
Zahran tidak sengaja bertemu dengan Reni di pusat belanjaan. Zahran ingin memanggilnya dengan sebutan yang pernah ia sematkan.
"Angin selatan bertiupkan cinta." panggil Zahran.
Namun Reni tidak menoleh atau menyahut sama sekali.
"Ah mungkin dia lupa." jawab Zahran mencoba mengejar Reni. Namun langkah kaki Reni yang terburu-buru membuat mereka tidak berjumpa.
"Ah sayang sekali." ucap Zahran hanya nampak pasrah.
...****************...
Zahran sedang berkunjung ke Bali untuk menghadiri rapat pemilihan direktur umum yang ada di sana.
Setelah selesai pemilihan direktur umum untuk daerah Bali, Zahran melanjutkan perjalanannya ke pantai Kuta.
Dia sangat ingin bermain selancar di sana. Saat mobil membawanya kesana dia merasa agak happy. Perjalanan di Bali sungguh mengasyikkan tidak seperti di Jakarta.
Zahran berdiri memandang pantai yang nampak indah. Dia memang takjub sebagai pencinta Alan khususnya laut.
"Memang tidak diragukan lagi keindahan di sini." ucap Zahran tersenyum senang.
Zahrah melihat banyaknya para bule yang berselancar di sana. Dia juga melihat para bule - bule menjemur tubuhnya.
Tidak jauh darinya nampak banyak kerumunan. Dia berjalan mendekati ke arah sana.
"Ada apa di sana bli." tanya Zahran bertanya kepada warga Bali yang kebetulan ada di sana.
"Itu ada pelukis hebat di sana, angin selatan bertiupkan cinta." ucap lelaki itu.
"Pelukis hebat? angin selatan bertiupkan cinta?" tanya Zahran semakin penasaran dengan siapa pelukis tersebut.
Dia ingin tahu kenapa pelukis tersebut mengambil nama samaran wanita yang ada di surat kaleng tersebut.
Saat sampai di sana, ia sangat kaget saat mendapati Kaylin sedang melukis di tengah keramaian yang ada.
"Kaylin?" panggil Zahran tidak sengaja.
Kaylin pun sama kagetnya soal mengetahui bahwa lelaki itu berada tidak jauh darinya.
"Maaf, aku akan lanjutkan besok atau di rumah aku kerja kan, silahkan hubungi nomor saya aja." ucap Kaylin membereskan peralatan lukisnya.
"Kaylin tunggu ." panggil Zahran.
"Apaan sih." jawab Kaylin dengan ketus.
"Aku mau bicara sama kamu, lagian kamu kenapa menghindar macam aku makan orang aja." ucap Zahran kepada Kaylin.
"Mohon maaf apakah kita saling mengenal?" tanya Kaylin.
__ADS_1
"What?" Zahran kesal dengan pertanyaan wanita yang berdiri di depannya.
Bagaimana mungkin wanita itu tidak mengenalnya padahal mereka hampir melakukan hal yang tidak diinginkan ketika di Paris.
Melihat Zahran terdiam membuat Kaylin merasa punya kesempatan untuk kabur dari lelaki itu. Namun tiba - tiba tangannya di cekal oleh Zahran.
"Kamu tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaan aku."
"Kau tidak wajib menjawab pertanyaan dari orang yang tidak saya kenal."
"Baik kenalkan saya Zahran Kusuma, lelaki yang hampir tidur dengan kamu." jawab Zahran memperkenalkan diri dengan singkat sambil tersenyum mengejek.
"Lepaskan saja atau saya akan teriak." ucap Kaylin mengancam.
"Silahkan, tapi kamu akan liat konsekuensinya." ancam Zahran balik.
Kaylin tidak peduli dengan ancaman Zahran. Karena dia tidak takut sama sekali dengan lelaki itu.
"Tolong.... tolong...tolong." teriak Kaylin.
Mendengar teriakan Kaylin membuat orang yang berada di sekitarnya berlari mendekati mereka.
"Kenapa? kenapa?".
"Dia mau merampok saya." jawab Kaylin.
"Ayo tangkap dan hajar." jawab yang lain.
"Tunggu, saya bukan rampok, saya Zahran Kusuma, anak dari keluarga Kusuma, wanita ini sedang hamil anak saya, tapi dia tidak mau saya nikahi."
Kaylin sungguh kaget mendengar cerita yang dikarang oleh lelaki di depannya.
"Anda mau menipu kami? mana buktinya."
