
Kaylin berjalan dengan manyun di sepanjang pantai. Sejak kemaren Kaylin dan Zahran belum pergi kemanapun. Mereka hanya stay di Villa.
Hari ini Kaylin memaksa untuk pergi jalan-jalan. Bagi Kaylin yang sudah lama di Bali, memang sudah sering bepergian keluar menelusuri jalan di Bali. Namun dia sangat suntuk di Villa.
Dia juga sangat ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang suami. Dia belum pernah berpacaran dengan sang suami.
"Sayang, tunggu Abang, jangan terlalu cepat jalannya." ucap Zahran berjalan di belakang Kaylin.
Namun wanita itu tidak menghiraukan panggilan suaminya. Zahran terpaksa memperbesar langkah kakinya agar bisa sejajar dengan wanita itu.
"Sayang, jalannya bareng Abang." ucap Zahran meraih tangan Kaylin sambil tersenyum.
"Lepas aja bang, ngapain pakai pegang tangan segala, macam anak - anak aja." Kaylin mencoba melepaskan tangannya dari suaminya.
"Justru karena kamu sudah dewasa makanya di pegang, karena jika tidak maka nanti bisa di ambil lelaki yang ada di sini, kamu terlalu berharga jika dilepas."
"Huhhhh sok kali bicaranya."
"Benaran sayang, kamu itu milik aku, jadi biar orang di sini tau bahwa kamu sudah ada yang punya."
Kaylin membuang muka sambil tersenyum. Entah kenapa dia sangat senang melihat Zahran seperti ini kepadanya.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan di sepanjang pantai. Tiba-tiba seorang wanita menghadang mereka.
"Zahran, kamu di sini juga?"
"Siapa ya?" tanya Zahran bingung melihat wanita yang berdiri di hadapannya.
"Masa kamu lupa dengan aku, aku Nina mantan kamu sewaktu kuliah dulu." ucap wanita itu dengan gembira.
Kaylin bisa melihat bahwa wanita itu sangat gembira bertemu dengan suaminya. Dari wajahnya wanita itu nampak sekali masih berharap dengan sang suami.
"Oh Nina, maaf aku lupa." jawab Zahran menggaruk kepalanya karena ia tau bahwa wanitanya sedang menahan marah.
"Ini siapa?" tanya Nina melihat Zahran menggandeng tangan seorang wanita.
"Ohw ini istri aku Kaylin."
"Nina,kamu di sini?" tanya seorang wanita menghampiri wanita itu.
"Iya, kamu masih ingat Zahran kan?" tanya Nina kepada wanita yang baru saja datang.
"Yang mantan kamu itu? oh Zahran asal kamu tau Nina itu patah hati banget saat kamu putusin dia, sampai sekarang dia tidak mau pacaran karena masih mengharapkan kamu, kenapa sih kamu putusin dia, padahal sewaktu kuliah dia pacar terlama kamu." ucap wanita itu berbicara ngerocos tanpa banyak pikir.
"Ola." tegur Nina nampak tidak enak hati.
"Kenapa? kamu masih malu aja zaman gini, nggak usah gengsi, ungkapin aja jika masih suka." jawab Ola teman Nina.
__ADS_1
"Maaf, anda ngelantur apa di siang bolong kayak gini ya? oh iya saya sudah menikah, dan ini istri saya, jadi saya permisi dahulu." ucap Zahran membawa Kaylin sebelum kedua wanita itu menjawab apa - apa.
Kaylin hanya diam berjalan di samping suaminya. Dia hanya menelaah ucapan dari dua wanita ini. Apalagi tau bahwa masih ada yang masih mengharapkan suaminya.
Kaylin berjalan sambil mengedarkan pandangannya. Dia melihat bagaimana tatapan wanita yang berpapasan dengannya kepada suaminya. Mereka bahkan dengan sengaja tersenyum genit kepada sang suami.
Karena kesal Kaylin lansung menarik tangan suaminya. Langkah kakinya nampak cepat.
"Mau kemana yang? kok cepat banget." tanya Zahran bingung.
"Mau pulang." jawab wanita itu dengan ketus.
"Loh kok pulang? tadi pengen jalan-jalan." tanya Zahran.
"Nggak jadi." ucap Kaylin masih ketus.
