
Semenjak kejadian itu Zahran tidak pernah lagi melihat Kaylin. Dia merasa wanita itu menghilang sejak malam itu.
Zahran sudah kembali ke rutinitas sehari-hari. Dia sudah sibuk dengan pekerjaannya. Saking sibuknya dia juga tidak punya waktu bertemu dengan Reni.
Semenjak Zahran menyatakan cintanya, tapi Reni telah menolaknya. Zahran sengaja memberikan waktu untuk Reni. Untuk sementara dia menjauhkan diri seperti sebelumnya.
Zahran sedang sibuk menangani pasien yang mengantri sejak tadi pagi. Setelah selesai akhirnya dia bisa bernafas dengan lega.
Zahran melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter Anestesi untuk menanyakan sesuatu. Namun ketika berjalan melewati ruangan Azzura, dia melihat wanita sedang keluar dari ruangannya sambil menenteng sebuah tas yang agak besar.
Zahran tau bahwa wanita itu sudah resign dari beberapa Minggu yang lalu. Namun dia masih ada datang ke rumah sakit untuk menjemput barang-barangnya.
"Wa." sapa Zahran kepada Azzura sepupunya.
"Bang, apa kabar?"
"Baik, gimana? apakah ada yang di bantu angkat barang - barang kamu?"
"Udah habis bang, makin sibuk aja sepertinya."
"Iya, lagi banyak pasien, ini juga harus banyak waktu untuk belajar dengan uncle Amar mengenai direktur umum." jawab Zahran melihat sekilas ke arah wanita yang di samping Azzura.
Sejak tadi ia ingin menyapa, namun wanita itu tidak pernah meliriknya sejak bertemu tadi. Ia melihat bagaimana wanita itu mengabaikan kali ini.
"Kami pamit dulu bang, soalnya mau antar Kay ke Bandara." ucap Azzura pamit.
Zahran hanya diam melihat mereka pergi meninggalkannya. Dia menyadari bahwa Kaylin ingin menjauhkan diri.
"Baguslah Jika dia menjauhkan diri itu lebih baik." ucap Zahran melanjutkan langkahnya lagi.
...****************...
Zahran baru saja keluar dari ruang operasi. Dia lansung mencuci tangan dan melepas baju operasinya.
Zahran lansung keruang kerjanya untuk melihat berkas pasien. Dia memang sudah berhasil, akan tetapi dia mau mengecek lagi hasilnya secara lansung.
Apalagi besok pagi jadwal operasinya yang begitu padat membuatnya harus banyak tinggal dirumah sakit.
__ADS_1
Tiba-tiba terngiang-ngiang kejadian di Paris malam itu. Dia masih ingat bagaimana wanita itu menangis meninggalkannya.
Entah kenapa ketika mengingat hal itu membuat hatinya sakit. Namun ketika mengingat Reni membuat dirinya melupakan hal itu.
Dia juga agak bingung dengan perasaan ini kepadanya. Wanita menyukainya sejak SMA namun saat ini sering menolaknya.
Zahran sampai berpikir apakah cinta wanita itu telah pudar?. Atau apakah surat kaleng itu hanyalah omongan belaka.
Zahran pusing sendiri dengan apa yang ia pikirkan. Dia lansung bangkit dari meja kerjanya lalu mengambil tas kerjanya.
Zahran lansung keluar dari ruangan kerjanya. Dia meninggalkan ruangan itu lalu pulang kerumahnya.
Saat perjalanan pulang, dia sempat mampir ke rumah Reni terlebih dahulu. Dia hanya ingin memastikan bahwa dia tidak menyerah untuk mendapatkan Reni.
Zahran singgah dengan membawa beberapa makanan kesukaan Reni dan mamanya.
Dia singgah di rumah lantai dua yang nampak lebih mungil dari rumahnya. Walaupun mungil namun rumah itu sangat cantik dimata Zahran.
Setelah membunyikan bel, lima menit kemudian akhirnya pintu rumah itu terbuka. Setelah pintu terbuka tampaklah sosok wanita separuh baya. Dia adalah mama Reni Tante Dinda.
"Selamat malam Tante." sapa Zahran.
"Iya Tan, tapi jika dia sibuk nggak apa - apa."
"Nggak, dia nggak sibuk, masuk dulu."
Zahran masuk kedalam rumah. Lalu Tante Dinda menyuruhnya duduk.
"Tunggu bentar, Tante mau panggilin Reni dulu." jawab Mama Reni.
"Iya Tan."
Tante Dinda meninggalkan Zahran. Tidak sampai 15 menit, Reni nampak menuruni tangga. Wanita itu nampak sangat manis di mata Zahran. Akan tetapi Zahran merasa senyuman Kaylin lebih manis.
"Astaghfirullah, ngapain aku ngebayangin wanita itu." ucapnya dengan pelan mencoba menstabilkan dirinya.
"Ada apa?" tanya Reni sambil duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Nggak ada, ingin mengunjungi kamu."
"Ada apa?"
"Santai aja, kayak kamu nggak tau aja, mungkin ini sebutannya dengan ajang membuktikan cinta."
"Gini aja deh bang, kita ketemu beberapa hari lagi, kita akan bicara serius, lalu nanti aku putuskan untuk terakhir kalinya, setelah hari itu aku memutuskan, maka kamu jangan ganggu aku lagi, aku akan mempertimbangkan apapun itu jika alasan kamu kongkrit." ucap Reni.
"Baik, tapi hari itu bukan penolakan yang kamu rencanakan yang aku mau."
"Baik." jawab Reni.
"Baiklah, mungkin aku pulang dan sampaikan salam untuk mamamu." ucap Zahran.
"Yupz pasti."
Zahran akhirnya meninggalkan rumah Reni. Dia memacu mobilnya menuju rumahnya.
Namun entah apa yang terjadi, bayangan tangis Kaylin masih terbayang pada dirinya. Dia sering bermain api dengan wanita manapun, akan tetapi dia belum pernah menyentuh wanita manapun sampai sejauh itu.
Dan dia tidak tau kenapa bisa menyentuh wanita itu sampai sejauh itu. Bahkan dia juga sering menolak wanita lain, atau meninggalkan wanita akan tetapi dia tidak pernah memikirkan tangis wanita tersebut.
Berbeda dengan Kaylin, tangis wanita itu sangat memenuhi otak kepalanya.
"Apa kabar dia saat ini ya?" tanya Zahran tiba - tiba tersenyum mengingat wanita itu.
"Coba aja Reni tidak pernah hadir di masa laluku, maka mungkin aku bisa menerima kamu." ucap Zahran.
"ah ngapain aku memikirkan wanita itu."
Zahran memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah. Dia merasa lelah dan ingin beristirahat.
Sedangkan di tempat lain, nampak wanita cantik sedang duduk melamun. Setelah keluar kota dia merasa agak sedikit lega. Karena setidaknya dia tidak bertemu dengan lelaki itu.
Kaylin sudah bertekad akan membuang rasa cintanya kepada lelaki itu. Dia berjanji akan mencari kebahagiaannya sendiri.
Kaylin sekarang telah tinggal di Bali, tempat tinggal ia dahulu. Keluarganya pernah tinggal kurang lebih 10 tahun di sana.
__ADS_1
Namun karena kebangkrutan tiga tahun yang lalu membuat keluarganya kembali ke kota ibu kota negara itu.
"Zahran aku akan buat mau menyesal telah memilih mencampakkan aku." ucap.Kaylin tersenyum.