Angin Berbisik

Angin Berbisik
Terharu


__ADS_3

Sesuai janji, saat ini Fiona dan Rangga sedang berada di sebuah restoran mewah. Mereka duduk di tempat khusus yang sudah dipesan oleh Rangga. Setelah pesanan dihidangkan, mereka pun menikmati makan siang yang romantis tersebut.


"Sayang." Panggil Rangga disela-sela menikmati makanannya.


"Ada apa mas?" Balas Fiona.


"Besok jadwal kuliahmu sampai jam berapa?"


"Jam empat sore mas. Memangnya kenapa?"


"Bagus. Besok sore aku akan menjemputmu." Setelah itu Rangga mengambil jeda sedikit dan kemudian berbicara kembali. "Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Baiklah. Tapi, mas mau mengajak saya kemana?" Tanya Fiona yang sedikit penasaran.


"Mas akan mengajakmu ke butik. Kita harus fitting pakaian untuk menikah nanti."


Sejenak Fiona tertegun dengan perkataan Rangga barusan. Ya, sampai saat ini gadis itu masih belum percaya kalau tidak lama gai lagi dia akan menikahi pria yang ada di depannya itu.


"Sudah harus besok ya mas?"


"Tentu saja. Pernikahan kita kan tinggal dua minggu lagi. Jadi kita harus mengurus segala sesuatu dengan cepat." Jawab Rangga dengan santai.


"Aku ikut apa yang sudah mas atur saja." Balas Fiona tanda bahwa dirinya setuju.


Setelah itu mereka berdua pun kembali menikmati hidangannya masing-masing. Mereka makan dengan tenang hingga selesai tanpa bersuara.


"Mas Rangga, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Fiona setelah mereka selesai makan.


"Ya, silahkan. Asalkan jangan bertanya yang aneh-aneh."


"Tidak kok mas. Aku hanya sedikit penasaran saja."


"Penasaran? Tentang apa?"


"Kenapa mas memilih aku untuk menjadi istri mas?" Fiona agak berhati-hati dalam berbicara. Dia tidak ingin jika Rangga nantinya tersinggung dengan pertanyannya.


"Bukankah aku adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang tidak sepadan dengan keluarga mas? Apalagi kita belum terlalu lama saling mengenal."


"Hmm..." Sejenak Rangga berpikir untuk menjawab pertanyaan ini. Dia sadar bahwa suatu saat Fiona pasti akan menanyakan hal ini.


"Kok mas jawabnya hanya itu? Apa pertanyaanku menyinggung mas ya? Aku minta maaf kalau begitu. Anggap saja pertanyaan tadi tidak ada."


"Karena kamu cantik dan juga pintar memasak." Akhirnya Rangga pun lanjut menjawab walaupun hanya singkat.


"Hah?"

__ADS_1


"Sayang. Aku tau, di hatimu pasti masih ada keraguan terhadap diriku. Memang ini masih terasa begitu tiba-tiba untukmu. Tapi aku hanya ingin meminta satu hal darimu. Tolong, yakin dan percayalah kepadaku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia karena telah memilih diriku."


Mendengar jawaban dari Rangga membuat Fiona merasa bahagia. Semua keraguan yang ada di dalam pikirannya hilang seketika.


Maaf Fiona.


Saat ini, aku belum bisa mengatakan alasanku yang sebenarnya.


Aku harus mengikat dirimu terlebih dahulu dalam sebuah pernikahan.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah puas mendengarkan jawaban dariku?" Tanya Rangga dengan senyuman yang tak pernah dia tunjukan kepada orang lain.


"Iya mas. Aku percaya. Terima kasih." Jawab Fiona sambil tersenyum penuh denga haru.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena mas mau menerima diriku dengan tulus. Padahal aku hanyalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang tidak punya apa-apa." Kali ini mata Fiona mulai berkaca-kaca.


Terima kasih Tuhan.


Engkau mau mengirimkan kepada hamba-Mu ini seorang pria yang baik.


Hamba hanya berharap bahwa dia adalah pria yang tepat untuk hidupku.


"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Justru akulah yang harus berterima kasih kepadamu. Kamu adalah seorang malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk melengkapi hidupmu."


