
Reni kaget saat melihat Zahran masuk ke dalam kamar inapnya. Zahran berjalan mendekati ranjang di mana Reni sedang tengah duduk di atasnya.
"Gimana? apa masih sakit?" tanya Zahran.
"Kamu nggak nanya kenapa aku bisa jatuh?"
"Apakah itu penting?".
"Apa karena aku yang jatuh?"
"Maksud kamu?" tanya Zahran benar - benar tidak paham.
"Jika Kaylin yang jatuh kamu pasti mempermasalahkan."
"Tunggu dulu, lagian jika kita kaji, semua orang akan menyalahkan kamu, karena kamu waktu itu yang menyerang Kaylin."
"Jadi kamu menyalahkan aku."
"Kamu tidak salah, tidak ada yang salah, hanya aja kamu begitu ceroboh, jika itu Kaylin yang terjatuh maka kamu bisa di tuntut oleh Ken Mahesa,karena di sana kamu yang menyerang ke rumah mereka." ucap Zahran menjelaskan.
"Saya paham kamu emosi, tapi semua bukan salah Kaylin, aku yang salah mengira selama ini, aku mengira angin selatan bertiupkan cinta itu adalah kamu, kenapa aku berpikir begitu karena aku melihat kamu beberapa kali di jam istirahat masuk ke kelas kami." ucap Zahran menambahkan.
"Jadi sekarang bagaimana? aku tidak masalah jika pernikahan ini di batalkan." ucap Reni dengan hati yang sakit.
Zahran tau walaupun wanita itu bicara tidak masalah, tapi dia tau bahwa hati wanita itu sedang hancur. Dia tidak ingin menghancurkan impian wanita itu.
Lagian Zahran juga tidak bisa bersama dengan Kaylin. Dia sangat yakin bahwa wanita itu tidak akan mau bersamanya setelah apa yang dia lakukan kepadanya.
"Kita tetap akan menikah, pernikahan harus tetap terlaksana sesuai rencana." ucap Zahran.
Reni menatap manik mata Zahran untuk mencari cela ketidakseriusan. Akan tetapi dia tidak menemukan itu.
"Tapi aku bukan wanita yang kamu cari selama ini."
"Mungkin ini jalan jodoh kita."
"Apa tidak sebaiknya di mundurkan? kita tetap harus memikirkan perasaan masing-masing, nanti kita tidak bahagia,aku juga mau fokus berobat dulu."
"Biar aku yang membawa kamu berobat, aku punya kenalan dokter untuk kaki mu."
"Aku rasa rencana pernikahan harus di undur, aku tidak mau hidup dengan lelaki yang tidak mengharapkan kehadiran aku, aku tidak mau suamiku nanti memikirkan wanita lain saat bersama dengan aku." ucap Reni.
"Undangan sudah tersebar, ini hal memalukan."
"Aku tidak masalah jika kamu membatalkan atau mengundur hari sampai di mana kita sama - sama yakin."
"Itu akan memalukan kedua pihak keluarga, kita tetap menikah sesuai rencana, apakah kamu tidak bersedia menikah dengan aku?" tanya Zahran.
"Pertanyaan itu harusnya untuk kamu,apakah kamu bisa mencintai aku setelah tahu bahwa aku bukan wanita yang kamu inginkan." ucap Reni.
Zahrah tidak lansung menjawab. Lama ia memikirkan jawaban yang tepat agar tidak melukai hati Reni.
__ADS_1
"Kita bisa menjalani, aku yang mengajak kamu menikah."
"Baik, tapi mau nggak kamu meninggalkan Jakarta, kita tinggalkan negara ini, aku tidak mau kamu bertemu dengan Kaylin."
"Aku dan dia tidak akan pernah bertemu lagi, dia ada di Bali."
"Kamu yakin tidak akan menyesal?"
"Aku tidak akan pernah menyesali apa yang sudah aku perbuat, aku sudah memikirkan semua dengan matang."
"Baiklah, aku tidak mau diantara kita ada yang tersakiti."
"Aku berjanji akan memberikan kamu kebahagiaan, aku akan berusaha untuk itu."
...****************...
Kaylin Mahesa sedang terduduk melamun di jendela. Ia menatap ke taman yang ada di belakang rumahnya.
Kaylin hanya berdiam diri dengan tatapan yang agak kosong. Matanya berkedip sesekali dan terkadang ia juga menghela nafasnya.
Semenjak pulang dari Jakarta dua hari yang lalu, dia banyak melamun. Hatinya sudah belajar melupakan Zahran belakangan ini. Tapi ketika hari pernikahan itu datang membuat wanita itu semakin nyesek.
"Kamu sudah menjadi milik orang lain, tidak ada gunanya memikirkan kamu." ucap Kaylin.
Kaylin mencoba bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju ranjang kamarnya.
Kaylin membaringkan tubuhnya dengan lesu. Sejak tadi pagi ia belum makan sama sekali. Hatinya sedang hancur saat ini.
"Pasti saat ini dia sedang ijab kabul." ucapnya tanpa terasa air matanya mengalir.
