
"Kamu ada di mana sekarang?" Tanya Rangga.
"Aku sedang berada di toko bunga mas. Baru saja selesai kerja."
"Tunggu saja disitu, mas akan mengutus asisten Setya untuk menjemputmu."
"Baiklah, aku tunggu ya mas." Setelah selesai berbicara, baik Fiona maupun Rangga langsung mematikan sambungan telpon mereka.
Setelah selesai menerima telepon dari Fiona, Rangga kemudian langsung menghubungi asisten Setya.
"Ada apa tuan muda?" Jawab asisten Setya di seberang telepon.
"Setya, antarkan aku di restorang langganan sekarang. Dan setelah itu kamu langsung pergi untuk menjemput Fiona." Seperti biasa, Rangga langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari asistennya.
Hmm.
Sepertinya tuan muda serius.
Apakah dia sudah benar-benar melupakan nona Nasya?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rangga dan asisten Setya kini sudah sampai di restoran yang mereka tuju. Sambil bersiap untuk turun, tak lupa dia memberikan perintah kepada asistennya itu. "Aku akan menunggu di sini. Kau langsung saja pergi menjemput Fiona."
"Baik tuan!" Jawab asisten Setya singkat.
Tanpa basa-basi lagi, asisten Setya langsung turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi tuannya. Setelah turun, Rangga kembali berucap kepada asistennya. "Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama!"
Di depan pintu, Rangga sudah di sambut oleh manajer dan pelayan restoran tersebut. "Selamat datang tuan muda. Mari saya antarkan ruangan yang sudah anda pesan." Sapa manajer tersebut sambil memberikan kode kepada pelayan yang ada di sampingnya.
Manajer dan pelayan restoran tersebut mengantarkan Rangga ke sebuah ruangan yang bertuliskan VVIP. Sebuah ruangan yang cukup luas untuk digunakan oleh satu keluarga. Dinding ruangan tersebut sebagian didominasi oleh kaca transparan.
"Silahkan duduk tuan muda. Apakah anda sudah ingin memesan sekarang?" Tanya manajer tersebut.
"Sebentar lagi. Saya sedang menunggu seseorang." Jawab Rangga dengan nada datar.
"Baiklah tuan muda. Saya sudah menyipkan seorang pelayan khusus yang akan menunggu di sini. Jika anda sudah siap untuk memesan, langsung minta saja kepadanya."
Setelah itu, manajer tersebut langsung pamit untuk keluar. Sedangkan pelayan yang disebutkan tadi langsung berdiri di samping Rangga. Dengan telaten pelayan tersebut menuangkan teh hijau ke cangkir yang ada di depan Rangga.
"Silahkan diminum tehnya tuan." Ucapnya dengan sopan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Loh, itukan Rangga Tanubrata?" Monica berbicara kepada kedua sahabatnya sambil menatap sosok yang ada di balik kaca.
Kebetulan Monica dan kedua sahabatnya juga datang untuk makan siang di restoran yang sama dengan Rangga. Mereka baru saja selesai berbelanja di sebuah mall yang terletak tak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Yang mana?" Tanya Jessica kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Itu yang lagi di dalam ruangan VVIP." Tunjuk Monica ke arah Rangga.
"Jadi dia pria sering kau ceritakan itu? Wah, orangnya tampan ya." Sambung Clara menimpali percakapan dari Monica dan Jessica.
"Iya, siapa lagi coba?" Balas Monica kepada kedua sahabatnya. "Aku ke situ dulu ya? Mumpung dia lagi sendirian. Siapa tau aku bisa menemaninya makan siang."
"Kami juga ikut donk!" Protes Jessica dan Clara kompak.
"Kalian mengganggu saja! Ya sudah, ayo cepat.!" Balas Monica sambil menampikan ekspresi tidak suka.
Tanpa malu-malu ketiga sahabat itu langsung masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh Rangga.
"Hai Rangga. Kebetulan sekali ya. Kita bertemu lagi." Sapa Monica yang langsung duduk di kursi seberang yang berhadapan dengan Rangga. Karena kursi yang ada di dalam hanya khusus disediakan untuk dua orang saja membuat kedua sahabat Monica hanya berdiri.
"Mbak, tolong tambah dua buah kursi lagi di sini." Pinta Clara kepada pelayan. Namun sebelum pelayan tersebut beranjak, Rangga terlebih dahulu mengankat tangannya untuk memberikan kode berhenti.
"Siapa kamu? Mengapa kamu begitu lancang masuk ke ruanganku seenaknya?" Tanya Rangga dengan tatapan yang tidak suka kepada Monica.
Sesaat Monica dibuat tercengang dan merinding melihat tatapan dari pria tersebut. Untung saja dia berhasil menguasai dirinya kembali. Setelah itu Monica langsung menampilkan senyuman manjanya kepada Rangga. Berharap bahwa pria itu akan tergoda.
