Angin Berbisik

Angin Berbisik
Tidak Menerima Penolakan


__ADS_3

Di bagian pantry, Fiona tengah bersiap-siap untuk pulang. Saat ini dia sudah mengenakan celana jeans, kaos oblong putih dan jaket warna hitam.


"Wah, sudah pukul 1:00 malam. Mudah-mudahan masih ada taksi online." Gumam gadis muda ini sambil melirik jam tangan.


"Fionaaaa..." Kesya yang entah muncul dari mana tiba-tiba memeluk tubuh tubuhnya dari belakang.


"Eh, kamu Key. Tidak usah pakai teriak-teriak kenapa sih? Bisa tuli telingaku!"


"Terima kasih ya Fio, cafe kita malam ini banjir pengunjung berkat kamu." malam ini Kesya sangat senang karena pendapatan cafenya melewati target.


"Amin. Mudah-mudahan cafemu tetap lancar jaya." Doa yang tulus terucap dari bibir Fiona.


"Amin. Loh? Kamu sudah mau balik Fio? Kenapa tidak sama aku aja nanti?"


"Ia, aku balik duluan ya. Kasihan ayah sama Gilang di rumah" balas Fiona dengan senyum. "Aku tidak apa-apa kok. Tadi juga sudah pesan taksi online."


"Ya sudah. Sebentar, aku hampir lupa" ucap Kesya sambil mengambil sebuah amplop dna menyerahkannya kepada Fiona. "Honor kamu malam ini."


"Key, apa ini tidak kelebihan honornya? Biasanya kan tidak sebanyak ini." Ucap Fiona sambil menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut.


"Itu sekalian bonus kamu. Malam ini kan kita dapat banyak tip dari pengunjung".


"Tapi kan...."


"Sudah, jangan banyak protes!" Kesya langsung menyela perkataan dari Fiona. "Besok kan jadwal check up ayah kamu. Uangnya kamu pakai saja buat biaya check up nanti."


"Aku jadi merasa tidak enak sama kamu. Aku selalu menjadi beban buat kamu." Fiona pun langsung memeluk Kesya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Hey, kita ini kan sudah bersahabat sejak dulu. Aku tidak pernah merasa bahwa kamu jadi beban di hidup aku."


"Sudah, mukanya tidak perlu mewek begitu." Kesya pun mencubit kedua pipi Fiona dengan gemas. "Taksi onlinenya sudah sampai belum?"


"Sudah dekat kok. Sebentar lagi juga sampai."


"Mbak Fio." Tiba-tiba seorang pelayan cafe datang menghampiri Fiona dan Kesya di pantry.


"Ada apa Dit?"


"Anu mbak. Saat ini mbak di undang sama tamu VVIP untuk datang ke meja mereka."


"Tamunya laki-laki atau perempuan Dit? Berapa orang?" Tanya Fiona menyelidik. "Ada perlu apa ya?"


"Tamunya empat orang laki-laki. Saya juga tidak tau keperluan mereka mbak. Tadi saya hanya diberitahukan untuk memanggil mbak Fio kalau sudah selesai nyanyi."


"Dit, kamu bilang saja kalau saya sudah pulang karena buru-buru. Sampaikan juga permintaan maafku untuk para tamu itu." Jawab Fiona dengan ekspresi santai. Sedangkan Kesya sejak tadi hanya menatap dengan heran.


"Kamu tidak berniat buat bertemu mereka Fio? Siapa tau saja mereka ada urusan penting denganmu." Kesya kini pun ikut berbicara keoada sahabatnya.


"Hmm. Paling juga para laki-laki kaya hidung belang." Jawab Fiona dengan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Kamu ini! Selalu saja berprasangkan negatif sama orang."


"Bukan negatif Key. Tapi itu berdasarkan pengalaman hidup. Kamu saja yang terlalu polos."


"Terserah kamu saja deh. Aku tidak akan berkomentar lagi." aAkhirnya Kesya menyerah dengan sahabatnya yang satu ini.


"Baiklah, aku pulang duluan ya. Taksinya sudah menunggu di depan." Pamit Fiona sambil menenteng tasnya. "Oh iya Dit. Kamu sampaikan saja yang aku bilang tadi ke mereka."


"Baik mbak," jawab Dita.


"Fio, hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah di rumah" sambung Kesya.


"Sippp!" jawab Fiona singkat sambil menuju pintu keluar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam itu Fiona memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dia keluar dari pintu samping dan berjalan menuju ke arah parkiran. Taksi online yang dia pesan saat ini sudah menunggunya di dekat parkiran.


"Malam cantik" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggilnya dari belakang. Secara refleks Fiona langsung saja mencengkram tasnya dengan kedua tangan. Dia pun langsung berbalik untuk memukul orang itu dengan tasnya. Tindakan pengamanan diri yang paling tepat saat ini adalah dengan memukul wajah dan langsung lari.


"Wow wow! Kamu mau buat wajah aku benjol dengan tas itu ya?" Pria itu pun langsung memekik sambil melindungi wajahnya. "Kau kejam juga ya Fio."


"Eh?" Fiona merasa terkejut mendengar suara pria itu yang menyebut namanya. Dia belum bisa melihat wajah dari pria tersebut karena terhalang dengan tas yang dipegangnya.


"Mas Dimas?" Pekik Fiona yang terkejut setelah melihat wajah dari pria tersebut.


"Ia ini aku. Memangnya kamu pikir siapa?" Ucap Dimas dengan cengengesan.