Mendengan perkataan dari Rangga membuat bulir air mata Fiona jatuh membasahi pipinya. Tak ketinggalan juga para pelayan dan tamu lainnya yang ada di restoran itu. Mereka pun ikut terharu menyaksikan adegan ini.


Belum saatnya bagi dirimu untuk berterima kasih nona.


Tunggulah.


Akan tiba saatnya nanti.


Selesai makan siang, Rangga pun mengantar Fiona ke kampus. Di depan kampus, Rangga menghentikan mobilnya kemudian keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi Fiona.


"Yakin tidak ingin aku temani sampai di depan kelas?" Tanya Rangga sambil membantu Fiona untuk keluar dari dalam mobil.


"Tidak perlu mas. Lagi pula siang ini kan mas harus ke kantor. Kasihan asisten Setya dari pagi harus bekerja sendiri."


"Kok kamu malah memperdulikan asistenku sih? Aku jadi cemburu lagi loh." Balas Rangga dengan pura-pura cemberut.


"Bukan itu maksudku mas." Fiona hanya bisa tersenyum melihat tingkah calon suaminya ini.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya mas. Takut nanti terlambat."

__ADS_1


"Baiklah. Cepat masuk, jangan sampai terlambat." Balas Rangga yang masih menggenggam tangan Fiona.


Saat Fiona akan bernjak dari tempat itu, Rangga tiba-tiba menarik tangan gadis itu kembali. Karena kaget, Fiona hampir saja tersandung. Namun, dengan sigap Rangga langsung memeluk tubuhnya.


Cupp...


Dengan cepat sebuah kecupan mendarat di kening Fiona. Sonta hal tersebut membuat gadis itu kaget.


"Itu kecupan penyemangat untuk hari ini sayang. Supaya kamu bisa lebih semangat lagi kuliahnya." Ucap Rangga sambil menggoda Fiona.


"Mas apa-apaan sih? Kan malu dilihat sama semua orang." Protes Fiona yang kini wajahnya sudah merona karena malu.


"Kenapa harus malu sayang? Sebentar lagi kan kita akan segera menikah. Atau jangan-jangan ciuman mas kurang ya? Sini, biar mas tambah lagi." Balas Rangga sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Tanpa menjawab, Fiona langsung melepaskan dirinya dari pelukan Rangga. Setelah itu dia langsung berbalik sambil berlari meninggalkan pria tersebut. Sambil berlari dia menutupi wajahnya sudah sejak tadi menjadi merah karena malu.


Adegan mesra tersebut tentu saja menjadi tontonan gratis di pintu gerbang kampus tersebut. Banyak orang terharu melihat adegan tersebut. Tidak sedikit juga yang merasa iri setelah melihatnya.


"Sayang! Pulangnya nanti mau aku jemput?" Teriak Rangga kepada Fiona.


"Tidak usah! Aku pulangnya sama Kesya saja!" Jawab Fiona sambil berteriak tanpa berbalik ke arah Rangga.


"Itukan Fiona yang dari jurusan seni? Wah, pacarnya tampan ya? Orang kaya lagi." Ucap seorang mahasiswi yang berada di dekat situ.


"Benar, aku jadi iri melihatnya." Balas mahasiswi lain.


Sedangkan Rangga hanya menampilkan ekspresi datar mendengar komentar-komentar di sekitarnya. Dia tidak begitu memperdulikannya. Dengan cuek, dirinya langsung kembali masuk kedalam mobil dan pergi dari tempat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di dalam kelas, Fiona kini sedang duduk sambil mengatur nafasnya. Selain itu, dia juga berusaha untuk mengatur detak jantungnya yang begitu cepat.


Setelah itu, dia mengambil botol air yang ada di dalam tasnya. Denga cepat gadis itu meneguk air yang ada di dalam botol tersebut hingga hampir habis.


Mas Rangga apa-apan sih?


Aku kan malu jadi bahan tontonan seisi kampus.


Pasti sebentar lagi aku akan jadi bahan gosip seisi kampus.


Masih dengan nafas yang tersengal-sengal Fiona kini mencoba untuk menutup matanya. Tanpa disadarinya sudah ada seseorang yang sedang berdiri di sampingnya.


"Fiona Anastasya Wijaya! Jelaskan semuanya padaku!" Teriak Kesya sambil melipat kedua tangannya di depan.


[BERSAMBUNG...]

__ADS_1


__ADS_2