kakak sayang kamu." Ucap Dimas sambil mengusap kepala adiknya.
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1