Kaylin hanya bisa merenung di kamarnya. Dia tidak sanggup menyaksikan pernikahan lelaki pujaan hatinya secara live. Dia juga tidak ingin mencari tau foto - foto pernikahan mereka di group keluarga.
Kaylin memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Ya, dia tidak benar - benar tidur akan tetapi dia tetap memaksakan untuk memejamkan matanya.
...****************...
Reni terdiam di sudut kamar memikirkan semua yang terjadi.Zahran memang berjanji akan membahagiakan dirinya. Akan tetapi melihat lelaki itu melamun duduk ketika baru datang, membuat Reni yakin dengan keputusannya.
Reni masih ingat saat mereka sudah duduk di meja ijab Kabul. Reni melihat mata Zahran memerah menahan tangisnya. Reni tau bahwa lelaki itu mengorbankan cintanya hanya untuk menjaga nama baik dirinya.
Reni bahagia ketika Zahran mau mengorbankan dirinya untuk dia. Akan tetapi bukan itu yang dia mau.
Reni juga masih ingat ketika penghulu bertanya kepada mereka berdua.
"Apakah sudah siap?"
"Siap/ tidak." jawab Zahran berbarengan dengan Reni.
Suara heboh terdengar saat Reni mengatakan tidak. Dan Zahran juga menatap Reni dengan wajah bingung.
"Ren, kenapa?" tanyanya lembut.
__ADS_1
"Aku tidak bersedia menikah dengan dia, aku rasa aku masih butuh waktu untuk berpikir sebelum semua terlambat, aku hanya ingin fokus berobat dulu." ujar Reni membuat orang - orang di sana berbisik-bisik dan heboh.
"Ren kita sudah ........."
"Keputusan aku sudah bulat, aku mundur, ma tolong antar aku kekamar." ucap Reni.
Mama Reni bingung dengan sikap anaknya. Dia ragu untuk membawa Reni. Namun ayah sambung Reni membawa anaknya.
Reni memang dekat dengan ayah sambungnya karena dari kecil di besarkan. Dia dulu berpikir bahwa itu adalah ayah kandungnya. Namun dia berakhir tau setelah kejadian memalukan yang di lakukan oleh ayah kandungnya.
Reni terduduk sendiri mengingat apa yang terjadi tadi. Dia yakin sebentar lagi semua keluarga inti akan masuk dan bertanya kepadanya.
"Kamu yakin ren dengan keputusan kamu?" Iwan papanya masuk ke dalam kamar.
"Iya pa, aku tidak mau menyia-nyiakan hidup aku dengan lelaki yang mencintai wanita lain."
"Maksud kamu?" tanya Dinda sang mama.
"Zahran mencintai wanita lain, dia mengira aku wanita yang ia tunggu ma." ucap Reni menjelaskan.
Galuh Kusuma yang baru masuk kaget mendengar jawaban Reni.
"Ada apa ini An? apa benar ucapan Reni."
"Bukan seperti itu ceritanya pa, mama tau ceritanya." jawab mama Siska dengan cepat.
"Apaan ma? kamu jangan pernah mencoba melindungi dia." ucap Galuh.
"Zahran bukan selingkuh om, ini hanya salah paham."
"Jadi begini pa, sewaktu sekolah Zahran ini punya penggemar yang menamakan dirinya dengan angin Selatan bertiupkan cinta, nah wanita ini selalu mengirimkan dia surat kaleng, lalu anak kita jatuh hati kepada tulisan yang dia tulis, dia berusaha menemukan wanita itu, dan dia berpikir bahwa wanita itu adalah Reni." cerita mama Siska berhenti sejenak.
"Makanya Zahran berusaha sangat keras untuk mendapatkan Reni, tapi dua hari yang lalu Zahran tau siapa wanita itu, dan Reni tau juga mengenai itu pa, tapi Zahran tetap berkomitmen untuk menikah dengan Reni."
"Tapi itu terpaksa karena sudah terlanjur, jika tidak maka Zahran tidak akan mengajak aku menikah." jawab Reni.
"Darimana kamu tau penulis surat kaleng itu? kan itu sudah lama sekali." tanya papanya.
"Mama yang cerita pa, karena mama tau siapa wanita itu, awalnya Zahran merasa aneh ketika melihat wanita itu dekat dengan lelaki lain."
"Kamu ini merusak acara aja." ucap papanya Galuh kesal dengan sang istri.
"Pa Zahran juga merasa aneh pa ketika melihat wanita itu, makanya mama hanya memberi tahu aja, nggak lebih kok." jawab mama Siska.
"Udah om, Tante, mungkin ini cara Allah menunjukkan kepada mereka dan mungkin memang ini momen mereka bertemu." jawab Reni.
"Kamu gimana? kamu jangan mau mengorbankan diri sendiri." ucap Galuh.
"Nggak om, justru aku menyelamatkan diriku sendiri." jawab Reni tersenyum.
"Baik, jika itu keputusan kalian, biarkan tamu undangan makan tanpa memberi tau apa-apa dulu, cari alasan yang logis agar kedua belah pihak tidak di rugikan." ucap Galuh Kusuma.
__ADS_1