"Kenapa lagi ini?" tanya Zahran dalam hatinya.
Mereka sudah sampai di mobil yang terparkir rapi. Sampai di mobil mereka hanya berdiam diri. karena sejak masuk mobil tadi, Kaylin tidak pernah menyahut pembicaraan Zahran.
Sesampai di Villa, Kaylin berjalan dengan cepat setelah turun dari mobil. Zahran dengan cepat mengejar wanita itu.
"Sayang ada apa ini? kalau kamu marah sama aku silahkan bicara, jangan hanya diam." ucap Zahran kepada sang istri.
"Kay nggak marah sama Abang." jawab Kaylin duduk di sofa ruang tengah.
"Sudah ah, lagi malas di luar." Kaylin malu mengaku jika ia cemburu.
"Ada apa sayang? ayo bicara, Abang bukan cenayang yang bisa baca pikiran kamu." jawab Zahran.
"Nggak ada apa-apa."
"Mau ngaku atau Abang gelitikin?" tanya Zahran tersenyum siap menggelitik istrinya.
Melihat Zahran yang siap menggelitiknya membuat Kaylin memilih jujur.
"Kay hanya nggak mau cewek cewek tadi memandang Abang seperti itu."
"Seperti itu gimana?" tanya Zahran menahan senyum. Dia tau kemana arah pembicaraan sang istri.
"Mereka menatap Abang dengan memuja, Kay nggak suka itu."
"Ohw gitu, masa iya mereka memandang Abang seperti itu?" tanya Zahran tersenyum menggoda Kaylin.
"Iya, kay liat sendiri dengan mata kelapa sendiri, udahlah hari ini mending Abang Kay umpetin aja di rumah."
"hahahaha, Kay.... Kay, siapa yang mau Abang begini, Abang lebih tua dari kamu, yang ada kamu di rebut lelaki lain." ucap Zahran tertawa.
__ADS_1
"Abang itu gagah, siapa yang nggak mau sama Zahran Kusuma coba."
"Emang kenapa Zahran Kusuma?"
"Gagah, kaya raya, dari keluarga terpandang."
"Jadi kamu mau sama Abang karena itu?"
"Ya nggaklah bang, aku suka Abang dari dulu, dari cinta monyet." ucap Kaylin membuat Zahran tersenyum.
"Yakin nih nggak mau jalan-jalan lagi? besok kita udah harus kembali ke Jakarta loh."
"Iya, mending dirumah aja berduaan dengan Abang." jawab Kaylin tersenyum malu.
"Iya sih, berduaan lebih enak." ucap Zayyan tersenyum memeluk sang istri.
Kaylin tersenyum melihat betapa bucinnya dirinya dan sang suami. Sedangkan Zahran memeluk sang istri dengan erat.
"Abang benar lupa dengan wanita tadi?" tanya Kaylin kepada sang suami.
"Iya, kenapa?"
"Saking banyaknya mantan ya bang."
"Bukan, karena dulu cinta Abang tertuju kepada angin selatan bertiupkan cinta, udah nggak usah bahas yang dulu, Abang jadi malu." jawab Zahran mencium pipi sang istri.
Di tempat lain Reni nampak sedang duduk makan siang bersama seorang lelaki. Lelaki ini di kenal Reni beberapa bulan ini.
Reni dan Riki saling mencintai. Karena hampir berumur 30 tahun, akhirnya Reni memutuskan untuk serius.
Dia sudah tidak ingin berpacaran terlalu lama lagi. Pernikahan mereka sudah tinggal sebulan lagi.
Reni sengaja menikah setelah Zahran, karena bagaimanapun Zahran adalah keponakan istri dari omnya Alan Adha.
"Semua sudah siap, kita akan menikah di hotel termewah milik keluarga Adha." ucap lelaki itu kepada Reni.
"Ya, untuk undangan masih di cetak ya?"
"Iya, mungkin seminggu lagi udah siap."
"Baik."
"Untuk cincin besok kita pesan, dan baju pengantin bagaimana?" tanya Riki.
"Nanti aku hubungi, semoga pas fiting terakhir udah pas."
"Baiklah, aku akan ada meeting siang ini, kamu pulang naik taksi aja ya."
__ADS_1
"Baik."