"Untung saja belum sempat aku timpuk pakai tas." Gumamnya dalam hati.


"Tadi kenapa kamu tidak datang waktu aku panggil? Padahal aku mau mengenalkan kamu ke temank-temanku." Dimas pun langsung bicara tanpa basa-basi.


"Mas panggil saya? Kapan?" Tanya Fiona dengan bingung.


"Loh, memangnya pelayan yang tadi tidak bilang ke kamu?"


"Oh, jadi yang Dita maksud tadi adalah mas Dimas ya?" Gumam Fiona dalam hati.


"Maaf mas, kalau yang tadi itu panggilan dari mas Dimas." Jawab Fiona dengan nada yang dibuat sesopan mungkin. "Lagi pula saya juga buru-buru mau pulang, sudah larut malam soalnya."


"Kamu pulangnya sama siapa? Naik apa?" Tanya Dimas yang kali ini sudah berwajah sedikit khawatir. "Aku antar pulang ya?"


"Tidak perlu repot-repot mas. Aku juga sudah pesan taksi online kok. Itu, taksinya sudah menunggu di depan." Fiona berusaha untuk menolak tawaran dari Dimas. Dia merasa kurang nyaman kalau harus menerima bantuan dari orang yang tidak terlalu dikenalnya. Lagipula, dia juga mera tidak enak jika nantinya Dimas melihat rumahnya. Saat ini Fiona sadar diri tentang perbedaan status sosial di antara mereka berdua. Biasanya orang kaya tidak akan mau berteman dengan orang miskin, kecuali Kesya tentunya.


"Bahaya loh kalau anak gadis pulang sendirian tengah malam." Saat ini Dimas masih bersikeras untuk mengantar Fiona.


"Aku tidak sendirian kok mas. Kan ada sopir taksi. Hehehe."


"Sudah, batalkan taksinya. Pokoknya kamu pulangnya sama aku." Tanpa aba-aba Dimas langsung menarik tangan Fiona.

__ADS_1


"Tapi mas, kasian kan taksinya kalau aku batalkan." Protes Fiona.


"Untuk hal itu, nanti aku yang urus. Mana taksinya?" Balas Dimas dengan cuek.


"Mas, biar aku pulang sendiri saja." Hingga saat ini dia masih berusaha untuk menolak. Fiona berusaha untuk melepaskan pegangan tangan dari Dimas.


"Tadi kamu sudah menolak waktu aku panggil. Saat ini kamu tidak bisa menolak lagi kalau aku antar pulang." Dimas pun malah memegang tangan Fiona dengan kencang sehingga membuat gadis itu agak meringis. "Pokoknya aku tak mau menerima penolakan!"


Akhirnya Fiona hanya bisa pasrah mengikuti Dimas. Mereka pun berjalan menuju ke arah taksi online yang dipesan oleh Fiona. Setelah membatalkan pesanan, Dimas mengeluarkan uang seratus ribu untuk membayar sopir tersebut.


"Nah, beres kan. Ayo, sekarang ikut aku ke mobil." Ucap Dimas dengan senyum kemenangan. Sementara Fiona hanya mengangguk tanda setuju.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan kegiatan mereka tersebut. Dari kejauhan sepasang mata itu terus menatap Dimas dan Fiona dengan tatapan yang tajam.


"Tuan muda, anda kenapa?" Pertanyaan dari asisten Setya tiba-tiba mengalihkan perhatian Rangga.


"Oh. Aku tidak apa-apa." Balas Rangga dengan sedikit canggung karena kaget.


"Apa kita langsung pulang saja sekarang?" Tanya asisten Setya.


"Ya, kita langsung pulang sekarang. Aku mau istirahat". Akhirnya Rangga berjalan mengikuti asistennya menuju ke tempat di mana mereka memarkirkan mobil.


[BERSAMBUNG...]



Dimas Raditya Novanto


Seorang pengusaha tampan yang berusia 25 tahun. Dia adalah sahabat baik dari Rangga sejak masih duduk di bangku SMA. Selain itu, orang tua mereka pun merupakan mantan rekan bisnis.


Pertemuan Dimas dengan Fiona bermula dari sebuah pertolongan kecil yang diberikan oleh Fiona. Saat itu, Dimas yang sedang dikejar oleh para perampok secara tidak sengaja hampir ditabrak oleh Fiona yang sedang membawa motor. Karena merasa terdesak, Dimas pun memohon pertolongan dari Fiona untuk dibonceng. Sejak saat itulah, Dimas melihat ketulusan hati dari seorang gadis sederhana yang bernama Fiona. Saat ini, dia berusaha dengan berbagai cara untuk mendekati Fiona dan berniat menjadikannya sebagai pendamping hidup.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


~Seuntai Kata Dari Author~


Hai readers.


Kali ini author mau ngucapin terima kasih buat dukungannya ya.


Antusiasme dari kalian menjadi pemicu bagi author untuk menyelesaikan cerita ini.


Alur cerita dari novel "Angin Bebisik" ini memiliki plot yang yang bisa memuaskan para pembaca. Selain itu, jalan ceritanya juga tidak mudah untuk ditebak sehingga para readers nantinya akan dibuat untuk menebak-nebak.


Akhir kata.


Author sendiri pun masih harus banyak belajar dalam menyelasaikan cerita ini.


Tetap dukung author ya...

__ADS_1


Mohon like, vote dan juga coment yang membangun...


Salam hangat 🙏🙏🙏


__ADS_2