Angin Selatan Bertiupkan Cinta

Angin Selatan Bertiupkan Cinta
Bab 24


__ADS_3

Kaylin dan Zahran telah berdiri di toko emas sebuah pusat pembelanjaan. Kaylin nampak tersenyum sambil mencari cincin yang sesuai dengan keinginannya.


"Mbak saya mau liat yang ini aja." ucap Kaylin dengan mata yang berbinar.


"Pilihan mbak sangat bagus, cincin ini memang terlihat mewah sekali, apalagi jika dipakai dicari mbak." ucap pelayan itu sambil mengambilkan cincin yang ditunjuk oleh Kaylin dengan tersenyum.


"Yang ini saja mbak." ucap Zahran.


"Kok yang itu bang? itu terlalu polos." ucap Kaylin.


"Itu terlalu norak, permatanya norak, ambilkan yang ini."


"Baik mas." jawab pelayang juga mengambilkan cincin yang ditunjuk oleh Zahran.


"Saya mau yang ini saja." ucap Zahran.


"Yang ini saja, ini lebih bagus dan cantik bang."


"Itu terlalu norak."


Melihat keduanya sudah mulai adu mulut membuat sang penjaga toko menyarankan sebuah solusi.


"Bagaimana jika kami desain aja, tapi siapnya seminggu lagi, jadi dengan keinginan Mbak dan masnya masing-masing."


"Nah kayak gitu juga boleh, ya kan bang?"tanya kaylin kepada Zahran.


"Nggak yang ini saja, kita berdua selalu sibuk jika harus menunggu lagi." ucap Zahran.


"Aku maunya yang ini." ucap Kaylin menunjuk cincin yang ia mau.


"Jika begitu tidak usah ada cincin pernikahan, pakai cincin ini aja,toh cincin nikah juga nggak wajib kan." ucap Zahran berjalan keluar dari toko.


Entah kenapa mood Zahran nampak jelek bagi Kaylin sejak dari butik tadi.


Kaylin berjalan mengikuti Zahran dengan kesal. Dia sungguh malu di perlakukan oleh lelaki itu seperti itu.


"Kamu ini apa - apaan sih bang?"


"Aku kenapa?" tanya Zahra menghentikan langkahnya.


"Kamu itu jahat, Jika kamu mempermalukan aku di depan mereka."


"Mempermalukan kenapa? aku hanya bicara sesuai dengan apa yang saya mau."


"Di sini aku yang perempuan, kamu harus mengalah jika memang kamu mencintai aku."


"Jadi dengan kamu menjadi wanita terus aku harus mengalah terus, tidak mempunyai pendapat lagi, jadi untuk apa pernikahan jika hanya mendengarkab pendapat kamu saja."


"Bukan begitu, tapi di mana - mana lelaki harus mengalah sama perempuan, itu jika kamu sayang."

__ADS_1


"Jadi jika sayang harus mengalah terus, terus kamu gimana? kenapa nggak kamu aja yang mengalah?"


"Kamu ini memang mengesalkan, di mana - mana wanita selalu benar."


"Kata siapa? jika salah ya salah."


"Sudahlah, aku capek berdebat dengan kamu." ucap Kaylin menghentakkan kakinya.


"Ya sudah, bagus gitu, pulang lalu selesai."


Kaylin semakin emosi mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Zahran. Lelaki itu seperti di paksa nikah sama dia. Padahal dia sendiri yang meminta Kaylin menikah dengannya.


"Jika kamu nggak bisa mengikuti kemauan aku, kenapa kamu melamar aku?" tanya Kaylin ketika sudah duduk di mobil.


Sejak tadi mereka hanya duduk berdiam didalam mobil tanpa bicara apapun.


"Aku menikah sama kamu karena cinta, tapi jika hanya aku yang mengalah, itu tidak cinta."


"Jika kamu cinta sama aku, maka apa yang aku lakukan kamu tidak peduli, bagi kamu adalah bagaimana aku tetap bisa menjadi milik kamu."


"Lalu kamu apa? yang katanya mencintai aku lebih lama, faktanya apa yang kamu lakukan untuk aku? untuk memuaskan ego kamu saja."


"Sudahlah, mungkin pernikahan ini tidak usah terjadi, aku capek."


"Terserah, jika itu mau kamu."


"Gampang banget kamu bilang terserah, kenapa? apa cuma segitu cinta kamu sama aku?" tanya Kaylin emosi.


"Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini? apa karena aku larang kamu terlalu dekat dengan Reni, kamu marah sama aku karena dia?" tanya Kaylin kesal merasa perubahan Zahran karena hal itu.


"Kamu jangan pernah bawa orang lain ke dalam hubungan kita, orang lain tidak ada hubungannya dengan pertengkaran kita." ucap Zahran sudah malas meladeni Kaylin.


Dia melajukan mobil tanpa melirik wanita itu sedikitpun. Dia tau bahwa wanita itu sedang kesal kepadanya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Keduanya hanya diam sepanjang jalan. Tidak ada yang memulai pembicaraan.


Mobil berhenti di depan gerbang rumah Ken Mahesa. Kaylin keluar dari mobil dengan membanting pintu mobil.


Zahran hanya diam melihat punggung wanita itu dari dalam mobil. Dia hanya menggerakkan kepalanya melihat betapa egoisnya wanita itu.


Setelah Kaylin masuk ke dalam rumah, Zahran lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menelpon seseorang dari dalam mobil.


Sedangkan Kaylin mengintip Zahran dari luar kaca. Dia melihat mobil lelaki itu masih ada di depan rumahnya.


Dia juga melihat lelaki itu sedang menelpon. Lelaki itu menelpon sambil tersenyum.


"Siapa yang dia telpon? kok senyum - senyum begitu?" tanya Kaylin berbicara sendiri.


Kaylin berjalan dengan kesal setelah mengintip Zahran. Dia masih tidak lupa bahwa lelaki yang menjadi calon suaminya adalah lelaki plaboy.

__ADS_1


"Apa jangan - jangan dia punya wanita lain di luar sana?" tanya Kaylin semakin curiga dengan lelaki itu.


Saking kesalnya dengan Zahran, Kaylin tidak sadar ketika berpapasan dengan mamanya.


"Kenapa wajahmu kusut kayak gitu?" tanya mamanya.


"Zahran menyebalkan ma."


"Ada apa ini?" tanya mamanya.


Kaylin baru menyadari bahwa mamanya sedang mengendong si Kenny anaknya Ken.


"Ih lucunya kamu sayang." ucap Kaylin menowel sang keponakan.


"Tangan kamu belum cuci, main colek - colek aja." ucap mamanya memukul tangan anaknya.


"Dia comel tau ma, kok bisa bang Ken punya anak gagah kayak gini." ucap Kaylin.


"Tentunya, mamanya cantik dan papanya ganteng, kamu kalau mau bisa buat secepatnya." ucap Azzura baru bergabung.


Mendengar ucapan Azzura membuat Kaylin manyun lagi. Dia teringat lagi peristiwa berantem tadi.


"Aku sepertinya batal nikah dengan Zahran." ucap Kaylin lansung duduk dengan lemas di kursi yang ada di dekatnya.


"Ada apa?" tanya Azzura kepada Kaylin.


Dia juga memandang ke arah mama mertuanya, namun sang mama hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau apa-apa.


"Dia tidak mencintai aku." jawab Kaylin dengan malas.


"Kenapa berpikir seperti itu? Jika dia tidak mencintai kamu, tidak mungkin dia mempersiapkan semua ini." jawab Kaylin.


"Buktinya dia begitu." jawab Kaylin dengan lemas.


"Ada apa ini sebenarnya Kay? coba cerita, semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin." ucap mamanya sambil duduk di kursi yang tidak jauh dari anaknya.


Kaylin menceritakan semua yang ia alami bersama Zahran. Tidak ada satupun cerita yang terlewat sedikitpun.


"Jadi begitu ceritanya, kenapa nggak kamu aja yang mengalah?" tanya mamanya.


"Lok kok Kay sih ma? kan ini sekali seumur hidup."


"Ya tanpa cincin juga tidak apa-apa juga sih, emang kenapa tanpa cincin?" tanya mamanya.


"Ma mana zaman lagi sekarang nikah nggak ada cincin nikah, zaman dulu aja pakai, lagian dia juga lelaki mampu ma." jawab Kaylin.


"Apa dia tidak mau memakai cincin nikah agar di kira masih lajang kali ya ma?" tanya Kaylin.


Mamanya dan Azzura hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.

__ADS_1


"Tidak boleh berprasangka buruk." tegur mamanya.


__ADS_2