"Iya dia bohong."
"Apa perlu saya telpon orang tua wanita ini, atau saudara lelakinya untuk membuktikan?" tanya Zahran mengeluarkan ponselnya.
Kaylin terdiam karena dia yakin pasti lelaki ini akan menelpon abangnya.
"Dia ini Kaylin Mahesa, jika bapak - bapak nggak percaya boleh liat KTP nya." ucap Zahran lagi.
"Benar mbok?"tanya warga Dar Bali.
"Ini kan pelukis angin selatan bertiupkan cinta." ucap seorang gadis yang baru mendekat.
"Mbok benar nggak yang di ucapkan sama bli ini?"
Kaylin terpaksa mengangguk. Dia tidak tau cara berbohong lagi.
__ADS_1
"Huhhhhhhhh."
"Selesaikan masalah berdua, lagian udah hamil masa nggak mau minta tanggung jawab."
"Iya, aneh-aneh aja anak zaman sekarang."
Para warga lansung membubarkan diri. Sedangkan Kaylin merasa malu dengan ejekan warga sekitarnya.
Sedangkan Zahran hanya tersenyum puas ketika kerumunan orang bubar. Dia lansung menarik tangan Kaylin menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari pantai.
Setelah memesan makanan, barulah Zahran bicara.
"Kenapa kamu memakai nama itu?"
"Nama apa?" tanya Kaylin pura - pura tidak mengerti.
"Angin selatan bertiupkan cinta."
"Emang ada hak milik dengan nama itu? terserah aku mau buat nama angin selatan bertiupkan cinta, atau angin Utara berbalaskan cinta atau angin empat penjuru, apa urusannya dengan anda tuan Kusuma?" tanya Kaylin dengan kesal.
Kaylin sudha menjauh dari lelaki itu tapi entah kenapa dia di pertemukan dengan lelaki itu lagi.
"Kamu tidak boleh memakai nama itu karena nama itu mengandung arti khusus bagi saya." ungkap Zahran.
"Emang kamu sudah patenkan nama itu? bahkan nama Zahran aja banyak yang pakai sebelum kamu, lalu apakah orang tersebut menyuruh kamu tidak boleh memakainya."
"Ini bukan seperti itu, ini kata - kata yang di pakai seseorang untuk aku, dia menamai dirinya dengan nama itu, kamu tidak boleh mencotek."
"Mungkin orang itu aku." ucap Kaylin mencoba memberi kode kepada Zahran.
"Hahaha lucu sekali, jadi kamu pakai nama itu untuk biar di akui oleh aku, sampai kapanpun aku tidak akan percaya, kamu jangan menghayal deh jadi pendamping aku, kamu tidak ada apa-apanya di bandingkan Reni." ucap Zahran membuat Kaylin sangat emosi.
"Hahahaha anda yang lucu tuan, siapa juga yang mau bersanding dengan lelaki macam anda."
"Lelaki macam anda?" tanya Zahran menatap Kaylin dengan tajam.
"Ya lelaki gila wanita, anda tidak layak menjadi pendamping saya karena anda begitu murah bagi saya jadi nggak level."
"Lalu apa bedanya dengan kamu, apa akan ada lelaki yang mau sama kamu ketika ada yang tau bahwa tubuh kamu sudah saya sentuh." ucap Zahran tersenyum mengejek.
"Kamu kira akan ada lelaki yang mau bersama kamu, bayangkan aja istrinya sudah di raba - raba oleh lelaki lain, bahkan lelaki itu sudah menelanjangi istrinya dan hafal betul bagaimana bentuk dalam pakaiannya." ucap Zahran membuat Kaylin terdiam tanpa berkata-kata.
Dia tidak menyangka akan seperti ini. Dia menyadari bahwa kesalahan malam itu membuat dia tidak ada harga dirinya.
"Kamu berharap lelaki tulus? hei mana ada lelaki yang tulus, beda jika wanita itu sudah janda, statusnya jelas, sedangkan kamu?." ucap Zahran lagi.
"Bahkan aku yang brengsek aja nggak Sudi tubuh istri ku sudah di sentuh orang."ucapan terakhir membuat Kaylin semakin sakit hati.
Air matanya jatuh begitu saja. Dia lansung berdiri dan pergi dari tempat itu. Sedangkan Zahran hanya terdiam melihat wanita itu pergi sambil menangis. Bahkan makanan yang mereka pesan belum datang.
__ADS_1