"Aku Monica. Apakah kamu sudah lupa? Kita sudah pernah bertemu di peringatan satu tahun mendiang tuan Rendy".
"Maaf, aku tidak ingat." Jawab Rangga dengan datar. "Bisakah kalian keluar dari sini? Kalian sudah lancang masuk ke ruangan privasi milik orang lain."
"Lagi pula, kursi yang kamu duduki saat ini sudah adalah milik orang lain." Mendengar perkataan Rangga membuat hati Monica menohok. Baru kali ini dia dipermalukan, terlebih lagi didepan kedua sahabatnya. Sedangkan kedua sahabat Monica hanya berdiri mematung.
"Fio, kamu sudah datang ya? Ayo sini." Balas Rangga sambil melambaikan tangan.
"Mas masih ada tamu. Aku tunggu di luar saja ya? Takutnya mengganggu."
"Tidak, kamu tak perlu menunggu di luar. Mas tidak kenal dengan mereka. Lagi pula mereka sudah mau pergi kok." Setelah itu Rangga langsung mengerling ke arah Monica dan kedua sahabatnya.
"Baiklah, kami pergi dulu. Maaf mengganggu." Ucap Monica sambil berdiri dengan gugup. Setidaknya dia masih punya rasa malu untuk tetap tinggal di ruangan ini.
Saat hampir berpapasan, Fiona memberikan senyuman. Namun, Monica menatapnya dari ujung kepala sampai keujung kaki dengan tatapan sini. Setelah itu dia langsung berjalan dan dengan sengaja menyenggol Fiona. Senggolan dari Monica membuat Fiona agak meringis kesakitan.
"Mereka siapa mas?" Tanya Fiona yang sudah duduk di depan Rangga. Sedangakan asisten Setya memutuskan untuk duduk di meja luar karena tidak ingin mengganggu.
"Bukan siapa-siapa. Hanya lalat-lalat pengganggu saja." Jawab Rangga dengan santai. Setelah itu dia langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan mereka datang. Tanpa basa-basi lagi Rangga langsung bertanya kepada Fiona. "Fio, apakah kamu sudah membuat keputusan? Mas sangat berharap kamu akan memberikan jawaban yang menyenangkan."
Mendengar pertanyaan dari Rangga yang sangat 'to the point' membuat Fiona sedikit kaget. Nafanya jadi tidak beraturan.
"Maaf jika mas bertanya langsung. Mas bukan orang yang bertele-tele."
Setelah berhasil mengatur ritme nafanya. Fiona langsung menatap mata Rangga dengan mantap. Dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk saat yang mendebarkan ini.
"Baiklah, aku akan langsung menjawabnya."
__ADS_1
Ayah.
Walaupun ayah berkata untuk tidak melibatkan dirimu dan Gilang dalam hal ini.
Tapi.
Maafkan Fio ayah.
Fio akan melakukan semuanya demi ayah dan Gilang.
"Aku setuju mas!"
"Apa? Mas kurang jelas mendengarnya. Bisa diulangi?" Tanya Rangga sambil berpura-pura tidak mendengarnya denga jelas.
"Aku menerima lamaran dari mas Rangga." Setelah selesai menjawab Fiona langsung menundukkan kepala. Wajahnya merona merah karena malu.
"Terima kasih. Itu jawaban yang sangat mas inginkan. Mas pasti akan tetap memegang janji yang sudah mas ucapkan sebelumnya." Saat ini, entah mengapa Rangga merasa ada sedikit kelegaan di hatinya.
Selesai makan siang, mereka langsung beranjak untuk kembali. Tanpa ragu-ragu, Rangga langsung menggandeng tangan Fiona. Hal tersebut tentu saja membuat Fiona tersipu karena tangannya di genggam oleh seorang pria. Sedangkan asisten Setya hanya tersenyum lega melihat majikannya sudah berhasil menemukan calon pasangan hidup.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain.
"Permisi nyonya." Seorang pria paru baya sedang berdiri di depan pintu ruang kerja yang terbuka.
"Masuklah. Aku sudah menunggumu." Balas sang majikan tersebut. "Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan informasi yang terbaru?"
"Iya nyonya. Berdasarkan informasi, saat ini tuan Rangga sudah melamar nona Fiona."
"Dan apa jawab Fiona?"
"Nona Fiona menerima lamaran dari tuan Rangga nyonya." Jawab pria paru baya tersebut. "Apa langkah yang akan anda ambil selanjutnya nyonya?"
"Kita biarkan saja dulu untuk saat ini. Tetap pantau terus perkembangan hubungan mereka."
"Baik nyonya, saya permisi dulu." Setelah itu, pria paru baya tersebut langsung keluar meninggalkan majikannya.
Hmm.
Untuk saat ini aku hanya akan memantau saja.
Aku ingin mengetahui seberapa besar keseriusan Rangga terhadapmu Fiona.
Setelah itu.
Akan tiba saatnya bagi diriku untuk bertindak.
[BERSAMBUNG...]
__ADS_1